Oleh A.P. Edi Atmaja
Pengantar:
Tulisan ini merupakan pengalaman penulis saat melakukan pendakian Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah pada 15-16 Juni 2010.
KETIKA TEMAN SAYA, Bayu Dwi Nugroho—biasa dipanggil Masnung—mengajak naik gunung buat mengisi liburan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), saya langsung mau. Ya, libur kuliah tiga hari karena kampus kami akan dipakai buat tempat tes seleksi akan jadi sia-sia bila digunakan hanya untuk tidur (-tiduran) di rumah. Maka, tanpa banyak cakap, segera saya sebar rencana itu ke sebanyak mungkin teman, biar seru.

Bertolak dari Medini
Nyatanya, teman-teman saya tak seantusias yang saya harapkan. Kebanyakan menolak. Maklum, minggu-minggu itu juga merupakan pekan terakhir kuliah. Mendekati ujian penghabisan semester, dan tugas dari dosen meluncur dengan bertubi-tubi.
Tak apalah. Agenda jalan terus. Pada akhirnya, tiga orang nekat bersepakat hendak menaklukkan Gunung Ungaran sesegera mungkin. Tugas kuliah yang menumpuk dipikir belakangan. Tiga manusia nekat itu antara lain saya, Masnung, dan Lilik Haryadi, teman saya yang lain.
♠♠♠
SEHARI SEBELUM pendakian, kami kumpul dulu. Saya ternyata satu-satunya orang yang masih awam soal daki-mendaki gunung. Dua teman saya sudah pernah mendaki berkali-kali. Dalam briefing singkat itu diputuskanlah tugas masing-masing: Lilik untuk tenda, Masnung dan saya untuk perkakas dan logistik (baca: makanan).
15 Juni 2010, sekitar jam sepuluh pagi. Kami berkumpul di kos Masnung. Rencananya, kami hendak mendaki lewat Boja. Boja juga merupakan kediaman Masnung. Di sanalah kami, sesuai rencana sehari sebelumnya, bakal mempersiapkan segala sesuatu yang penting sebelum bersiap mendaki.
Berjarak kira-kira 20 km dari Semarang, Boja terasa sejuk sekali. Jalanan menanjak nan berliku, ditingkahi pepohonan yang menghijau, menyapa kami pagi itu.
Boja tempat kediaman Masnung itu sebetulnya masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Limbangan, sedangkan Boja sendiri adalah kecamatan tersendiri di Kabupaten Kendal. Barangkali, latah masa lalulah yang telah “memopulerkan” lema Boja sedemikian rupa, sehingga semuanya terlihat sebagai Boja.

Mulai Mendaki
Singkat cerita, sampailah kami di rumah Masnung yang seasri lingkungannya. Sajian selanjutnya adalah ciri khas seorang tuan rumah yang baik: nasi dengan lauk pauk yang mengundang selera, menantang kami untuk segera melibasnya habis. Setelah kenyang, kami pun segera berburu ketela pohon yang bakal kami jadikan makanan pokok di gunung nanti.
Almarhum Gus Dur selalu bilang, “Gitu aja kok repot!” Dan tanpa repot-repot pula kami peroleh sekarung ketela pohon siap olah dari kebun Masnung. Sebagian ketela kami putuskan untuk direbus saja, sementara sisanya kami biarkan mentah buat diolah waktu di Puncak nanti. Setelah dirasa sudah lengkap perbekalan kami—yang ditandai dengan semakin beratnya tas—pendakian lantas kami mulai.
♠♠♠
KAMI BERTOLAK dari sebuah rumah mungil milik PT Rumpun Sari Medini, perusahaan di mana ayah Masnung bekerja. Di sana, kami memarkir motor kami dan berdoa untuk pertama kali.
Buat saya yang belum pernah sekali pun mendaki gunung, sudah barang tentu pendakian ini laksana misteri. Saya benar-benar tak tahu penampakan macam apa yang menanti di depan. Saya kira ini seperti hidup. Semua orang tak akan pernah bisa tahu dengan tepat takdir hidupnya. Hanya saja, sebagaimana “rumus” pendakian, semua mesti kita terima dan hadapi, apa pun risikonya. Yang wajib dilakukan manusia cuma satu: saat jatuh, harus segera bangun. Dan dalam “bangun” ini, pilihan antara kemenangan atau kegagalan menyeruak tanpa malu-malu. Meski kegagalan yang kita terima, kita harus terus bangun. Itulah kemenangan sejati.
Walaupun sudah mendaki berkali-kali, rupanya kedua sobat saya sungguh berjiwa alam. Buat Lilik, gunung laiknya pacar yang senantiasa mengangenkan. Sampai kapan pun, katanya, ia tak akan pernah bisa bosan mendaki.
Etape pertama kami adalah kebun teh yang luas sekali. PT Rumpun Sari Medini memang perusahaan perkebunan teh yang masyhur sejak dulu. Perusahaan teh yang konon telah ada semenjak era penjajahan ini menguasai hampir seluruh bagian lereng, dan menyetor devisa buat negara hingga miliaran rupiah per tahun.
Semakin lama mendaki, semakin ngos-ngosan-lah kami. Wajar saja. Jalan yang kami tempuh kian lama kian menanjak, udara pun kian tipis. Di Pos Pertama kami sepakat mengaso sejenak, melepas dahaga. Bawaan air kami lumayan banyak. Jerigen kosong juga kami bawa. Namun, kami harus berhemat. Dusun Promasan, di mana terdapat mata air berlimpah, masih jauh di depan. Kami bakal mengisi jerigen kami di sana.
♠♠♠
SUDAH CUKUP LAMA kami berjalan. Letih tidak kami rasakan, tapi Puncak masih kelihatan tinggi. Cuma sering kami berhenti sebentar lantaran kaki mulai kebas. Lutut senut-senutan. Saya mafhum, inilah ganjaran setimpal akibat tak rajin berolahraga.
Di kanan-kiri kami, daun teh yang menghijau terlihat senantiasa. Sesekali, kami bersua dengan beberapa pemetik teh yang telah selesai bekerja seharian. Mereka merosot turun dengan cepat setengah berlari, satu per satu, dan menyapa kami. Menurut Masnung, pemetik teh di sini datang dari penjuru daerah. Diangkut truk, mereka sudah stand-by di perkebunan sehabis Subuh. Melihat mereka, saya jadi teringat tukang dherep[1] di kampung saya. Tak jarang mereka didatangkan langsung oleh penebas[2] dari daerah yang jauh. Orang-orang ini—pemetik teh dan tukang dherep—telah bangun sebelum ayam berkokok, dan melanglangbuana ke tempat yang jauh, seharian, hanya demi sesuap nasi yang sering tak setimpal dengan peluh yang mereka keluarkan.
Di beberapa sektor, rupanya telah dilakukan pemangkasan batang dan daun teh. Teh-teh itu digunduli, ranting-rantingnya yang kering ditata di samping pohonnya. Kami jadi bertanya-tanya, berapa tepatnya umur teh-teh di sini. Bila kebun teh ini telah ada sejak Zaman Belanda, tentu sudah puluhan tahun usia mereka. Biarpun pendek dan kecil-kecil, tak akan salah bila kita mengeramatkannya, seumpama memagiskan pohon keramat nan kuno.
Di balik teh-teh yang gundul itu, Masnung memberitahu saya sesuatu yang menarik. Ia menunjuk ke arah lubang besar di lereng seberang kami. Itu adalah gua bikinan Jepang. Konon, tatkala penjajahan dulu, gua itu bisa tembus ke pusat Kota Ungaran. Namun kini gua itu sudah tertimbun tanah dan tak pernah dijamah lagi.
Akhirnya sampai jua kami di Promasan, dusun terakhir sebelum sampai ke Puncak. Kami segera mencari dan menemukan masjid yang amat bersahaja: tersusun dari potongan-potongan papan. Sepanjang pengamatan kami, memang demikianlah tampilan bangunan di sini, tersusun secara ala kadarnya demikian. Kebanyakan terbuat dari kayu (itu pun kayu yang bukan main kasarnya) dan rupanya dibikin secara darurat. Di masjid satu-satunya di Promasan itu, kami mengaso dan bersembahyang, menghadap Ilahi Rabbi.

Goa Jepang
Kemudian, kami cuci muka sepuas-puasnya. Ada satu tempat yang mengucurkan air terus-menerus sehingga bisa dibilang mata air, namanya Candi Promasan. Baru dipugar dan dibangun secara patungan oleh para pemuka Promasan, Candi Promasan tampak sangat keren. Dibangun air mancur yang mengucurkan air tanpa henti. Di beberapa tempat, situs-situs kuno direlokasi secara apik. Di sana kami temukan Candi Promasan: berwujud arca seseorang yang lagi bersemedi dalam ukuran mini. Di tempat lain, ada Candi Gajah: berbentuk batu berukuran besar yang secara imajinatif bisa kita katakan sebagai gajah tengkurap.
♠♠♠
PUKUL EMPAT tepat kami teruskan pendakian. Mentari sudah mulai tenggelam sementara Puncak masih beratus meter di depan. Padahal target kami harus sampai Puncak sebelum Maghrib.

Candi Promasan
Kami ucapkan sampai jumpa buat Promasan. Pendakian sesungguhnya dimulai dari sini. Gerbang “Yonif Raider” menyambut kami.
Medan yang kami tempuh mulai nampak bervariasi. Trap-trapan yang ada terang memudahkan jalan kami. Tapi lutut dan paha saya mulai sakit lagi. Sering kaki mesti dibuka lebar-lebar untuk menjangkau trap di atasnya. Terkadang trap berupa bebatuan besar yang basah dan licin. Kami harus berhati-hati dalam memilih langkah.
“Ini belum seberapa, masih permulaan,” komentar Lilik, yang tak sedikit pun menghibur. Benar saja. Jalanan kini tak cuma diliputi trap-trapan yang tinggi-tinggi. Sebelumnya, jalanan terasa lapang lantaran jarang sekali ada kerimbunan. Kini, kekelaman mencekam kami—dilingkupi semak-semak yang bukan main rimbunnya, berduri lagi—dan pohon-pohon besar menyambut. Serasa masuk dunia lain. Suasana mendadak amat lembab, sinar matahari yang mulai meredup karena waktu menemukan lawan yang tak seimbang. “Hati-hati pacet dan lintah,” suara Masnung menasihati.

Arca Gajah
Begitulah. Pemandangan selanjutnya berganti dengan cepat, laksana kaleidoskop saja. Beberapa menit kami lalui dalam keremangan, kini terang-benderang kembali. Di kanan-kiri, padang rumput—entah stepa entah sabana—mengitari kami. Hembusan angin senja yang dingin menusuk kulit. Kami segera mencari tempat datar, mengaso sebentar sembari melepas dahaga plus mengisi perut.
Kami duduk bertiga seraya memandang ke bawah. Tanpa terasa kami sudah setinggi ini. Di bawah, perkebunan teh tampak kecil dan meliuk-liuk. Kami bisa lihat laut utara. Semarang dan Ungaran serasa dalam genggaman tangan.
Merasai apa yang saya perbuat kali ini betul-betul membikin saya geli. Bayangkan, naik gunung dengan modal pengalaman nihil cuma ditemani dua orang saja. Orang-orang di sekitar saya pasti langsung mencap saya gila bila mereka tahu kelakuan saya kali ini. Saya tak bisa menebak bagaimana sikap orangtua saya setelah, mungkin, selamat dari “ekspedisi” ini. Saya pasrahkan semua kepada Dia yang Mahaberani.

Nama Paling Bawah, Ayahanda Masnung
Jujur saya katakan, tantangan ini saya ambil karena “amunisi” pendorong—yang menyokong nyali saya—terbilang cukup banyak. Kalau tidak, saya akan berpikir ribuan kali tatkala diajak Masnung.
Baru-bau ini, saya beli buku tentang Soe Hok-Gie, setebal lima ratusan halaman. Buku ini berisi kumpulan artikel yang ditulis khusus oleh kawan-kawan Hok-Gie, yang coba memaparkan siapa sesungguhnya Soe Hok-Gie itu. Semua pecinta alam, seperti halnya segala demonstran, pasti tahu siapa dia. Buku itu amat bagusnya dan membuat saya terobsesi mendaki gunung. Itu “amunisi” pertama yang mendorong saya.
Kedua, saya punya teman, namanya Budi Prasetyo, yang suatu kali pernah bilang, di Gunung Ungaran tak mungkin ada Edelweis, bunga abadi itu. Ungaran terlalu rendah, kata dia. Melalui pendakian ini, saya bertekad membuktikan omongannya, memang sahih ataukah cuma ngelantur.
♠♠♠

Pos Pertama
DUA MENIT berselang, kami bergegas meneruskan langkah. Hari mulai gelap. Angin gunung yang dinginnya bukan main berhembus saban waktu. Ingin rasanya kami mendirikan tenda untuk menghangatkan diri. Semoga di perjalanan kabut tak merintangi pandangan kami.
Batu-batuan mulai sering kami panjat. Inilah tahap terekstrem dari pendakian ini. Kaki, lutut, dan tangan saya serasa diforsasi terlalu keras. Di banyak tempat, badan saya sakit semua. Keseimbangan badan sedikit demi sedikit mulai goyah. Sesekali saya tergelincir. Untungnya saya masih cukup sadar untuk mempertahankan diri dan berkonsentrasi penuh sehingga tak berakibat fatal.
Yang menjengkelkan, dua teman saya seolah berjalan cepat sekali di depan. Saya kewalahan. Seakan-akan ingin menyerah dan ngendon di tempat sendirian saja. Saya merasa tak peduli kedua teman saya akan meninggalkan saya.
Saya terus-menerus bertanya, “Berapa jauh lagi?” yang segera dijawab Lilik, “Masih jauh,” dan menambah kekesalan saya. Kedua kaki mulai ogah-ogahan saya atur. Mereka tak kuat lagi menopang tubuh saya.
Kelelahan telah mencapai titik klimaks. Dan ketika sampai di tempat yang lumayan lapang, tanpa sungkan kami merebahkan diri. Padahal, kami tahu, target kami telah terlampaui: Maghrib telah tiba, tapi kami sampai Puncak pun belum.
Melihat ke bawah lagi, pemandangan alangkah indahnya. Lampu kelap-kelip kota menghiasi malam. Kami tercerai dari cahaya-cahaya.
“Ayo, kehangatan tenda menanti kita.” Propaganda Lilik melecut semangat saya. Saya kuatkan lutut dan kaki saya lagi.
Suasana benar-benar gelap-gulita sekarang. Di saat seperti ini, senter Masnung amat membantu. Tapi sungguh sial, itu senter satu-satunya. Cahaya yang minim membuat saya terperosok ke langkah yang salah dan memperparah kondisi kaki saya.
Perlahan kami mulai merayap selangkah demi selangkah. Kaki saya tak kuat lagi, tangan segera ambil-alih komando, sehingga saya tak lagi mendaki melainkan merangkak. Masnung yang terus-terusan membawa jerigen penuh berisi air dari Promasan rupanya sudah tak tahan lagi. Jerigen itu beralih ke Lilik, yang lengkap sudah bawaannya: sebuah jerigen penuh di tangan, tas bacpack dan tenda di punggung. Saya sendiri sejak dari Medini sudah bawa-bawa termos yang membuat kedua bahu saya pegal.

"Three Musketeers" di Puncak
Badan saya telah mencapai titik nadir ketika Lilik menyalami saya, “Selamat, Bung. Anda sudah menaklukkan Gunung Ungaran.” Masnung juga. Dan kami bertiga ketawa bersama.
♠♠♠
LILIK DENGAN TANGKAS segera mencari tempat berkemah yang hangat. Puncak cukup luas. Di sana-sini terdapat sisa-sisa pendiangan dan rumput-rumput kering sebagai alas tenda. Di pusat, dibangun monumen TNI. Kami mengekor Lilik yang melaju terus, memilih lokasi yang cocok.
Kami mendirikan kemah tepat di sisi hutan. Pohon besar menaungi kami. Kami memanfaatkan rerumputan kering bekas kemah sebelumnya. Kami jadi agak ngeri: di Puncak, ternyata cuma kamilah manusia yang masih eksis. Melihat jejak, baru kemarin rupanya ada pendaki lain yang turun. Lengkaplah sudah petualangan ini: tiga orang manusia dalam kegelapan sekaligus kesunyian Puncak setinggi 2.050 m di atas permukaan laut.
Kami sudah tak sabar lagi kepengin menikmati kehangatan tenda. Agak berdesakan, kami masuk dan segera memakai segala sesuatu yang bisa membuat hangat. Kami seduh kopi—nikmat sekali—beserta merangsek camilan-camilan kecil di tas. Sungguh segala kecapekan tadi terbayar lunas oleh kopi dan camilan-camilan itu serta obrolan ala kadarnya.
Waktu baru menunjukkan pukul 20.00, tapi kami sudah terlelap dengan pulasnya.
♠♠♠
KEESOKAN HARINYA, 16 Juni 2010, benar-benar di luar pengharapan kami. Saya lihat di ponsel, sudah jam enam pagi. Tapi ketika saya keluar, langit masih muram, tak ada secercah sinar mentari sama sekali. Di samping itu, udara sedingin es langsung menghantam muka saya, buru-buru saya tutup tenda. Rintik hujan terus berjatuhan menimpa tenda kami.
Padahal, menurut Lilik dan juga Masnung, jam-jam segini mestinya pemandangan sedang bagus-bagusnya. Saya bayangkan cerita mereka: matahari bersinar menerangi segalanya ditingkahi ilalang Puncak yang meiuk-liuk tertiup angin. Dalam suasana seperti itu, amatlah mengasyikkan berfoto-foto-ria menikmati sunrise. Kali ini barangkali saya lagi sial, alih-alih menikmati sunrise, kabut dan awan gelap tak jua menyingkir dari pandangan. Terpaksa kami teruskan tidur hingga beberapa jam lagi.
Saya jadi ingat, malam itu, kami (tepatnya saya dan Masnung, yang masih terjaga setelah buang air, sementar Lilik tidur pulas sekali) dikejutkan oleh suara aneh. Semacam gonggongan anjing tapi bukan. Saya berbisik tanya ke Masnung, namun dia juga sama tak tahu-menahunya seperti saya. Kami waspada. Pikir saya, jangan-jangan serigala hutan mendekat. Tiba-tiba suara Lilik menguasai keadaan (sejak kapan ia terbangun?), “Itu suara burung. Mau cari makan dia,” katanya. Kami jadi sedikit lebih lega, merasa kata-katamya cukup masuk akal. Suara aneh itu perlahan menjauh dan akhirnya hilang.
Untunglah, sejak pendakian kemarin hingga hari ini, belum pernah sekali pun kami temui hewan buas menghadang. Selebat atau seangker apa pun hutan, padang rumput, atau tebing-tebing yang kami lalui kemarin, tidak dihuni hewan buas macam ular, biawak, atau macan. Paling banter siamang berloncatan di dahan sekan menyambut kami. Itu juga cuma satu-dua ekor. Selebihnya, alam seakan milik kami bertiga saja.
Pukul 08.00. Kabut tak hilang-hilang juga. Tapi udara agak mendingan, hangat terasa tak sedingin tadi. Kami memutuskan keluar melihat-lihat keadaan. Sudah suntuk sekali di tenda.
Puncak sudah terang-benderang, kendati tak seterang yang seharusnya. Matahari yang nge-blur karena kabut perlahan sanggup memancarkan scercah sinarnya ke bawah. Saya langsung bersedekap waktu keluar dari tenda. Tubuh saya menggigil kedinginan, tulang-belulang serasa kaku sekali untuk digerakkan. Tapi kecapekan kemarin hilang sepenuhnya. Saya paksakan kaki saya yang kaku meninjau lokasi.
Ternyata letak tenda kami agak turun ke bawah, bukan di tengah Puncak pas. “Bikin kemah di tengah-tengah bakal kedinginan terus,” kata Lilik soal ini. “Lihat, di sini tak ada penghalang, seperti pohon, yang mencegah angin menghempas tenda secara langsung. Beda dengan lokasi kita yang dilindungi pepohonan dan Puncak itu sendiri.”
Memang lapang sekali tengah-tengah Puncak ini. Monumen TNI—berupa tembok-tembok bersusun dengan ukiran Banteng di tengahnya—berdiri dengan gagah. Semboyan Yonif Raider “Cepat, Senyap, Tepat” tertulis di sana. Di tengah monumen, terpancang tiang dengan bendera merah-putih yang berkibar-kibar.
Menurut Masnung, dulu ada tiga tiang bendera di sini. Dipasang juga panel surya sebagai sumber listrik. Namun kini dua tiang bendera dan penel surya itu rupanya telah lenyap. Entah ulah kleptomania mana.
Di seputaran Puncak, suasananya sangat memprihatinkan. Sampah-sampah berserakan. Sebagian besar berwujud plastik yang sangat susah diurai. Ulah tak bertangungjawab ini tentu tak bisa terus dibiarkan. Gunung adalah bagian dari alam, yang harus dijaga baik kelestarian maupun kebersihannya.
Maka, dengan sikap kompak, kami memutuskan untuk mengumpulkan sampah-sampah itu dan membakarnya. Namun juga harus tetap waspada, karena bakar-membakar di gunung berisiko berkali-kali lipat ketimbang sekadar membuang sampah sembarangan.
Pukul 10.00 kami kembali ke tenda.
♠♠♠
DI DALAM TENDA, kami isi perut kami yang mulai keroncongan. Enaknya di gunung, kita tak harus sesuai jadwal. Kita betul-betul selaras dengan alam. Alam memanggil kita makan (melalui bunyi perut keroncongan), kita makan. Alam memanggil kita tidur (melalui mata yang mengantuk), kita tidur. Alam membikin kita kebelet, segera cari tempat strategis untuk buang air. Alam mengingatkan kita supaya mandi (lewat bau badan yang prengus), kita mandi. Tapi betul-betul gila ada orang mandi di gunung.
Intinya, di gunung seolah-olah kaidah penjadwalan yang berlaku di dunia modern menjadi tak perlu diperhatikan. Barangkali kita sebagai “orang sistematis”—karena pengaruh modernitas—sesekali membutuhkan sistem yang asistem seperti ini. Dengan hidup yang di luar prosedur demikian, hakikat kita sebagai manusia bakal menemui kemantapannya, sehingga kita akan lebih rileks mengahdapi hidup di dunia yang sebenarnya.
Dalam upaya memenuhi perut kami yang keroncongan itu, kami keluarkan ketela pohon mentah yang kami bawa. Segera kami rebus memakai alat masak bikinan sendiri[3]. Sepuluh buah ketela pohon seukuran kepalan tangan tandas kami makan. Kami rebus air dari jerigen untuk menyeduh kopi. Tidak sia-sia tangan Masnung yang berpegal-pegal-ria membawanya dari bawah. Kami sarapan ala kadarnya, tapi “mewah” sekaligus mengenyangkan. []
[1] Tukang dherep: orang-orang yang disewa khusus untuk memanen padi yang telah menguning. Pakaian panjang-panjang lusuh dan caping menjadi ciri khas mereka. Umumnya mereka berkelompok dan acapkali masing-masing masih memiliki ikatan darah. Mereka biasa bekerja dari bakda Subuh hingga nyaris Maghrib. Bulir-bulir padi dipisahkan dari batang dan daunnya, lantas dimasukkan ke dalam karung-karung khusus yang dinamakan ‘sak’.
[2] Penebas: Orang (biasanya memang tunggal) yang membeli hasil panen padi untuk kemudian dijual kembali. Setelah tiba musim panen, pemilik sawah punya dua pilihan: memanen sendiri sawahnya atau menjual hasil panen kepada penebas yang akan memanen sawah tersebut. Ketika pemilik sawah memanen sendiri sawahnya, ia dapat mengonsumsi hasil panen itu pribadi, atau menjualnya, atau menjual sebagian dan menginsumsinya sebagian lagi.
[3] Alat masak itu berupa kaleng cat dan kaleng bekas tempat tempat kue. Kaleng cat kami pakai sebagai kompor sementara kaleng kue sebagai pancinya. Terlebih dahulu, kaleng cat itu dilubangi sekeliling sisinya supaya api yang menyala tidak mati saat ditumpangi kaleng kue. Sumber api berasal dari spiritus yang dituang ke dalam kaleng cat itu lantas dibakar. Kaleng kue yang sudah diisi air ditaruh di atasnya. Sedikit spiritus mampu membuat air mendidih.