Para Aktivis Kampus, Ngebloglah

21 Januari 2012

Oleh A.P. Edi Atmaja

Beberapa waktu lalu, saya melihat sekelompok pemuda yang saya duga sebagai mahasiswa berjalan beriringan di sekitar Jalan Pahlawan, Semarang. Atribut yang mereka kenakan membuat saya yakin, mereka betul-betul mahasiswa. Mereka berjalan beriringan, sedikit sempoyongan, habis berdemonstrasi rupanya.

Saya baca di suratkabar daring (online) terkemuka, seorang blogger ditahan tatkala hendak menghadiri konferensi tentang kebebasan pers di Yordania. Razan Ghazzawi (30), perempuan itu, merupakan tokoh terbaru di antara sejumlah blogger dan wartawan yang ditahan sejak terjadi aksi protes terhadap Presiden Syria, Bashar al-Assad.

Pemandangan “habis berdemonstrasi” di sekitar Jalan Pahlawan itu tentu tidak kita temui setiap hari. Bahkan, setiap bulan. Aktornya pun bukan melulu mahasiswa. Makhluk bernama mahasiswa itu semakin mudah kita temui lagi ongkang-ongkang di kafe, butik, perawatan kulit, salon, pusat fitness, dsb. Jalanan bukan lagi tempat favorit sebagaimana mahasiswa Soe Hok-Gie kerap menghabiskan waktu.

Tapi, kita juga jadi bertanya: apa sih yang membikin jalanan jadi begitu menarik? Apakah mahasiswa yang berdemonstrasi itu pada akhirnya memperoleh apa yang mereka tuntut? Lebih jauh lagi, apa mereka mengerti maksud tuntutan mereka?

EO

Mahasiswa kini sedang terseret arus pragmatisme. Segala hal yang dinilai lagi ngetren, instan, dan tanpa perlu berpikir panjang jadi laris manis. Mahasiswa rentan digiring opininya dengan jargon populis.

Daya kritis mahasiswa dibelenggu oleh kenikmatan duniawi, entah itu terhelat di lingkungan mahasiswa sendiri (kampus) maupun di luar kampus. Bukan rahasia lagi kampus jadi tempat ajojing, berfoya-foya. Uang kuliah yang (di-) naik (-kan) tanpa alasan yang jelas, misalnya, dianggap angin lalu belaka.

Di sisi lain, mahasiswa yang punya kecenderungan anti pada semua yang berbau hedonisme terperangkap pada muslihat organisasi. Maksudnya? Organisasi yang terlalu organisatoris: yang suka menghelat acara-acara yang miskin gagasan, namun mengejar kementerengan dan dana sebanyak-banyaknya. Mahasiswa jadi layaknya event-organizer (EO).

Seminar banyak bermunculan tapi esensinya kosong belaka. Workshop yang ada cuma workshop-workshopan. Sarasehan keliru disangka semacam temu-kangen biasa. Pelatihan digelar cuma demi memenuhi program kerja.

Panitia seminar antikorupsi cuma menggaruk kening sembari cengegesan kala ditanya apa itu korupsi. Kajian ilmiah kampus menjadi mandul lantaran yang dikejar cuma tetek-bengek formal: lebih penting tempat nyaman dan makanan enak ketimbang konsep acara dan pembicara yang mampu mencerdaskan sebanyak mungkin orang.

Razan

Maka, ketika sekelompok mahasiswa berjalan sempoyongan di suatu siang di Jalan Pahlawan itu, saya serasa menyaksikan EO-EO jenis lain tengah menunaikan tugas mereka. Mereka sama sekali tak mengerti apa yang barusan mereka lakukan. Seorang kawan mengaku, ia ikut demonstrasi karena disuruh seniornya, disuruh teriak-teriak atas komando seniornya.

Kalau dulu Soe Hok-Gie dianggap pejuang jalanan, barangkali sekarang istilah itu lebih bernada peyoratif. Jalanan adalah sumber segala kekerasan. Demonstrasi dan aksi yang digelar di sana pada akhirnya akan berakhir anarkis. Demo yang adem-adem saja tak bakal mungkin jadi topik pembicaraan penguasa. Demo harus anarkis dan banal, maka pemerintah akan sedikit memicingkan mata padamu.

Demonstrasi sekarang—lebih-lebih yang dilakukan mahasiswa—lebih mirip demonstrasi “pesanan”. Para demonstran cuma memerankan lakon. Kebanyakan dari mereka bisa jadi sama sekali tak dilibatkan dalam perumusannya, latarbelakang macam apa yang menyebabkan demonstrasi itu ada.

Sehingga, kalau kita berasumsi seorang demonstran pastilah idealis, simpulan itu saya rasa terlalu terburu-buru. Idealisme tak hanya ditampakluarkan dengan berkoar-koar, berorasi membakar semangat.

Apa yang dilakukan Razan Ghazzawi itu saya pikir lebih menampakkan nilai aktivisme sejati. Kalau kita membaca blognya di http://razanghazzawi.com, banyak sekali kita temukan tulisan-tulisan yang bukan cuma kritis, melainkan juga kelewat nekat. Ia banyak mengecam penangkapan Hussein Ghrer, rekannya sesama blogger. Ia kritik otoriterisme penguasanya. Ia tak takut penangkapan, yang kemudian malah menjemputnya di bandara.

Razan tidak berteriak-teriak di jalanan, tapi “teriakannya” di dunia maya ternyata jauh lebih menggelegar. Ia dan blognya, siapa tahu, di masa depan akan menjadi lokomotif demokrasi di Syria dan kawasan Timur Tengah lain, yang masih nyaman hidup dalam buaian otoriterisme.

Dengan demikian, apa masih zamannya demonstrasi di jalanan ketika korupsi meruyak ke mana-mana? Siapa yang ingin kita coba sadarkan? Rakyat tak lagi tergerak oleh “sekadar” demonstrasi jalanan. Ketika mereka beranggapan kian negatif atas bentuk-bentuk demonstrasi—terlepas dari apa isinya—rakyat terdidiklah yang mestinya jadi perhatian saban aktivis mana pun. Rakyat terdidik yang hidup di ruang virtual dengan Internet sebagai mediumnya.

Kalau kampus menerapkan kebijakan yang memasung mahasiswa, apa yang aktivis kampus masa kini lakukan? Mereka akan mengkritik, melontarkan argumen, dan menulis di dan melalui blog. Masih kurang percayakah pengaruh sebuah blog setelah tahu pengalaman Razan Ghazzawi? Maka, ngeblog-lah sekarang juga! [09122011, 01.21]


Mengikis Beban Masa Lalu

5 Oktober 2011

Oleh A.P. Edi Atmaja

“Hidup adalah soal keberanian,

menghadapi yang tanda tanya

tanpa kita bisa mengerti, tanpa bisa kita menawar

terimalah, dan hadapilah.”

(Mandalawangi-Pangrango, Soe Hok-Gie)[1]

BENAR apa yang dikatakan Soe Hok-Gie (1942-1969). Masa depan yang akan kita hadapi sebagai bangsa akan sangat panjang. Kita memerlukan berton-ton keberanian, termasuk keberanian untuk mengikis beban masa lalu. Luka lama sejarah mesti kita terima dan hadapi, sembari bersama-sama mencari formula yang tepat demi membangun bangsa kelak di kemudian hari—inilah ikhtiar kita sebagai kaum muda bangsa.

Kita yang lahir di tahun 1990-an tidak mengetahui secara pasti kronologi Tragedi 1965. Di penghujung akhir masa kepemimpinan Orde Baru itu, pengetahuan di sekitar apa yang kebanyakan buku teks pelajaran sekolah sebut sebagai “Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI)” amat sangat minim. Setelah menempuh pendidikan yang lebih tinggi selanjutnya, kita sontak terperanjat, karena pelajaran yang kita dapatkan tentang tragedi di tahun 1965 itu diteriakkan banyak orang sebagai sebuah manipulasi sejarah. Kita, Generasi 1990-an, yang pada mulanya “damai-damai” saja dengan ilmu sejarah yang kita peroleh, mendadak menjadi terusik dan tertantang untuk mengkaji kembali segalanya dari awal. Sebagai generasi yang lugu kita bingung: persoalan di sekitar tahun 1965 itu nampak masih simpang-siur. Bahkan, terjadi perbedaan pendapat di kalangan sejarawan.

Namun, secara umum, pascakeruntuhan Orde Baru yang ditandai dengan lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan, muncul paradigma baru soal Gerakan 30 September. Rezim Orde Baru dengan berbagai macam cara telah berhasil meneror rakyat melalui tafsiran tunggal atas peristiwa tersebut. PKI dan segala jenis pahamnya seperti komunisme, marxisme, dan leninisme, juga organisasi-organisasi yang bernaung di bawahnya, dicap sebagai dalang satu-satunya yang melatarbelakangi tragedi tersebut.

Dampak lanjutan dari tafsiran tunggal ini amatlah luar-biasa. Pertama, terjadi pembantaian massal menyusul terbunuhnya para jenderal pada 30 September 1965. Semenjak pengambilalihan pemerintahan dari Presiden Soekarno dalam rangka mengembalikan stabilitas keamanan negara, Indonesia seakan-akan berada dalam genggaman tangan Soeharto—yang saat itu menjabat sebagai Kepala Komando Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad). Presiden Soekarno tidak bisa berbuat banyak lantaran (sebagian) rakyat menuduhnya turut terlibat dalam insiden yang menewaskan sepuluh orang jenderal itu.

Soeharto memainkan peran dengan sangat bagus, apalagi setelah dikeluarkannya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar). Lewat surat perintah yang hingga kini masih belum diketahui keberadaan versi aslinya tersebut, Soeharto melakukan beragam cara untuk menciptakan stabilitas umum, antara lain dengan membubarkan PKI dan menyatakannya sebagai partai terlarang, mencopot jabatan orang-orang di pemerintahan yang diduga memiliki hubungan dekat dengan PKI, dan menyatakan paham komunisme/marxisme-leninisme sebagai paham terlarang di Indonesia.

Aksi massa luar-biasa muncul setelah dikeluarkannya keputusan itu. Di berbagai daerah di Nusantara, terutama di Jawa dan Bali, terjadi pembantaian besar-besaran terhadap kader-kader, simpatisan-simpatisan Partai Komunis Indonesia, serta orang-orang yang diduga terkait dengan PKI dan anak-organisasinya seperti Gerwani dan Lekra. Tak terhitung berjuta-juta nyawa anak bangsa yang menjadi tumbal kebiadaban tafsir-tunggal tersebut.

Kedua, setelah diangkat menjadi presiden oleh MPR/DPR—yang notabene berisi orang-orang yang dekat dengannya—Soeharto semakin leluasa mempergunakan slogan anti-PKI, antikomunis, dan antikomunisme sebagai tameng politiknya. Istilah PKI adalah bahaya laten yang merembes diam-diam yang harus selalu diwaspadai. Pada berbagai kesempatan, bahaya itu disampaikan dengan istilah dan ciri yang berbeda-beda. Cap “komunis” diberikan kepada kaum oposan atau orang yang tidak disukai penguasa dengan target utama mengingatkan kegelapan masa lampau, dan adalah hak bagi negara mengambil tindakan tegas sebelum terjadi peristiwa yang tidak diinginkan. Di sini memori publik dipupuk dan diawetkan.[2]

Hal ini benar-benar meneror kebebasan rakyat dan jelas bertentangan dengan pasal 28 UUD 1945. Rakyat terlambat menyadari, Gerakan 30 September telah “menciptakan” rezim otoritarian selama 32 tahun di depan.

***

Komunisme telah menjadi isu sensitif setelah Soeharto berkuasa. Pembantaian terhadap para komunis dilakukan sampai anak-cucunya, yang belum tentu mengetahui “hewan” seperti apa komunisme itu. Stigmatisasi Orde Baru membawa rasa trauma berkepanjangan yang melanda para korban Tragedi 1965.

Sudah dua belas tahun sejak Orde Baru runtuh digantikan Era Reformasi yang membawa keterbukaan dan demokratisasi. Semestinya, tafsir-tunggal atas Tragedi 1965 segera diakhiri kemudian dicari kenyataan sejarah yang sebenar-benarnya.

Namun, rupanya dukungan pemerintah ke arah itu belum terlihat secara nyata. Dalam bidang keilmuan (sejarah), contohnya. Penyebutan G30S selalu saja dihubung-hubungkan dengan PKI. Padahal kita tahu, ada beragam versi mengenai dalang peristiwa G30S. Lebih memprihatinkan lagi bila kita menyaksikan, betapa tafsir-tunggal warisan Orde Baru itu belum betul-betul coba dikaji ulang. Yang terjadi justru sebaliknya, pemerintah hendak melestarikan tafsir-tunggal. Bayangkan, pada 2007, Kejaksaan Tinggi di seluruh Indonesia membakar puluhan ribu buku pelajaran Sejarah untuk SMP dan SMA karena menghilangkan kata “PKI” dari “G30S”.[3]

Pemerintah mestinya mencontoh apa yang pernah dilakukan oleh ormas di bawah naungan Nahdlatul Ulama, Gerakan Pemuda Ansor. Ansor, sebagai pihak yang berperan cukup signifikan dalam pembantaian para anggota PKI, meminta maaf secara terbuka kepada para korban langsung maupun tak langsung tragedi berdarah tersebut. Simpati Ansor tersebut diharapkan akan membantu proses rekonsiliasi.

Komunisme sebagai ideologi terlarang seyogianya dikaji ulang keabsahannya. Pelarangan terhadap komunisme sama saja pelarangan terhadap kebebasan berpikir sebagaimana diatur dalam pasal 28I UUD 1945. Sampai kapan Indonesia akan mampu bersikap dewasa? Bukankah agama lebih dari cukup untuk menjadi pelita bagi bangsa kita yang terkenal religius?

Maka sangat relevan kiranya wacana pencabutan Tap MPRS/XXV/1966 tentang Larangan Penyebaran Ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme yang pernah dilontarkan Presiden Abdurrahman Wahid digaungkan kembali. Menurut Gus Dur, larangan terhadap paham komunisme merupakan sesuatu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara hukum. Pikiran boleh saja disebarkan, tinggal masyarakat sendiri yang melakukan upaya untuk melawan pikiran itu.

Kita, kaum muda, memiliki peran yang tidak kecil dalam proses rekonsiliasi. Kita bisa mendukung pemerintah dalam upaya mencari kebenaran sejarah di seputar Tragedi 1965. Kita harus menghilangkan sikap antipati terhadap keluarga mantan anggota PKI dan anak-organisasinya. Kita mesti mendukung para korban Tragedi 1965 mendapatkan haknya yang terampas. Belajar bersikap dewasa terhadap ideologi, keyakinan, ataupun kepercayaan yang berbeda dari kita amat dibutuhkan kini di tengah kemajemukan bangsa. Beban masa lalu harus kita kikis bersama-sama supaya tercipta masa depan Indonesia yang damai. [29112010]

*) Tulisan ini merupakan satu dari 25 naskah terbaik dalam Kompetisi Menulis Esai bertajuk “Menyembuhkan Luka Sejarah: Refleksi Kaum Muda atas Tragedi 1965” yang dihelat oleh Friedrich Ebert Stiftung, Goethe-Institut, Historia, dan Tempo.


[1] Rudy Badil (ed.), Soe Hok-Gie: Sekali Lagi, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2009), sampul-jaket.

[2] Eriyanto, Kekuasaan Otoriter dari Gerakan Penindasan menuju Politik Hegemoni, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000), hal. 66.

[3] Daniel Hutagalung, “Memberangus Buku: Membunuh Diri Sendiri”, dalam Buletin ASASI, (Jakarta: Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, 2010), hal. 8.


Mendaki Ungaran demi Edelweis [1]

14 September 2011

Oleh A.P. Edi Atmaja

Pengantar:

Tulisan ini merupakan pengalaman penulis saat melakukan pendakian Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah pada 15-16 Juni 2010.

KETIKA TEMAN SAYA, Bayu Dwi Nugroho—biasa dipanggil Masnung—mengajak naik gunung buat mengisi liburan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), saya langsung mau. Ya, libur kuliah tiga hari karena kampus kami akan dipakai buat tempat tes seleksi akan jadi sia-sia bila digunakan hanya untuk tidur (-tiduran) di rumah. Maka, tanpa banyak cakap, segera saya sebar rencana itu ke sebanyak mungkin teman, biar seru.

Bertolak dari Medini

Bertolak dari Medini

Nyatanya, teman-teman saya tak seantusias yang saya harapkan. Kebanyakan menolak. Maklum, minggu-minggu itu juga merupakan pekan terakhir kuliah. Mendekati ujian penghabisan semester, dan tugas dari dosen meluncur dengan bertubi-tubi.

Tak apalah. Agenda jalan terus. Pada akhirnya, tiga orang nekat bersepakat hendak menaklukkan Gunung Ungaran sesegera mungkin. Tugas kuliah yang menumpuk dipikir belakangan. Tiga manusia nekat itu antara lain saya, Masnung, dan Lilik Haryadi, teman saya yang lain.

♠♠♠

SEHARI SEBELUM pendakian, kami kumpul dulu. Saya ternyata satu-satunya orang yang masih awam soal daki-mendaki gunung. Dua teman saya sudah pernah mendaki berkali-kali. Dalam briefing singkat itu diputuskanlah tugas masing-masing: Lilik untuk tenda, Masnung dan saya untuk perkakas dan logistik (baca: makanan).

15 Juni 2010, sekitar jam sepuluh pagi. Kami berkumpul di kos Masnung. Rencananya, kami hendak mendaki lewat Boja. Boja juga merupakan kediaman Masnung. Di sanalah kami, sesuai rencana sehari sebelumnya, bakal mempersiapkan segala sesuatu yang penting sebelum bersiap mendaki.

Berjarak kira-kira 20 km dari Semarang, Boja terasa sejuk sekali. Jalanan menanjak nan berliku, ditingkahi pepohonan yang menghijau, menyapa kami pagi itu.

Boja tempat kediaman Masnung itu sebetulnya masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Limbangan, sedangkan Boja sendiri adalah kecamatan tersendiri di Kabupaten Kendal. Barangkali, latah masa lalulah yang telah “memopulerkan” lema Boja sedemikian rupa, sehingga semuanya terlihat sebagai Boja.

Mulai Mendaki

Mulai Mendaki

Singkat cerita, sampailah kami di rumah Masnung yang seasri lingkungannya. Sajian selanjutnya adalah ciri khas seorang tuan rumah yang baik: nasi dengan lauk pauk yang mengundang selera, menantang kami untuk segera melibasnya habis. Setelah kenyang, kami pun segera berburu ketela pohon yang bakal kami jadikan makanan pokok di gunung nanti.

Almarhum Gus Dur selalu bilang, “Gitu aja kok repot!” Dan tanpa repot-repot pula kami peroleh sekarung ketela pohon siap olah dari kebun Masnung. Sebagian ketela kami putuskan untuk direbus saja, sementara sisanya kami biarkan mentah buat diolah waktu di Puncak nanti. Setelah dirasa sudah lengkap perbekalan kami—yang ditandai dengan semakin beratnya tas—pendakian lantas kami mulai.

♠♠♠

KAMI BERTOLAK dari sebuah rumah mungil milik PT Rumpun Sari Medini, perusahaan di mana ayah Masnung bekerja. Di sana, kami memarkir motor kami dan berdoa untuk pertama kali.

Buat saya yang belum pernah sekali pun mendaki gunung, sudah barang tentu pendakian ini laksana misteri. Saya benar-benar tak tahu penampakan macam apa yang menanti di depan. Saya kira ini seperti hidup. Semua orang tak akan pernah bisa tahu dengan tepat takdir hidupnya. Hanya saja, sebagaimana “rumus” pendakian, semua mesti kita terima dan hadapi, apa pun risikonya. Yang wajib dilakukan manusia cuma satu: saat jatuh, harus segera bangun. Dan dalam “bangun” ini, pilihan antara kemenangan atau kegagalan menyeruak tanpa malu-malu. Meski kegagalan yang kita terima, kita harus terus bangun. Itulah kemenangan sejati.

Walaupun sudah mendaki berkali-kali, rupanya kedua sobat saya sungguh berjiwa alam. Buat Lilik, gunung laiknya pacar yang senantiasa mengangenkan. Sampai kapan pun, katanya, ia tak akan pernah bisa bosan mendaki.

Etape pertama kami adalah kebun teh yang luas sekali. PT Rumpun Sari Medini memang perusahaan perkebunan teh yang masyhur sejak dulu. Perusahaan teh yang konon telah ada semenjak era penjajahan ini menguasai hampir seluruh bagian lereng, dan menyetor devisa buat negara hingga miliaran rupiah per tahun.

Semakin lama mendaki, semakin ngos-ngosan-lah kami. Wajar saja. Jalan yang kami tempuh kian lama kian menanjak, udara pun kian tipis. Di Pos Pertama kami sepakat mengaso sejenak, melepas dahaga. Bawaan air kami lumayan banyak. Jerigen kosong juga kami bawa. Namun, kami harus berhemat. Dusun Promasan, di mana terdapat mata air berlimpah, masih jauh di depan. Kami bakal mengisi jerigen kami di sana.

♠♠♠

SUDAH CUKUP LAMA kami berjalan. Letih tidak kami rasakan, tapi Puncak masih kelihatan tinggi. Cuma sering kami berhenti sebentar lantaran kaki mulai kebas. Lutut senut-senutan. Saya mafhum, inilah ganjaran setimpal akibat tak rajin berolahraga.

Di kanan-kiri kami, daun teh yang menghijau terlihat senantiasa. Sesekali, kami bersua dengan beberapa pemetik teh yang telah selesai bekerja seharian. Mereka merosot turun dengan cepat setengah berlari, satu per satu, dan menyapa kami. Menurut Masnung, pemetik teh di sini datang dari penjuru daerah. Diangkut truk, mereka sudah stand-by di perkebunan sehabis Subuh. Melihat mereka, saya jadi teringat tukang dherep[1] di kampung saya. Tak jarang mereka didatangkan langsung oleh penebas[2] dari daerah yang jauh. Orang-orang ini—pemetik teh dan tukang dherep—telah bangun sebelum ayam berkokok, dan melanglangbuana ke tempat yang jauh, seharian, hanya demi sesuap nasi yang sering tak setimpal dengan peluh yang mereka keluarkan.

Di beberapa sektor, rupanya telah dilakukan pemangkasan batang dan daun teh. Teh-teh itu digunduli, ranting-rantingnya yang kering ditata di samping pohonnya. Kami jadi bertanya-tanya, berapa tepatnya umur teh-teh di sini. Bila kebun teh ini telah ada sejak Zaman Belanda, tentu sudah puluhan tahun usia mereka. Biarpun pendek dan kecil-kecil, tak akan salah bila kita mengeramatkannya, seumpama memagiskan pohon keramat nan kuno.

Di balik teh-teh yang gundul itu, Masnung memberitahu saya sesuatu yang menarik. Ia menunjuk ke arah lubang besar di lereng seberang kami. Itu adalah gua bikinan Jepang. Konon, tatkala penjajahan dulu, gua itu bisa tembus ke pusat Kota Ungaran. Namun kini gua itu sudah tertimbun tanah dan tak pernah dijamah lagi.

Akhirnya sampai jua kami di Promasan, dusun terakhir sebelum sampai ke Puncak. Kami segera mencari dan menemukan masjid yang amat bersahaja: tersusun dari potongan-potongan papan. Sepanjang pengamatan kami, memang demikianlah tampilan bangunan di sini, tersusun secara ala kadarnya demikian. Kebanyakan terbuat dari kayu (itu pun kayu yang bukan main kasarnya) dan rupanya dibikin secara darurat. Di masjid satu-satunya di Promasan itu, kami mengaso dan bersembahyang, menghadap Ilahi Rabbi.

Goa Jepang

Goa Jepang

Kemudian, kami cuci muka sepuas-puasnya. Ada satu tempat yang mengucurkan air terus-menerus sehingga bisa dibilang mata air, namanya Candi Promasan. Baru dipugar dan dibangun secara patungan oleh para pemuka Promasan, Candi Promasan tampak sangat keren. Dibangun air mancur yang mengucurkan air tanpa henti. Di beberapa tempat, situs-situs kuno direlokasi secara apik. Di sana kami temukan Candi Promasan: berwujud arca seseorang yang lagi bersemedi dalam ukuran mini. Di tempat lain, ada Candi Gajah: berbentuk batu berukuran besar yang secara imajinatif bisa kita katakan sebagai gajah tengkurap.

♠♠♠

PUKUL EMPAT tepat kami teruskan pendakian. Mentari sudah mulai tenggelam sementara Puncak masih beratus meter di depan. Padahal target kami harus sampai Puncak sebelum Maghrib.

Candi Promasan

Candi Promasan

Kami ucapkan sampai jumpa buat Promasan. Pendakian sesungguhnya dimulai dari sini. Gerbang “Yonif Raider” menyambut kami.

Medan yang kami tempuh mulai nampak bervariasi. Trap-trapan yang ada terang memudahkan jalan kami. Tapi lutut dan paha saya mulai sakit lagi. Sering kaki mesti dibuka lebar-lebar untuk menjangkau trap di atasnya. Terkadang trap berupa bebatuan besar yang basah dan licin. Kami harus berhati-hati dalam memilih langkah.

“Ini belum seberapa, masih permulaan,” komentar Lilik, yang tak sedikit pun menghibur. Benar saja. Jalanan kini tak cuma diliputi trap-trapan yang tinggi-tinggi. Sebelumnya, jalanan terasa lapang lantaran jarang sekali ada kerimbunan. Kini, kekelaman mencekam kami—dilingkupi semak-semak yang bukan main rimbunnya, berduri lagi—dan pohon-pohon besar menyambut. Serasa masuk dunia lain. Suasana mendadak amat lembab, sinar matahari yang mulai meredup karena waktu menemukan lawan yang tak seimbang. “Hati-hati pacet dan lintah,” suara Masnung menasihati.

Arca Gajah

Arca Gajah

Begitulah. Pemandangan selanjutnya berganti dengan cepat, laksana kaleidoskop saja. Beberapa menit kami lalui dalam keremangan, kini terang-benderang kembali. Di kanan-kiri, padang rumput—entah stepa entah sabana—mengitari kami. Hembusan angin senja yang dingin menusuk kulit. Kami segera mencari tempat datar, mengaso sebentar sembari melepas dahaga plus mengisi perut.

Kami duduk bertiga seraya memandang ke bawah. Tanpa terasa kami sudah setinggi ini. Di bawah, perkebunan teh tampak kecil dan meliuk-liuk. Kami bisa lihat laut utara. Semarang dan Ungaran serasa dalam genggaman tangan.

Merasai apa yang saya perbuat kali ini betul-betul membikin saya geli. Bayangkan, naik gunung dengan modal pengalaman nihil cuma ditemani dua orang saja. Orang-orang di sekitar saya pasti langsung mencap saya gila bila mereka tahu kelakuan saya kali ini. Saya tak bisa menebak bagaimana sikap orangtua saya setelah, mungkin, selamat dari “ekspedisi” ini. Saya pasrahkan semua kepada Dia yang Mahaberani.

Nama Paling Bawah, Ayahanda Masnung

Nama Paling Bawah, Ayahanda Masnung

Jujur saya katakan, tantangan ini saya ambil karena “amunisi” pendorong—yang menyokong nyali saya—terbilang cukup banyak. Kalau tidak, saya akan berpikir ribuan kali tatkala diajak Masnung.

Baru-bau ini, saya beli buku tentang Soe Hok-Gie, setebal lima ratusan halaman. Buku ini berisi kumpulan artikel yang ditulis khusus oleh kawan-kawan Hok-Gie, yang coba memaparkan siapa sesungguhnya Soe Hok-Gie itu. Semua pecinta alam, seperti halnya segala demonstran, pasti tahu siapa dia. Buku itu amat bagusnya dan membuat saya terobsesi mendaki gunung. Itu “amunisi” pertama yang mendorong saya.

Kedua, saya punya teman, namanya Budi Prasetyo, yang suatu kali pernah bilang, di Gunung Ungaran tak mungkin ada Edelweis, bunga abadi itu. Ungaran terlalu rendah, kata dia. Melalui pendakian ini, saya bertekad membuktikan omongannya, memang sahih ataukah cuma ngelantur.

♠♠♠

Pos Pertama

Pos Pertama

DUA MENIT berselang, kami bergegas meneruskan langkah. Hari mulai gelap. Angin gunung yang dinginnya bukan main berhembus saban waktu. Ingin rasanya kami mendirikan tenda untuk menghangatkan diri. Semoga di perjalanan kabut tak merintangi pandangan kami.

Batu-batuan mulai sering kami panjat. Inilah tahap terekstrem dari pendakian ini. Kaki, lutut, dan tangan saya serasa diforsasi terlalu keras. Di banyak tempat, badan saya sakit semua. Keseimbangan badan sedikit demi sedikit mulai goyah. Sesekali saya tergelincir. Untungnya saya masih cukup sadar untuk mempertahankan diri dan berkonsentrasi penuh sehingga tak berakibat fatal.

Yang menjengkelkan, dua teman saya seolah berjalan cepat sekali di depan. Saya kewalahan. Seakan-akan ingin menyerah dan ngendon di tempat sendirian saja. Saya merasa tak peduli kedua teman saya akan meninggalkan saya.

Saya terus-menerus bertanya, “Berapa jauh lagi?” yang segera dijawab Lilik, “Masih jauh,” dan menambah kekesalan saya. Kedua kaki mulai ogah-ogahan saya atur. Mereka tak kuat lagi menopang tubuh saya.

Kelelahan telah mencapai titik klimaks. Dan ketika sampai di tempat yang lumayan lapang, tanpa sungkan kami merebahkan diri. Padahal, kami tahu, target kami telah terlampaui: Maghrib telah tiba, tapi kami sampai Puncak pun belum.

Melihat ke bawah lagi, pemandangan alangkah indahnya. Lampu kelap-kelip kota menghiasi malam. Kami tercerai dari cahaya-cahaya.

“Ayo, kehangatan tenda menanti kita.” Propaganda Lilik melecut semangat saya. Saya kuatkan lutut dan kaki saya lagi.

Suasana benar-benar gelap-gulita sekarang. Di saat seperti ini, senter Masnung amat membantu. Tapi sungguh sial, itu senter satu-satunya. Cahaya yang minim membuat saya terperosok ke langkah yang salah dan memperparah kondisi kaki saya.

Perlahan kami mulai merayap selangkah demi selangkah. Kaki saya tak kuat lagi, tangan segera ambil-alih komando, sehingga saya tak lagi mendaki melainkan merangkak. Masnung yang terus-terusan membawa jerigen penuh berisi air dari Promasan rupanya sudah tak tahan lagi. Jerigen itu beralih ke Lilik, yang lengkap sudah bawaannya: sebuah jerigen penuh di tangan, tas bacpack dan tenda di punggung. Saya sendiri sejak dari Medini sudah bawa-bawa termos yang membuat kedua bahu saya pegal.

"Three Musketeers" di Puncak

"Three Musketeers" di Puncak

Badan saya telah mencapai titik nadir ketika Lilik menyalami saya, “Selamat, Bung. Anda sudah menaklukkan Gunung Ungaran.” Masnung juga. Dan kami bertiga ketawa bersama.

♠♠♠

LILIK DENGAN TANGKAS segera mencari tempat berkemah yang hangat. Puncak cukup luas. Di sana-sini terdapat sisa-sisa pendiangan dan rumput-rumput kering sebagai alas tenda. Di pusat, dibangun monumen TNI. Kami mengekor Lilik yang melaju terus, memilih lokasi yang cocok.

Kami mendirikan kemah tepat di sisi hutan. Pohon besar menaungi kami. Kami memanfaatkan rerumputan kering bekas kemah sebelumnya. Kami jadi agak ngeri: di Puncak, ternyata cuma kamilah manusia yang masih eksis. Melihat jejak, baru kemarin rupanya ada pendaki lain yang turun. Lengkaplah sudah petualangan ini: tiga orang manusia dalam kegelapan sekaligus kesunyian Puncak setinggi 2.050 m di atas permukaan laut.

Kami sudah tak sabar lagi kepengin menikmati kehangatan tenda. Agak berdesakan, kami masuk dan segera memakai segala sesuatu yang bisa membuat hangat. Kami seduh kopi—nikmat sekali—beserta merangsek camilan-camilan kecil di tas. Sungguh segala kecapekan tadi terbayar lunas oleh kopi dan camilan-camilan itu serta obrolan ala kadarnya.

Waktu baru menunjukkan pukul 20.00, tapi kami sudah terlelap dengan pulasnya.

♠♠♠

KEESOKAN HARINYA, 16 Juni 2010, benar-benar di luar pengharapan kami. Saya lihat di ponsel, sudah jam enam pagi. Tapi ketika saya keluar, langit masih muram, tak ada secercah sinar mentari sama sekali. Di samping itu, udara sedingin es langsung menghantam muka saya, buru-buru saya tutup tenda. Rintik hujan terus berjatuhan menimpa tenda kami.

Padahal, menurut Lilik dan juga Masnung, jam-jam segini mestinya pemandangan sedang bagus-bagusnya. Saya bayangkan cerita mereka: matahari bersinar menerangi segalanya ditingkahi ilalang Puncak yang meiuk-liuk tertiup angin. Dalam suasana seperti itu, amatlah mengasyikkan berfoto-foto-ria menikmati sunrise. Kali ini barangkali saya lagi sial, alih-alih menikmati sunrise, kabut dan awan gelap tak jua menyingkir dari pandangan. Terpaksa kami teruskan tidur hingga beberapa jam lagi.

Saya jadi ingat, malam itu, kami (tepatnya saya dan Masnung, yang masih terjaga setelah buang air, sementar Lilik tidur pulas sekali) dikejutkan oleh suara aneh. Semacam gonggongan anjing tapi bukan. Saya berbisik tanya ke Masnung, namun dia juga sama tak tahu-menahunya seperti saya. Kami waspada. Pikir saya, jangan-jangan serigala hutan mendekat. Tiba-tiba suara Lilik menguasai keadaan (sejak kapan ia terbangun?), “Itu suara burung. Mau cari makan dia,” katanya. Kami jadi sedikit lebih lega, merasa kata-katamya cukup masuk akal. Suara aneh itu perlahan menjauh dan akhirnya hilang.

Untunglah, sejak pendakian kemarin hingga hari ini, belum pernah sekali pun kami temui hewan buas menghadang.  Selebat atau seangker apa pun hutan, padang rumput, atau tebing-tebing yang kami lalui kemarin, tidak dihuni hewan buas macam ular, biawak, atau macan. Paling banter siamang berloncatan di dahan sekan menyambut kami. Itu juga cuma satu-dua ekor. Selebihnya, alam seakan milik kami bertiga saja.

Pukul 08.00. Kabut tak hilang-hilang juga. Tapi udara agak mendingan, hangat terasa tak sedingin tadi. Kami memutuskan keluar melihat-lihat keadaan. Sudah suntuk sekali di tenda.

Puncak sudah terang-benderang, kendati tak seterang yang seharusnya. Matahari yang nge-blur karena kabut perlahan sanggup memancarkan scercah sinarnya ke bawah. Saya langsung bersedekap waktu keluar dari tenda. Tubuh saya menggigil kedinginan, tulang-belulang serasa kaku sekali untuk digerakkan. Tapi kecapekan kemarin hilang sepenuhnya. Saya paksakan kaki saya yang kaku meninjau lokasi.

Ternyata letak tenda kami agak turun ke bawah, bukan di tengah Puncak pas. “Bikin kemah di tengah-tengah bakal kedinginan terus,” kata Lilik soal ini. “Lihat, di sini tak ada penghalang, seperti pohon, yang mencegah angin menghempas tenda secara langsung. Beda dengan lokasi kita yang dilindungi pepohonan dan Puncak itu sendiri.”

Memang lapang sekali tengah-tengah Puncak ini. Monumen TNI—berupa tembok-tembok bersusun dengan ukiran Banteng di tengahnya—berdiri dengan gagah. Semboyan Yonif Raider “Cepat, Senyap, Tepat” tertulis di sana. Di tengah monumen, terpancang tiang dengan bendera merah-putih yang berkibar-kibar.

Menurut Masnung, dulu ada tiga tiang bendera di sini. Dipasang juga panel surya sebagai sumber listrik. Namun kini dua tiang bendera dan penel surya itu rupanya telah lenyap. Entah ulah kleptomania mana.

Di seputaran Puncak, suasananya sangat memprihatinkan. Sampah-sampah berserakan. Sebagian besar berwujud plastik yang sangat susah diurai. Ulah tak bertangungjawab ini tentu tak bisa terus dibiarkan. Gunung adalah bagian dari alam, yang harus dijaga baik kelestarian maupun kebersihannya.

Maka, dengan sikap kompak, kami memutuskan untuk mengumpulkan sampah-sampah itu dan membakarnya. Namun juga harus tetap waspada, karena bakar-membakar di gunung berisiko berkali-kali lipat ketimbang sekadar membuang sampah sembarangan.

Pukul 10.00 kami kembali ke tenda.

♠♠♠

DI DALAM TENDA, kami isi perut kami yang mulai keroncongan. Enaknya di gunung, kita tak harus sesuai jadwal. Kita betul-betul selaras dengan alam. Alam memanggil kita makan (melalui bunyi perut keroncongan), kita makan. Alam memanggil kita tidur (melalui mata yang mengantuk), kita tidur. Alam membikin kita kebelet, segera cari tempat strategis untuk buang air. Alam mengingatkan kita supaya mandi (lewat bau badan yang prengus), kita mandi. Tapi betul-betul gila ada orang mandi di gunung.

Intinya, di gunung seolah-olah kaidah penjadwalan yang berlaku di dunia modern menjadi tak perlu diperhatikan. Barangkali kita sebagai “orang sistematis”—karena pengaruh modernitas—sesekali membutuhkan sistem yang asistem seperti ini. Dengan hidup yang di luar prosedur demikian, hakikat kita sebagai manusia bakal menemui kemantapannya, sehingga kita akan lebih rileks mengahdapi hidup di dunia yang sebenarnya.

Dalam upaya memenuhi perut kami yang keroncongan itu, kami keluarkan ketela pohon mentah yang kami bawa. Segera kami rebus memakai alat masak bikinan sendiri[3]. Sepuluh buah ketela pohon seukuran kepalan tangan tandas kami makan. Kami rebus air dari jerigen untuk menyeduh kopi. Tidak sia-sia tangan Masnung yang berpegal-pegal-ria membawanya dari bawah. Kami sarapan ala kadarnya, tapi “mewah” sekaligus mengenyangkan. []


[1] Tukang dherep: orang-orang yang disewa khusus untuk memanen padi yang telah menguning. Pakaian panjang-panjang lusuh dan caping menjadi ciri khas mereka. Umumnya mereka berkelompok dan acapkali masing-masing masih memiliki ikatan darah. Mereka biasa bekerja dari bakda Subuh hingga nyaris Maghrib. Bulir-bulir padi dipisahkan dari batang dan daunnya, lantas dimasukkan ke dalam karung-karung khusus yang dinamakan ‘sak’.

[2] Penebas: Orang (biasanya memang tunggal) yang membeli hasil panen padi untuk kemudian dijual kembali. Setelah tiba musim panen, pemilik sawah punya dua pilihan: memanen sendiri sawahnya atau menjual hasil panen kepada penebas yang akan memanen sawah tersebut. Ketika pemilik sawah memanen sendiri sawahnya, ia dapat mengonsumsi hasil panen itu pribadi, atau menjualnya, atau menjual sebagian dan menginsumsinya sebagian lagi.

[3] Alat masak itu berupa kaleng cat dan kaleng bekas tempat tempat kue. Kaleng cat kami pakai sebagai kompor sementara kaleng kue sebagai pancinya. Terlebih dahulu, kaleng cat itu dilubangi sekeliling sisinya supaya api yang menyala tidak mati saat ditumpangi kaleng kue. Sumber api berasal dari spiritus yang dituang ke dalam kaleng cat itu lantas dibakar. Kaleng kue yang sudah diisi air ditaruh di atasnya. Sedikit spiritus mampu membuat air mendidih.


Sepasang Mata-bola Mahasiswa

29 Agustus 2010

oleh A.P. Edi Atmaja

[buat Kang Surya, “perusak” struktur feodal GK]

Cucu, kau tahu, kau menginap di DPR bulan Mei itu

Bersama beberapa ribu kawanmu

Marah, serak berteriak dan mengepalkan tinju

Bersama-sama membuka sejarah halaman satu.

“Ketika sebagai Kakek di Tahun 2040, Kau Menjawab Pertanyaan Cucumu”—Taufiq Ismail

Mahasiswa, buat saya, adalah makhluk otonom tak berkelas. Tak berkelas dalam artian tak bisa dimampatkan dalam “golongan” tertentu, bahkan golongan-putih sekali pun. Mahasiswa juga intelektual bebas. Ia serupa pergulatan elektron yang dinamis, bukan laiknya sikap nukleon yang adem-ayem. Watak demikian ini mudah membikin makhluk tertinggi dari klan siswa ini kadang tertiup ke sana-ke mari. Independensinya acapkali ditunggangi oknum-oknum tertentu, yang sering tak bertanggung jawab.

Mahasiswa hukum, bagi saya, merupakan tipikal mahasiswa yang unik seunik-uniknya. Fitrahnya sebagai mahasiswa yang independen tentu tidak bisa berlaku sebagaimana biasa. Hukum adalah soal kepentingan. Ia bukannya telah ada, melainkan (harus) meng-ada alias di-ada-kan. Sehingga ambivalensi kerap melanda mahasiswa yang belajar hukum. Dan jurang antara—meminjam istilah Soe Hok-Gie—“aku yang harus jadi idealis” dan “aku yang terpaksa menjadi apatis” ternganga begitu lebarnya. Tiada pilihan lain buat mahasiswa jenis ini, kecuali pilihan hitam atau putih, di tengah realitas kehidupan yang abu-abu.

Aktor hukum seringkali—bila tak ingin dikatakan selalu—terjebak dalam dikotomisasi biner ini. Di satu segi ia merasa hukum harus (dan telah) ditegakkan, sementara di lain segi, rasa kemanusiaannya mengatakan bahwa hukum tak semestinya begitu kejam. Banyak aktor hukum Nusantara terlalu kerap menerapkan aspek positivistik dalam berhukum. Padahal yang paling penting di antara varietas hukum mana pun adalah keadilan. Tanpa keadilan, hukum yang digembar-gemborkan bak pepesan kosong belaka. Kita harus memegang prinsip ini, karena kaidah hukum sendiri pernah berbunyi, “Sesuatu yang tak bisa dicapai seluruhnya jangan ditinggalkan yang terpentingnya.” Sekali lagi, yang terpenting dari semua adalah keadilan.

Itulah sebab-musabab—bila tak ingin dikatakan tujuan—saya masuk fakultas hukum: sebuah laboratorium yang, saya rasa, (mestinya) mampu mengembangkan ilmu hukum ke arah yang lebih menggembirakan.

Antara Akademisi dan Intelektual

Kritisisme mahasiswa belakangan ini sedang berada di tebing kefanaan, layaknya kembang Edelweis di puncak Gunung Ungaran. Begitu yang saya dengar dari seorang kakak; ia seorang mahasiswa yang pada bulan Oktober besok, jika Tuhan menghendaki, bakal menanggalkan status kemahasiswaannya. Benarkah demikian? Saya pribadi sedikit meragukannya.

Genap duabelas tahun sejak “kup” yang sukses itu—yang dinamakan Reformasi—terjadi. Mahasiswa, yang jadi aktor utama, kebanyakan sudah berevolusi kini: menjadi politisi, aktivis LSM, pengusaha, dan sebagainya. Tentu lebih banyak lagi dari mereka yang kini menikmati kursi empuk pemerintahan. Dengan begitu, apakah peran mereka dulu itu menjadi kosong tak berarti lagi kini? Dan yang paling pelik, apakah masih pantas kita bergeming, menganggap bahwa kini yang duduk di pemerintahan, bekas-bekas demonstran itu, benar-benar steril dari kritik?

Kritik yang tak tersalurkan akan menghasilkan otokritik—kritikan yang datang dari diri. Dan kritikan beginian efeknya lebih dahsyat ketimbang kritikan dari luaran. Orde Lama masa Soekarno—beserta Manipol, Usdek, dan lain-lain—dan Orde Baru masa Soeharto—yang tenar dengan P-4-nya—adalah contoh sahih betapa efek otokritik bukan main-main. Maka, buat “menjaga” bangsa dari kemungkinan terburuk, ada benarnya juga sistem demokrasi. Ia memungkinkan datangnya kritik dari dunia antah-berantah, dari luar diri. Namun, sistem akan tinggal sistem bila ia tak bersubjek. Di sinilah fungsi mahsiswa: ia seyogianya mampu menjalankan sistem semaksimal mungkin, dengan formula aktivisme dan intelektualitas yang sepadan.

Di sini pulalah pembeda antara akademisi dan intelektual. Akademisi menggarap dan mengembangkan studi keilmuan untuk dirinya sendiri atau dalam ranah yang (masih) teoretis. Sementara intelektual—saya sebut sebagai fase “tiwikrama” dari seorang akademisi—bekerja dan berpikir dengan berdasar atas bidang keilmuan tertentu, untuk fungsi pengabdian kepada masyarakat. Intelektual adalah akademisi yang mampu merumuskan langkah konkret lantas mewujudkannya segera. Banyak mahasiswa yang cukup puas berlaku sebagai akademisi tetapi menganggap diri mereka intelektual.

Cecita Saya

Cecita saya (kata ulang-sebagian untuk “cita-cita”; seperti yang kita temui dalam “lelaki”—laki-laki) ke depan adalah, pertama, menjadi seorang sarjana hukum yang mampu menerapkan hukum bukan sebagai dogma-dogma mati. Kita sudah terlalu lama menikmati hukum warisan penjajah. Jati-diri kita sebagai bangsa lambat laun akan kian tak jelas bila langkah tegas terhadap “hukum warisan” ini tak segera kita lakukan. Sudah saatnya kita berpaling kepada hukum yang hidup di masyarakat (the living law), yakni hukum adat.

Cecita kedua saya adalah menjadi seorang intelektual yang idealis di mana pun nanti saya bekerja. Saya sudah mengikrarkan diri sebagai orang bebas. Namun, kebebasan yang saya miliki bukannya tak terbatas. Hakikat kita, manusia, sebagai makhluk sosial dan ciptaan Tuhan akan terus saya pegang.

Demikianlah dua buah cecita saya yang bersahaja. Dari seorang manusia. Sesosok mahasiswa. Yang berpunya sepasang mata-bola, dan mengutip “Sepasang Mata-bola”:

Lindungi aku, Pahlawan

Daripada si Angkara-murka… [MC, 220810]


Beraksi dan Menulis untuk Perubahan

2 Februari 2010

Oleh A.P. Edi Atmaja

Berbicara mengenai aksi mahasiswa, akan segera terbersit dari ingatan kita sosok Soe Hok Gie (1942-1969). Dialah salah satu tokoh kunci yang menyebabkan rezim pemerintahan Orde Lama Soekarno tumbang.

Soe Hok-Gie di Puncak Pangrango

Soe Hok-Gie di Puncak Pangrango

Gie, beserta kawan-kawan sesama aktivis mahasiswa lainnya, dengan aktif melakukan perlawanan-perlawanan atas kebobrokan-kebobrokan yang dilakukan pemerintah. Mereka berani turun ke jalan dalam menyuarakan aspirasi rakyat. Yang unik dari Gie, selain melawan dengan turun langsung ke jalan, ia pun dengan gencar melancarkan pelbagai macam kritikan yang disalurkan lewat tulisan pada beberapa surat kabar, pamflet, dan media kampus.

Barangkali sebuah teladan bisa diperoleh dari sini. Buat menciptakan suatu aksi mahasiswa yang mampu memunculkan perubahan, tidak hanya diperlukan aksi an sich, tetapi alternatif-alternatif lain pun mesti dilakukan. Salah satunya seperti yang dipraktikkan oleh Soe Hok Gie: menulis.

Menulis dan menulis, itu jualah yang dilakukan Soekarno beserta tokoh-tokoh pergerakan lain semasa era prakemerdekaan, di samping giat berorganisasi. Saat itu, aksi turun ke jalan mustahil dilakukan karena, selain tidak akan mungkin diizinkan oleh pemerintah kolonial, individu terdidik yang sanggup dan/atau sadar memperjuangkan aspirasinya pun masih amat sangat sedikit. Menyalurkan aspirasi lewat tulisan adalah sarana efektif, terbukti dengan kian banyaknya kemunculan tokoh-tokoh lain yang berjuang bersama Soekarno.

Kini alam kemerdekaan berhasil kita rengkuh. Apalagi keran demokrasi terbuka lebar buat kita, setelah keruntuhan rezim Orde Baru Soeharto yang serba otoriter dan membelenggu. Kini kita bebas menyatakan pendapat dan menyuarakan aspirasi karena itu dijamin dalam konstitusi. Mahasiswa sebagai agen perubahan mesti menjadi tonggak reformasi segala lini, tanpa perlu takut tatkala berhadapan dengan penguasa.

Belajar dari para pendahulu, seperti Soe Hok Gie dan Soekarno, mahasiswa mesti mengkonsepsikan kembali cara-cara penyaluran aspirasi yang mampu membawa angin perubahan. Mahasiswa seyogianya tidak hanya mampu berdemonstrasi di jalanan, melainkan juga mesti mampu mengekspresikan pikirannya melalui tulisan. Mahasiswa adalah makhluk akademis, ia harus mampu mengungkapkan argumen-argumen secara cerdas dan berbudaya baik dengan lisan maupun tulisan.

Aksi anarkis yang dilakukan beberapa oknum mahasiswa akhir-akhir ini hanya akan menimbulkan apatisme rakyat terhadap perjuangan mahasiswa secara keseluruhan. Hal ini bisa dimengerti, manakala anarkisme itu malah menimbulkan kerugian pada rakyat, rakyat yang semula mendukung berbalik menjadi acuh-tak-acuh terhadap gagasan besar yang diusung mahasiswa, meski gagasan itu sebenarnya ditujukan untuk rakyat.

Namun, kita perlu melakukan penelusuran terlebih dahulu, apakah benar anarkisme itu ditimbulkan murni oleh mahasiswa? Atau malah justru ada kepentingan pihak tertentu yang melakukan infiltrasi ke dalam aksi mahasiswa tersebut dan melakukan provokasi-provokasi?

Terlepas dari itu semua, guna menciptakan aksi mahasiswa yang elegan dan mampu memunculkan perubahan, mahasiswa mesti memantapkan kembali independensinya. Mahasiswa harus bebas dari kepentingan politik manapun yang bermain untuk memperebutkan kekuasaan. Mahasiswa mutlak harus berpihak pada rakyat dan menjadi ujung tombak perjuangan rakyat. Dalam hal inilah, mahasiswa yang menjadi anggota partai politik atau organisasi onderbouw partai politik tertentu patut dipertanyakan kredibilitasnya. [020210]