Dari LDR ke Jalan Lain ke Undip

Oleh AP Edi Atmaja

TIADA kutukan yang paling menyenangkan selain menjadi mahasiswa, alumnus, atau keluarga mahasiswa dan alumnus Universitas Diponegoro alias Undip (yang sering ditulis dengan kapital total, UNDIP). Di kampus yang kerap dipelesetkan jadi Universitas di Padjadjaran atau Universitas di Ponorogo itu, tertimbun bermiliar kenangan yang sukar nian diutarakan, bahkan oleh para jomblo rupawan berhati rawan berwajah Hello Kitty sekalipun.

Bagaimana tidak gerimis bila ingatan engkau tiba-tiba melayang ke masa di mana kawasan Pedagang Kaki Lima (PKL) Pleburan masih bergeliat sedemikian sibuknya. Tatkala engkau bersama kawan-kawan sepermainanmu menikmati nasi ayam saus tiram atau ayam penyet “G-Pux” seharga tujuhribu rupiah saja, dan kenyang. Itu pun sudah termasuk es teh yang kadang kelewat manis sehingga membikin peminumnya (semisal penulis karangan ini) berkali lipat tambah manis.

Atau ingatkah engkau suatu hari di mana engkau dan kawan-kawanmu berkongko-ria di bawah kerimbunan pohon-pohon PKL, membicarakan omong-kosong nan absurd, sementara di hadapanmu gadis-gadis atawa perjaka-perjaka (supaya adil) terbaik Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Fakultas Hukum, dan Fakultas Ekonomi berlenggak-lenggok bagaikan di atas catwalk.

Atau bagaimanakah perasaanmu bila suatu kali engkau terpaksa harus melewati jalan setapak legendaris itu lagi—boulevard, kata orang—membeli leker atau rujak atau sekadar bercengkerama dengan kawan-kawanmu di tengah jalan seperti yang biasa engkau lakukan beberapa saat sehabis jam kuliah berakhir. Dan bagaimana menurutmu kalau kita ngopi-ngopi lagi di Kafe Melati atau Kafe Teratai atau sekadar membaca-baca koran yang tak pernah dibeli meski pengasongnya diusir ke sana-ke mari.

Undip, terus terang, adalah surga bagi mereka yang memilih long distance relationship (LDR) sebagai elan perjuangan. Sedari muda para mahasiswanya sudah diajari bahwa jarak bukanlah sesuatu yang layak dipusingkan.  Lihatlah betapa jauh jarak yang memisahkan Pleburan dan Tembalang, dua lokasi utama kampus Undip. Dengan bensin seliter, engkau hanya bisa pergi, dan pulang mesti engkau pikir sendiri.

Kini, seandainya banyak mahasiswa atau alumnus atau keluarga mahasiswa dan alumnus Undip terlibat hubungan rawan dengan gebetan dalam suatu jalinan LDR, salahkanlah tempat mereka menuntut ilmu karena dari situlah mereka terinspirasi untuk melakukan tindakan revolusioner semacam itu.

Tentang Pleburan dan Tembalang, ada baiknya saya ceritakan kepadamu bahwa keduanya memiliki riwayat yang masing-masingnya amat panjang dan dalam. Poros utama Undip, pada mulanya, adalah Pleburan, dengan Fakultas Hukum sebagai fakultas pertama yang berhasil didirikan. Perkembangan selanjutnya demikian mencekam lantaran memisahkan anak-anak kandung yang lahir dari ibu yang sama di lokus yang berjauhan: Pleburan untuk kampus-kampus ilmu sosial dan Tembalang untuk kampus-kampus ilmu eksakta.

Hubungan kedua kampus itu tentu saja tak pernah serenggang hubungan mantan dengan gebetan. Kalaupun terjadi kerenggangan, hal itu semata disebabkan oleh jarak yang, sumpah, dekaden belaka. Dan kerenggangan itu sejatinya tinggal kenangan jua karena kampus-kampus Pleburan sekarang telah berpindah ke Tembalang.

Namun, raibnya jarak dan bersatunya dua insan akankah selamanya berakhir tanpa persoalan? Para mahasiswa, alumnus, atau keluarga mahasiswa dan alumnus Undip semestinya dapat mengambil hikmah bahwa Pleburan, kekasih yang dicampakkan itu, pada akhirnya hanya meninggalkan kenangan, gerimis, bangunan-bangunan mangkrak, dan PKL-PKL legendaris yang satu demi satu, perlahan tapi pasti, gulung tikar. [Pekanbaru, 00.43, 18032015]

Melaju ke Barat dengan Motor pada Siang Hari

Oleh AP Edi Atmaja

: SDD

Kala aku melaju ke barat dengan motor pada siang hari

truk-truk mencegatku di depan.

Aku tak tahu siapa di antara kami

yang mencipta kemacetan.

Kami tak bertengkar tentang siapa dari kami

yang mesti melenggang duluan.

Mangkang, 04082013

*) Tulisan ini pertama kali disiarkan oleh Horison Online pada 13 November 2014.

Man Cycling on Street with Focus on His Shadow Stock Photo/Gettyimages.com

Man Cycling on Street with Focus on His Shadow Stock Photo/Gettyimages.com

Semarang yang Sepanas-dingin Gebetan

Oleh AP Edi Atmaja

SAYA menulis ini bukan karena saya sudah tidak sayang lagi dengan kota di mana saya menghabiskan masa kecil, dibesarkan, dan meraih prestasi saya sebagai seorang manusia (halah). Bukan pula karena sekarang saya sudah tidak bermastautin lagi di kota itu dan berhijrah ke lain kota—meskipun soal yang belakangan itu, terus-terang, memang dari dulu saya impi-impikan. Saya menulis ini lantaran dua hal: kesempatan dan keempetan.

Tentang dua hal itu, sebagai pengantar-sebelum-membaca, baiklah terus-terang saya katakan bahwa saya tak biasa menulis semojok penulis-penulis di situs yang sarat pemojokan karakter ini. Andaikan tulisan ini kurang bisa memojokkan adinda-kanda sekalian, perkenankanlah saya memohon maaf. Sudilah kiranya adinda-kanda sekalian memindah saja tautan ke tulisan lain yang tulen mojoknya, semisal tulisan Arman Dhani yang membela habis-habisan  mantan calon pacarnya, Chelsea Islan, dari jelalatan mata hidung-belang. Atau, tulisan tentang senyuman sepuluh gigi Agus Mulyadi yang bikin doi pantas jadi menteri.

Semarang yang Sepanas-Dingin Gebetan/Mojok.co

Semarang yang Sepanas-Dingin Gebetan/Mojok.co

Semarang, kota yang mengisi hidup saya 23 tahun lamanya, memang sejak lama ingin saya tulis. Begitu banyak sudah orang menulis tentang kota yang didirikan Ki Ageng Pandanaran alias Sunan Tembayat ini. Di peramban (browser), anda bisa dengan mudah menjelajahi setiap lekuk kota ini, dari yang paling eksotis semacam kawasan Kota Lama hingga yang paling miris seumpama kawasan Tambaklorog. Siapalah saya yang mau menambah-tambahi celotehan orang-orang tentang Semarang yang begitu banyak itu.

Saya harus menulis tentang kota yang baru beberapa bulan saya tinggalkan itu justru karena saya merasa bahwa sampai kapan pun saya adalah warga Semarang—seberapa pun jauh saya meninggalkannya dan seberapa pun dalam luka yang ditorehkannya saat saya masih bersamanya (halah).

Bagaimana tidak luka kalau dari dulu Semarang tidak pernah bisa tuntas dari persoalan air bah yang mengepungnya dari utara dan selatan? Polder-polder tinggalan Belanda tak pernah dimaksimalkan penggunaannya atau ditambah jumlahnya atau karena persoalan lain yang saya belum tahu; dan dari dulu rob Semarang selalu menjadi berita klise di koran-koran lokal dan nasional. Paling parah tentu saja gundulisasi daerah resapan air berkat rahmat kuasa modal yang membuat beberapa tetes hujan di kawasan Ngaliyan mampu membikin kawasan Mangkang tergenang semalaman.

Kalau mau jujur-jujuran, siapalah kiranya yang mau tinggal di kota perlintasan pantura yang sumpek akan truk-truk besar berisik dan membikin jalanan yang memang pada dasarnya gersang, panas, dan berdebu itu menjadi semakin gersang, panas, berdebu, dan macet. Ya, ditambah macet dan habislah sudah usia anda di jalan—kendati truk-truk nan brengsek berisik itu sejatinya sudah dicarikan solusi dengan pembangunan rel ganda kereta api sehingga tidak ada lagi cerita jalanan macet, rusak-rusak, yang membuat selalu ada alasan proyek abadi.

Sederet keluhan lain sebenarnya bisa dijejerkan di tulisan ini tapi saya kira saatnya bagi kita untuk memandang lebih positif kepada Semarang. Inilah kota di mana diskusi soal Tan Malaka, pahlawan nasional, yang di beberapa kota dilarang dengan begitu bengisnya, terselenggara dengan begitu sejuk dan damai, bahkan didukung penuh oleh Gubernur Jawa Tengah dan Rektor Universitas Diponegoro.

Semarang adalah satu-satunya kota yang para warganya menolak kehadiran organisasi preman bersorban (kita sebut saja dengan inisial: FPI) sejak dalam kandungan. Organisasi preman bersorban yang ciut nyalinya itu lantas memindahkan tempat deklarasi di Temanggung, sebuah kabupaten kecil yang jauhnya sekira 83 km dari Semarang.

Di Semarang jualah bisa anda temukan organisasi seperti LPM Gema Keadilan atau Satjipto Rahardjo Institute (SRI)—yang digawangi, antara lain, oleh Unu Herlambang dan Rian Adhivira—yang dengan gemilangnya menyelenggarakan diskusi film “Jagal: The Act of Killing” tanpa perlu berusan dengan pentungan, makian emosional bernada keagamaan, dan intimidasi organ-organ tinggalan Orde Baru.

Ketimbang mengejar-kejar mantan, aktivis SRI tampaknya lebih demen membela ibu-ibu di Rembang dari kejahatan kapital pembangunan pabrik semen. Daripada menguber-uber gebetan, para jomblowan di lingkungan SRI rupanya lebih suka mengendus-endus kuburan massal korban 1965 di Semarang untuk dimakamkan kembali secara layak.

Di Semarang, hanya di Semarang, anda dapat menyaksikan ratusan tentara nonton bareng (nobar) film “Senyap: The Look of Silence” dengan begitu khusyuknya sementara, di tempat lain, seorang Putri Indonesia yang berasal dari Semarang mengenakan kaos bergambar palu-arit dengan senyum senang dan hati riang.

Namun, di Semarang, hanya di Semarang, beberapa manusia lanjut usia (manula) suatu kali digrebek polisi karena dituduh sedang mengadakan pertemuan terlarang untuk membangkitkan kembali (sic!) ajaran komunisme. Di Semarang, hanya di Semarang, kota bersejarah yang pernah jadi basis Semaoen dan Sarekat Islam Merah-nya itu, partai politik yang demen banget dengan warna merah selalu menang dan mengantarkan seseorang menjadi walikota meski pada akhirnya sang walikota dibui dan digantikan oleh wakil walikota dari partai yang sama. Di Semarang, hanya di Semarang, di kota merah itu, wakil walikota yang kini telah jadi walikota telah menandatangani kontrak dengan suatu perusahaan untuk menggusur kantong kesenian yang demikian berarti tapi kerap kali diabaikan, Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), menjadi hiburan komersial bernama Trans Studio.

Bercerita tentang Semarang memang berbahaya karena dapat menyebabkan kita merasa sedih dan panas-dingin seperti saat kita menguber-uber gebetan (kalau ada). [Pangkalan Kerinci, 23.32, 08032015]

*) Tulisan ini pertama kali disiarkan oleh Mojok.co pada 11 Maret 2015.

Kisah tentang Dua Sahabat

Oleh AP Edi Atmaja

SAYA punya sahabat, Junaidi Abdul Munif namanya. Dia memperkenalkan dirinya Bang Juned, saya memanggilnya Kang Juned, tapi orang-orang menyapanya Juned atau Jun atau Ned saja.

Juned ini seorang penulis. Ia menyebut dirinya sendiri intelektual proletar. Definisi intelektual proletar: pemikir yang merutuki dosa-dosa—tapi selalu memiliki ketergantungan terhadap—pemilik modal. Ironis, memang. Tapi itulah risiko menjadi penulis di negeri ini. Maksud saya, penulis yang serius: entah paruh atau penuh-waktu—baik esai, prosa, maupun puisi di suratkabar atau majalah. Bukan penulis SMS, pesan BBM, pesan Whatsapp, status Facebook, kicauan Twitter, apalagi dinding-dinding bangunan dan fasilitas milik publik.

Saya berkenalan dengan Juned dalam kongko-kongko yang diadakan oleh kantor perwakilan sebuah suratkabar nasional di Semarang, Jawa Tengah. Dalam acara yang mengenyangkan perut dan otak yang saban tahun selalu ditunggu-tunggu para penulis lokal itu, saya bertukar kontak dengan Juned.

Sehabis perjumpaan itu, kami berbagi informasi mengenai koran dan majalah-majalah. Sebenarnya, sayalah yang lebih banyak mengorek ilmu dari Juned. Saya kerap bertanya padanya tentang tip dan trik agar suatu tulisan dapat dimuat. Cukup banyak tulisan Juned yang saya simpan untuk saya baca dan pelajari, saya racik resepnya untuk menciptakan resep saya sendiri.

Sampai suatu ketika Juned mengenalkan saya pada Analisa, koran yang terbit di Medan, Sumatera Utara. (Belakangan saya ketahui dari seorang teman, Jamar namanya, Analisa adalah suratkabar dengan oplah cukup bagus di Medan, kota terbesar ketiga se-Indonesia.) Pemuatan tulisan di Analisa relatif mudah, Juned mengompori saya. Honor pun lumayan, katanya menambahkan.

***

BEBERAPA waktu lalu pesan Whatsapp masuk di ponsel saya. Ternyata dari Juned. Setelah menanyakan kabar masing-masing (kami hampir tak pernah berkomunikasi lagi sejak saya berganti mastautin), kami mengobrol lagi tentang tulisan, tema yang tak pernah kering jadi bahan pembicaraan kami berdua.

Masih menulis untuk Analisa? tanya Juned. Ya, jawab saya. Mengapa saya tak pernah melihat tulisanmu lagi di Analisa? saya balik bertanya padanya.

Tiga tahun lalu, saat Juned pertama kali mengenalkan saya pada Analisa, sudah banyak tulisan yang dihasilkannya. Hampir setiap minggu saya jumpai tulisan-tulisannya di koran itu. Sebagai mahasiswa, sepertinya ia lebih senang menjalani lakonnya yang lain sebagai seorang penulis. Sementara, saya hanya menulis kalau kebetulan ditugasi dosen membikin makalah, dan makalah itu saya ubah formatnya sehingga sedikit pantas untuk disiarkan koran.

Singkatnya, kalau Juned memilih untuk bertualang dengan ide yang bermacam-macam di dalam atau di luar disiplin keilmuannya, saya masih saja bersetia dan/atau tak bisa lepas dari ilmu yang saya pelajari di ruang kelas. Maka tak aneh jika secara kualitas dan kuantitas, Juned jauh lebih produktif. Meskipun tulisan saya di Analisa tak bisa dikatakan tidak banyak, mereka masih kalah jumlah dan variasi tema jika dibandingkan dengan tulisan-tulisan Juned.

Tema tulisan saya di Analisa dari dulu sampai, mungkin, sekarang selalu berkutat pada hukum dan masyarakat dan tak bisa lebih jauh dari itu. Kalau penulis lain—termasuk Juned—menulis secara aktual—dalam arti menyoroti peristiwa-peristiwa aktual—saya hanya kadang-kadang saja menulis demikian. Saya bukan pembaca dan pengulas peristiwa yang baik dan agak malas mengikuti perkembangan berita.

Analisa, saya kira, satu-satunya media massa cetak yang tak pernah ambil pusing soal aktualitas. Dengan menerbitkan sedikitnya empat tulisan (opini, esai, cerpen, puisi) setiap harinya, persoalan yang diketengahkan menjadi begitu beragam.

Dalam satu edisi anda bisa membaca kritik warga terhadap kotanya, cerita-cerita tentang film, buku, dan perhelatan, hingga ruang khusus yang disediakan khusus untuk tokoh lokal buat bernarsis-ria-dengan-memajang-foto-jenaka, dan, tentu saja, tulisan-tulisan yang mengulas aneka peristiwa aktual dengan pembahasan yang dalam sampai kurang dalam.

Ibarat lubang hitam yang menghisap segala benda yang lewat di hadapannya, Analisa menerima hampir semua tulisan, ide, dan pemikiran.

Kehebatan Analisa yang patut dikisahkan di sini adalah keengganan redaksinya untuk menyunting naskah yang masuk. Alih-alih menyunting, sebagaimana tugas (hak?) redaksi suratkabar pada umumnya, Analisa membiarkan saja naskah sebagaimana adanya. Jadilah tulisan tampil secara orisinal: tulisan bagus tampil sebagai tulisan bagus, dan sebaliknya, vice versa.

Entah apa maksudnya, yang jelas saya suka dengan model redaksi yang seperti itu. Kalau mau memuat tulisan saya, muat sajalah, tapi tolong menyuntingnya kira-kira, dong. Saya pernah mengirim tulisan ke suatu koran dan, ketika dimuat, tak mengenali tulisan itu lagi karena hampir 80 persennya telah diubah redaksi. Ledig, kata orang Jakarta.

***

MALAM itu, di Whatsapp, Juned memang menjawab pertanyaan saya. Ia terlampau fokus pada suratkabar nasional bertiras besar sehingga tak pernah menulis untuk Analisa lagi. Sehabis wisuda, ia benar-benar telah menjadi penulis penuh-waktu. Sementara saya masih begini-begini saja, menulis hanya untuk senang-senang.

Maka ketika Juned menanyakan surel pengiriman naskah untuk Analisa (apakah masih surel yang dulu itu? tanyanya) saya ikut senang. Berarti akan ada dua sahabat yang merajut hubungan kembali dalam waktu dekat.

(Analisa, bagaimanapun, adalah sahabat saya karena telah menyiarkan banyak tulisan saya, meskipun [1] Analisa pernah menolak memuat jawaban saya atas tulisan yang menanggapi tulisan saya, yang berarti memutus rantai diskusi yang mencerdaskan dan [2] tautan digital tulisan saya [serta semua tulisan lain] sebelum tahun 2014 telah lenyap dan ini patut disayangkan.)

Saya teringat perkataan Muhammad Al-Fayyadl, penulis buku Derrida (2005), di dinding Facebook-nya: “Mari berhenti ‘memberi makan’ media-media besar.” Saya tak tahu apakah Analisa termasuk media besar atau tidak, dan itu bukan urusan saya. Urusan saya adalah terus menulis dan kebahagiaan seorang penulis terletak pada tulisan yang tidak disunting secara brutal saat disiarkan. [01022015, 16.39]

Realistis

Oleh AP Edi Atmaja

ketika kamu bilang realistis padaku

hidupku berjalan seperti biasa

saat realistis bukan lagi serupa dogma

yang ditakuti manusia

sesekali bawa kabar gembira

ketika kamu berkata realistis padaku

aku tahu kita tak seruwet yang kamu sangka

selalu ada jalan di belukar gelap malam

mencuat terang purnama membayang

ketika kamu bicara realistis padaku

aku ingin kamu tahu

mencintaimu sepanjang waktu

memujamu hampir selalu

adalah kewajibanku

sebagai manusia

 Pekanbaru, 23092014

Optimistis--Pebrianiartha

Optimistis/Pebrianiartha

Kemungkinan-kemungkinan Lain Keadilan Hukum

Oleh AP Edi Atmaja

SAYA menonton film “The Judge” (2014), dan semakin tidak mengerti apa itu hukum. Bagaimana mungkin seorang terdakwa dinyatakan bersalah sekaligus tak bersalah dalam satu tarikan napas putusan para juri?

Tersebutlah seorang hakim di sebuah kota kecil di Indiana, Amerika Serikat. Hakim itu, Joseph Palmer (Robert Duvall), telah menjabat selama 42 tahun dan menangani lebih dari 17 kasus pembunuhan, 434 kasus penyerangan, dan 12.942 kasus sipil lainnya.

Sebagai hakim, Joseph Palmer dikenal memiliki karakter nan garang. Ia sahabat setia para istri yang tertindas suami dan musuh paling dibenci suami-suami yang gemar menelantarkan istri mereka. Di satu adegan digambarkan bagaimana sang hakim memerintahkan seorang suami untuk menyerahkan asetnya yang paling berharga, sebuah truk baru, kepada istri yang tak pernah dinafkahinya.

Kemungkinan-kemungkinan Lain Keadilan HukumKonflik dihadirkan sutradara, David Dobkin, lewat kematian istri Hakim Palmer. Malam sehabis pemakaman, ia pergi ke pasar swalayan dan keesokan paginya sebuah tuduhan serius mesti ia hadapi: delik pembunuhan. Bukan main, seorang hakim dan delik pembunuhan.

Seorang pria tewas tertabrak ketika mengendarai sepedanya dan Hakim Palmer dituduh menjadi pelaku utama dalam kecelakaan tersebut. Tuduhan itu sangat beralasan sebab polisi menemukan ceceran darah korban di sisi mobil sang hakim. Dan, secara kebetulan, korban itu ternyata adalah Mark Blackwell, pemuda yang pernah Hakim Palmer jebloskan ke penjara selama 20 tahun lantaran dengan sengaja menghilangkan nyawa pacarnya.

Adegan perlahan bergeser tatkala Henry ‘Hank’ Palmer (Robert Downey Jr) datang. Perkara hukum yang semata-mata banal berganti menjadi—mengutip Adria Setya Pradana, pengamat film-cum-ustaz mesum—persoalan psikologis antara ayah dan anak. Hank Palmer adalah anak kesayangan yang tak penah disukai ayahnya. Ia, dengan reputasinya sebagai pengacara berbakat yang selalu meloloskan para penjahat dari jerat hukum, berusaha mati-matian membela ayah yang dibencinya.

Konflik demi konflik, ketegangan demi ketegangan, timbul akibat hubungan tak harmonis yang dipertontonkan ayah dengan anaknya, klien dengan pengacaranya, baik di dalam maupun di luar persidangan. Namun, seorang anak tetaplah anak. Meski semua bukti mengarah pada satu kesimpulan bahwa Hakim Palmer telah dengan sengaja menabrakkan mobilnya ke Mark Blackwell, Hank terus-menerus berupaya meyakinkan para juri bahwa ayahnya tak bersalah.

Kekuatan film ini, saya kira, terletak pada pergulatan sosial (baca: nonhukum) yang dihadirkannya. Melihat judulnya, The Judge, sepintas tampak seperti film hukum yang membosankan—kuyup dengan pasal-pasal yang bertebaran dan hakim yang memutus dengan kacamata kuda. Namun film ini, ternyata, bukan seperti itu.

Buat anda yang memandang hukum itu tak semata pasal-pasal, silakan menonton film ini. Hukum, sejauh menyangkut nyawa manusia, adalah suara kemanusiaan. Keadilan yang coba dicapainya melampaui sekadar perkara benar-salah.

(Saya terkesan ketika jaksa Dwight Dickam berujar kepada Hank Palmer, “Hukum adalah satu-satunya hal yang bisa menyetarakan manusia. Kau mungkin menganggap Blackwell hanyalah sampah dan dia pantas mendapat ganjarannya, tapi di mata negara hidupnya itulah yang penting.”)

Lihatlah bagaimana kegalauan hati para juri. (Dalam sistem hukum common law dikenal juri [jury], yakni masyarakat biasa yang dipilih pengadilan untuk memutus perkara pidana.) Dari sidang ke sidang, mereka disuguhi fakta-fakta dari dua pihak yang saling berseberangan, Hank Palmer versus Dwight Dickam, yang sama benar dan sama argumentatifnya.

Lihatlah juga kegalauan hati Hank, yang dari hari ke hari tertekan oleh kenyataan bahwa ayahnya tak sedikit pun berniat untuk mengangkangi hukum, tak hendak berlindung di balik hukum atas kejahatan yang telah diperbuatnya, kendatipun ia mampu. Di puncak frustrasinya, Hank bahkan sampai mengumpat, “Kau ini susah sekali dibela!”

Gangguan ingatan akibat kanker kronis yang Hakim Palmer deritalah yang menghambat pengakuan bahwa dialah yang menabrak Mark Blackwell. Alih-alih berbuat begitu, ia mengaku bahwa dia dengan sengaja membunuh Mark karena provokasinya dan tak ingat bagaimana melakukannya.

The Judge menyajikan kepada kita kemungkinan-kemungkinan lain keadilan hukum. Di tengah kultur hukum yang amat mendewakan kepastian, film ini menampilkan hukum dengan demikian manusiawi.

Ketika Hakim Palmer dicecar anaknya sendiri soal mengapa ia bisa keliru dalam putusannya yang pertama kepada Mark Blackwell, yang hanya menjatuhkan hukuman 30 hari penjara, sang hakim hanya menjawab, “Saat melihatnya, aku melihatmu, anak kesayanganku, anakku yang baik. Sama-sama pemberontak. Sama-sama ceroboh.”

Film ini adalah contoh bagus untuk menjelaskan apa itu sociological jurisprudence. Hakim dan perangkat penegak hukum lainnya hanyalah penghantar, masyarakat itu sendirilah yang menemukan keadilan hukum. Hukum yang saban waktu ditemukan, saban waktu dicari—benarlah apa yang didengungkan Paul Scholten, kemudian Satjipto Rahardjo. [03.17, 24012015]

*) Tulisan ini pertama kali disiarkan oleh harian Analisa pada 29 Januari 2015.

Velangkanni

Oleh AP Edi Atmaja

: illa

di bulir hujan ini aku merindukanmu

bersama goyangan bentor

merayapi kota sang Guru

bibirmu simpul mawar

ronamu segar

pribadimu serupa melati mekar

di ujung waktu itu, di mula senja, di buaian pesona Padang Bulan-Simpang Selayang

Velangkanni tegak menjulang

merestui sesiapa hadir meminta

nyalakan lilin harapan

serukan siar perdamaian

aku iri padamu, Velangkanni

Dia bersanding denganmu

dua belas Santo menemanimu

air kehidupan memancar dari telapak kakimu

katakan padaku, Velangkanni

bisakah Kasih dihapuskan

ketika Beda kalahkan Sama

dan Sama berarti Keseragaman

pahamkan aku, Velangkanni

apa arti kesetiaan

dan cinta yang mendua

dan kegelisahan yang berbahaya

di tengah kemunafikan yang

tampak seperti ikan di lautan

aku dan Velangkanni jalan bersama

bulir hujan tak menetes lagi

ia tenggelam dalam pikirannya

dan aku tenggelam dalam pikiranku

 Pekanbaru, 10092014

*) Tulisan ini pertama kali disiarkan oleh Horison Online pada 13 November 2014.

Gereja Grha Maria Annai Velangkanni/Panduanwisata.id

Gereja Grha Maria Annai Velangkanni/Panduanwisata.id