Kedaulatan Negara Versus Segumpal Gas

Oleh AP Edi Atmaja

TIDAK ada yang lebih mengerikan selain menyaksikan, dengan mata dan kepala sendiri, seorang sahabat dibakar hidup-hidup. Untung saja itu cuma ada di film.

Bersama kekasih, di sebuah bioskop di Pekanbaru, saya menonton film “Survivor” (2015) yang belum lama tayang itu. Wikipedia menyebut film itu spy-thriller film dan Internet Movie Database (IMDb) memberinya rating 5,5. Bukan film yang sungguh spesial, saya rasa. Sebagaimana film-film Hollywood pada umumnya, Survivor mengangkat tema ‘kegagahan’ Amerika Serikat.

Namun, apabila film lain menggambarkan kegagahan dalam tanda petik itu melalui ‘kepintaran’ dan ‘kegigihan’ pemerintah (AS) melawan musuh-musuhnya, film ini berbeda. Kegagahan itu ditiupkan sang sutradara, James McTeigue, ke dalam diri seorang warga negara.

Kalau film lain biasanya menitipkan pesan-pesan hiperbolis tentang ‘kekuatan’ AS kepada seorang kombatan, prajurit bersenjata, James McTeigue memercayakannya kepada seorang warga sipil biasa, seorang wanita yang bekerja di Kedutaan Besar AS di London, Inggris.

Kate Abbott (Milla Jovovich) adalah satu dari jutaan korban hidup peristiwa 11 September. Banyak temannya tewas dalam peristiwa tersebut. Bekerja di garda depan pelayanan visa bagi warga negara asing yang hendak berkunjung ke AS bisa berarti dua hal: upaya Kate untuk mencegah supaya peristiwa 11/9 tak terulang atau sebentuk balas dendamnya kepada para teroris yang telah merenggut teman-temannya.

Sang petahan

London merupakan zona rawan bagi pemerintah AS, tapi juga strategis buat para teroris yang telah lama memendam kebencian akan kepongahan negara superior itu. Sebab, London adalah pintu gerbang bagi jutaan orang di Benua Biru untuk memasuki AS. Apabila London lengah, dan seorang teroris lolos, maka AS harus bersiap, sekali lagi, untuk dipermalukan.

Kedaulatan Negara Versus Segumpal GasDan di sanalah, di London, Kate bertugas. Sebuah kombinasi yang kontras dan sintetif (sufiks -if menunjukkan sifat): para (calon) teroris versus wanita yang memiliki trauma atas kelakuan para teroris.

Jikalau kedaulatan negara diejawantahkan melalui ikhtiar negara untuk terus menerus memperluas batas-batas demarkasinya, maka Survivor tidak melihat kedaulatan negara dalam perspektif yang semacam itu. Kedaulatan negara, di fim itu, diperjuangkan secara pasif dan penuh heroisme kendati, tentu saja, selalu ada ceceran darah dan raibnya nyawa manusia. Pasif karena yang diupayakan adalah melindungi kedaulatan dari rongrongan luar-negara.

Tatkala bom meledak di sebuah restoran dan menewaskan seluruh rekan Kate, tahulah ia bahwa sejak saat itu ia dan negaranya, AS yang berdaulat, terancam. Di sinilah sang petahan (survivor) mesti berhadapan dengan para pengancam.

Pada mulanya adalah Dr Emil Balan (Roger Rees), seorang pakar gas. Ia hendak berkunjung ke AS dalam rangka menghadiri suatu konferensi ilmuwan. Namun, Kate Abbott tidak percaya begitu saja, dan menunda pemberian visa Dr Balan. Kecurigaan Kate semakin besar karena ketika mengonfirmasi tempat kerja sang ilmuwan, Vicker’s Pharmaceutical, dirinya mendapat sejumlah intimidasi.

Karena sikapnya yang keras kepala, Kate pun masuk ke dalam target pembunuhan The Watchmaker, nama samaran Nash (Pierce Brosnan), seorang teknisi di toko arloji yang sangat piawai meramu bahan peledak. Ia telah lama menjadi incaran polisi seantero dunia lantaran ‘pretasi’-nya dalam pengeboman Paris, Prancis.

Dilema pun menghadang Kate pasca-meledaknya restoran itu. Ia malah diburu kepolisian Inggris karena dituduh sebagai pelaku utama. Situasi kian runyam tatkala rekan Kate, Bill Talbot (Robert Forster), tak sengaja terbunuh setelah mencoba membunuhnya di sebuah taman.

Usut punya usut, rupanya Bill-lah yang meloloskan visa Dr Balan tanpa sepengetahuan Kate. Bill terpaksa bekerja sama dengan para teroris demi membebaskan putranya yang ditawan di Afganistan—yang dikisahkan di awal tulisan ini sebagai tentara yang menyaksikan sahabatnya dibakar hidup-hidup.

Tanda tanya

Sial buat Kate, Kedutaan Besar AS, yang dihasut Kepolisian Inggris, menyimpulkan bahwa Kate adalah orang yang paling bertanggung jawab atas semua rentetan kejadian itu. Hanya seorang, Sam Parker (Dylan McDermott), atasan langsung Kate di kantor, yang membela dan percaya sepenuhnya kepada Kate.

Kate Abbott pun menjadi pelarian. Kawan dan lawan melacaknya dengan cara yang sama: chip yang tertanam di kartu identitas Kate. Soal lacak-melacak, The Watchmaker selangkah lebih gesit. Beberapa kali ia menemukan lokasi Kate, tapi Kate selalu saja berhasil lolos.

Ketika mengetahui bahwa Dr Balan telah terbang ke New York, AS, dari yang semula dikejar, Kate berbalik mengejar. Dr Balan berencana memasukkan segumpal gas eksplosif ke dalam bola kembang api raksasa di tengah perayaan pergantian tahun.

Detik berlalu, tahun berganti, ledakan yang diharap-harapkan tak kunjung datang. Kate berhasil menggagalkan pengeboman, menewaskan The Watchmaker, dan kedaulatan negara pun menang dengan gemilang.

Kemenangan kedaulatan negara atas segumpal gas menyisakan tanda tanya: Masihkah ada manusia, di negara mana pun di dunia ini, yang membela negaranya sepatrotik itu? Maksud saya, benar-benar tulus membela negara, bukan kepentingan-kepentingan lain.

Di tengah kecenderungan melemahnya nasionalisme dan menguatnya tribalisme dan fanatisme beragama, Survivor menunjukkan: ya, masih ada. [Pekanbaru, 27062015, 05.17]

*) Tulisan ini pertama kali disiarkan oleh harian Analisa pada 27 Juli 2015.

Kedigdayaan Tulisan dan Keberanian Wartawan

Oleh AP Edi Atmaja

BELUM lama berselang, seorang rekan sekantor—sebut saja inisialnya: UCI—memperlihatkan kepada saya sebuah film yang menarik. Film itu, Kill the Messenger (2014), menggambarkan sekelumit kisah nyata seorang wartawan dari sebuah koran lokal tak populer yang terbit di Amerika Serikat (AS).

San Jose Mercury News, nama koran lokal itu, tampak mungil bersanding kantor dengan The Washington Post dan Los Angeles Times. Jumlah pegawainya pun hanya segelintir. Dan, dari jumlah yang segelintir itulah muncul sesosok wartawan yang kepadanya film itu dibikin dan dipersembahkan.

Gary Webb, sang wartawan, tak pernah menyangka bahwa peliputannya atas penggerebekan bandar narkoba kelas teri akan mengantarkannya pada informasi kelas kakap. Seorang wanita yang membaca reportase feature-nya di San Jose Mercury News mendatangi Gary dan menawarinya informasi hanya jika ia bersedia hadir di persidangan kekasih si wanita, seorang kurir narkoba yang apes.

Wanita itu memberi Gary seberkas dokumen—sebuah risalah persidangan—yang sehabis dibaca segera terendus aroma busuk konspirasi pemerintah AS. Dokumen tersebut menyajikan dengan gamblang keterlibatan Central Intelligence Agency (CIA), badan intelijen pemerintah federal AS, dalam peredaran narkoba di AS. Terbaca jelas di situ pihak-pihak mana saja yang turut bermain. Gary memutuskan untuk menelusuri informasi dan mewawancarai para pihak terkait.

“L’etat c’est moi”

Dalam investigasinya, Gary menemukan fakta bahwa dalam rangka melanjutkan misi untuk membiayai para pemberontak Fuerza Democratica Nicaraguense alias Contras guna merongrong pemerintahan komunis Nikaragua—yang macet lantaran Senat tak mau lagi menyetujui belanja negara untuk misi semacam itu—pemerintah AS menggunakan suatu cara. Cara tersebut adalah melegalkan peredaran narkoba di AS dan dana yang terhimpun dari penjualan narkoba digunakan untuk membiayai misi.

Film itu menggambarkan dengan begitu benderang politik luar negeri pemerintah AS yang bukan lagi rahasia. AS adalah negara ultramodern yang berupaya membangkitkan kembali gagasan pramodern Raja Prancis Louis XIV yang tewas dipenggal, “L’etat c’est moi.” Negara adalah aku. Karena negara adalah aku, maka aku ingin selalu memperluas kedaulatanku. Dalam kasus AS, memperluas kedaulatan berarti menebarkan pengaruh ke sebanyak mungkin negeri, di antaranya Nikaragua.

Negara, film itu seperti ingin menyatakan, dengan segala daya-kuasa yang dimilikinya senantiasa berupaya untuk terus-menerus meneguhkan kedaulatannya dengan cara apa pun. Sekali lagi, dengan cara apa pun—termasuk dengan menggadaikan apa yang seharusnya mendasari kelahiran negara: kemanusiaan.

Mendapat semua yang dibutuhkannya untuk menulis, Gary pun menulis. Ketika wartawan menulis, malaikat mencatat. Akankah tulisan itu memfatwakan kebenaran? Membangun peradaban atau malah menghancurkannya? Di situlah soalnya. Dan Gary pun menunjukkan, kebenaran adalah kebenaran sekalipun ia menyakitkan.

Tak perlu waktu lama untuk membuat reportase investigatif bertajuk “Dark Alliance” itu menjadi hit. Segera saja seluruh AS mengetahui jengkal demi jengkal skandal memalukan tersebut. Pemerintah AS dan para penegak hukumnya, terutama CIA, seperti kebakaran jenggot. Dalam waktu singkat undangan demi undangan wawancara di stasiun televisi mengalir ke Gary Webb. Di sisi lain, pelbagai demonstrasi yang mengecam pemerintah meruyak di mana-mana.

Tulisan Gary Webb sang wartawan benar-benar digdaya, membangunkan kesadaran masyarakat AS tentang betapa parahnya peredaran narkoba di negeri mereka. Dicerca dari segala penjuru, Direktur CIA mengundurkan diri. Bukan semata penghargaan yang hendak Gary raih pada akhirnya—karena penghargaan itu kemudian ia campakkan begitu saja setelah mengetahui bahwa jajaran pimpinan San Jose Mercury News pun mulai mengkeret nyali menghadapi tekanan-tekanan dari pihak-pihak berkuasa.

Wartawan kita

Film semacam Kill the Messenger (2014) layak menjadi konsumsi wajib wartawan kita di tengah kultur kapitalistik dewasa ini. Film itu dapat menjadi oase dan inspirasi yang menyegarkan di tengah gosip-gosip (atau fakta?) murahan bahwa wartawan bisa diompreng, tulisan bisa dijajakan, pers menghamba partai politik, atau jurnalis tak malu melacurkan diri untuk kepentingan pemilik kuasa dan modal.

Profesi wartawan bukan profesi main-main. Tanpa semangat untuk terus-menerus mewartakan kebenaran, apalah arti seorang wartawan. Keluhuran wartawan terletak pada keberanian, semangat, dan tekadnya untuk senantiasa mempertanyakan kebenaran, bahkan jikapun kebenaran itu telah mapan. Tanpa bermaksud menggalaukan hati, jika wartawan saja lembek, maka bubarlah negara ini. Sebab, jurnalisme yang diusung para wartawan adalah pilar demokrasi yang demikian berarti.

Seno Gumira Ajidarma, sastrawan yang lebih suka menyebut dirinya wartawan, pernah melontarkan pernyataan, “Jika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.” Saya kira kita tak lagi berada pada masa di mana pembungkaman jurnalis(me) dilakukan dengan demikian terstruktur, sistematik, dan masif seperti pernah terjadi di masa lalu. Pertanyaannya hanya, dibungkam oleh siapa? Masa pembungkaman oleh organ eksternal (baca: negara) sudah lewat—barangkali. Yang tersisa kini hanya pembungkaman oleh wartawan itu sendiri, baik oleh korps maupun per individu.

Singkat kata, masalah sekarang adalah wartawan kita melawan diri mereka sendiri. Tentu hal itu jauh lebih menantang ketimbang takdir yang dialami Gary Webb di pengujung hidupnya: kematian yang tak diketahui dengan pasti penyebabnya. Pertanyaannya, beranikah wartawan kita? [Pekanbaru, 18062015, 02.15]

*) Tulisan ini pertama kali disiarkan oleh HarianSemarang.com pada 7 Juli 2015.

Imajinasi Lebih Penting ketimbang Ilmu Pengetahuan

Oleh AP Edi Atmaja

DEMIKIAN komentar fisikawan termasyhur kita, Albert Einstein (1879-1955), saat ia diwawancarai GS Viereck pada 26 Oktober 1929. Dan, seperti hendak mengingatkan kita, Brad Bird mengukir sebaris kutipan dahsyat itu pada sebuah dinding dalam film besutannya, “Tomorrowland” (2015).

Tomorrowland memang berkisah tentang kedigdayaan imajinasi. Tepatnya, imajinasi yang terbebas dari kebusukan dan kerakusan ilmu pengetahuan. Imajinasi yang tak terkooptasi hasrat politik dan ekonomi yang sesaat, banal, dan dangkal—yang menjadikan manusia dengan daya-kuasa dan egonya mencoba menguasai segalanya, sesama dan lingkungan hidupnya.

Diceritakan di film berdurasi dua jam sepuluh menit itu, segolongan ilmuwan dan seniman yang jengah terhadap perang antarbangsa yang tak kunjung usai, pembantaian manusia atas manusia lain atas nama perbedaan, bom nuklir yang melenyapkan banyak jiwa, dan pelbagai macam bencana alam yang sejatinya diakibatkan oleh keserakahan manusia menciptakan suatu dunia yang lain. Dalam dunia yang lain itu, Tomorrowland, mereka merdeka berimajinasi, mengembangkan ilmu pengetahuan demi semaju-maju peradaban.

Imajinasi Lebih Penting ketimbang Ilmu Pengetahuan (1)Adalah Athena (Raffey Cassidy), gadis cilik android—manusia robot—yang mengemban misi untuk merekrut manusia-manusia dari dunia yang nyaris kiamat itu buat diperlihatkan keagungan Tomorrowland. Tidak sembarang manusia. Hanya manusia dengan visi yang optimistis akan ilmu pengetahuanlah yang terpilih.

Frank Walker (Thomas Robinson), bocah jenius yang penuh rasa ingin tahu dan keranjingan akan ilmu pengetahuan, berhasil “terjebak” dalam undangan Athena untuk melihat Tomorrowland. Lencana pemberian Athena mengantarkan Frank pada suatu dunia yang mencengangkan: menara-menara metalik yang menjulang tinggi, jetpack yang melesat cepat ke angkasa, hovercar dan hovertrain yang melayang santai di udara, dan orang-orang dengan kostum aneh yang berjalan hilir mudik yang sebagian dari mereka tampak antusias menemu dan mencipta.

Saya belum mengerti bagaimana pengaluran film yang baik, namun saya rasa mulai dari sinilah film Brad Bird ini bertranslasi dengan kurang halus. Mendadak saja sosok Frank Walker lenyap, digantikan Casey Newton (Britt Robertson), seorang gadis yang amat bersemangat dengan benda-benda langit.

Saban malam Casey giat menyabotase alat-alat berat di lokasi peluncuran roket NASA hanya untuk mencari perhatian agar pemerintah melanjutkan kembali program NASA yang terbengkalai. Saban siang kerjanya mendebat dosen-dosen yang cenderung pesimistis akan dunia, yang hanya mencekoki mahasiswa-mahasiswinya dengan pertanda datangnya kiamat tanpa memberi jawaban tentang apa yang semestinya dilakukan.

Imajinasi Lebih Penting ketimbang Ilmu Pengetahuan (2)Sosok liat macam Casey rupanya mengundang kehadiran Athena, yang secara diam-diam memberikan lencana untuk mengakses Tomorrowland kepadanya. Dunia yang menggairahkan hati Casey segera tampak begitu ia menyentuh lencana itu. Namun, saat Casey tengah asyik mengakses Tomorrowland, daya lencana itu habis. Buyarlah sudah “fatamorgana” itu dan terlemparlah ia kembali ke dunia nyata.

Saya rasa, untuk sebuah film fiksi ilmiah yang didaku pula sebagai film misteri, Tomorrowland masih mengandung beberapa hal yang kurang logis. Kemisteriannya bukan misteri dalam arti sesungguhnya, melainkan timbul sebab ketidaklogisan tadi. Singkatnya, karena ada hal-hal logis yang—paling tidak buat saya—belum tuntas di kepala sang sutradara, yang belum terjelaskan dengan gamblang di film, maka film itu menjadi misteri.

Saya kira Brad Bird belum selesai soal bagaimana persisnya cerita pengusiran Frank Walker (George Clooney) dari Tomorrowland. Siapakah persisnya David Nix (Hugh Lairie) itu: seorang android ataukah manusia, seorang “pemandu wisata” ataukah pemimpin tertinggi Tomorrowland. Mengapa Athena diburu oleh kaumnya sendiri meski sudah jelas bahwa sedari awal ia mengemban misi untuk menyebarkan lencana, memperlihatkan Tomorrowland, kepada manusia-manusia terpilih.

Menonton Tomorrowland serasa membaca komik petualangan Doraemon yang, kendatipun fiksi ilmiah ceritanya, selalu saja abai pada detail-detail penting yang semestinya logis. Kadang-kadang saya terlampau berharap pada sebuah film fiksi ilmiah, namun sering kali alpa menyadari bahwa film itu bikinan Disney belaka.

Ah, seharusnya saya tak perlu sedih-sedih amat, ding. Ada banyak informasi baru yang menarik dan menggugah imajinasi lanjutan. Misalnya saja tentang menara Eiffel yang rupanya merupakan menara pemancar yang sengaja diciptakan oleh empat serangkai ilmuwan dan seniman ternama—Thomas Edison, Nikola Tesla, Gustave Eiffel, dan Jules Verne—buat meluncurkan roket penyelamat darurat umat manusia.

Melampaui segala kelebihan dan kekurangannya, saya pikir pesan film “Tomorrowland” dapat dengan mudah ditangkap oleh siapa pun yang telah menontonnya. Pesan pertama, tentu saja, kutipan Albert Einstein bahwa imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan. Kutipan itu telah menjadi adagium yang tak dapat ditolak kebenarannya. Hakikat penemuan-penemuan (hall of inventions) berasal usul dari imajinasi.

Pesan kedua, ilmu pengetahuan seharusnya dimerdekakan dari hal-hal di luar ilmu pengetahuan, yang terus menerus membelenggunya. Imajinasi itulah ilmu pengetahuan yang telah dimerdekakan. Tentu saja dimerdekakan dari anasir-anasir jahat seperti kepentingan politik dan ekonomi manusia yang banal dan dangkal.

Pesan ketiga, gairah mencipta dan menemu mesti terus digalakkan sebab itulah cara merawat peradaban, dunia, dan, dengan begitu, kemanusiaan. Senada dengan pesan Christopher Nolan dalam Interstellar (2014), manusia harus selalu optimistis akan dunia yang ditinggalinya dan dunia yang lebih baik harus terus menerus diwujudkan bersama.

Itu menurut saya. Kalau menurut anda, bagaimana? [Pekanbaru, 25052015, 02.04]

*) Tulisan ini pertama kali disiarkan oleh harian Analisa pada 24 Juni 2015.

Hari Ini 25 Tahun yang Lalu: Menulis dan Hal-hal Lain di Sekitarnya

Oleh AP Edi Atmaja

25 mestinya angka istimewa. Orang-orang yang sudah berumah tangga selama 25 tahun biasa menyebutnya tahun perak. Konon, dulu masih ada uang bernominal 25 rupiah yang dibikin dari perak. Kalau uang 25 rupiah itu dibikin dari batu akik, tentu tahun ke-25 akan orang-orang sebut sebagai tahun akik.

Berhasil bertahan selama 25 tahun dengan orang yang itu-itu juga rupanya merupakan sebuah prestasi. Untuk itulah maka patut dirayakan. Tapi, buat saya, untuk sebuah usia, angka 25 ternyata tidak berarti apa-apa.

Terus terang, saya terlambat membuat tulisan ini. Kalau tanggal terbit tulisan di WordPress tertera 17 Juni 2015, yakinlah anda bahwa itu bisa diatur. Apa, sih, di negara ini yang tak bisa diatur, direkayasa, dimanipulasi? Mengubah tanggal terbit doang saya kira tak masalah. Toh masih ada hal-hal lain seperti pemilihan dekan, rektor, dan seterusnya yang sarat dengan urusan atur-mengatur. Ups.

Saya membikin tulisan ini jauh setelah 17 Juni 2015. Pertama, karena saya terlalu malas: ini kenyataan sebenarnya. Kedua, ini kenyataan yang saya ciptakan sendiri, usia 25 tahun ternyata tak berarti apa-apa buat saya.

Mungkin saya salah. Barangkali saya kurang mensyukuri hidup ini. Setelah saya rasa-rasakan, ya benar juga. 25 tahun sudah saya hidup, kok bisa-bisanya saya merasa biasa-biasa saja? Sungguh terlalu!

Ini tahun ketiga saya berulang tahun di luar kota saya yang sepanas-dingin gebetan. Tahun pertama saat saya berada di rumah kawan saya Bayu Dwi Nugroho di Limbangan, Kendal, sehabis mendaki Gunung Ungaran bersama dia dan Lilik Haryadi. Tahun kedua saat saya mengikuti diklat Jabatan Fungsional Pemeriksa yang sangat berkesan di Medan.

Sungguh, saya masih tak habis pikir dengan jalan hidup yang saya lalui. Masa kecil saya hingga menginjak bangku SMP sangat culun sekali, nyaris tak pernah ke mana-mana. Wilayah edar saya pun tak pernah jauh-jauh dari rumah, sebab kalau lebih dari itu pasti diomeli Ibu.

Namun, nasib saya berubah setelah meminum ramuan Tong Fang mendaki bangku SMA. Sebagai “utusan daerah” (Mangkang) yang baik dan benar di SMA terbaik (paling tidak kata saya) di Semarang, saya merasa harus seperti teman-teman yang lain: menelusuri lekuk Semarang dengan segenap daya dan semangat. Glosarium wilayah edar saya bertambah secara drastis: dari yang semula hanya tahu Terminal Mangkang, Pasar Mangkang, dan Laut Mangkang, kini mulai coba-coba dolan (meski sering berubah jadi upaya untuk menemukan jalan pulang) ke Sekayu, Banyumanik, Pondok Raden Patah, Johar, Lamper Sari, Rinjani View, Pekunden, Bandungan, Banaran, dan seterusnya.

Mengenang saat-saat itu membuat saya ingin menangis dan tertawa sekaligus.

Keadaan ingin menangis tapi juga ingin tertawa, seingat saya, sering saya alami. Kadang sebagai manusia kita mudah melakukan kesalahan-kesalahan kecil yang menurut kita (atau saya saja?) berdampak besar bagi orang lain. Semacam kekhilafan yang sepele. Atau kesepelean yang khilaf. Tapi hal itu tentu selalu jadi pikiran, bukan? Dan bikin geli sendiri. Daripada terus-terusan merutuki diri sendiri, saya pun tertawa.

Terhadap hal-hal semacam itu tidak pernah sedikit pun saya tulis. Membuat pikiran tambah sedih dan tak enak saja. Saya pun tak bisa selamanya menghadapi semua masalah cukup dengan tertawa. Ada masalah-masalah yang butuh kekerasan hati dan pikiran untuk mengatasinya. Selalu, kita harus keras dengan diri sendiri.

Tentang menulis, sedikit banyak barangkali akan saya ceritakan karena saya sudah telanjur menjuduli tulisan ini seperti itu. Tentu tak semua, ya. Karena akan selalu ada kesempatan untuk secara sistematis menyajikan semua pengalaman saya. Tapi, terus terang, apalah saya?

Tulisan pertama saya dibaca oleh adik perempuan saya, Nisrina Antikawati. Tulisan itu hanya daur ulang dari film animasi Detektif Conan yang kami tonton bersama. Saya, dengan keisengan yang cukup iseng, mengetik cerita yang barusan kami tonton memakai mesin ketik Bapak. Cetak cetok cetak cetok. Jadilah satu halaman cerita yang belum lagi selesai.

“Bagus, Mas,” kata Tika. Seingat saya, cerita itu tak pernah saya selesaikan. [Pekanbaru, 19062015, 16.50]

Sosiologi Hukum dalam Pemeriksaan

Oleh AP Edi Atmaja

SOSIOLOGI hukum dewasa ini menjadi topik yang hangat diperbincangkan dalam studi hukum di Indonesia. Sebagai suatu disiplin ilmu, sosiologi hukum barangkali relatif baru. Namun, sebagai sebuah hipster, gaungnya kian masif saja akhir-akhir ini.

Adalah Satjipto Rahardjo (1930-2010), ilmuwan hukum yang dengan militansi akademisnya berhasil mendiseminasikan warna sosiologis dalam kajian keilmuan hukum di Indonesia. Di kampusnya, Universitas Diponegoro, sosiologi hukum yang diajarkan Satjipto bahkan telah menjadi semacam dogma buat para mahasiswa tingkat sarjana ataupun pascasarjana yang mempelajari ilmu hukum. ‘Dogma’ itu bernama hukum progresif.

Tak terhitung berapa banyak artikel, makalah, jurnal, majalah, skripsi, tesis, disertasi, dan karya akademis lain yang diterbitkan berdasar pada gagasan atau teori hukum progresif Satjipto Rahardjo. Baru-baru ini, pertemuan ilmiah yang coba menghimpun para pegiat hukum progresif di penjuru Nusantara juga sukses digelar di Semarang, yakni Kongres Ilmu Hukum Indonesia pada 2012 dan Konsorsium Hukum Progresif pada 2013.

Sosiologi Hukum dalam PemeriksaanSebenarnya, apa itu sosiologi hukum? Sosiologi hukum berkembang atas suatu anggapan dasar bahwa proses hukum berlangsung dalam suatu jaringan atau sistem sosial yang dinamakan masyarakat (Soekanto, 1980). Oliver Wendell Holmes, seorang hakim-cum-ilmuwan hukum di Amerika Serikat, mengatakan diktumnya yang terkenal, “The life of the law has not been logic. It has been experience.” Berhukum itu bukan menjalankan logika, melainkan pengalaman (Rahardjo, 2010).

Sosiologi hukum memandang bahwa hukum sejak lama hanya dipahami sebagai sebuah teks yang statis dan dalam penerapannya lebih menendensikan kebekuan. Peraturan perundang-undangan, sejatinya, adalah wujud dari teksisasi hukum. Satjipto Rahardjo (2010) mengatakan, tatkala hukum bertransformasi menjadi teks, bahasa mengambil peran yang menentukan.

Konkretisasi hukum menjadi sebuah teks melalui proyek pembahasaan, menurut Michel Foucault, menjadikan hukum kian deterministis, hegemonis, dan menguasai manusia. Bahasa adalah arena pertarungan di mana individu dan kelompok saling berebut untuk melakukan tindakan represifnya atas individu atau kelompok lain. Bahasa merupakan medium yang paling sarat kuasa dan kekerasan. Maniere de declarer son existence et de la formulation de droit de parole, bahasa merupakan cara untuk menyatakan eksistensi dan merumuskan hak bicara manusia (Marwan, 2012).

Hukum selalu berkutat pada soal kebahasaan (talig) dan di situlah terjadi permainan bahasa (language game). Cara berhukum pun lalu memasuki dimensi baru: melalui skema. Hukum bergeser dari dunia nyata ke dunia maya yang sarat kalimat dan kata-kata. Saat itulah gagasan utuh tentang hukum, perlahan tapi pasti, tereduksi. Kalimat, teks, atau kata-kata tidak akan mungkin mampu menerjemahkan realitas secara utuh. Itulah mengapa acap kali dikatakan bahwa hukum telah cacat sejak dilahirkan.

Saat cara berhukum berubah menjadi berhukum dengan teks, ada satu lorong yang menjadi tertutup atau menyempit (Rahardjo, 2010). Lorong itu adalah berhukum dengan akal sehat (fairness, reasonableness, common sense). Berhukum dengan teks cenderung kaku dan regimentatif, dan ketika sampai pada titik yang eksesif akan menimbulkan pelbagai persoalan besar, khususnya dalam soal pencapaian keadilan.

Reduksionistis, itulah sifat dasar positivisme yang dikritik banyak pakar hukum dewasa ini. Watak positivisme yang terlalu mengagungkan rasionalitas, kepastian, dan semua yang serbamekanis pada gilirannya menafikan keadilan dan kemanusiaan. Maka itu, kini mulai dilakukan ‘penyadaran’ dan pemaknaan baru bahwa hukum itu perilaku (matter of behavior).

Hukum sebagai perilaku dimaksudkan untuk mendudukkan manusia pada posisi sentral dalam penerapan hukum. Hukum itu sejatinya hanyalah teks diam dan cuma melalui perantaraan manusialah ia menjadi ‘hidup’. Di sinilah titik tolak kajian sosiologi hukum.

“The art of auditing”

Lalu, bagaimana kelindan antara sosiologi hukum dan pemeriksaan (auditing), terutama pemeriksaan yang dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK)? Pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang dilaksanakan BPK, kita tahu, terdiri dari tiga jenis, yakni pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja, dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu.

Berdasarkan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, disebutkan bahwa pemeriksaan keuangan adalah pemeriksaan atas laporan keuangan; pemeriksaan kinerja adalah pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara, yang terdiri atas pemeriksaan aspek ekonomi dan efisiensi serta pemeriksaan aspek efektivitas; sementara pemeriksaan dengan tujuan tertentu adalah pemeriksaan yang tidak termasuk dalam kedua jenis pemeriksaan tersebut.

Sosiologi hukum dapat diaplikasikan pada tiga jenis pemeriksaan yang dilaksanakan BPK. Bagaimana konkretnya? Sosiologi hukum berkutat pada pemaknaan hukum yang berpusat pada masyarakat, manusia, dan nilai-nilai humanisme. Pemeriksaan pun sejatinya mesti demikian: tidak dipandang sebagai kegiatan yang semata-mata hanya mencocokkan antara kondisi dan kriteria, tanpa memperhatikan konteks sosial di mana pemeriksaan itu dilakukan.

Tatkala pemeriksaan—yang oleh RK Mautz dan Hussein A Sharaf dikatakan bersifat analitis, kritis, investigatif, tapi tidak konstruktif (Tuanakotta, 2011)—hanya menitikberatkan pada kriteria-kriteria yang dipungut dari pemahaman yang sempit tentang (ilmu) hukum, maka pemeriksaan tersebut akan menyajikan hasil (output) yang dangkal. Dangkal sebab pemeriksa terjebak pada dikotomi benar-salah tanpa bersikap arif untuk menemukan yang-benar dari kesalahan yang terjadi atau yang-salah dari kebenaran faktual yang tampak secara kasatmata.

Pemeriksaan berbantuan sosiologi hukum maksudnya bahwa pemeriksaan yang dilakukan tidak didasarkan pada pemahaman teks-teks hukum yang kaku dan sempit belaka. Karena, sebagaimana dijelaskan di muka, gagasan hukum yang terejawantahkan melalui teks selalu akan tereduksi dengan sendirinya. Dengan demikian, pemeriksa harus betul-betul mampu menafsirkan teks-teks hukum dan mengkontekstualisasikannya dengan gejala dan kondisi yang terjadi. Muaranya tentu saja nilai-nilai kemasyarakatan, kemanusiaan, dan keadilan.

Dalam metodologi pemeriksaan yang dirumuskan Mautz dan Sharaf (Tuanakotta, 2011), sosiologi hukum dapat diaplikasikan misalnya pada tahap pengenalan masalah, pengamatan fakta yang relevan dengan masalah, penentuan prosedur pemeriksaan, penilaian bukti, dan perumusan judgment. Sejumlah tahap tersebut menuntut pemeriksa untuk selalu berpandangan holistis dan komprehensif. Sebagaimana ditegaskan Theodorus M Tuanakotta (2011), pemeriksaan pada akhirnya tak hanya berurusan dengan “serangkaian praktik dan prosedur”, melainkan juga “sejumlah asumsi dasar dan himpunan gagasan terpadu” demi terselenggaranya “the art of auditing”.

Di samping itu, selama ini kita memahami bahwa dalam hal penentuan besar kerugian negara—dan/atau sanksi pidana yang mengiringinya—yang disebabkan oleh kelalaian bendahara, BPK memiliki peran kuasi-yudisial. Ini berarti bahwa BPK memiliki peran selayaknya hakim yang dipemeokan sebagai “manusia yang berdiri di atas surga dan neraka”. Tak cuma hakim, BPK pun ternyata memiliki kekuasaan demikian besar untuk menentukan nasib seseorang. Tepat pada titik itulah kita melihat betapa perlunya sosiologi hukum dimanfaatkan dalam pemeriksaan yang dipraktikkan atau penelitian hukum pemeriksaan yang dirintis oleh BPK. [25092014, 11.09]

*) Tulisan ini pertama kali disiarkan oleh harian Analisa pada 13 Juni 2015.

Mas Topik dan Ladang

Oleh AP Edi Atmaja

BARU-baru ini saya bersua dengan Mas Topik di ladang. Kami berdiri di pematang menikmati senja yang merah meradang.

Biasanya, saat-saat seperti itu kami awali dengan berlari-lari kecil. Kadang, ketika perlu memeras keringat, saya pacu lari saya mengelilingi pematang dari pangkal ke ujung, di mana sejauh mata memandang hanya genangan air melulu akibat banjir yang masuk ke ladang dan merendamnya sampai-sampai tidak bisa ditanami lagi. Orang-orang menyebutnya bedatan.

Kadang, ketika saya berlari-lari hingga ujung pematang, ular sawah mengeluyur di hadapan saya, membuat jantung serasa mau copot. Ular sawah itu melintas tanpa permisi di pematang yang jarang dilalui orang. Ular sawah tanpa sungkan beranak-pinak di sana, di sisi pematang yang rumputnya tinggi-tinggi. Kalau sudah begitu, biasanya saya kecut kembali ke rumah. Saya persiapkan dulu mental bulat-bulat, berancang-ancang, lantas memacu kaki sekencang-kencangnya sambil menutup mata seolah-olah ular sawah itu tak pernah ada.

Tetapi, kali ini saya tak lagi berlari-lari kecil. Tidak juga kepingin memeras keringat. Tidak pula sedang ketemu ular sawah dan anak-pinaknya. Saya cuma ingin menikmati senja bersama Mas Topik. Berdua saja.

Kami berdiri memandang ladang Mas Topik yang luas tak bertepi. Satu petak telah ditanami mentimun. Beberapa yang lain belum digarap.

Mas Topik menuding, menunjukkan batas-batas ladangnya. Saya cuma menganggut-anggut, tak mengenal pemilik ladang yang ladangnya berbatasan dengan ladang Mas Topik. Saya dari dulu memang begitu. Tidak pernah dan mau tahu nama-nama orang di kampung kami.

Ibarat kaleidoskop, dari ladang, Mas Topik tiba-tiba begitu saja nongol di halaman belakang rumah saya. Ia jongkok di samping pintu, sementara Mbah Kaji tengah menyapu di kebun bambu belakang rumah. Mas Topik sedang mengumpet dari Mbah Kaji rupanya. “Ssst… Jangan bilang-bilang, ya,” katanya. Saya tersenyum geli melihat tingkah Mas Topik.

Saat-saat itu, entah mengapa, saya merasakan ketenteraman luar biasa. Perasaan saya damai bukan buatan. Tenteram karena ternyata Mas Topik masih ada bersama saya. Damai karena ia tak jadi pergi meninggalkan kami. Ternyata, kematiannya yang baru beberapa hari yang lalu itu hanya isapan jempol belaka.

Ketenteraman dan kedamaian itu mendadak lenyap. Saya tergagap dan mendapati diri tengah berbaring di atas kasur. Pelan-pelan, saya mencoba mengingat-ingat kelebatan mimpi semalam. Saya pun harus menerima kenyataan bahwa Mas Topik memang benar-benar telah pergi dan tak akan pernah kembali lagi.

***

BUKAN, bukan saya namanya kalau tak merepotkan orang-orang. Tingkah laku saya yang kekanak-kanakan sering kali membikin susah orang-orang di sekeliling saya. Itulah yang kadang membuat saya jadi serbasalah dan mengutuki diri sendiri.

Kali ini pria ceking itu yang menjadi korban. Dengan rambut gondrong melambai-lambai—kemeja merahnya kebesaran—ia memanjat atap, mencoba menerobos rumah melalui genting. Tindakan kriminal itu terpaksa ia lakukan lantaran adik sepupunya, putra sang pemilik rumah, menghilangkan kunci di jalan. Si adik nyaris menangis karena takut dimarahi ibunya yang tengah pergi. Sementara si pria ceking kelabakan mencari cara supaya adik sepupunya yang cengeng itu tidak merengek-rengek lagi.

Beberapa jam sebelumnya, si pria mengajak adik sepupunya pergi ke Wagean.[1] Di sana, katanya, ada tempat khusus untuk bermain video game.[2] Mendengar itu, si adik melonjak kegirangan, mengajak kakaknya segera pergi ke sana. Padahal, si adik anak rumahan sejati, yang wilayah edarnya tak melebihi satu kilometer dari rumah. Berani melampaui satu kilometer, Ibu bakal mengomelinya sepanjang hari. Karena itu, ia hanya berani memenuhi ajakan sang kakak kalau Ibu dan Bapak sedang tidak di rumah.

Demikianlah, pada Minggu kedua bulan Oktober, Mas Topik pria ceking itu mengajak saya ke Wagean. Ibu dan Bapak sedang pergi kondangan di luar kota. Saya berpakaian rapi lalu mengunci pintu, bersiap memulai perjalanan pertama saya. Cuma kami berdua, saya dan Mas Topik. Tentu akan sangat menyenangkan. Hati saya girang bukan kepalang.

Kami mendaki setapak demi setapak jalan berundak menuju terminal. Kampung kami memang terletak di bawah terminal bus Mangkang. Di sebelah timur berbatasan dengan kawasan pondok pesantren NU, di sebelah barat berdampingan dengan kawasan pelacuran Gambilangu.

Warga sengaja membikin undak-undakan di tanah padas di belakang rumah, yang ujungnya menuju terminal. Terhitung ada 32 undakan, dan napas saya jadi ngos-ngosan setelah sampai di atas. Sementara Mas Topik cuma cengar-cengir.

Kami harus berjalan kaki kurang lebih 500 meter sebelum sampai terminal. Di terminal, bus-bus beragam jurusan terparkir rapi. Kami menanti bus yang menuju Wagean. “Itu dia,” kata Mas Topik seraya menunjuk bus kotak besar bertuliskan Damri. Kami bergegas menaikinya.

Bus itu berkelontangan di jalan karena penumpangnya cuma kami berdua. Di banyak tempat, terlihat besi berkarat mengganggu pemandangan. Dinding-dindingnya dihiasi coretan-coretan tangan. Beberapa bangkunya yang sekeras papan sudah berkarat dan berlubang. Sudah berapa abad usia bus ini? tanya saya dalam hati.

“Karcis, karcis!” kata seseorang di belakang kami. Kondektur bus. Dengan segepok karcis di tangan kiri dan berlembar-lembar uang di tangan kanan, ia mengutip ongkos yang kemudian ditukarnya dengan selembar karcis.

Sesampainya di Wagean, orang-orang berlalu lalang. Siang yang terik tak menghalangi mereka untuk berjual-beli. Kepadatan seperti itu tampak juga di arena bermain video game. Anak-anak hingga remaja memadati ruang sempit itu, berteriak-teriak di depan layar kaca. Inikah video game? Mas Topik mengajak saya menuju kursi kosong. Di situ, Mas Topik memeragakan kepiawaiannya bermain. Saya menonton saja. Cemen nian memang.

Tigapuluh menit berlalu. Karena tidak banyak membawa uang, kami pun beranjak pulang. Saya cukup puas dengan hanya menonton permainan Mas Topik. Ia berjanji akan ke Wagean lagi minggu depan. Saat itulah mungkin saya akan mencoba ikut bermain.

Menuruni undak-undakan, saya terperanjat karena ketika merogoh saku celana kunci rumah sudah tak ada lagi. Saya panik, dan kepanikan itu menular dengan cepat. Setelah memastikan bahwa kunci itu memang telah raib, Mas Topik memutuskan untuk menyusuri jalanan yang telah kami lewati. Kembali lagi ke Wagean, menginterogasi orang-orang, dan mengingat-ingat di mana kunci itu kira-kira terjatuh. Bahkan hingga pencarian kedua kalinya, kunci itu tetap tak dapat ditemukan.

Maka di sinilah pria ceking itu sekarang.

Mas Topik dengan segala sikap berjiwa besarnya yang luar biasa—kemeja merahnya basah oleh peluh—memanjat ke atap, membongkar genting, dan menerobos masuk ke rumah laiknya maling saja, sehabis saya bisiki bahwa mungkin saja tersimpan kunci cadangan di lemari. Namun perbuatan nekat itu tetap tak menghasilkan apa-apa. Semua kunci, setelah dicoba satu per satu, tidak ada yang cocok. Dan saya pun mulai memikirkan alasan-alasan dungu penuh dusta saat nanti harus menjawab pertanyaan Ibu dan Bapak.

***

KALAU dihitung-hitung, barangkali sudah duapuluh dua usia Mas Topik saat itu. Dan di hadapan saya mulai berkelebatan sosok-sosok yang saya kira jelmaan Mas Topik yang diutus ke dunia untuk membimbing adik sepupunya yang manja ini.

Sebutlah dia Moko. Badannya kurus kering, jangkung, dan bungkuk saat berjalan, namun cerdas dalam bermain logika dan tangkas saat bermain sepakbola. Saya sering banget bikin susah Moko, terutama tatkala teman-teman sekelas bervakansi ke suatu tempat yang jauh.

Dari dulu saya berpendapat bahwa modal seorang pria hanya dua: kendaraan yang binal dan ponsel yang andal. Dan waktu itu saya tak memiliki keduanya. Maka, cukup sering saya membonceng sepeda motor Moko, dan si empunya motor dengan senang hati selalu menawari saya tanpa pernah saya minta. Sifat-sifat demikian itulah yang membuat saya mengaguminya. Bukan lagi sebagai teman, melainkan sebagai jelmaan Mas Topik.

Lepas dari dunia putih-abu-abu, lain lagi cerita. Sosok semacam Mas Topik hadir kembali di Pleburan, namanya Nugroho. Matanya selalu tampak seperti mata orang mengantuk, liyer-liyer. Pendiam, jangkung, dan kerempeng juga. Amat sering saya mengganggunya, entah untuk iseng ataupun untuk urusan yang benar-benar mendesak.

Urusan iseng biasanya seputar film, komik, aplikasi komputer, atau file-file lain yang oleh Nugroho dikoleksi dengan rapi di komputernya yang dirakit dari komponen-komponen bermutu. Urusan mendesak misalnya tentang komputer butut saya yang suka tewas di saat yang kurang tepat. Ujung-ujungnya memang soal teknologi juga. Dan terpujilah Nugroho karena selalu bisa diandalkan.

Nugroho adalah mahaguru teknologi yang mengajari saya banyak hal tanpa pamrih. Layaknya Mas Topik yang di kala hidup mengajari saya pelbagai macam urusan yang seharusnya mulai dijajal bocah ingusan macam saya. Contohnya, suatu waktu Mas Topik mengenalkan saya pada komik, mengajak saya untuk bersama-sama menggambar tokoh-tokoh Dragon Ball. (Generasi 90-an pasti tahu ini!) Di waktu lain Mas Topik mengenalkan saya pada dunia pers dan media cetak. (Di lemari bajunya, saya menyaksikan ia menyimpan rapi majalah-majalah musik kesukaannya dengan dibungkus kain putih seakan-akan majalah-majalah itu adalah hartanya yang paling berharga dan kekasih yang dicintainya sepenuh jiwa.)

Saat saya melanjutkan studi di jenjang yang lebih tinggi, masih saja saya temukan jelmaan Mas Topik yang lain. Sebut saja SS. Sosoknya kurus, tapi satu hal: dia tidak jangkung. Hal lain: SS luar biasa mesum—dan jomblo. Anda tahu, seorang mesum yang jomblo selalu berbahaya. Namun, dari kedua jelmaan Mas Topik yang lain, mimik muka SS paling mendekati paras Mas Topik.

Dan kepada SS saya belajar lebih banyak hal lagi—meskipun dibanding Moko dan Nugroho dia kurang bisa menjadi pembimbing yang baik. Mungkin lantaran bukan itu wataknya. Dia tak bisa menjadi kakak karena dia tak ingin terjadi hubungan kakak-adik dalam artian hierarkis. Sebab di mata SS semua orang seharusnya sederajat. Memang filosofis karena SS selalu menggumuli soal-soal filosofi, pemikiran, dunia ide-ide.

Dalam sosok SS, saya terkenang akan sisi intelektual Mas Topik. Saya ingat betapa sering saya melihat Mas Topik membaca buku sendirian. Begitu sering saya menyaksikannya sedang berjongkok di bawah rimbunnya bambu-bambu di belakang rumahnya, ditingkahi semilir angin sore hari. Entah apa yang dipikirkannya. Mungkin tentang buku-buku yang dibacanya atau mungkin saja tentang dunia yang tak pernah bisa dimengerti manusia.

Ah, andai Mas Topik masih hidup, tentu akan saya pinjamkan semua buku saya padanya. Untuk menemani kesendiriannya, kesunyiannya. Barangkali akan saya pinjamkan juga tape recorder yang di pengujung hidupnya ia cari ke sana-kemari, hanya demi menikmati musik yang disukainya. Tapi tentu saja Mas Topik telah pergi dan tak akan pernah kembali.

Dan saya pun baru menyaksikan ladangnya yang luas—belum lagi rumahnya yang besar, yang penuh buku-buku, majalah-majalah, dan rampaian karya seni yang digandrunginya. Di surga.

Pekanbaru, 19122014

Catatan:

[*] Mengenang Muhammad Taufiq (1985-2005).

[1] Wagean adalah nama lain pasar Mangkang, Semarang. Kenapa disebut Wagean? Saya terka, barangkali karena dulu pasar tradisional itu aktif hanya pada saat wage. Wage adalah nama hari pasaran berdasarkan penanggalan Jawa. Selain wage, dikenal pula legi, pahing, kliwon, dan pon. Tapi Wagean masa kini tentu tidak aktif hanya lima hari, melainkan setiap hari. Beroperasi hampir 24 jam.

[2] Video game (permainan video) menurut Martin Suryajaya adalah sebuah karya seni total (Gesamtkunstwerk). Video game yang dimaksud dalam cerpen ini barangkali adalah video game dalam pembabakan menurut Martin yang berangka tahun 1983 dengan perangkat permainan Nintendo Entertainment System (NES)/Famicom, konsol generasi ketiga yang menggunakan sistem video 8 bita, yang populer pada 1980-1990-an. Martin Suryajaya, “Permainan Video sebagai ‘Gesamtkunstwerk’” dalam http://indoprogress.com/2014/12/permainan-video-sebagai-gesamtkunstwerk (diakses pada 16 Desember 2014).

Tak Ada yang Lebih

Oleh AP Edi Atmaja

: teteh

tak ada yang lebih abadi dari persahabatan bulan dan bumi

dilindunginya bulan dari gempuran benda-benda langit

ditemaninya bumi mengitari matahari

tak ada yang lebih awet dari persahabatan pohon beringin dan burung halo

disemainya benih pohon rindang itu

dinaunginya keluarga burung cantik itu

tak ada yang lebih kekal dari persahabatan kita semua

dalam bekerja kita saling melindungi

selamanya kita saling menemani

menyemai perubahan buat negara tercinta

menaungi Ibu Pertiwi dengan kerja nyata

Pekanbaru, 13092014

*) Tulisan ini pertama kali disiarkan oleh Horison Online pada 13 November 2014.

Burung Halo--Greeners.co

Burung Halo/Greeners.co