Mbah Umar, Suatu Pagi

4 November 2011

Oleh A.P. Edi Atmaja

Pengantar:

Sketsa ini merupakan pengamatan penulis saat mengikuti Kuliah Kerja Nyata di Desa Dudakawu, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara dari 19 Juli 2011 sampai 23 Agustus 2011.

 

SAYA sambangi dia dalam udara pagi yang dingin. Sempat bingung tanya orang sana-sini sebelum akhirnya saya temukan rumah mungil itu: beratap rendah dengan pintu geser dari kayu. Saya beruluk salam. Lantas Nyonya Umar pun keluar, mempersilakan masuk, dan menyuguhi saya kopi hitam pekat.

Mbah Umar, ketua RT 1 RW 5, ternyata lagi di kebun kopi, sembari mencari ramban buat pakan sapi, demikian keterangan sang Nyonya. Setelah menanti lebih-kurang 15 menit, kakek berusia 70-an tahun itu pun nongol dan menyalami kami satu per satu dengan senyum cengengesannya yang khas.

Mbah Umar sosok yang garang. Kendati bisa dibilang renta, vitalitas muda masih tampak dari guratan mukanya. Tangannya liat berotot, punggungnya tegak, tak bungkuk. Warna kulitnya cokelat pekat terbakar terik mentari. Tak kebayang, seperti apa ia di waktu muda.

Di ruang tamu sempit yang kuyup perabot antik itulah saya dikibuli bermacam-macam soal. Dari keberagaman seni hingga kesatuan agama-agama.

***

RUANG TAMU itu gelap ketika saya masuk. Karena tak bersekat, kita bisa melihat bagian rumah lain lewat ruang tamu itu. Kamar tidur diberi gorden sebagai pengganti pintu. Di dinding, terpasang ornamen tokoh-tokoh pewayangan dari kayu: ada Kresna, Bimasena, dan Srikandi. Ada pula pahatan kayu berbentuk Garuda Pancasila. Semua itu buatan tangannya sendiri.

Di pojok samping, bertengger vespa dan sepeda ontel. Griya yang antik.

Mbah Umar mempersilakan minum kopi. Saya seruput kopi hitam di hadapan saya dengan takzim. Mantap. Manis. Terakhir kali saya seruput kopi model begini ketika mengikuti rapat RT se- Desa Dudakawu. Dan itu benar-benar orisinal: kebanyakan warga di Dudakawu memang punya kebun kopi di halaman yang mereka olah sendiri jadi bubuk kopi.

Mbah Umar menyeruput kopi miliknya yang sudah mendingin. “Kopi dingin lebih manjur, Mas. Lebih kuat mencegah kantuk,” kata dia. Kopi itu tinggal endapan. Hitam pekat di dasar gelas.

***

MBAH Umar pernah tersangkut G-30-S. Dan, seperti korban sejarah lain, ia amat membenci Soeharto.

Di almarinya yang penuh buku-buku usang—yang amat sangat jarang dijumpai di masyarakat Dudakawu—bisa kita temukan fotokopian Dosa-dosa Besar Soeharto. Ia nangkring dengan manisnya bersama buku tentang fakta G-30-S menurut LB Moerdani. Terhitung, ada tiga buku soal PKI yang disodorkannya kepada saya.

Apakah Mbah Umar membaca itu semua? “Ya, saya baca. Saya kaget, kualitas mata saya di penghujung usia ini justru sangat bagus. Serasa muda lagi. Inilah keluhuran Tuhan,” kata dia.

Jadilah masa senja Mbah Umar dihabiskan buat mengkhatamkan buku-buku tuanya, selain terus aktif mengurusi kopi-kopi dan beternak sapi.

Di dalam almari bikinan sendiri itu, dapat kita temukan pula kertas manual kelompok aliran kebatinan dari Madiun. Di situ tercetak angka 1931, pemimpinnya seorang raden. Mbah Umar pernah belajar di “sekolah” itu di waktu muda. Sampai kini, ia masih mengamalkannya dengan tekun setiap hal terperinci darinya.

Orang hidup, kata Mbah Umar, harus tahu betul buat apa ia hidup. Jangan cuma numpang hidup. Ia mesti punya tujuan hidup. Ia mesti berusaha mencapai hidup utama. Hidup utama adalah hidup yang sebenarnya, setelah kita moksa. Hidup di dunia ini hanyalah semu dan sementara.

Saat ajal menjemput kita, membebaskan diri dari belenggu dunia, kita mesti mengupayakan kemunculannya secara wajar. Secara normal. Seseorang yang meninggal lantaran kecelakaan atau pembunuhan, misalnya, bukan meninggal dengan cara yang wajar, sehingga belum bisa mencapai hidup utama.

Mbah Umar bercerita dengan nada suara yang menggebu. Tak segan ia berlaku sangat provokatif untuk menjelaskan maksudnya. Saya kaget tatkala ia tiba-tiba mencopot kaosnya ketika sampai pada pembahasan tentang agama-agama. “Kaos saya ibaratkan sebagai Islam, agama yang saya anut, yang melekat pada diri saya,” ujar dia.

Ketika kaos itu dicopot, lanjut dia, kemudian diganti dengan kaos lain berlabel Kristen, misalnya, maka kita sekarang jadi seorang Kristen. Begitu pula bila kaos itu diganti lagi jadi kaos Budha, Hindu, atau Konghuchu, tampilan luarlah yang akan mengikuti kaos yang kita pakai. Akan tetapi, isi dari apa yang dipakaikan kaos itu sesungguhnya sama, yakni badan, yang memiliki satu tujuan: panghambaan kepada Tuhan.

Maka, tandas Mbah Umar, “Saya ini seorang nasionalis. Saya tak ingin terpaku pada satu agama. Terjebak pada fanatisme sempit. Saya ingin mempelajari semuanya.” Di dalam almarinya, Alkitab juga ia simpan dan ia baca kadang-kadang.

***

MBAH Umar, buat saya, adalah sosok yang sangat khas: sebagai manusia, sebagai orang tua, juga sebagai seorang ketua RT.

Saya suka keblak-blakannya dalam bersikap dan bertutur kata. Ia tegaskan, negara ini sedang dilanda banyak problem. Itu karena manusia-manusianya punya banyak problem. Ia kritik kaburnya Muhammad Nazaruddin sebagai bagian dari kebobrokan institusi kepartaian kita, dus institusi politik.

Mbah Umar memiliki pengetahuan yang lumayan soal dunia perpolitikan negeri ini. Padahal, ia cuma mengenyam pendidikan setingkat SD. Lebih dari itu, ia piawai dalam soal kesenian. Ornamen wayang adalah bagian kecil dari kepiawaiannya itu. Ia pun bisa menari dan melukis. Pokoknya, semua pasti mudah asal kita mau mencoba, tuturnya.

Buat saya, kepiawaian itu muncul bukan lantaran kenekatan semata, melainkan juga rasa ingin tahunya yang besar. Ia masygul, tidak dilahirkan di abad informasi seperti sekarang ini. Ia, dalam beberapa obrolan, amat antusias bertanya mengenai pemakaian komputer dan telepon genggam. Betapa sangat beruntung jadi manusia sekarang, katanya.

***

SAYA TERPERANJAT kala pulang ke posko malam-malam, Mbah Umar sudah jagongan bersama teman-teman di ruang tamu. Ia memakai sarung dan kemeja batik lusuhnya yang berlengan panjang. Tak ketinggalan, tentu saja, senyum cengengesan yang seperti biasa.

Senter tergenggam di tangannya. Rupanya sedang ada giliran ronda, dan ia sengaja mampir dulu ke posko kami. Ia sudah bercerita panjang-lebar sebelum saya datang. Setelah saya turut-serta dalam jagong itu, ceritanya makin tak terhentikan. Ia baru pamit pulang sehabis pukul sepuluh malam.

Begitulah Mbah Umar. Sebagai seorang ketua RT, ia loyal bukan main. Seperti sekarang, ia ikut ronda di poskamling. Begadang sampai pagi bersama warga yang lain, tua dan muda. Pun, ia selalu mengikuti kegiatan RT selagi ia sempat. Padahal, kita tahu, masa senja semestinya dihabiskannya dengan lebih tenang di rumah. Namun, “pagi” rupanya jadi kosakata yang selalu pas disematkan untuknya. [Dudakawu, 21082011]

*) Tulisan ini pernah dimuat dalam buletin Replik Edisi I/XXXV/Oktober/2011 terbitan Lembaga Pers Mahasiswa Gema Keadilan.


Dudakawu: Permata Lereng Muria [3]

5 September 2011

Oleh A.P. Edi Atmaja

Pengantar:

Reportase ini merupakan pengamatan penulis saat mengikuti Kuliah Kerja Nyata di Desa Dudakawu, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara dari 19 Juli 2011 sampai 23 Agustus 2011.

Hari kelimabelas

Bersama Anak-anak PAUD

Bersama Anak-anak PAUD

2 Agustus 2011. Kami punya program yang sebenarnya bukan merupakan program formal kami. Ia ada berkat kebutuhan desa—dalam hal ini, atas usulan Bu Sri Nurhayati dalam pertemuan kader posyandu.

Program itu berkaitan dengan nonaktifnya kegiatan pemuda di desa ini. Bu Sri berniat membangkitkan kembali Bina Keluarga Remaja (BKR) sebagai wadah bagi pemuda melangsungkan kegiatannya. Dan fungsi kami adalah memberi asupan materi buat pemuda-pemuda terpilih yang diharapkan mampu mengemban tugas pembangkitan itu.

Kami memutar akal bagaimana cara mengumpulkan seluruh pemuda di Dudakawu, dari Nglarangan sampai Gerot. Maka, kami memutuskan hendak mendekati kamituwa masing-masing dukuh. Dari situ, kami berharap, akan diperoleh nama-nama pemuda potensial yang bisa kami kumpulkan dalam satu penyuluhan.

Pertama-tama, kami berkunjung ke kamituwa Nglarangan pada 28 Juli kemarin. Hari ini, kami coba sowan kembali ke rumah Mbah Saryadi, kamituwa Gerot. Sekali lagi kami kecele: yang bersangkutan tak kami jumpai di rumah. Selalu saja ia sedang berada di ladang nan jauh di gunung.

Sementara tim Gerot pulang dengan tangan hampa, tim kamituwa Krajan berhasil menemui Pak Mulyadi. Selain itu, tim papanisasi juga berbelanja bahan-bahan dan perangkat yang dibutuhkan untuk program papanisasi.

Hari keenambelas

3 Agustus 2011. Dari raut-wajah siswa-siswi Pendidikan Anak Usia Dini, kami temukan kepolosan manusia.

Kebanyakan siswa menggelendot dan tak mau lepas dari ibunya. Sebagian lainnya berada dalam gendongan dan susuan. Cuma sedikit yang dengan berani berlarian ke sana-ke mari, seolah mau berkata, “Ini lho, aku.”

Ketika kami tiba di PAUD bersahaja itu, beberapa pasang mata menatap kami bulat-bulat. Tatapan mata tak seseram sebelumnya kala kami salami mereka, ibu-ibu beserta anak mereka, satu per satu. Suasana jadi demikian cair ketika kami putar lagu anak-anak dan bernyanyi bersama siswa-siswi PAUD itu. Bahkan, beberapa di antaranya berani menyanyi di tengah lingkaran—meski tak begitu jelas dalam pelafalan.

Seluruh siswa—berjumlah 30-an—PAUD yang bertempat di Dukuh Gerot itu hadir dalam Gerakan Cuci Tangan Memakai Sabun yang kami adakan. Program kami mendulang keberhasilan.

Jam 9.00 kami hengkang dari PAUD menuju SD Negeri 3 Dudakawu, hendak mengajar kelas 4, 5, dan 6. Kami diberi waktu sampai pukul 11.00.

Pulang ke posko, dua anak SD, Dika dan Abib, bermain-main ke posko. Mereka cukup lama mengobrol dengan kami. Di akhir perjumpaan, mereka mengajak bermain Playstation (PS). Sungkan menolak, kami turuti ajakan itu. Tak rugi, karena dari tempat mangkal bermain PS, kami berkenalan dengan banyak warga yang sejatinya ingin mengenal kami lebih dekat.

Hari ketujuhbelas

Pelatihan Jurnalistik

Pelatihan Jurnalistik

4 Agustus 2011. SMP Negeri 4 Kembang, seperti halnya SD Negeri 3 Dudakawu, terletak di depan Balai Desa. Bangunannya sangat mungil, berbentuk huruf “L”: sisi yang panjang adalah kelas 7, 8, dan 9, sementara sisi pendeknya menjadi ruang guru dan UKS.

Praktis, cuma ada satu kelas di masing-masing jenjang kelas. Itu pun dengan murid tak lebih dari 30 orang. Murid-muridnya tersebar di Dudakawu dan sekitarnya, seperti Pendem dan Bucu.

Kami melakukan pembimbingan belajar tepat pukul 12.00, seusai bubaran sekolah. Sepuluh orang menyebar tiga-tiga ke tiga kelas, mengajar selama satu jam. Satu hal yang kami catat: murid-murid itu sebenarnya pintar, meski mereka pada awalnya sering tampak tak serius dan malu-malu tatkala diajak berdiri di depan. Ketika mempraktikkan naskah percakapan dalam matapelajaran Bahasa Inggris, misalnya, mereka mampu melafalkan dengan cukup fasih setelah berhasil digeret ke depan dengan susah-payah. Kepintaran khas anak desa, kami kira.

Pukul 13.00, kami pulang ke posko. Johan dan Yemi lantas pergi lagi, berbelanja peralatan dan bahan-bahan buat papanisasi.

Sehabis Tarawih, kami dikejutkan oleh tamu yang tak disangka-sangka. Ia memperkenalkan diri sebagai Sumari yang, kami ketahui kemudian, ternyata bertempat-tinggal di belakang posko kami. Pria berusia 30-an tahun berambut cepak itu memulai sapaan hangat dengan: “Kenapa pintu posko KKN selalu tertutup?”

Ia mengaku diri sebagai representasi dari aspirasi tetangga-tetangga kami yang, menurutnya, menganggap kami jarang bergaul, selalu ndhekem di rumah, tak pernah bersosialisasi, tak pernah menyapa saat berpapasan, dan segala macam “keburukan khas pendatang” lainnya—yang ujung-ujungnya melahirkan pernyataan (atau kenyataan?) final: mahasiswa KKN kok nggak ada baunya!

Baru kali itu ada tetangga bertamu ke posko dengan nada sinis semacam itu.

Demo Pembuatan Emping Jagung

Demo Pembuatan Emping Jagung

Namun kami suka pada orang seperti Mas Sumari ini. Inilah kritik yang kami tunggu-tunggu. Kami memang mengakui, kami sangat kurang bisa berkunjung ke banyak tetangga. Selain karena padatnya program, sarana untuk itu juga terbatas. Cuma ada empat motor yang kami pakai secara “brutal” untuk mengangkut sepuluh orang. Ada motor yang selalu dipakai tumpuk-tiga, padahal medannya naik-turun. Kadangkala, motor-motor dengan jumlah minim itu dipakai pula dengan melangsir: mengangkut bolak-balik dari tempat satu ke tempat lain.

Komposisi laki-perempuan yang sangat tidak proporsional (7:3) juga kami rasa mengganggu gerak kami. Siang kami habiskan buat berkegiatan, jadi nyaris cuma malam harilah waktu efektif untuk kunjungan-kunjungan dari Ngalarangan sampai Gerot. Padahal, sangat berbahaya bagi perempuan keluar di malam hari seperti itu. Selain dari diri perempuan-perempuan itu sendiri (kebanyakan takut pada gelap dan makhluk-irasional-entah-apa), malam hari sangat rawan kejahatan di desa terpencil nan sepi seperti Dudakawu ini.

Alhasil, ketika, barangkali, tim desa lain leluasa keluyuran bahkan hingga jam 12 malam, kami dari jam 7 petang pun sudah mengunci diri di rumah. Seyogianya, di masa medatang, LPPM mengonsep dengan cermat rasio lelaki-perempuan yang efektif demi kesuksesan program KKN itu sendiri. Bukannya kami menafikan kesetaraan gender, buat sampai ke tahap itu rupanya masih sangat jauh. Karena yang namanya perempuan, tetap saja seorang perempuan.

Mas Sumari mengobrol hingga larut malam. Ia bercerita soal pengalaman hidupnya yang sangat kaya. Ia satu contoh pemuda Dudakawu yang menghabiskan hidup di rantauan. Bekerja di Jakarta dan Sumatra sangat biasa baginya. Di masa mudanya, ia terus-terang mengaku pernah jadi preman Terminal Bangsri, yang kerap berurusan dengan polisi.

Ada saja bahan pembicaraan yang dengan cergas ia ceritakan. Apalagi setelah Pak Inggi nimbrung dalam jagongan itu. Luar-biasa. Baru ketika sampai jam-jam sahur, Pak Sumari berpamitan pulang.

Hari kedelapanbelas

Palatihan Komputer

Palatihan Komputer

5 Agustus 2011. Kami berangkat ke SD Negeri 1 Dudakawu dengan berjalan kaki. Letaknya sekitar 750 meter dari posko, jadi masih berada di Ngalarangan. Seperti kebanyakan sekolah di desa ini, SD Negeri 1 Dudakawu berdiri dengan penuh keterbatasan.

Kelas lima dan enam yang kami ajar cuma mempunyai murid lima dan tujuh orang. Kelas empat tidak ada karena ketiadaan murid. Tragis.

Keadaan ini diperparah oleh persaingan antara SD ini dengan MI Miftahul Huda, yang terletak tak jauh dari situ, masih di Nglarangan. Jumlah murid MI jauh lebih banyak kendati di SD Negeri 1 Dudakawu sudah dicanangkan program Sekolah Gratis. Menurut Pak Inggi, semua itu terjadi karena fanatisme agama demikian kental di sini. Orangtua yang hendak menyekolahkan anaknya diprovokasi oleh oknum tertentu yang mengklaim bahwa masuk SD berarti masuk neraka. Karena di SD, pelajaran agama (Islam) sangat minim.

Selain itu, masih menurut Pak Inggi, sangat langkanya siswa yang bersekolah di SD (terutama SD Negeri 1 Dudakawu) lantaran klik ormas. Terdapat dua ormas besar di sini: NU dan Muhammadiyah. Anggotanya memiliki sentimen keagamaan yang khas, seperti banyak terjadi di tempat lain. NU direpresentasikan oleh MI, sedangkan Muhammadiyah direpresentasikan oleh SD. Anak-anak dengan orangtua seorang  nahdliyin pasti disekolahkan ke MI, tak peduli seberapa melangitnya biaya sekolah. Sementara SD sejak lama dicap sebagai sekolah orang-orang Muhammadiyah, entah sejak kapan cap itu ada.

Kami mengajar sampai jam 9.00. Kepada semua guru kami berpamitan, hendak melanjutkan kegiatan Praktik Pembuatan Emping Jagung.

Ibu-ibu PKK perwakilan masing-masing RW di Dudakawu berkumpul di gedung mungil berdebu itu. Mereka duduk di bangku panjang di gedung yang dipergunakan sebagai madrasah diniyah (sekolah agama di waktu sore). Seperti biasa, kami bertemu Bu Sri.

Acara dimulai dengan mars PKK. Selanjutnya, waktu sepenuhnya menjadi milik kami.

Kami menerangkan semua tahapan pembuatan emping jagung. Mulai dari saat jagung dipetik, diupil biji-bijinya, dijemur, direndam air kapur, dicuci, dikukus, dipipihkan, dijemur lagi, hingga emping siap digoreng. Ibu-ibu turut antusias praktik memipihkan jagung. Malah ada yang bertanya, apa lagi makanan yang bisa dibikin dari bahan jagung. Kami kelabakan karena ibu-ibu meminta demo lanjutan dengan menu berbeda.

Sepulang dari kegiatan, siang hari, kami kerjakan Kartu Kontrol (K-1) bersama-sama.

Malamnya, kami diundang mengikuti Tarawih Keliling bersama Pak Inggi di Masjid Baitussalam, Krajan. Masjid itu baru saja dibangun dan tampak megah. Namun, jamaahnya tak melebihi setengah dari isi masjid meski diembel-embeli kehadiran Petinggi beserta perangkat dan anggota Badan Perwakilan Desa.

Direncanakan bakal ada enam jadwal Tarawih Keliling di enam masjid berbeda, yang ada di Ngalarangan, Krajan, dan Gerot.

Tarawih berlangsung khusyuk dengan diimami Pak Mulyadi. Usai pukul 20.30, jamaah duduk melingkar, mendengarkan sambutan dan pengarahan dari Petinggi. Kami dikasih kesempatan untuk memberikan sambutan di tengah-tengah jamaah.

Selepas Tarawih Keliling, ternyata tak langsung pulang. Kami beserta jajaran Petinggi dan BPD dijamu makan malam. Menunya soto ayam dan es cendol. Serasa, sekali lagi, pejabat saja!

Hari kesembilanbelas

Di SD Negeri 1 Dudakawu

Di SD Negeri 1 Dudakawu

6 Agustus 2011. Kami datang kepagian di posyandu “Sidotresno” di Krajan itu. Lantai masih dipel oleh pemilik rumah (posyandu berada di rumah warga). Baru dua jam kemudian, ibu-ibu mulai berdatangan.

Balita-balita menjerit-jerit kala ditimbang. Berat badan mereka ada yang bertambah, ada pula yang menyusut.

Kami memberi sedikit penyuluhan tentang pemberian ASI yang baik dan kesehatan pascamelahirkan—yang mendapat tanggapan beragam dari ibu-ibu yang hadir. Acara berakhir tepat di pukul 9.30. Kami pun melajukan motor ke arah Balai Desa untuk melaksanakan agenda selanjutnya: pelatihan komputer bagi perangkat desa.

Pelatihan komputer tak mengalami kendala berarti. Tujuh orang dilatih oleh sepuluh mahasiswa di ruang pertemuan Balai Desa. Mereka diajar tentang Microsoft Word dan Excel. Berlatih membikin surat, amplop, dan tabel yang baik. Para perangkat yang kebanyakan sudah berusia lanjut itu belajar dengan antusias dan tak kenal lelah. Hingga jam dinding menunjukkan pukul 11.30, kegiatan itu diakhiri.

Dalam perjalanan pulang, kami mendapat kabar dari teman-teman Desa Pendem, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) sudah sampai ke posko mereka. Jadi, kami buru-buru balik ke posko, mempersiapkan penyambutan buat sang DPL.

Beberapa menit menunggu. Rezha, yang turun ke Pendem menjemput DPL, datang bersama Ir Adi Susanto, MSc. Kami cukup kaget karena Pak Adi mestinya adalah DPL untuk wilayah pesisir semacam Tubanan dan Kaliaman, bukan wilayah dataran tinggi atau pegunungan. Menurut kesepakatan awal, DPL kedualah, Kusyogo Cahyono, SKM, MKes, yang mestinya berkunjung ke posko kami.

Pak Adi tiba dengan mengendarai sepeda motor bebek. Menempuh perjalanan sejauh itu, ia tak memakai perlengkapan berkendara yang memadai. Ia cuma memakai helm dan jaket tipis, tanpa pelindung debu maupun sarung tangan. Kami sangat prihatin: “orang muda” mana yang tahan melihat itu terjadi? Kami berdoa semoga ia selamat sampai Semarang.

Pak Adi memeriksa Kartu Kontrol (K-1) kami sembari mengajukan sedikit pertanyaan dan komentar. Ia juga beramah-tamah dengan Pak Inggi seraya berpesan, tolong jaga kami dalam melaksanakan kegiatan KKN di desa ini.

Setelah DPL pulang, kami pun segera bersiap. Kami hendak mengadakan sosialisasi dan pertemuan perdana BKR. Targetnya, para pemuda di Nglarangan. Besok, kami bakal mengadakan pertemuan serupa untuk Krajan dan Gerot.

Pukul 15.30. Gedung Muslimat NU yang rencananya bakal kami pergunakan, sudah siap. Beberapa pemudi telah berkumpul di sekitar lokasi. Cuma tinggal pemudanya, yang tak seorang pun menunjukkan batang hidungnya. Dalam pada itu, Mbah Umar dan Mbah Sampan, ketua RT 1 RW 4, turut hadir. Paras tua semangat muda.

Sampai hampir pukul 17.00, acara belum hendak dimulai lantaran masih sedikit yang datang, terutama dari kalangan pemuda. Pukul 17.00, mau tak mau, acara mesti segera dimulai. Pembahasan pertama adalah soal pernikahan dini.

Materi kedua adalah bahaya narkotika dan obat-obatan terlarang. Ketika sesi tanya-jawab dibuka oleh moderator, beberapa peserta mengajukan pertanyaan mereka. Saban pertanyaan, segera saja ditimpali pertanyaan lain. Meski agak ceplas-ceplos, acara itu telah menimbulkan suasana diskusi yang persuasif.

Sehabis Tarawih, kami diundang main ke rumah Sudarmono, salah seorang terpelajar di Dudakawu. Sudarmono pertama kali kami sua tatkala Musyawarah Desa Perencanaan dan Khusus Perempuan. Ia terpilih sebagai sekretaris TPK PNPM 2011.

Sudarmono lulusan Universitas Muria Kudus tahun 2011, Jurusan Teknik Informasi dan Komunikasi. Sosok semacam dia jarang sekali ditemukan di Dudakawu, mengingat kesempatan pendidikan kebanyakan pemuda sangatlah terbatas.

Rumahnya berada di Krajan, beberapa meter dari Balai Desa. Ia menyambut kami dalam balutan sarung, jaket, dan kopiah: khas “santri” gunung. Kami dipersilakan masuk ke rumah, digelari tikar, dan disuguhi penganan anekaragam beserta teh manis. Kami mengobrol hingga pukul 22.30.

Hari keduapuluh

7 Agustus 2011. Teman kami Yemima (biasa dipanggil Iyem) pergi hendak beribadah ke gereja di Bangsri. Di Kembang belum berdiri satu pun gereja rupanya.

Sementara itu, teman-teman yang lain pergi mengajar di MI Miftahul Huda. Selesai mengajar, kegiatan dilanjutkan dengan pengecatan papan (dua buah) sumbangan dari Balai Desa. Papan pertama rencananya bertuliskan “Sendang Sinatah: 3,5 km”, sedangkan papan kedua bertuliskan “Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Lestari”.

Dalam melakukan pengecatan itu, kami diributkan dengan datangnya beberapa siswa MI yang main ke posko. Mereka hendak mengonsultasikan PR mereka.

Di rumah, Pak Inggi panen jagung. Jagung berton-ton diangkut dari ladang ke rumahnya untuk kemudian diupil dan dijemur. Satu kilogram jagung yang telah diupil dan dijemur, kata Pak Inggi, dijual ke pabrik tepung dengan harga Rp 2.700,-

Alat pengupil jagung yang dipakai masih sederhana: jagung digesek-gesekkan ke ban mobil bekas. Mengapa tak memakai mesin? Selain mampu memberdayakan sebanyak mungkin orang, alat pengupil jagung manual semacam itu juga membuat nilai jual jagung jadi tinggi karena hasil yang diperoleh jauh lebih bersih.

Sorenya, kami bersiap ke Gedung TPQ sekaligus TK Lestari di Krajan buat menyelenggarakan pertemuan BKR untuk pemuda Krajan dan Gerot. Sudah banyak anak berkumpul di depan sekolah. Kamituwa Mulyadi juga hadir. Rupanya ia yang menggerakkan pemuda-pemudi di desanya.

Acara dilangsungkan di ruang kelas. Pesertanya sebagian besar remaja usia SMP. Sudarmono juga hadir bersama Budi, adik kandung Pak Carik.

Materi yang dibawakan lebih beragam ketimbang pertemuan di Nglarangan: pernikahan dini, bahaya narkoba, bahaya rokok, dan mitigasi bencana. Diskusi terjadi dengan tak kalah interaktif. Ketika qira’ (pembacaan al-Quran) menjelang beduk Magrib dilantunkan, acara pun bubarlah.

Kala bersiap pulang, Sudarmono mengundang kami berbuka di rumahnya—ajakan yang sungkan kami tolak. Rumahnya terletak sebelum persimpangan jalan menuju Balai Desa. Sangat bersahaja, laiknya makanan yang jadi suguhan berbuka: ikan mangut, keripik talas, telur dadar, dan mie goreng.

Setelah sampai rumah, ternyata Bu Inggi telah menyiapkan masakan seperti biasa. Memang salah kami yang tak memberitahu kepergian kami. Merasa tak enak hati, kami pun makan di kali kedua.

Pengecatan jalan menyongsong Tujuhbelasan ternyata diadakan malam ini. Para pejantan pun bersiap dan berkumpul bersama warga. Jalan yang dicat merupakan jalan RT sepanjang 500-an meter. Pinggir jalan dibersihkan memakai air atau sapu lidi, kemudian dikuasi cat putih selarik demi selarik. Sayang sekali, warga yang turut-serta dalam pengecatan bisa dihitung jari. Sampai pukul 09.00, bahkan sudah sepi, kendati jalanan belum selesai dicat.

Setelah selesai mengecat, kami ikut nimbrung (jagong) mengupil jagung bersama Pak Inggi dan tetangga, sampai tangan lecet karena tak biasa mengupil. []


Sendang Sinatah: Mata Air Keramat yang Membawa Berkah

28 Agustus 2011

Oleh A.P. Edi Atmaja

 

Pengantar:

Reportase ini merupakan pengamatan penulis saat mengikuti Kuliah Kerja Nyata di Desa Dudakawu, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara dari 19 Juli 2011 sampai 23 Agustus 2011.

SENDANG SINATAH berada 11,6 km dari ibukota Kecamatan Kembang, Jinggotan, dan masuk ke dalam wilayah Desa Dudakawu. Desa Dudakawu adalah satu dari sebelas desa di Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, yang terletak persis di lereng Gunung Muria. Maka tak heran topografinya naik-turun dan suhunya relatif dingin.

Gerbang Depan

Gerbang Depan

Sendang Sinatah berwujud mata air (sendang) yang memancarkan air tak henti-henti. Suasana di sekitarnya sangat kuyup hijaunya pepohonan, karena Sendang Sinatah sesungguhnya masuk ke dalam wilayah hutan hujan tropis lereng Gunung Muria.

Para peziarah—datang dari segenap penjuru di Indonesia, mulai dari penduduk lokal, Semarang, Kendal, Jakarta, hingga Riau dan Kalimantan—mempergunakan air tersebut sebagai sarana penyembuhan, perantara jodoh, enteng rejeki, dan beragam hajat lain.

Sendang Sinatah dikeramatkan oleh masyarakat Dudakawu lantaran ia dipercaya pernah menjadi tempat persinggahan (petilasan) seorang wali. Wali—seseorang yang dipercaya oleh sebagian besar masyarakat pedesaan di Jawa memiliki kesaktian—tersebut berpesan kepada warga di situ (Dudakawu) supaya sendang itu dijaga dan dirawat karena kelak ia bakal memberi keberkahan pada warga.

Mataair (Sendang) Sinatah

Mataair (Sendang) Sinatah

Dan benar. Beberapa saat setelah persinggahan sang wali, orang berbondong-bondong mengunjungi sendang. Mereka meminta bermacam-macam hajat dan keinginan, dan berharap sendang tersebut bisa menjadi perantara keterkabulan hajat mereka. Maka, mulai saat itu sendang itu diberi nama Sinatah oleh Pemerintah Desa Dudakawu, yang lantas membangunnya secara swadaya.

Banyak orang yang hajatnya terkabul setelah berziarah di sendang. Mereka yang terkabul biasanya bernazar menyembelih sapi, kerbau, atau kambing, yang bisa diolah di tempat (disediakan dapur untuk mengolah daging nazar). Kabar dari mulut ke mulut tentang betapa mustajabnya sendang itu kian memopulerkan keberadaannya di segenap pelosok Nusantara.

Hutan di Sekitar Sendang Sinatah

Hutan di Sekitar Sendang Sinatah

Mau berkunjung? Sendang Sinatah rata-rata diziarahi oleh 3000-an orang tiap tahun. Buat masuk, peziarah mesti merogoh kocek Rp 3.000, yang dibayarkan kepada Juru Kunci. Peziarah pun mesti menyiapkan “bawaan wajib”, antara lain rokok, kembang, pisang goreng, onde-onde, dan air tapai (badhek). Mari beramai-ramai mengunjungi Sendang Sinatah! [Dudakawu, 27072011, 23:05]

*) Tulisan ini pernah dimuat dalam situs resmi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Diponegoro.


Dudakawu: Permata Lereng Muria [1]

27 Agustus 2011

Oleh A.P. Edi Atmaja

Pengantar:

Reportase ini merupakan pengamatan penulis saat mengikuti Kuliah Kerja Nyata di Desa Dudakawu, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara dari 19 Juli 2011 sampai 23 Agustus 2011.

KETIKA Pak Mulyadi mengantar kami pada survei kali pertama, Dudakawu serasa laiknya Bandungan. Jalan berliku-menanjak menghadang perjalanan kami, ditingkahi pepohonan di sana-sini. Rerumahan muncul di sela-selanya, renggang: khas pedesaan Jawa Tengah. Angin dingin menusuk pori-pori kami, empat dari sepuluh anggota tim KKN Dudakawu yang ikut dalam survei pertama ini.

Dudakawu di Lereng Gunung Muria

Dudakawu di Lereng Gunung Muria

Ternyata Pak Mulyadi bukan kepala desa, sebagaimana kami kira. Ia mengantar kami ke kediaman kepala desa sesungguhnya (disebut Petinggi—biasa dipanggil Pak Inggi), bernama Zaenuri. Menyuguhi pisang goreng dan teh manis, Pak Inggi menceritakan segala hal tentang desanya, dari topografi hingga demografi, dengan keramahtamahan yang luar biasa.

Dudakawu adalah satu dari sebelas desa di Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, yang terletak persis di lereng Gunung Muria. Maka tak heran topografinya naik-turun dengan suhu yang relatif dingin. Kecamatan Kembang sendiri bisa dicapai sejauh 22 km dari kota. Sementara Dudakawu berada 7,3 km dari ibukota kecamatan, Desa Jinggotan. Jadi bisa dibayangkan betapa jauhnya jarak yang mesti kami tempuh buat bertegur-sapa di rumah Pak Inggi.

Namun, pisang goreng, teh manis, dan—terutama—keramahtamahan Pak Inggi agaknya mampu melunasi kecapekan kami. Kami mendengarkan kisah Pak Inggi dengan antusias.

Peta Desa Dudakawu

Peta Desa Dudakawu

Dudakawu terdiri dari 3 pedukuhan, 15 rukun tetangga, dan 5 rukun warga. Pedukuhan dipimpin oleh seorang Kamituwa, antara lain Mulyadi untuk Dukuh Krajan, Saryadi (Gerot), dan Sujud (Nglarangan). Dalam menjalankan tugasnya, Petinggi dibantu Carik (dijabat oleh Tarmuji). Selain itu, ada pemimpin-pemimpin lain yang terspesialisasi di beberapa bidang, seperti Ladu (bidang pengairan/perekonomian/kesejahteraan), Modin (bidang keagamaan dan sosial kemasyarakatan), dan Bayan (kependudukan). Kelimabelas RT yang ada di Dudakawu dikoordinatori oleh seorang Ketua Forum Komunikasi Desa (dijabat oleh Nur Adzim).

Hari pertama

19 Juli 2011. Ribuan peserta KKN Tim II berkumpul di depan Gedung Widya Puraya Universitas Diponegoro. Inilah upacara pelepasan sebelum penerjunan. Rencananya, besok, 20 Juli 2011, semua peserta meluncur ke lokasi KKN masing-masing.

Akan tetapi, kami tak hendak mengikuti rencana itu. Tim Dudakawu, dengan dikoordinatori Rezha Mehdi Bazargan, bakal meluncur jam 14.00 nanti. Karena perjalanan amat sangat jauhnya. Padahal, pukul 11.00 besok mesti menghadiri acara penyambutan di pendopo kabupaten. Maka, segala persiapan pun buru-buru dilakukan.

Tim II KKN Undip Dudakawu

Tim II KKN Undip Dudakawu

Tim berangkat pukul 15.00 dari Semarang: tiga motor dan satu mobil pengangkut barang bawaan. Sampai di kawasan Kota Lama, salah seorang anggota, Widiyanti Ayu Perdani, mahasiswi Fakultas Hukum, ditilang lantaran light-on (tidak menyalakan lampu motor pada siang hari). Kami tertahan cukup lama menunggu Ayu. Akhirnya, hukum pun (sekali lagi) takluk pada tuntutan perut. Disodori Rp 20.000, “pak-polisi-yang-baik-hati” itu pun melepaskan SIM dan STNK yang tersita.

Kami melanjutkan perjalanan kembali dengan kesiagaan lebih tinggi. Kami menjelajahi beberapa kawasan: Kota Lama, Kaligawe, Genuk, Sayung, Jalan Lingkar Demak, Welahan, Kalinyamatan, Pecangaan, Tahunan, Mlonggo, Bangsri, sebelum akhirnya sampai di Kembang. Perjalanan yang terang membikin pantat panas dan badan pegal-pegal.

Kami sampai di wilayah Kecamatan Kembang menjelang Isya. Jalanan sudah gelap karena minim penerangan. Beriringan, kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Dudakawu. Kegelapan jalan semakin pekat. Di kanan-kiri jalan, bahkan tiada penerangan sama sekali. Pun sepi. Tak heran, berjalan malam dari atau ke Dudakawu ibarat mempertaruhkan nyawa, karena rawan sasaran kejahatan.

Setelah “mendaki” selama nyaris setengah jam, sampailah kami di rumah Pak Inggi, yang langsung menyambut kami dengan kehangatan teh manis, kacang, dan pisang rebus. Barang-barang bawaan kami taruh di tempat yang ternyata telah dipersiapkan dengan matang oleh Pak Inggi sekeluarga jauh-jauh hari.

Rerumahan di Dudakawu

Rerumahan di Dudakawu

Menikmati suguhan, kami mengobrol bersama Pak Inggi. Ia bercerita tentang desa beserta penduduknya. Ia berkisah, baru-baru ini salah seorang warganya ketiban musibah: menjadi korban tabrak-lari kala pulang dari bekerja di Semarang. Tempat kejadiannya di Kudus. Ia tewas di tempat dan sampai kini pelakunya masih diburu kepolisian. “Sekarang, sebenarnya saya harus ngajikke (mendoakan kepergian sang mayyit selama tujuh hari kepergian),” katanya.

Makan malam rupanya telah disiapkan pula oleh Bu Inggi. Dengan rikuh, kami serbu sajian malam itu.

Pukul 22.00, Ladu II (bernama Jamin) berkunjung ke rumah. Kami pun ikut nimbrung dalam pembicaraan antara Pak Inggi dan Pak Ladu. Obrolan berkisar soal pertanian, mahasiswa KKN dulu dan sekarang, dan macam-macam jagongan tengah malam. Jam 24.00, Pak Ladu minta diri.

Hari kedua

20 Juli 2011. Pagi pertama yang segar di Dudakawu kami habiskan dengan berjalan-jalan di seputaran kampung. Para petani dan murid sekolah berlalu-lalang di jalan. Di sini tak ada angkutan umum, sehingga sepeda motor menjadi andalan.

Jam 10.00, kami bersiap menghadiri acara penyambutan Tim II KKN Undip di pendopo kabupaten. Kami berjumpa dengan kawan-kawan sefakultas yang sama-sama ditempatkan di Jepara. Ramai dan meriah.

Sore hari, kami diajak Pak Inggi memetik jagung yang sedianya bakal menjadi bahan pembuatan emping jagung (salah satu Program Desa kami). Ladang jagung itu amat luas. Baru kali ini kami lihat ladang jagung seluas itu. Jagung-jagung pilihan, tua dan muda, dipetik dengan cekatan oleh Pak Inggi. Kami cuma mengamati.

Menurut Pak Inggi, jagung-jagung di ladang ini berjenis Pioneer-21 dan BC-16. Jagung kini merupakan tanaman pertanian utama di Dudakawu. Berbeda dengan tetangganya, masyarakat Desa Pendem, yang lebih suka bertanam kacang tanah, masyarakat Dudakawu memilih jagung karena dinilai lebih menguntungkan. Selain jagung, mereka juga memanam ketela pohon. Panen ketela pohon bisa mencapai 20 truk!

Habis Magrib, kami bakar-bakaran jagung di depan rumah. Beberapa tetangga ikutan nimbrung. Salah satunya adalah Pak Nur Adzim, Ketua Forum Komunikasi Desa yang membawahi ketua-ketua RT di Dudakawu. Pak Nur juga merupakan guru SD Negeri 1 Dudakawu. Ia bercerita banyak tentang mahasiswa KKN tahun-tahun sebelumnya. Mahasiswa KKN terakhir dari Undip datang pada tahun 1980-an, saat Prof Muladi, SH, menjadi rektor.

Sepulang dari mengobrol, kami bahas revisi Laporan Rencana Kegiatan Individu sampai larut malam.

Hari ketiga

21 Juli 2011. Lebih pagi ketimbang hari-hari sebelumnya, kami terbenam lama dalam selimut. Padahal, ada pertemuan dengan perangkat desa pada jam 8.00. Kami hendak mempresentasikan program-program kami selama sebulan ke depan.

Berdebat Seru

Berdebat Seru

Pukul 08.30, kami sampai di Balai Desa. Sudah banyak orang yang menanti kedatangan kami ternyata. Kami disuguhi kacang dan jagung rebus. Tidak banyak masalah dalam penyampaian program.

Sepulang dari Balai Desa, kami bersama-sama mengupas jagung. Malamnya, kami kerjakan proposal yang diminta desa buat diajukan ke kabupaten dan provinsi. Beberapa teman lainnya menonton drama Korea.

Hari keempat

22 Juli 2011. Hari dimulai tanpa kegiatan yang berarti. Koordinator Desa, Rezha, mesti pergi ke Semarang, mengurus ihwal kuliah. Karena tiada pemimpin, anak-anak cenderung bermalas-malasan memulai kegiatan yang sudah dijadwalkan semalam sebelumnya.

Kunjungan ke sekolah-sekolah batal karena hari sudah terlalu siang, sedangkan waktu sepagian habis buat menonton drama Korea. Siangnya, kami sembahyang di masjid. Namun, shalat Jumat berlangsung datar-datar saja, meski banyak warga memandang kami dengan tatap penuh tanya.

Kumpulan RT se-Dudakawu

Kumpulan RT se-Dudakawu

Pukul 14.00, kami diajak Pak Inggi turut-serta dalam pertemuan rutin RT. Kami diperkenalkan dengan seluruh ketua RT di Dudakawu. Sekitar 20-an orang, berusia 50-an tahun, berkumpul dalam pertemuan itu. Kebanyakan memakai baju seragam dan berpeci. Asap rokok selalu memenuhi ruangan rumah tak berplafon itu. Suguhan diedarkan dalam piring-piring plastik: jajanan khas desa yang tak kami kenal namanya. Kopi hitam dan teh manis kami seruput dengan mantap.

Pukul 16.00, kami buru-buru ke kantor kecamatan, harus mengumpulkan LRK ke Sekretaris Kecamatan. Sesampainya di sana, kami mendengar kabar buruk: Kordes kecelakaan di kawasan Mlonggo. Bergegas, kami menuju RS Islam Sultan Hadlirin di Kuwasen. Kordes tak terkena luka serius.

Kami baru pulang dari RS habis Isya. Jaket KKN yang telah lama dinanti sudah jadi. Beberapa anak langsung mengenakannya dengan penuh kebanggaan. Yang lain melanjutkan nonton drama Korea lagi…

Hari kelima

23 Juli 2011. Pagi-pagi kami sudah antre mandi buat menghadiri Musyawarah Desa dan Laporan Pertanggungjawaban Panitia Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Bergantian, kami berbonceng-tiga dua kali, lantaran sepeda motor yang ada cuma dua.

Acara laporan pertanggungjawaban berlangsung cukup panas. Panitia demisioner menolak dicalonkan kembali. Sementara itu, beberapa peserta menyatakan, sah-sah saja seseorang menjabat kembali, selama itu demi kemajuan desa. Dan panitia demisioner tak sepantasnya menolak pencalonan untuk kedua kali dengan alasan apa pun. “Kesannya kok panitia seperti mutung (kecewa),” kata Pak Inggi, yang pendapatnya amat didengar dalam musyawarah itu.

Ketua panitia (TPK/Tim Pelaksana Kegiatan) Mas Dwi berulangkali meminta “tolong amat sangat” supaya dirinya tidak dipilih menjadi ketua kembali. Sungguh pemandangan yang langka. Di tingkat pusat, yang terjadi justru sebaliknya. Orang berebutan ingin menjadi ketua: semata-mata bukan karena ingin mengabdi buat kemajuan apa atau siapa yang ia ketuai, melainkan demi kepentingan perut sendiri.

Menuju Sendang Sinatah

Menuju Sendang Sinatah

Sorenya, Rezha dan AP Edi Atmaja pergi ke Sendang Sinatah untuk menemui juru kunci Sendang Sinatah, hendak meminta profil Sinatah yang bersejarah. Syukur-syukur bisa mengangkat Sinatah jadi potensi wisata unggulan Jepara. Namun, sang juru kunci ternyata tiada di tempat. Diuber ke kediamannya, ternyata ia sedang pergi ke ladang. Akhirnya, tim pergi dengan tangan hampa.

Sementara itu, Johan Pahlawan dan Rizka Andriani pergi ke Kecamatan Bangsri buat mencari bahan modul yang bakal kami sosialisasikan. Kembang, khususnya Dudakawu, sangat minim sarana dus prasarana. Sinyal operator masyhur pun jarang di sini (Tim terpaksa mengganti nomor ponsel mereka selama KKN). Modem yang sedianya bakal memudahkan tim dalam mencari materi jadi percuma. Kami mesti menyambangi Jinggotan, bahkan acapkali hingga Bangsri, buat sekadar berselancar di dunia maya.

Malam Minggu yang mestinya jadi milik kawula muda kami habiskan buat merevisi LRK sampai tengah-malam.

Hari keenam

24 Juli 2011. Minggu yang malas. Kami mengunjungi rumah Pak Carik, Tarmuji. Awalnya sempat bertanya ke sana-sini lantaran lokasinya kurang akrab bagi kami, di Dukuh Krajan. Rumah Pak Inggi yang jadi posko kami berada di Dukuh Ngalarangan.

Mengenai dukuh-dukuh di Dudakawu, ada ceritanya. Sejak dulu, rumah Petinggi selalu berada di Krajan. Krajan secara etimologis berarti “pusat pemerintahan”. Maka, rumah Petinggi sekarang tak lumrah ketimbang biasanya. Pak Inggi pun sebenarnya bukan penduduk asli Dudakawu. Ia berasal dari Bangsri. Istrinyalah yang merupakan warga Dudakawu.

Rumah Pak Carik kami temukan juga. Rumah itu bercat kuning dan tampak megah ketimbang rumah-rumah di sekitarnya. Pak Carik kami temui dalam penampilan yang bersahaja: bawahan sarung dan atasan kaos seragam perangkat Dudakawu.

Pak Carik bercerita soal desanya. Ia memperbandingkan Dudakawu dengan desa-desa lain, seperti Sumanding, Cepogo, Bucu, Jinggotan, Tubanan, Kaliaman, dan Balong. Dudakawu jauh lebih aman daripada desa-desa tersebut, katanya.

Pak Carik merupakan orang yang tidak terlalu cakap bercerita. Kesenyapan kadang mengimpit kami lantaran kehabisan bahan cerita. Dalam pada itu, teh manis yang disuguhkan terang saja mengalangi kami buat minta diri lebih cepat—teh manis itu benar-benar baru diseduh, panasnya membuat kami mesti mencari bahan obrolan lebih banyak.

Pak Carik meminjami kami daftar presensi Musyawarah Desa kemarin, yang dengan segera kami fotokopi di Jinggotan. Mumpung sedang di bawah, kami membeli air galon yang sudah habis sembari mengisi bensin motor.

Sorenya, beramai-ramai kami uleg jagung yang bakal kami bikin emping. Jagung itu telah dijemur, direndam air kapur, lantas dikukus. Jagung yang masih lunak, pelan-pelan kami uleg dengan memakai gelas kaca, sampai bentuknya pipih seumpama emping. Jagung satu kilo pemberian Pak Inggi jadi tiga nampan penuh yang selanjutnya kami jemur kembali sampai kering.

Menjelang Magrib, kami berkunjung ke bidan terkait posyandu di Dudakawu. Selanjutnya, kami beranjangsana ke kediaman Pak Jamin, bertukar pikiran mengenai masalah-masalah peternakan sapi. Pak Jamin menerima kami dengan ramah. Ia sangat memahami soal kemahasiswaan. Anak semata wayangnya adalah lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian di Yogyakarta. Bertemu Pak Jamin, kami mendapat beberapa masukan yang berguna untuk keberlangsungan program-program kami ke depan.

Habis Magrib, Rezha dan Edi ditemani Pak Inggi dan Pak Jamin pergi mengurus sepeda motor Rezha yang disita polisi. Mulanya, mereka mampir ke rumah keluarga korban yang ditabrak Rezha. Negosiasi tak berlangsung alot karena semua pihak sama-sama tidak ingin mencari siapa yang patut disalahkan atas kecelakaan tersebut. Beramai-ramai, kedua pihak pergi ke Polsek Mlonggo buat mengambil sepeda motor yang disita polisi.

Sangat menggelikan memang bahwa, saat kecelakaan terjadi, bukan korban yang pertama kali diselamatkan polisi, melainkan kedua motor para pihak dululah yang buru-buru disita. (Barangkali karena di situlah “lahan basah”-nya!)

Akhirnya, setelah cukup lama bernegosiasi dengan polisi (dan, tak lupa, tentu-menentukan “harga yang pantas”), kedua pihak berhak membawa pulang motor mereka. Di luar kantor polisi, mereka bersalaman dan, mulai saat itu, tali silaturahmi terjalinlah. []

*) Tulisan ini pernah dimuat dalam situs resmi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Diponegoro.