Muadzin

22 Mei 2010

oleh A.P. Edi Atmaja

Hayya ‘alal falah..

Mari menuju kemenangan..

Lengkingan itu mengusikku pada suatu petang. Aku, seorang pemuda dengan prospek cerah di depan, segera bergegas menuntaskan mandi.

Bilal bin Rabah berdiri tegak di menara masjid setinggi lima meter. Ia berkulit hitam-legam, dan lengkingannya dua kali sehari itu acapkali membikin kaum Quraisy panas hati dan panas kuping. Bagaimana tidak panas kuping, orang yang memiliki kedudukan rendah dalam stratifikasi kaum (baca: budak), oleh agama “baru” Muhammad, diperkenankan tampil di depan. Kaum Quraisy memandang ini sebagai penghinaan besar atas tradisi mereka. Mereka muntab. Sehingga penyiksaan budak berikutnya lebih diperkerap lagi.

Adzan, nama lengkingan itu, dalam beberapa kasus membikin banyak orang kerasukan mengerang-erang. Mereka kepanasan mendengar kata-kata suci diteriakkan berulang-ulang. Mereka: orang itu dan “dia” yang bersemayam di jasadnya.

♠♠♠

Rizal Khabi siap sedia sedari awal-mula, dengan mike tergenggam erat di tangan. Percikan air wudhu belum jua kering dari mukanya. Namun ia telah bertekad: ia membayangkan di hadapannya adalah berjuta manusia, dari penjuru dunia, lagi berhaji. Dan, alunan suci yang melengking itu pun melantunlah—dengan volume bombastis, produk speaker jumbo yahud di atap.

Rizal sudah mulai berpuji-pujian, sedangkan surau di seberang rumahku itu masih senyap tak terjamah. Kudengar puji-pujian itu: nadham pengagungan atas keduapuluh sifat Allah. Salah satu kesukaanku, dan satu dari sedikit yang bisa pula kusenandungkan.

MuadzinSurau Nurul Falah—“cahaya kemenangan”—masih temaram, tak sinkron dengan namanya yang beken. Kupikir inilah satu markah lagi telah terjadi pergeseran budaya—bila agama bisa dikategorikan sebagai budaya. Yang jelas, surau hasil renovasi tahun 1995 itu masih sepi, di tengah riuhnya adzan di beberapa surau lain dan masjid. Bersahut-sahutan.

Surau itu—kusebut langgar—sebelum renovasi adalah mahakarya tak ternilai zaman baheula. Ia terdiri atas dua lantai, tinggi menjulang, dengan bahan penyusun utama adalah kayu. Ia monumen utama ulama di zamannya buat menyikapi banjir yang senantiasa menghadang. Jadi, terkadang, ia pernah pula dipakai sebagai tempat evakuasi warga yang rumahnya kebanjiran.

Sejauh kuingat—aku pernah pula mengecap kenangan langgar dua lantai itu—desain demikian cukup berisiko; apalagi dengan struktur kayu macam itu, sangat riskan tatkala angin leysus tiba-tiba berhembus kencang.

Tak banyak cakap, segera kuposisikan diriku laiknya Rizal Khabi—dengan imajinasi di Tanah Suci, tentu saja. Adzan yang sudah expired itu rupanya tak kehilangan gaung: tetap mengangkasa kendati di banyak tempat sudah bersahutan iqamat.

Belasan jamaah bergegas menuju surau mungil itu, menyambut seruanku. Adzan memang magis: seakan-akan mampu menghalau sekat-sekat individual orang per orang.

Laiknya insan yang rindu akan siraman spiritual, mereka berbondong-bondong coba menggapai ritme puji-pujian yang kini kusenandungkan—sembari menunggu sang Imam. Dalam suasana sosialistis yang aneh, kurasa inilah sisi terindah Islam: keseimbangan antara kapan mesti bersikap individual, kapan mesti sangat sosial.

Tatkala meraih kemenangan—sesuai bunyi panggilan adzan itu—kita harus selalu bersama-sama, berjamaah. [220510, 22:10, The City of Mangkang]


Tegalirik, Malam-malam..

2 April 2010

oleh A.P. Edi Atmaja

Dengan gamang, kustarter motor. Langit mulai menghitam, bawahnya senyap-senyap saja. Motor pun melajulah.

Satu-dua perempuan nongkrong di luaran. Tak jelas apa yang mereka bahas. Barangkali: gosip. Lain itu, senyap meremang, jalanan mengelam.

Di mana-mana tak kulihat tanda-tanda kehidupan. Apalagi gejolak gemerlap malam. Jalanan mirip kuburan. Hening.

Semakin ke depan, semakin kutahu kampung ini makam. Kecuali mungkin: angsa-angsa itu, berkeliaran bebas di halaman.

Beberapa motor bertengger di luaran. Biar keren, mereka tak dikunci, distandartengahkan. Ternyata maling pun langka di sini.

Apa yang orang-orang lakukan di dalam rumah, kutak-tahu. Bahkan tak peduli. Motor melaju pelan-pelan.

Di ujung jalan, pun ujung “gang”, gejolak masa muda nongol malu-malu. Sayang, cuma dua orang. Itu pun tak penting benar: mereka bergitaran, berdendang tembang tak penting: dangdutan.

Oh ya, spirit itu tampak pula di warnet. Kebanyakan SMP, dengan dandanan khas mereka.

Keluar kampung (dan masuk kampung lain), tongkrongan pemuda nyata meraja: di atas kreteg sempit, di bawahnya mengalir sungai buatan mungil.

Pemuda-pemuda itu anak kampung juga. Jengah merasai keadaan kampung. “Berserikat dan berkumpul” memenuhi hak mereka. Dalam kadar tertentu: mencari perhatian. Dengan bikin macet akses satu-satunya kampung itu.

Dengan mereka, kucuma bilang, “Mangga..”

Kampung lain, namanya Kauman, lebih semarak. Dekat jalan raya adalah alasan utama.

Pelbagai toko bisa ditemui di sini. Banyak juga yang sepi. Ekonomi lagi ngos-ngosan rupanya. Segan menanjak.

Kupenuhi hajatku. Bercengkerama sekejap dengan kawan lama. Habis dapat kerja. Baru bikin kokard, dengan foto dia narsis di depan, berseragam. Bahagia sekali rupanya.

Pelayanan toko sama saja, dari dulu. Pembeli dikira pembeli, bukan raja. Yah, inilah kampung.

Di masjid, hening terkoyak. Anak-anak pesantren berdendang, mirip koor tapi tak seirama. Entah “ritual” apa kali ini. Yang pasti, memang beginilah mestinya masjid. Kudu ramai.

Masuk kampung lagi. Ketemu pemuda kreteg lagi. Melewati dua biduwan jalanan lagi. (Kali ini dengan dendangan dangdut yang lebih seru, rupanya). Warnet, angsa, motor, semua masih di tempat. Lain itu kosong, melompong, seperti kampung-bohong.

Beginilah Tegalirik, malam-malam.. [21:35, 020410]


In Memoriam: Pak (Guru) Muin

18 September 2009

oleh A.P. Edi Atmaja

Saya tak ingat kapan pertama kali ketemu dengannya. Yang saya ingat, dialah wali kelas saya saat kelas dua MI. Terlalu banyak kenangan yang saling tindih, terlalu banyak hal indah yang terlupa.

Dia itu seorang yang selalu bersemangat, saya lihat. Hidupnya benar-benar tercurah buat pekerjaan—atau lebih tepatnya: amal—mengajarkan segenap ilmu yang dimilikinya, sesuai dengan profesinya sebagai guru.

Satu hal penting yang selalu ia petuahkan pada kami, murid-muridnya, adalah senantiasa tekun dalam memperoleh kep(f)ahaman. Baginya, tingkat kep(f)ahaman kita akan suatu ilmu selalu berbanding lurus dengan kegigihan dan antusiasme kita dalam mengejar ilmu tersebut .

Asmuin, yang familiar dipanggil Pak Muin, pun seorang yang bersahaja. Tidak pernah saya lihat ia memakai arloji—yang mungkin bisa dimiliki oleh siapa pun saat itu. Meskipun seorang guru sekolah swasta, pakaian yang ia kenakan jauh dari kesan mewah, bahkan cenderung itu-itu saja: kemeja coklat tua dengan celana berwarna sepadan. Kendati demikian, pakaian itu selalu rapi dan bersih, sehingga tampak selalu baru.

Ia juga seorang yang memaparkan hadis kesohor “kebersihan adalah sebagian dari iman” bukan cuma dalam ranah utopis, tapi juga praksis. Tampilan luarnya selalu resikan, apalagi didukung jenis kulitnya yang putih kekuningan. Wajahnya senantiasa bercahaya, buah dari seringnya ia berwudhu. Tak pelak, ia seorang guru yang good-looking.

Pak Muin, seperti halnya sebagian besar guru lain di sekolah dasar Islam ini, selalu mengedepankan profesionalitas dalam mengajar. Kesuksesan saya dan kawan-kawan saya yang lain dalam pelajaran Bahasa Arab, tentu, merupakan buah manis dari profesionalitas yang diterapkannya ini. Dalam mengajar, ia senantiasa memakai metode pengulangan (repetisi)—kendati hal ini memakan waktu tak sedikit. Ia takkan melanjutkan materi jika materi sebelumnya belum selesai sepenuhnya—dalam artian ada muridnya yang belum p(f)aham benar—sampai pertanyaan “Faham?”-nya dijawab “Paham!” oleh murid-muridnya.

Di sela-sela pelajaran, ia suka menceritakan kebiasaan kedua anak perempuannya yang selalu giat belajar. Waktu itu saya ingat, kapan pun dan di manapun, kedua anaknya itu selalu membawa buku, tentu buat dibaca. Bahkan saat makan dan ke toilet pun, cerita dia, mereka tak segan membawa buku. Saya tak melihat maksud apa pun dengan ceritanya ini, selain bahwa ia ingin memotivasi murid-muridnya agar sukses dalam belajar dan pelajaran.

Namun, tak semua muridnya menyukai—atau minimal: menghargai—ini. Kawan-kawan di bangku belakang bahkan dengan tega memberinya komentar sinis.

Setelah ia tiada kini, saya mulai merasa bahwa ia mengajar di MI Ianatusshibyan (sejak tahun berapa saya tak tahu) itu semata-mata bukan karena materi atau hal duniawi lainnya, tapi karena amal buat kehidupan di akhirat kelak. Saya tak yakin seseorang bisa kaya-raya hanya dengan mengajar di sana karena saya tahu sekolah itu didirikan pun oleh amal.

Namun, sebagai manusia, ia juga punya kelemahan. Ia itu orang yang sangat lembut. Karena kelembutannya ini, ia sering tidak terlalu disegani (kalau tidak ingin bilang: diejek) oleh sebagian murid prianya, yang, mungkin, menganggap kelembutan adalah suatu cacat bagi seorang pria. Mungkin saya salah, itu bukan merupakan kelemahan, tapi kelebihannya yang lain. Saya maklum, kawan-kawan saya itu rupanya terobsesi pada lingkungan, di mana kekerasan dan ketegasan (baca: ke-“premanan”-an) mutlak menduduki level teratas dalam kehidupan: tipikal manusia yang mementingkan otot daripada otak. Begitulah, Pak Muin seringkali diremehkan dalam kelas walaupun ia sendiri tak ambil pusing dengan hal itu.

Saya dan keluarganya dan teman-temannya dan kenalan-kenalannya yang lain barangkali tak akan menduga sama sekali, bahkan memimpikannya pun tidak, bahwa Pak Muin akan kembali ke haribaan-Nya secepat itu. Umurnya masih muda: 50-an tahun, belum “pantas” disemati gelar ‘almarhum’.

Dua hari yang lalu, ia masih mengimami mushalla di dekat rumahnya—amalan lainnya saat ia tak mengajar. Minggu-minggu itu sering saya melihatnya momong anak perempuannya yang terkecil. Sering pula ia berpapasan dengan saya di depan rumah: tak lupa menglakson dan menyapa saya dengan bersemangat. Takdir memang sudah ditentukan, manusia tinggal menjalankan. Orang yang segar-bugar pun, jika takdir dan Tuhan menghendaki, sedetik kemudian bisa wafat.

Saya teringat kata-kata Rusli dalam novel Atheis: “Umur manusia memang singkat, tapi kemanusiaan lama. Maka dari itu, lupakan kesedihanmu dan teruskan bekerja. Bekerja buat kemanusiaan.”

Selamat jalan, Pak Muin. Semoga Anda mendapat tempat yang baik di sisi-Nya. Ilmu yang Anda wariskan pada saya dan teman-teman lain tak akan luntur dan tetap mengalir. Hingga ujung waktu. [Mangkang City, 180909]


Mauludan di Kampung Saya

8 Maret 2009

oleh A.P. Edi Atmaja

Jangan Anda pikir “tradisi” Islam tradisional sudah lenyap dari kota semimetropolis sekaliber Semarang. Coba mampir ke kampung saya, Mangkang “City”. Di sana, tradisi yang paling tradisional pun masih tersaji di mana-mana.

Salah satu dari tradisi itu adalah perayaan kelahiran Nabi Muhammad Saw—yang biasa disebut Maulud (atau Maulid, sama saja). Di kampung saya, perayaan Maulud ini sangat unik, membumi, dan, bahkan, langka ditemukan di Semarang, ibukota yang “modern”.

Modernitas ternyata tak berhasil menggusur warisan keislaman leluhur kita. Mauludan, penyebutan lazim Maulud, adalah buktinya.

Mauludan, antara lain, berisi nadham-nadham (syair lagu berbahasa Arab), secuplik ayat Al-Quran (dalam hal ini Surat al-Fath), kisah Nabi Muhammad Saw dalam bahasa Arab yang bersajak indah (biasanya Barzanji Natsar atau Barzanji Nadham), dan doa. Yang paling menarik adalah saat pembacaan bab keempat Barzanji Natsar, di mana setelah pendarus membaca “nuuran yatala’ la u sanaah“, semua yang hadir diharuskan berdiri dengan menyenandungkan:

marhaban ya nural ‘aini, ya marhaban

marhaban jaddal husaini, ya marhaban

wamuhayyan kasysyamsi minka mudhiun

asfarat anhu lailatun gharrau

marhaban ya nural ‘aini, ya marhaban

marhaban jaddal husaini, ya marhaban

lailatul maulidilladzi kana liddi..ni sururun biyaumihi wazdihau

marhaban ya nural aini, ya marhaban

marhaban jaddal husaini, ya marhaban

yauma nalat biwadh’ihibnatu wahbin, ya marhaban

min fakharin malam tanalhunnisau, ya marhaban

marhaban ya nural ‘aini, ya marhaban

marhaban jaddal husaini, ya marhaban

wa atat qaumaha biafdhala mimma, ya marhaban

hamalat qablu maryamul adhrau, ya marhaban

marhaban ya nural ‘aini, ya marhaban

marhaban jaddal husaini, ya marhaban

maulidun kana minhu fi thali’il kuf.. Allah, Allah, ya marhaban

..ri wa balun alaihimu wa wabau, Allah, Allah, ya marhaban

marhaban ya nural ‘aini, marhaban. Allah, Allah, ya marhaban

marhaban jaddal husaini, marhaban. Allah, Allah, ya marhaban

wa tawalat bushralhawati fi an qad.. Allah, Allah, ya marhaban

..wulidalmushthafa wa haqqalhanau. Allah, Allah, ya marhaban

marhaban ya nural ‘aini, marhaban. Allah, Allah, ya marhaban

marhaban jaddal husaini, marhaban. Allah, Allah, ya marhaban

Sangat menarik bahwa perayaan Maulud ini seratus persen memakai bahasa Arab. Kita tak bisa sepenuhnya menganggap orang yang mengikuti Mauludan ini mengerti (atau, setidaknya, tahu secara eksplisit) semua tulisan yang ia baca, juga nadham-nadham yang ia senandungkan. Karena, jika tidak, ia hanya akan, istilahnya, seperti orang buta yang mencoba melukis.

Butuh “keimanan” (atau dengan kata lain: kepercayaan; rasa yakin terhadap sesuatu) yang sangat kuat agar Mauludan ini tetap rutin terselenggara oleh orang buta bahasa Arab tadi.

Perlu pula diadakan suatu pembaruan, misalnya, dengan penjelasan memakai bahasa yang mudah dimengerti, oleh pemimpin Mauludan. Bisa diselipkan di sela-sela pembacaan teks atau setelah Mauludan rampung. Bila hal ini tidak dilakukan, atau pembacaan total memakai bahasa Arab terus dilakukan, dikhawatirkan akan terjadi kejenuhan, yang akhirnya akan berdampak pada kepunahan tradisi ini.

Sesuatu yang tradisional ada kalanya perlu diberi sentuhan modern supaya keberadaannya tetap terjaga. Wallahu a’lam bisshawab.

Selamat merayakan Maulud! [080309, 22:22]