Kisah Para Istri yang Ditinggal Mati Suami


Oleh A.P. Edi Atmaja

Semua Ada Waktunya--Magdalena SitorusJudul: Semua Ada Waktunya

Penulis: Magdalena Sitorus

Penerbit: Jalasutra, Yogyakarta

Tahun: Cetakan I, November 2012

Tebal: xvi + 230 halaman

ISBN: 978-602-8252-85-0

Harga: Rp 86.000,-

 ENAM perempuan dalam buku ini mengisahkan pengalaman mereka kala belahan jiwa berpulang ke alam baka dan bagaimana hari mesti berlanjut tanpa dekapan sang suami di sisi. Mereka—Saparinah Sadli, Sinta Nuriyah, Widyawati, Suciwati, Damayanti Noor, dan penulis buku ini, Magdalena Sitorus—bercerita tentang riwayat percintaan dan masa suka-duka ketika menjadi pendamping hidup mendiang Mohammad Sadli, Abdurrahman Wahid, Sophan Sophiaan, Munir Said Thalib, Chrisye, dan Asmara Nababan.

Dalam pengantar, Soetandyo Wignjosoebroto menulis, “Inilah kisah enam perempuan yang diceraikan dari suami-suami mereka dan tak bisa menolak takdir kematian, namun tetap memperlihatkan betapa kuatnya ketetapan hati mereka untuk mencintai dia yang telah tiada.” (hal. xiv). Mengapa memilih seorang lelaki untuk menuliskan pengantar? Magdalena menjelaskan, Prof Soetandyo juga telah kehilangan istrinya, sehingga “baik juga bila ada sosok laki-laki dengan pengalaman yang sama turut berkontribusi.” (hal. 16).

Dalam buku ini, diceritakan bahwa menjadi seorang perempuan yang ditinggal mati suami mesti memiliki ketabahan hati tingkat tinggi. Acapkali, terdapat sinisme di masyarakat yang membuat banyak lelaki enggan berkomunikasi secara wajar dengan para janda—berbanding terbalik dengan sikap mereka kala sang suami masih hidup.

Magdalena menuturkan alasan teman lelaki yang tiba-tiba menjauhinya setelah suaminya, Asmara Nababan, meninggal dunia: “Magda itu kan sudah tidak ada suaminya. Aku justru mau melindungi dia. Apa kata orang kalau aku menegur dan ngobrol dengan dia.” (hal. 5). Magda melihat hal itu sebagai topeng yang membungkus joroknya pikiran kaum lelaki. Betapa rendah perempuan yang sudah tidak bersuami, sehingga masih bersuami saja—demikian Magda (hal. 1-16)—kadangkala dianggap warga kelas dua, apalagi tanpa suami.

Buku ini khas sebab, kendati sejatinya merupakan semacam reportase, seolah membiarkan narasumber menuliskan sendiri pengalamannya. Kecuali Saparinah Sadli dan Sinta Nuriyah, semua tokoh dalam buku ini ditulis dengan perspektif keakuan sehingga terasa intim. Widyawati, misalnya, yang menolak disebut “janda Sophan Sophiaan”, menceritakan kisah manis pertemuan pertamanya dengan sang suami ketika syuting Pengantin Remaja (1970) hingga kepedihan yang dirasakannya kala Sophan meninggal dalam kecelakaan motor (hal. 75-100).

Juga, dipaparkan dengan gamblang jeritan hati Suciwati lantaran keadilan bagi suaminya, Munir Said Thalib, tak kunjung tegak. Sebagai istri pejuang hak asasi manusia terkemuka, Suciwati akhirnya harus merasakan apa yang pernah dialami suaminya semasa hidup: dari perbenturan pendapat yang tak kunjung usai di ruang advokasi (hal. 130) sampai teror “paket tahi ayam” dari oknum tertentu yang merasa terusik dengan langkahnya mempertanyakan kematian Munir (hal. 120).

Lebih lanjut, buku ini merangkai keteguhan hati, semangat hidup, kemandirian, dan kecintaan abadi seorang perempuan terhadap belahan hatinya. Betapa Saparinah Sadli terus berjuang di ranah akademis meski sang suami, Sadli, telah berpulang. Saparinah dan Sadli adalah pasangan yang kesetiaannya patut diteladani karena tetap bersama kendati tak pernah dianugerahi momongan (hal. 28).

Elan Sinta Nuriyah dan Damayanti Noor juga patut diacungi jempol. Sinta tanpa lelah memperjuangkan toleransi dan pluralisme yang digagas suaminya, Abdurrahman Wahid, dengan mendirikan Yayasan Puan Amal Hayati (hal. 61). Sementara Damayanti melanjutkan kegiatan seni yang dicita-citakan suaminya, Chrisye (hal. 167-170).

Buku ini seakan hendak menegaskan bahwa, pertama, jangan lagi memandang para janda secara picik dan negatif. Kedua, ada banyak hal yang dapat dilakukan perempuan untuk merawat kecintaan mereka terhadap suami yang mendahului pulang ke alam baka. [30122012, 01.04]

*) Tulisan ini pertama kali disiarkan oleh harian umum nasional Koran Jakarta pada 5 Januari 2013 sebagai “Tetap Berkarya meski Ditinggal Mati Suami”.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s