Sastra Kelabu: Sebuah Catatan tentang Manusia dan Kemanusiaan
Sastra Kelabu bercerita tentang relativitas kemanusiaan. Manusia dan kemanusiaan, pusat rotasi cerita, didudukkan bukan sebagai sesuatu yang eksak, kendatipun sederhana watak keduanya.
Sastra Kelabu menyajikan sisi lain dan sudut pandang yang mungkin bukan merupakan sisi lain dan sudut pandang orang kebanyakan. Ia barangkali tampak tak wajar bagi mainstream dan mindset umum, tapi sangat wajar jika ditinjau dari segi kemanusiaan.
Manusia, kemanusiaan (humanism), dan kesejarahan-manusia (human-historiosity), dalam catatan ini, disajikan secara nisbi. Tiada manusia yang benar-benar “putih”, begitu pun tiada manusia yang nyata “hitam”. Semua adalah “kelabu”, jika kita mau melihat melalui celah-celah perspektif yang beranekaragam.
Sastra Kelabu dibikin bukan buat mengkritik suatu objek (baca: manusia), apalagi menghujatnya. Bukan pula ia difungsikan sebagai sarana pemujaan terselubung bagi makhluk yang bukan Tuhan. Ia tak lebih sekadar luapan ide–yang perlu disalurkan kendatipun parah ide tersebut. Ia tak bermaksud mengundang amarah, apalagi pertumpahan darah. Ia hanya secuil mozaik dan, mungkin, pencerah, di tengah zaman yang makin gelisah.
Sekadar Catatan
Sejak 27 Maret 2010, Sastra Kelabu tidak cuma berkutat pada makna “sastra” dalam cakupan sempit. Makna “sastra” kini telah berkembang dengan dimasukkannya anasir selain seni–seperti makna “sastra” secara awami–yang meliputi Catatan Harian, Kuliah Hukum, dan Esai. Dengan pembebasan makna ini, diharapkan esensi “sastra” sesungguhnya tampak: tulisan yang memperkaya khazanah pemikiran.
Sastra Kelabu kini menjadi blog resmi A.P. Edi Atmaja, di mana segala tulisannya–dari yang berkadar serius hingga “nyleneh”–dapat turut mengisi blog. []

