Arsip Tag: Syaikh Abdul Qadir al-Jailani

Dudakawu: Permata Lereng Muria [2]

Oleh A.P. Edi Atmaja

Pengantar:

Reportase ini merupakan pengamatan penulis saat mengikuti Kuliah Kerja Nyata di Desa Dudakawu, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara dari 19 Juli 2011 sampai 23 Agustus 2011.

Hari ketujuh

25 Juli 2011. Tak terasa, sudah sepekan kami berada di Desa Dudakawu tanpa kurang suatu apa. Malah, justru kamilah yang merasa bersalah karena belum melaksanakan program satu pun, cuma sebatas kunjungan (kayak pejabat aja!).

Di Dudakawu ini, kami temukan orang-orang luar-biasa. Bagaimana Pak Inggi memimpin demi kemajuan desanya, tak perlu diragukan lagi kesungguhannya. Kemudian Pak Jamin yang sangat berpengalaman dan cekatan. Bu Sri Nurhayati—pengajar PAUD sekaligus sekretaris TPK PNPM—yang ibarat srikandi desa. Mbah Umar—ketua RT 1 RW 5—yang multitalenta dan sangat nasionalis (ia yakin semua agama adalah sama, sehingga kita mesti mempelajari semuanya). Mas Dwi—ketua TPK PNPM—putra desa yang masih muda tapi banyak memberi sumbangsih bagi desa. Dan masih banyak lainnya, yang kami “temukan” kedudakaawuan mereka setelah kunjungan-kunjungan itu.

Hari kedelapan

26 Juli 2011. Kami diminta Pak Inggi mengantar proposal ke beberapa instansi di kabupaten. Beberapa proposal yang diajukan di antaranya proposal pengecoran jalan, pengaspalan jalan, perbaikan sarana olahraga voli, dan pendirian poskamling. Menurut dia, mahasiswa KKN akan memberi nilai lebih dalam hal tembusnya proposal-proposal itu.

Pagi-pagi kami turun ke kantor kecamatan buat meminta tanda-tangan Camat Kembang, Samiadji, SSos. Namun, tak dinyana, ia tak berada di tempat, sedang mengikuti pelatihan di Semarang. Maka kami putuskan, akan kembali pada Jumat besok.

Lama tinggal dengan fasilitas terbatas membuat kami selalu memanfaatkan kesempatan yang ada secara maksimal. Contohnya, saat kami “turun gunung” semacam ini. Gagal dapat tanda-tangan, agenda lain segera diupayakan. Kami fotokopi semua bahan pamflet (penyuluhan UU Penghapusan KDRT dan pembuatan chicken nugget) dan membeli semua perlengkapan Gerakan Cuci Tangan Pakai Sabun di PAUD. Sabun-cair-pencet untuk cuci tangan amatlah susah dicari di Kembang, tapi akhirnya kami temukan di Bangsri.

Demo Pembuatan Nugget
Demo Pembuatan Nugget

Siang, jam 14.00, kami buru-buru mendatangi rumah Bu Susi. Di sana, kami mempersiapkan segala hal sebelum melakukan demo pembuatan chicken nugget ke ibu-ibu PKK. Tuan rumah sangat mendukung program kami dengan menyiapkan segala peralatan yang dibutuhkan. Demo pembuatan chicken nugget terbilang sukses dan menyedot perhatian ibu-ibu PKK di Dudakawu.

Satu hal yang menggelitik hati, kami dapati “ibu-ibu” itu ternyata berusia jauh di bawah usia kami. Banyak terjadi pernikahan dini di sini. Kenapa itu bisa terjadi? Faktor utamanya ternyata pendidikan. Kebanyakan anak putus sekolah ketika tamat SMP karena keadaan ekonomi orangtua tak mendukung. Apa yang bisa dilakukan orangtua pada anak-anak mereka—utamanya perempuan—yang tak punya kegiatan apa-apa di rumah? Tak ada pilihan lain selain mengawinkannya! Dengan kawin, hilanglah kewajiban orangtua pada sang anak. Memang tragis.

Miris rasanya melihat perempuan-perempuan itu: masih belia tapi berwajah tua dan mesti menggendong balita  lantaran tekanan hidup yang datang sangat cepat.

Rezha Mehdi Bazargan mengemukakan hipotesis: masalah pernikahan dini di Dudakawu ada kaitannya dengan sepeda motor sebagai alat transportasi utama di sini. Kebanyakan anak usia SD sudah bisa (baca: diajari) cara mengendarai sepeda motor. Di SD Negeri 3 Dudakawu, misalnya, sangat biasa kita temukan siswa mengendarai motor ke sekolah. Maklumlah, banyak juga murid yang bertempat tinggal puluhan kilometer dari sekolah.

Nah, di sinilah hipotesis itu bermula. Terampilnya siswa SD dalam mengendarai motor bisa kita sebut sebagai “percepatan budaya”—sampel dari budaya dalam narasi besarnya. Bayangkan, keterampilan bermotor saja sudah diajarkan plus dikuasai dengan amat dini, bagaimana dengan “keterampilan” yang lain?

Hari kesembilan

27 Juli 2011. Pagi-pagi kami sudah bersiap, belum mandi tapi sudah membalut diri dengan jaket KKN. Kami, Rezha, Johan, dan Edi—tiga orang perjaka dari Tim KKN Dudakawu—harus mengikuti pengecoran jalan di RT 1 RW 5.

Belum-belum, kami mesti mengangkat molen (alat pengaduk semen dan pasir) bersama warga. Berat nian molen itu. Namun, usaha bersama akhirnya mampu membuat molen itu nangkring dengan manis di mobil pickup yang membawanya ke tempat pengecoran.

Jalan yang bakal dicor sepanjang kurang-lebih 500 meter. Aspal jalan telah mengelupas saking tipisnya lapisan aspal—sehingga yang tersisa dari jalan itu tinggal batu-batu kasar dan tanah liat yang bergeronjal di musim kemarau dan bikin becek di musim hujan.

Seluruh warga se-RT bahu-membahu. Tak ketinggalan ibu-ibu yang mestinya beres-beres rumah. Bahkan, jumlah mereka paling banyak di antara 40 orang yang hadir. Dengan bercaping dan cuma memakai daster, mereka turut menggotong pasir dan batu kali.

Tim KKN Dudakawu dalam Pengecoran Jalan RT 1 RW 5
Tim KKN Dudakawu dalam Pengecoran Jalan RT 1 RW 5

Sangat disayangkan, nyaris tak terlihat seorang pemuda pun di sini. Yang tampak cuma pria-pria dewasa dan usia lanjut, selebihnya anak-anak usia SD. Pemuda desa sangat sukar ditemukan lantaran mereka semua merantau mencari kerja ke desa, kota, bahkan pulau lain.

Pengecoran itu membutuhkan persiapan yang lama. Aspal harus dikupas seluruhnya demi membuat cor jadi kokoh. Kerikil mesti disingkirkan satu per satu. Dan itu sungguh melelahkan. Jam 10.00, kami pun minta diri pada ketua RT 1 RW 5, Mbah Umar.

Sementara para pejantan ikut pengecoran jalan, para perempuan menyebar ke beberapa sekolah buat mengonfirmasi agenda bimbingan belajar. Mereka pergi ke SD Negeri 1 Dudakawu, SD Negeri 3 Dudakawu, SMP Negeri 4 Kembang, MI Miftahul Huda, dan PAUD.

Sorenya, kami bertamu di rumah Pak Carik lagi. Petang hari, kami shalat berjamaah di masjid.

Hari kesepuluh

28 Juli 2011. Kami mandi lebih pagi ketimbang biasa buat menghadiri Musyawarah Desa Perencanaan dan Musyawarah Khusus Perempuan sekaligus Pembentukan TPK PNPM 2011. Setelah acara itu, kami berencana hendak memberi penyuluhan tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT). Balai Desa sangat ramai kala kami ke sana. Sudah datang ibu-ibu bersama balita-balita mereka.

Musyawarah Desa Perencanaan dan Khusus Perempuan
Musyawarah Desa Perencanaan dan Khusus Perempuan

Ternyata Dudakawu adalah desa yang cukup feminis. Betapa tidak, dalam setiap pengambilan keputusan selalu memerhatikan pendapat perempuan. Dan dalam musyawarah pengusulan program pembangunan desa ini, kaum perempuan diberi kesempatan seluas-luasnya buat mengemukakan pendapat.

Musyawarah berlangsung dengan sangat meriah. Banyak orang mengusulkan progam: mulai dari pengecoran jalan, pendirian jembatan, hingga penyediaan alat permainan edukatif (APE) untuk anak-anak. Usulan ditampung untuk dirumuskan kembali oleh TPK, yang lantas bakal mengajukannya ke pemerintah pusat.

Pembentukan TPK baru memantik sedikit konflik. Acara yang diagendakan rampung pada jam 10.00 baru berakhir pada pukul 11.30. Pengunduran diri dan ketidaksediaan-dicalonkan-kembali Mas Dwi menimbulkan pembentukan TPK baru berlangsung cukup panas. Suasana panas mereda setelah terpilih susunan anggota TPK baru yang disepakati bersama.

Jam 11.30, kendati meleset dari rencana semula, Pak Carik memberi kami waktu 10 menit untuk melakukan penyuluhan tentang Penghapusan KDRT. Pamflet dan stiker kami bagikan. Penyuluhan kami, meski singkat, memperoleh apresiasi cukup positif dari hadirin.

Pulang dari Balai Desa, segera kami lakukan persiapan pembuatan emping jagung: rebusan jagung yang telah melalui proses penjemuran dan perendaman dengan air kapur kami uleg dan ratakan menjadi pipih lantas dijemur kembali.

Sehabis Magrib, kami berkunjung ke kediaman kamituwa Ngalarangan, Sujud, buat meminta izin (nembung) soal sosialisasi sekaligus pencanangan Bina Keluarga Remaja (BKR) yang bakal melibatkan kaum muda di Dukuh Nglarangan. BKR merupakan proyek yang dirintis oleh Bu Sri dalam rangka menghidupkan kembali organisasi kepemudaan.

Sesampainya di rumah, Mbah Sujud ternyata lagi menghadiri satu undangan ruwahan (dedoa yang ditujukan untuk leluhur yang telah wafat menyongsong datangnya bulan suci Ramadhan). Sembari menunggu, tuan-rumah menyuguhi kami makan malam yang dengan sungkan kami tampik.

Mbah Sujud adalah seorang nahdliyin (sebutan bagi “orang” Nahdlatul Ulama, baik secara kultural maupun organisatoris) sejati. Rumahnya nan bersahaja amat kental nuansa ke-NU-an: potret Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, Walisanga, dan lambang NU. Ia berusia lebih-kurang enam dasawarsa tapi nampak masih bugar—pertanyaan kami dijawab dengan demikian lancar.

Ibu-ibu pun Turut Membantu
Ibu-ibu pun Turut Membantu

Terdapat dua RW (RW 4 dan RW 5) yang terdiri dari lima RT di Dukuh Nglarangan. Masing-masing RT diketuai oleh Sampan (RT 1 RW 4), Kemijan (RT 2 RW 4), Umar (RT 1 RW 5), Nur Adzim (RT 2 RW 5), dan Abdul Jalil (RT 3 RW 5).

Pulang dari rumah Mbah Sujud, rupanya Mbah Umar telah menanti. Ia bertamu di posko kami dengan membawa senter (hendak meronda rupanya). Ia bercerita ngalor-ngidul seperti yang sudah-sudah. Ia agung-agungkan semangat Soekarno, sama militannya ketika ia menjunjung tinggi Pancasila. Tak ketinggalan, semangat kesamaan dan kesatuan agama-agama. Ia baru pamit setelah tempo menunjukkan pukul 22.30.

Hari kesebelas

29 Juli 2011. Jumat pagi yang cerah, para pejantan sudah menguber-uber parang dan arit. Ada kerjabakti seluruh warga RT 2 RW 5. Rumput-rumput yang menganggu pemandangan kanan-kiri jalan dibabati sampai habis. Kemudian dibakar.

Setelah kerjabakti selesai, para pejantan tak langsung mandi karena mesti ikut pula pengecoran jalan yang kemarin sudah dimulai. Sampai kira-kira jam 11.

Sementara pejantan berolah fisik, yang lain turun ke kantor kecamatan, mencari tandatangan Sekretaris Kecamatan. Ternyata yang bersangkutan tak berada di tempat. Akhirnya proposal Perbaikan Sarana Olahraga Voli itu pun kami tinggal dan akan kami ambil Senin esok hari.

Sehabis shalat Jumat, penyuluhan Peningkatan Produksi Ternak Sapi Potong pun kami persiapkan. Tempatnya di Balai Desa, mengundang 20 orang lebih yang masing-masing terdiri dari perwakilan kelompok tani. Acara yang pada mulanya mengundang pembicara dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Jepara pun berjalan lancar meski yang bersangkutan membatalkan kedatangan secara sepihak dan mendadak.

Alhasil, cuma Kardina Enny DK yang menjawab seluruh pertanyaan para peternak sapi yang kaya pengalaman itu. Di sinilah teori di bangku perkuliahan dan praktik di lapangan bergelut mesra. Semua orang, baik Dina maupun para peternak, mendapat pembelajaran yang seimbang.

Hari keduabelas

30 Juli 2011. Hari ini tiga orang anggota tim meninggalkan tempat KKN. Mereka harus menyelesaikan urusan masing di Semarang (Edi dan Yemima Anggraini) dan Rembang (Johan).

Anggota tim yang masih berada di lokasi, melanjutkan program yang telah diagendakan sebelumnya. Pukul 10.00, kami ke Balai Desa, hendak memberi pelatihan Microsoft Office buat perangkat desa. Acara rampung pukul 11.30.

Hari ketigabelas

31 Juli 2011. Johan kembali dari Rembang jam 16.00. Ia langsung diajak Ayu, Dina, dan Rosmalia Safitri main-main ke Alun-alun Jepara.

Edi sampai posko dari Semarang pas Isya. Masjid sudah berkumandang adzan, bersiap melaksanakan shalat Isya dan Tarawih perdana. Posko sepi karena ternyata Rezha, Rizka, Nur Wulan Aprilia, dan Tri Wahyuni diajak Pak Inggi berkeliling Jepara mencari ikan segar.

Tim kumpul lengkap—kecuali Yemi—setelah pukul 22.00. Mereka berkumpul di dapur bersama Pak Inggi sekeluarga. Suasana saat itu benar-benar hangat. Pak Inggi berkisah tentang pengalamannya kala terpilih menjadi Petinggi Dudakawu—betapa di desa sesunyi itu pun, persaingan politiknya demikian kuat. Selain itu, ia bercerita pula tentang asal-muasal kawasan Kembang.

Kembang sebetulnya nama dukuh di Desa Jinggotan. Dan ia pun cuma perluasan dari Kecamatan Bangsri. Jadi, Bangsri sudah ada lebih dulu—tak heran kemajuan terlihat pesat di sana. Soal riwayat pun, Bangsri yang jadi cikal-bakal dari daerah-daerah lain.

Pada mulanya, seorang bernama Ki Gedhe Bangsri (yang makamnya dibangun dengan sangat megah di Bangsri). Ia merupakan salah seorang murid Sunan Muria—satu dari sembilan anggota dewan wali yang disebut Walisanga. Ia memiliki seorang putri. Sang Putri teramat cantiknya sehingga ditaksir lantas dilamar Surajatha, seorang sakti-mandraguna yang menguasai segala jenis ilmu hitam. Namun, Sang Putri ogah menerima pinangan itu. Ia pun kabur dari Surajatha. Surajatha bukan pria yang mau dihinakan perempuan begitu saja. Ia bertekad membawa pulang putri pujaannya itu dengan cara apa pun.

Berkat kesaktiannya, Surajatha mengendus keberadaan Sang Putri di tempat orang berjualan wedel (pusar) sapi. Karena jadi tempat persembunyian buruannya, Surajatha membunuh si penjual wedel. Untung Sang Putri berhasil kabur. Lama-kelamaan, tempat terbunuhnya penjual wedel sapi itu dinamakan Wedelan.

Sang Putri pun bergerak ke utara, sampailah ia di kediaman seorang penjual kembang. Penjual kembang itu mengizinkan Sang Putri ngumpet di rumahnya. Akan tetapi, Surajatha segera mengetahui tempat persembunyian itu. Ia pun membunuh si penjual kembang dan, buat kedua kalinya, Sang Putri berhasil lolos. Tempat itulah yang sekarang dinamakan Dukuh Kembang.

Dalam pelariannya yang ke sekian kali, Sang Putri bersembunyi di rumah seorang bernama Ki Jinggot. Surajatha segera ke sana dan berduel dengan Ki Jinggot. Namun, Ki Jinggot bukan lawan yang sepadan buat Surajatha. Ia akhirnya berhasil dibinasakan. Bekas pertarungan itu kini disebut Jinggotan.

Sang Putri terus lari ke utara. Mentoklah ia di laut. Akhirnya, Sang Putri sampai pada tingkat terjauh pengharapannya. Ia nekat menceburkan diri ke laut karena tak punya pilihan lain. Surajatha yang tercenung, meratapi nasib cintanya yang tragis, memutuskan ikut terjun dan mati pula bersama Sang Putri.

Sangat seru mendengarkan Pak Inggi berkisah. Habis satu cerita, ganti cerita lain. Ia, antara lain, juga mengenang masa silam Dudakawu yang penuh nuansa klenik. Sendang Sinatah, katanya, adalah tempat berkumpul segala dhemit (iblis menurut kepercayaan Jawa). Masyarakat Dudakawu mengenal dan mempraktikkan Islam secara sungguh-sungguh pun semenjak akhir-akhir ini. Sebelum itu, agama cuma dipakai sebatas label, tak dipraktikkan secara sepenuhnya (baca: sesuai syariat).

Obrolan terus berlanjut sampai tengah-malam.

Hari keempatbelas

1 Agustus 2011. Kami bersantai dengan tanpa keharusan bangun pagi-pagi. Hari ini puasa pertama dan semua instansi di Dudakawu libur. Tiada kunjungan ke Balai Desa, tiada sebar proposal ke kecamatan dan kabupaten, tiada bimbingan belajar ke sekolah-sekolah.

Praktis, tiada kegiatan berarti hari ini. Dalam pada itu, keluarga Rizka datang menjenguk dari Pati. []

*) Tulisan ini pertama kali disiarkan oleh situs resmi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Diponegoro.