oleh A.P. Edi Atmaja
Hayya ‘alal falah..
Mari menuju kemenangan..
Lengkingan itu mengusikku pada suatu petang. Aku, seorang pemuda dengan prospek cerah di depan, segera bergegas menuntaskan mandi.
Bilal bin Rabah berdiri tegak di menara masjid setinggi lima meter. Ia berkulit hitam-legam, dan lengkingannya dua kali sehari itu acapkali membikin kaum Quraisy panas hati dan panas kuping. Bagaimana tidak panas kuping, orang yang memiliki kedudukan rendah dalam stratifikasi kaum (baca: budak), oleh agama “baru” Muhammad, diperkenankan tampil di depan. Kaum Quraisy memandang ini sebagai penghinaan besar atas tradisi mereka. Mereka muntab. Sehingga penyiksaan budak berikutnya lebih diperkerap lagi.
Adzan, nama lengkingan itu, dalam beberapa kasus membikin banyak orang kerasukan mengerang-erang. Mereka kepanasan mendengar kata-kata suci diteriakkan berulang-ulang. Mereka: orang itu dan “dia” yang bersemayam di jasadnya.
♠♠♠
Rizal Khabi siap sedia sedari awal-mula, dengan mike tergenggam erat di tangan. Percikan air wudhu belum jua kering dari mukanya. Namun ia telah bertekad: ia membayangkan di hadapannya adalah berjuta manusia, dari penjuru dunia, lagi berhaji. Dan, alunan suci yang melengking itu pun melantunlah—dengan volume bombastis, produk speaker jumbo yahud di atap.
Rizal sudah mulai berpuji-pujian, sedangkan surau di seberang rumahku itu masih senyap tak terjamah. Kudengar puji-pujian itu: nadham pengagungan atas keduapuluh sifat Allah. Salah satu kesukaanku, dan satu dari sedikit yang bisa pula kusenandungkan.
Surau Nurul Falah—“cahaya kemenangan”—masih temaram, tak sinkron dengan namanya yang beken. Kupikir inilah satu markah lagi telah terjadi pergeseran budaya—bila agama bisa dikategorikan sebagai budaya. Yang jelas, surau hasil renovasi tahun 1995 itu masih sepi, di tengah riuhnya adzan di beberapa surau lain dan masjid. Bersahut-sahutan.
Surau itu—kusebut langgar—sebelum renovasi adalah mahakarya tak ternilai zaman baheula. Ia terdiri atas dua lantai, tinggi menjulang, dengan bahan penyusun utama adalah kayu. Ia monumen utama ulama di zamannya buat menyikapi banjir yang senantiasa menghadang. Jadi, terkadang, ia pernah pula dipakai sebagai tempat evakuasi warga yang rumahnya kebanjiran.
Sejauh kuingat—aku pernah pula mengecap kenangan langgar dua lantai itu—desain demikian cukup berisiko; apalagi dengan struktur kayu macam itu, sangat riskan tatkala angin leysus tiba-tiba berhembus kencang.
Tak banyak cakap, segera kuposisikan diriku laiknya Rizal Khabi—dengan imajinasi di Tanah Suci, tentu saja. Adzan yang sudah expired itu rupanya tak kehilangan gaung: tetap mengangkasa kendati di banyak tempat sudah bersahutan iqamat.
Belasan jamaah bergegas menuju surau mungil itu, menyambut seruanku. Adzan memang magis: seakan-akan mampu menghalau sekat-sekat individual orang per orang.
Laiknya insan yang rindu akan siraman spiritual, mereka berbondong-bondong coba menggapai ritme puji-pujian yang kini kusenandungkan—sembari menunggu sang Imam. Dalam suasana sosialistis yang aneh, kurasa inilah sisi terindah Islam: keseimbangan antara kapan mesti bersikap individual, kapan mesti sangat sosial.
Tatkala meraih kemenangan—sesuai bunyi panggilan adzan itu—kita harus selalu bersama-sama, berjamaah. [220510, 22:10, The City of Mangkang]
Ditulis oleh sastrakelabu 
