Perempuan di Ujung Gang

22 Januari 2012

Oleh A.P. Edi Atmaja

 [Buat A di Jangli]

Dia sekonyong-konyong berdiri di hadapanku. Tanpa kumengerti, ragaku mendadak terpaku. Tidak perlu waktu lama baginya—dengan kemunculannya yang entah dari mana—buat menjerat mataku dengan tatapannya. Dia telah sukses memalingkanku dari dunia. Dia menyihirku. Dia—kau tahu, Sahabat—dulu pernah menjadi perempuan yang amat kubenci.

Kini, aku dan dia bersitatap, lewat perjumpaan yang tak disengaja, dalam sebuah acara mahasiswa di Tembalang.

Suasana yang melingkupi kami waktu itu tak senyaman yang kaubayangkan. Di atas ubun-ubun, matahari bersinar amat menyengat. Kami berdiri santai di tanah lapang seakan-akan lama nian tak bersua dengan mentari.

Aku tak ingat apa pun, Sahabat. Kecuali matanya; mata itu berbinar dengan demikian cantik bak rembulan di tengah gulita. Kecuali bibirnya; bibir itu melengkung dengan derajat kelengkungan sensual yang mampu meluluhlantakkan hati lelaki mana pun. Kecuali rambutnya; rambut itu melengkapi sekaligus mempercantik wajahnya, rambut yang telah lama kunantikan dimiliki seorang perempuan. Sahabat, aku telah mabuk. Maafkan jika kata membuncah tak karuan.

Kuangsurkan salam terhangatku padanya. Dan, kala ia menjabat tanganku, ada semacam percikan listrik di hati, pergesekan voltase, yang membuat jantung berdebar kencang. Tangannya begitu halus dan lembut, dengan jemari nan mungil. Kugenggam tangannya dan ia genggam tanganku, dan kemarau yang melanda di sekitar kami tak terasa lagi. Darahku berdesir dan, tanpa kumengerti, segera teraliri molekul-molekul kesejukan yang datang entah dari mana.

Kata-kata yang tak terucap terwakili dalam diam. Diamku punya seribu makna. Makna-makna itu menyumbat tenggorokanku, sehingga yang keluar dari mulut cuma basa-basi tak berarti. Aku terperangkap suasana. Oh, Sahabat, andai saja lidahku tak kelu begini.

“Apa kabar?” kataku.

“Kabar baik,” katanya.

Diriku dan dirinya pun berlalu laiknya semilir angin. Kami punya rutinitas. Aku punya banyak pikiran yang mesti dilakukan. Tetapi—ini rahasia, Sahabat—potret wajahnyalah yang sejak saat itu menghiasi koridor-koridor kepalaku nan berliku.

***

Perempuan di Ujung Gang

© Analisa, 2012

Empat tahun yang lalu, dalam sebuah ruang kelas, aku dan A berjumpa buat kali pertama. A—si buruk rupa itu—seorang hiperaktif sejati. Dia selalu enerjik dan bersemangat tiap waktu. Hingga, kau mungkin akan merasa, kehidupannya indah senantiasa, dan kita tak perlu demikian mengkhawatirkannya.

Itu jauh sebelum aku mengerti apa yang dinamakan dengan kepura-puraan.

Berkat semangat A yang meluap-luap—entah di dalam, entah di luar kelas—itu, guru-guru mengenalnya dengan sangat baik. Ia pun menjadi teman karib bagi semua kalangan di sekolah menengah ini.

Tapi itu tidak berlaku bagiku. Aku telanjur jengah kepadanya. Aku selalu membuat jarak dan ogah dekat-dekat. Bukan karena apa-apa, justru lantaran tingkah-lakunya yang hiperaktif itulah, yang berlebihan, yang sering membuatku bergidik. Aku benci melihat perempuan yang tidak menjaga kodrat ke-kemayu-annya. Selain itu, penampilannya yang kodian pun kian menambah kadar kejijikanku padanya.

Yang paling kubenci dari A adalah cara ketawanya yang sering kelewat batas. Tawanya berderai dengan sangat keras—hingga kau pun akan masih mendengarnya dalam radius belasan meter—meski kupikir lelucon itu tak pantas ditertawai sedemikian heboh. Tawa A nyaris tanpa beban, lepas, dan seolah-olah mengejekku, pria dengan kadar kependiaman tingkat wahid.

Aku semakin memperlebar garis demarkasi dengannya kala kucium gelagat itu: ia menaksir padaku, Sahabat! Kumohon jangan menuduhku ge-er dulu. Ia mengataiku tampan di suatu waktu, langsung di depan mukaku, dan teman-teman tahu semua. Jelas aku malu setengah mati diperlakukan begitu. Aku sadar, dia berupaya mendekatiku dengan segenap daya. Kupikir hal bodoh jika membiarkan ini lebih lanjut. Aku menjauh darinya sembari meningkatkan kadar kebencianku untuknya.

Aku melakukan beragam cara demi meredam gelagat agresifnya itu. Aku tak peduli lagi, bahkan kata-kataku yang paling kasar pun bakal kusumpah-serapahkan jika ia tak jua mengerti. Demikian antipatinya aku, Sahabat, sampai-sampai berdiri di dekatnya pun aku tak sudi. Memalingkan muka untuknya kulakukan sehari-hari. Aku tak sadar, sikap demikian terang telah melampaui level kebencian manusia.

Dan kemudian, ia benar-benar jauh dariku. Percakapan kami lakukan hanya untuk urusan-urusan penting dan mendesak. A terbenam dalam dunianya, yang tak pernah kutahu dan tak akan kupedulikan.

***

Kelas 2 SMA, kata orang-orang, adalah masa muda yang paling indah. Kadang-kadang, Sahabat, kuakui itu. Aku memperbandingkannya dengan masa-masa lain, dan semakin kuakui itu. Kelas 1 identik dengan masa awal menapakkan kaki di SMA, masa adaptasi dengan semua yang terlihat, teraba, tercium, dan terdengar. Masa mengenali teman, bukan berteman. Bagaimana bisa menikmati indahnya pertemanan kalau masih dalam tahap mengenali?

Kelas 3 lebih tampak sebagai masa belajar tiada akhir. Ujian akhir dan masa depan selepas SMA selalu jadi beban pikiran sepanjang waktu. Buku dan pena mesti senantiasa kita akrabi, tugas-tugas kudu telaten kita garap, bila tak ingin masa depan kita tak pasti. Semua terasa menekan, terasa menyiksa, hingga kita pun lupa menghibur diri sendiri.

Kenangan yang kuingat kuat saat kelas 2 SMA, Sahabat, adalah kala berlibur ke Bali. Sahabat, masih ingatkah kau pada kenangan itu?

Malam itu malam terakhir liburan di Bali. Wali kelas memerintahkan kami berkumpul di luar penginapan. Aku tak tahu alasan pak tua itu dengan idenya. Tak tahukah dia betapa capek badan ini sehabis berputar-putar seharian di tiga tempat wisata. Kami mestinya tidur pulas seperti yang lain. Kulihat rona letih menggelayuti muka saban teman yang kutemui.

Di pondok kecil di samping penginapan, kami berkumpul. Semua duduk melingkar dengan wali kelas sebagai pusatnya. A duduk membenamkan kepala di lututnya. Aku sendiri duduk jauh darinya.

Belum ada setengah jam wali kelas menyerocos dengan ceramahnya yang membosankan, kulihat di pojokan, tempat A membenamkan kepala di lutut, terjadi kehebohan. Anak-anak perempuan berteriak histeris. A kesurupan.

Forum yang semestinya khidmat itu kacau-balau tak karuan. Wali kelas bingung, gugup, dan tak tahu apa yang mesti diperbuat. Ketua kelas kami berinisiatif mencari Pak Mul, guru Bahasa yang konon cukup “pintar”. Pak Mul datang. Dengan tenang ia mendekati A, meraba kepalanya, sembari mengomat-kamitkan sesuatu. Kulihat A meraung. Ia mirip cacing kepanasan, meronta-ronta liar mau lari, sesekali menjerit kencang. Pak Mul adalah pria yang tabah, tak gentar ia menghadapi “makhluk bandel” itu—yang kini ia yakini hinggap di jisim A.

Teman-teman kelas lain terbangun dari tidurnya. Pondok mungil itu mendadak ramai. Semua bersiaga menghadapi kemungkinan terburuk. Dalam suasana kritis itu, masih ada juga orang yang bisa-bisanya iseng, membumbui peristiwa itu dengan isu-isu lain yang tak kalah seru: melihat sepotong kepala di atas televisilah, dikasih lihat “penampakan” saat shalatlah, ditemui makhluk kala berbelanja tadi sianglah, dan sebagainya. Suasana yang pada mulanya memang horor menjadi kian mencekam lantaran cerita-cerita itu.

Beberapa menit berlalu. Situasi telah normal kembali. A berbaring dengan tenang di kamarnya. Si makhluk bandel, kata Pak Mul, sudah berhasil diusir dari raganya. Teman-teman sekamarnya—juga teman-teman karibnya—tidak berani dekat-dekat, lebih memilih tidur di tempat lain, meski di kamar anak laki-laki sekalipun!

Kami, para pria, mau tak mau mesti ronda semalaman. Bagi teman yang penakut, jelas ini bagus. Kumpul-kumpul membicarakan sesuatu jelas lebih asyik ketimbang berusaha tidur dengan imajinasi-imajinasi seram di kepala.

Kami semua mengerti pada akhirnya: A ternyata bukan perempuan yang riang selalu. Buktinya, ia bisa kerasukan seperti itu, tak lain karena jiwanya kosong. Orang dengan jiwa kosong adalah orang yang kesepian, yang menghadapi kepedihan meski di luar tampak senang. Tidak pernah sekali pun kutahu, Sahabat, seberat apa kepedihan yang menderanya. Kata teman-teman karibnya, ia sering kedapatan sedang melamun sendirian. Entah apa yang ia pikirkan. A yang dipahami semua orang adalah A yang selalu gembira dan senang serta menggembirakan dan menyenangkan orang lain. A yang kita kenal tak bakal sekelebat pun kita bayangkan akan sanggup kesurupan—sindrom yang cuma melanda orang-orang yang putus asa, tak punya teman, hilang arah, tersesat dalam kepekatan gang-gang kehampaan.

Itu jauh sebelum kita mengerti apa yang dinamakan dengan kepura-puraan.

***

Seorang perempuan manis duduk anggun di hadapanmu. Kau datang telat sepuluh menit dari waktu yang diperjanjikan. Kau sedikit malu, sekaligus rikuh, lantaran keterlambatan yang sangat biasa itu. Kau meminta maaf padaku, juga pada perempuan manis di hadapanmu. Mimik penasaranmu kulihat dengan jelas mengandung tanya padaku, siapa dia?

Perkenalkan, Sahabat, namanya A. Usianya 25 tahun, bekerja sebagai psikolog andal di kantor psikologi ternama di kota ini. Kariernya yang terus menanjak dari bulan ke bulan, pelan tapi pasti bakal mengantarkannya menjadi psikolog terkemuka di negeri ini.

Buat meraih posisinya sekarang, bukan tanpa perjuangan. Cukup lama A memahami apa arti kesungguhan dan keuletan. Kesabarannya dalam menghadapi hidup telah menempanya menjadi pribadi yang keras hati. Kadang aku malah khawatir akan kondisi fisiknya yang selalu diforsir semacam itu.

Beberapa waktu sejak pertemuan kami di lapangan nan terik itu, A lekat selalu di hatiku. Aku tak mengerti rasa aneh yang tiba-tiba kurasakan. Yang pasti, stereotip negatifku padanya menjadi hangus dengan sendirinya.

Caci-makilah aku layaknya lelaki yang sedang kena batunya, Sahabat. Terkadang aku memang menyesal atas sikapku di masa silam. Aku menjustifikasi manusia dengan begitu bengisnya, dan kini kebengisan itu menjadi bumerang bagiku. Padahal, aku hapal benar bunyi sabda Nabi suatu kali, “Bencilah manusia sewajarnya karena siapa tahu ia bakal menjadi orang yang paling kau cintai. Cintailah manusia sewajarnya karena, di kemudian hari, barangkali ia menjadi orang yang paling kaubenci.”

A yang barusan kuperkenalkan padamu, bagiku, kini bermetamorfosis. Ia telah menjadi kupu-kupu yang amat menawan. Ia melihat seberkas cahaya, yang kemudian menuntunnya keluar dari kungkungan gang kehampaan dan kepura-puraan. Ia telah menemukan dirinya, dan dengan percaya diri menciptakan mimpi-mimpi lantas berusaha menggapainya. Ia telah sampai di ujung gang. Ia siap menyongsong dunia baru.

Mangkang City, 050311, 00:49 WIB

*) Cerpen ini pernah dimuat dalam harian Analisa pada 18 Januari 2012.


Sang Roker dan Keyakinannya

7 Juli 2010

oleh A.P. Edi Atmaja

Ada yang salah dengan judulnya, nih. Begitu mungkin kata sebagian manusia. Roker? Kayaknya dipaksakan sekali. Kurang “C” tuh, kata mereka yang kritis. Namun, akan langsung saya tangkis: tergantung, Anda cinta Indonesia apa bukan? Kita harus mengindonesiakan kata asing, khususnya—yang sering menjadi parameter kecendekiaan seseorang—kata Inggris. Sehingga, “pembuangan” konsonan “C” menjadi masuk akal. Akan tetapi, mereka yang kritis akan sekali lagi menyela: Anda pikir, dengan cuma begitu, Anda merasa cinta Indonesia? Penghilangan “C” tidak dengan otomatis membikin kata “Rocker” mengindonesia. Kalau alasan nasionalisme yang Anda pakai, kenapa tidak usulkan saja kata “Pecadas”—yang tentu lebih Indonesia?

Polemik semacam itu sudah barang tentu tidak bakal dengan mudah terjadi. Apalagi melihat kultur Indonesia sekarang, di mana kritisisme (utamanya terhadap bahasa) seakan masih ngendon di menara gading. Menara gading kepentingan, menara gading kerakusan, menara gading penyelewengan…

Saya tak hendak merumitkan polemik soal “Roker”. Percayalah, kata itu mutlak akronim semata.

♠♠♠

Orangnya tinggi. Badannya tak terlalu kurus. Ketinggiannya yang sekitar 170 cm itu ideal dengan berat badannya. Sayang-seribu-sayang, dia sedikit bungkuk, sehingga sebutan gagah tak cocok tersemat padanya.

Arif Setya DharmaKulitnya akan mengantarkannya menjadi seorang model: kulit itu, juga kulit mukanya, putih kekuning-kuningan tanpa cacat. Hidungnya cukup tinggi bila dihitung memakai satuan dpp (di atas permukaan pipi). Matanya agak sipit dengan bibir kemerah-merahan. Di atas dan di bawah bibir ada rambut jarang-jarang: indikator keberadaan testosteron dalam tubuhnya. Intinya, ia bisa saja diterima jadi model, atau bintang iklan, atau artis film, atau vokalis band, asal badannya sedikit lebih tegap.

Ah, tapi ”kelemahannya” tak cukup sampai di situ, ding. Cara ia berjalan akan mendepak kian jauh impiannya—jika mungkin—menjadi model, bintang iklan, bintang film, atau vokalis band. Cara jalannya amat menunjukkan keragu-raguan yang dalam, ketakyakinan akan diri pribadi, dan—dalam kadar tertentu—keminderan yang na’udzubillah. Ia tak berjalan setegap dan sepede model, melainkan kerap mirip cara jalan Songoku saat kesasar di kota tempat Burma tinggal.[1]

Pakaian yang dikenankannya pun amat nyata bakal membikin ia terdepak semakin jauh dari jagad permodelan. Baju, celana, dan sepatunya jauh dari kesan gaul. Cara berpakaiannya tak bisa dikatakan tidak rapi, tetapi ia jauh dari kesan modis dan elegan. Bajunya sangat “dermawan”: kedodoran. Tampilan demikian terang saja menguatkan dan bakal mendapuknya sebagai pria cupu kelas satu.

♠♠♠

Arif Setya Dharma, manusia dimaksud, duduk di bangku belakang. Teman sebangkunya, Firman Sanjaya, sesama alumni Espero[2]. Di belakang mereka ada Mochamad Irfan dan Rio Bayu Prayogo. Keempat orang inilah potret kecil bukti polarisasi yang melanda X-5; kekhasan mereka membikin X-5 tak cuma dipenuhi “begundal-begundal” yang suka grudak-gruduk ke mana-mana.

Arif dengan malu-malu memimpin kelompoknya maju ke depan kelas. Tangan kanannya memegang gitar. Matapelajaran Bahasa Inggris saat itu mengharuskan tiap anak membentuk kelompok, membawakan lagu dalam bahasa Inggris.

Keenam manusia sudah siap-sedia di depan. Pun Arif, jemari tangan kirinya membentuk pola tertentu di fret. Hitungan mundur dimulai. Lagu pun mengalun. Genjrengan gitar terdengar mantap, semua terbawa irama. Dengan cekatan Arif memetik senar-senar itu. Dan “I Will Fly” pun berakhir dengan sorak-sorai dan tepuk-tangan meriah.

♠♠♠

Di kelas, terjadi perubahan yang mengejutkan. Arif, yang dikenal oleh banyak anak sebagai pria pendiam dan cenderung eksklusif, mendadak menjadi tenar. Begundal-begundal yang gemar bergerombol tadi mulai membuka diri terhadap “the others”—sesuatu yang mereka acuhkan lantaran tak sesuai dengan “ideologi” mereka. Para begundal mulai belajar sesuatu, dan perlahan tapi pasti mulai mengetahui rekam-jejak Arif.

Pemuda culun yang kerap mereka temui selalu menghabiskan waktu di kelas itu, rupanya bukan secupu yang mereka kira. Arif ternyata pernah sebegundal mereka. Namun kadarnya lebih positif: ia adalah musisi band dengan kemampuan memainkan beragam alat musik. Teman-teman satu bandnya dulu, kini menjadi artis sekolah, karena sering mejeng di panggung, dalam pelbagai perhelatan yang diadakan sekolah.

Orang-orang semacam Sebastianus Yoga Rinaldi ataupun Deni Wibawanto dulu merupakan rekan segrupnya. Bahkan, kedua orang ini ternyata pernah mendulang ilmu bermusik darinya. Sangat kontradiktif kondisi Arif sekarang: terpental dari “kemewahan” bakat yang dipunyainya. Arif hanya bisa memandang dari jauh, tatkala kedua bekas rekannya itu berlaga, di tengah ingar-bingar soundsystem yang membahana.

♠♠♠

Perjalanan hidup manusia tiada seorang pun yang sanggup menduga. Itu karena setiap manusia punya pilihan. Pilihan itu kadang bercabang dua, dan saling bertentangan. Semua pilihan bisa jadi akan menggiring manusia kepada dua sisi mata-uang: kehancuran atau kejayaan. Namun, semua pilihan esensinya menuju kejayaan. Pilihan bakal menghancurkan bila ia dilakoni dengan penuh keraguan dan keterpaksaan.

Beberapa tahun setelah membawakan “I Will Fly” itu, reputasi Arif sebagai seorang musisi berbakat seakan lenyap ditelan masa, tertimbun rumus-rumus Kimia, seperti umumnya murid IPA. Arif kini lebih dikenal sebagai anak Rohis[3], diajak oleh Firman dan Irfan. Ia tak lagi bermarkas di studio, melainkan sering terlihat di mushalla. Gitar atau keyboard tak lagi menjadi pegangan, tergantikan oleh al-Qur’an atau mikrofon, sesuai “fungsinya” sebagai qari’ dan muadzin. Tongkrongannya tak lagi membahas kunci lagu yang njlimet, melainkan majelis taklim yang mengkaji tawhid, aqaid, dan akhlaq.

Arif telah menjadi dan memilih menjadi orang yang berbeda. Sentuhan keagamaan telah menuntunnya dalam menentukan arah hidupnya. Wataknya yang tenang menjadi amat klop dengan majelis-majelis keagamaan yang damai. Ia telah sampai pada apa yang ia butuhkan, bukan apa yang ia inginkan. Bisa dibilang, inilah proses metamorfosisnya menjadi seorang manusia. Ia telah mencuat sebagai seorang—meminjam ungkapannya dalam sebuah katalog—Roker: Rohis yang keren.

Semua tak akan mengira, pria berjenggot yang tampak alim itu dulunya bintang panggung yang memesona. Semua tak akan menyangka Arif yang gemar adzan itu memendam bakat musik yang luar biasa. Kita akan terkesima bila bakat itu tak terbuang sia-sia. Suatu kolaborasi efektif antara seni dan agama kita nanti bersama. Seberapa mungkinkah? Kita lihat “siapa” yang lebih kuat. [Kyai Gilang Rd., 050710]


[1] Baca “Dragon Ball” jilid 6: Kekalahan Burma.

 

[2] Esempe Loro. Sebutan beken SMP Negeri 2 Semarang.

[3] Rohani Islam: salah satu seksi-bidang dalam Organisasi Siswa Intra-Sekolah (OSIS).


Kepasrahan-Intelektual Seorang Masgay

26 April 2010

oleh A.P. Edi Atmaja

Mendiang John F Kennedy, seperti dikutip Gus Dur dalam “Kiai Nyentrik Membela Pemerintah”, menganggap kepemimpinan layaknya seorang nakhoda kapal yang menghadapi badai. Bukan seperti kelasi yang sibuk menimba air laut yang masuk ke kapal, sikap seorang nakhoda adalah melempar sauh lalu tidur. Setelah badai reda, sauh diangkat, kapal pun melajulah.

Kiai Achmad Shiddiq, dalam memimpin organisasi sekaliber Nahdlatul Ulama, laiknya seorang nakhoda. Dengan catatan, setelah sauh dilempar, ia tak langsung tidur, tetapi sembahyang malam dahulu: menyerahkan semuanya kepada Allah Ta’ala. Inilah kepasrahan seorang kiai.

Sobat saya, Dimas Surya Mahendra Wijayanto, agaknya memiliki kepasrahan yang lebih-kurang sama. Bedanya, kepasrahan miliknya ialah sebuah spesies lain yang tak begitu penting: kepasrahan seorang intelektual.

♠♠♠

Dari ujung kepala hingga ujung (jempol) kaki, tiada yang istimewa dari tokoh kita satu ini. Ia adalah sepotret wajah, yang diidamkan beberapa orang, dianggap angin lalu oleh sebagian orang, dan dihujat kebanyakan orang.

Tampang-penuh-cacian itu mengejawantah sebagai berikut: rambut sisir pinggir acak-acakan—dengan ketombe nongol di beberapa penjuru; kacamata mode tebal yang tak jemu-jemunya terus nangkring di hidungnya—hidung yang cukup besar dibanding kebanyakan; muka berminyak dengan dihiasi bintik-bintik mungil, yang bila kaupencet, kau bakal kena tonjok—yang oleh para gadis, bintik-bintik itu dinamai “jerawat”.

Dandanannya benar-benar menunjukkan bahwa ia terpelajar. Namun, ia tak cuma terpelajar, melainkan juga gaul. Model junkies busananya bakal segera menipu kita, bahwa yang kita hadapi ini sesosok anak punk. Penilaian yang terlampau dini itu bakal menggiring kita kepada kesesatan. Sehingga, yang perlu dan kudu kita perbuat sebenarnya hanya membikin stereotip buat anak ini: satu lagi ciri korban mode.

♠♠♠

Alhasil, Dimas Surya Mahendra Wijayanto sungguh mencitrakan diri sebagai anak muda masa kini. Wajah pas-pasan dengan lihainya dipadu-padankan dengan tampilan yang up-to-date. Sehingga yang tampil di hadapan kita adalah semacam kepalsuan yang maujud: penipuan terhadap diri pribadi dan orang lain.

Namun, Dimas Surya Mahendra Wijayanto tidak sebengis itu. Tampilan luar yang terkesan dibikin-bikin itu, sesungguhnya mencerminkan wataknya yang kemayu.

Dimas Surya Mahendra WijayantoYa, orang macam apapun yang pernah bersentuhan dengannya, dari yang tipenya macam Fitria Nurma Putri hingga orang setipe Yulia Putrika Dewi, pasti akan sepakat: Dimas Surya Mahendra Wijayanto adalah seorang pria yang “lemah-gemulai”. Dengan catatan, kadar “lemah-gemulai” yang dimilikinya jelas lain dengan wanita-wanita itu punya. Apapun itu, sontak, sayup-sayup terdengar, orang-orang memanggilnya dengan “Masgay”.

Ditelaah secara etimologis, panggilan itu tidak sepenuhnya bermakna negatif. Bahkan terkesan mengandung doa: seorang “gay” tapi “mas (-mas)”. Artinya, biarpun “gay”, semua orang berharap kadar “mas”-nya lebih kuat. Sebuah doa yang mustajab? Entahlah. Yang jelas, siapa pelontar panggilan yang bernuansa peyoratif sekaligus filosofis itu, masih diperlukan sidak lebih lanjut. Bukti-bukti kudu dikumpulkan sebagai berkas di pengadilan. Habis itu, diproses. Lantas salinannya diajukan ke Mahkamah Agung. Bila ditampik, bukti-bukti pun dibuang-sayang.

♠♠♠

Dari pojok ruangan, saat detik-detik menegangkan sebuah “tes adrenalin” Kimia, di mana suatu soal menjadi menyeramkan karena kerumitannya, mengacung ke atas tangan kurus-berambut seorang anak. Dengan sikap langkah sigap, cepat, lagi bahenol, anak tak jelas rimbanya itu membantai soal dalam sekejap mata. Mulut anak-anak yang bengong belum terkatup rapat tatkala sang Guru berkata lugas, “Salah.” Namun, anak dari pojokan itu cuma ketawa—dengan pola-pola kemayu—dan mengamati saksama tulisannya di papan putih.

Siapa anak itu? Tentu Masgay.

Kali ini Masgay maju lagi, membikin koreksi seperlunya atas tulisan yang setali-tiga-uang dengan rambutnya itu: acak-acakan tak karuan, tapi ilmiah. Dan pada kesempatan ini, sang Guru akhirnya bilang, “Benar,” sembari ditingkahi kebengongan yang masih juga menghiasi muka sebagian besar anak.

Begitulah. Hal demikian acapkali terjadi. Tiap hari. Tiap pelajaran.

Inilah potret lain dari seorang cerdik-pandai yang grusa-grusu. Dalam pergulatan dengan nyawa sebagai taruhannya, barangkali Masgay bakal mati soal ketelitian. Watak gerak-cepatnya terkadang menyulitkannya sebagai seorang intelektual dan, dalam banyak kasus, menghambatnya mendapatkan nilai mentereng di kelas.

Tapi sepertinya itu bukanlah masalah serius buat Masgay. Ia memiliki “penyeimbang”, yang lebih kosmopolit dan efisien: kepasrahan.

Ya, kepasrahan seringkali menjadi senjata yang tiada tara. Kepasrahan senantiasa menghindarkannya dari sikap terpuruk lebih jauh. Kepasrahan pula yang kadangkala membikin sebal sebagian kawula. Apa sebab? Karena, kepasrahan itu sering dibarengi dengan keluhan. Dan keluhan itu, bila tak ditanggapi secara bijak, akan menjadikan kita terasing darinya selama berhari-hari.

Namun, justru itulah kelebihan Masgay. Artinya, melalui kepasrahannya itu, ada masa ngaso yang menganga baginya buat menata-ulang strategi. Ia koreksi habis-habisan dirinya hingga ke akar-akarnya. Sampai, ketika kesempatan yang dinanti tiba, ia lakukan pendobrakan lebih keras, dengan sekuat tenaga: khas tipikal seorang sosialis-Fabian.

Melalui keluhan yang timbul sebagai turunan dari kepasrahan itu, rupanya ia lagi menikam mental lawan. Ia biarkan lawan berbahagia (merasa) telah berhasil mempecundanginya. Ia pakai formula keluhan buat segera beranjak bangkit, kemudian melesatkan pamornya ke garda terdepan.

♠♠♠

Akan tetapi, Masgay tetaplah seorang manusia. Taktik jitu apa pun tidak selalu ampuh. Karena ia berasal dari otak seorang manusia.

Adakalanya metode kepasrahan plus keluhannya itu berkomplot menghabisinya. Ia terlalu baik-hati sebagai manusia biasa, sehingga yang namanya taktik mesti tunduk pada prasangka-baik.

Ia sangat mudah terombang-ambing oleh “nafsu” menolong orang lain sehingga kepentingannya sendiri kadang terbengkalai. Ia, dalam banyak perkara, tersandera oleh keluhan orang lain kendati ia duluan yang melancarkan keluhan. Akhirnya, taktik “culas”-nya pun gugur di tengah jalan demi menjaga muka orang lain tetap berseri-seri.

Masgay harus lebih sering jatuh-bangun bertahan pada pegangan. Kepasrahan rupanya perlu ia persering saban waktu karena cobaan di depan kian beragam. Dalam hal demikian, kepasrahan sebagai taktik itu akhirnya mengkristal menjadi watak yang transenden, yang meyakini optimisme terhadap kehidupan melebihi yang lain. Ia telah menjadi seorang yang berbeda, yang lebih tegak menghadapi batu ujian berikutnya.

Adakah intelektual yang lebih meyakinkan daripada seorang Masgay? [The City of Mangkang, 260410]


Hujan

24 Februari 2010

oleh A.P. Edi Atmaja

[buat temanku di Jangli]

Bad Guys And Sweet GirlsLangit kelam sedari Subuh

Hujan rintik mau melabuh

Asa menyatu, hati membuncah

Tak mengerti apa yang dicari

Perlahan jiwa mulai resah

Dilamun hawa yang sunyi-sepi

Manusia cuma bisa berharap

Takdir datang sekejap

Upaya tiada guna

Lantas mau bagaimana?

Janji itu kosong

Pepesan kosong

Tong kosong melompong

Tapi tidak bagiku

Asal kautahu

Entah sampai kapan

Ku tak tahu masa depan

Sang pacar menari-nari

Hujan rintik tak jua berhenti

24-02-2010


(Si) Unyil dan Ascribed-Genius

10 Februari 2010

oleh A.P. Edi Atmaja

Apakah kejeniusan itu mutlak bawaan dari lahir? Sebagian orang macam Ananda Ayyub Wardhana[1] pasti bakal menolak mentah-mentah. Seraya mengedip-kedipkan mata, barangkali ia akan langsung mendebat dengan sengit. Kita takkan heran melihat sikapnya: hampir saban hari, bukankah ia selalu kedapatan lagi belajar keras? Orang macam apa yang rela mengorbankan jam makan siangnya buat corat-coret (tak) jelas di kelas, selain orang yang percaya kerja keras itu segalanya? Dan, hasilnya bisa kita lihat. Semua orang tahu.

Namun, tunggu dulu, pandangan itu tak sepenuhnya benar, lho. Tentu tidak buat orang sejenis Nungky Nasta’iinullah.

♠♠♠

Tatkala main-main ke kelas, jangan terperanjat dan shock berat (lebih-lebih sinis) melihatnya. Benar, ia murid kelas ini juga. Kan seragam dan badge-nya jelas. Pun jangan lantas menyimpulkan ada anak TK kesasar. Silakan obrak-abrik Tata Usaha. Di sana ada kok nama plus NIS-nya. Juga nama orangtuanya.

Tain—panggilan Nungky Nasta’iinullah—memang beda dari kebanyakan. Tain (dengan “n” lho, jangan tanpa “n”) memang ‘bundar’. Kenapa ‘bundar’? Pertama, jelas, dari posturnya. Kedua, menurut saya, dari cara berpikirnya. Poin pertama tiap anak pasti mafhum. Poin kedua, lha ini (kata Kepsek kita) perlu dikaji lebih serius dan mendalam. Yah, ‘minimal’ laiknya mengkaji “benarkah Pakpin[2] itu keturunan India?”

♠♠♠

Barangkali lantaran ke-‘bundar’-an postur badannya itulah ia lantas dinobati sebutan “Unyil” oleh Netty.[3] Tentu saja ini menyusahkan. “Unyil” jelas lebih boros karakter ketimbang “Tain”. Jadi, kebangkrutan pulsa (/SMS) yang melanda sebagian anak menjadi jelas siapa yang mesti bertanggungjawab. Tapi, anehnya, “Unyil” langsung melejit pamornya: “Tain” tak kedengaran lagi. Maka dari itu, mulai dari sini, mari kita sapa—dengan bertenaga—Nungky Nasta’iinullah dengan sebutan Unyil.

Nungky Nastaiinullah

Nungky Nasta'iinullah

Unyil ini suka sekali menjaili teman. Bahkan, kadar kejailannya diakui pelbagai kalangan menjadi demikian tinggi—al-fashl al-wahid (premium-class). Kian tinggi sampai guru-guru pun tak luput ia jaili. Tentu tak semua orang menganggap ia jail. Kecuali orang yang menganggap ia jail.

Unyil pun lumayan gampang ditemui. Bahkan, dalam banyak kasus, menjadi terlalu gampang ditemui. Saking gampangnya, sampai-sampai orang-orang senep[4] melihatnya.

Tidak susah kok mengenali makhluk macam apa sih Unyil itu. Pernah lihat Boboho—aktor anak-anak film Mandarin itu? Yah, lebih-kurang mirip-mirip dialah: kalau lebih, jangan diembat; kalau kurang, dibuang sayang (?). Begini, begini, saya coba paparkan: terkadang kacamata Swatch[5] nangkring di hidungnya, rambutnya lurus terawat seumpama rambut bintang iklan shampoo, kulit putih-Asia, dan—ini yang “menggiurkan”—perutnya (lumayan) buncit hingga suatu ketika si J pernah menodongnya dalam keramaian, “Serahkan barangmu!”

♠♠♠

Begitulah Unyil. Ia memang masih sangat belia saat duduk di kelas tiga, 15 tahun: alasan bagaimana semuanya—dari postur, perut, hingga muka-Boboho—bermula. Tiada seorang pun yang mampu membayangkan, bagaimana anak sedini itu mampu mengarungi—dan sanggup bertahan pada—pelajaran, lingkungan, dan teman-teman yang semuanya “bangkotan”. Barangkali dalam konteks inilah, perspektif kejailannya mesti dipotret. Dan, tak jarang, hal ini pulalah yang menerbitkan iba pada sebagian orang, sehingga tak terlalu menganggap serius atas segenap kejailan yang ia lakukan.

Tentu saja bukan tanpa alasan dalam usia limabelas ia sanggup bersaing dengan “kakak-kakak” yang lain: di kelas tiga, jurusan ilmu alam, SMA 5 Semarang. Ada banyak faktor yang membikinnya demikian. Ada lintasan takdir di dalamnya. Semua itu mungkin, seperti firman Tuhan: “(Saya bilang) ‘Jadi!’ maka jadilah.”

Mungkin mulai dari sini poin kedua tadi bisa dikaji. Mulai dari sini kuasa Allah yang Mahasuci lagi Mahatinggi itu mesti ditafakuri: tersingkap jelas, laksana Kebenaran yang mengatasi kebenaran-kebenaran.

Unyil ialah satu dari sedikit orang yang pantas dilekati predikat “ascribed-genius[6] man”. Kejeniusan yang ia punyai adalah pencapaian yang, barangkali bisa dikatakan, tanpa peluhkesah[7] berarti, tanpa perlu bersusah-payah, murni anugerah Yang Mahakuasa.

Dalam banyak peristiwa, ascribed-genius Unyil mampu jumawa manakala berhadapan face-to-face dengan achieved-genius (kejeniusan-ikhtiar) Ananda Ayyub Wardhana. Bahkan, (sialnya) mampu pula mengalahkan ascribed-genius kebanyakan “kakak-kakak” di kelas. Jelas bukan main-main si Unyil ini.

Itu pulalah yang membikin Unyil pada akhirnya menjadi murid kesayangan al-mukarrom Yitno Widya Saptono, SPd, guru Matematika unggulan. Trik-trik cerdasnya saat ‘membantai’ soal menjadikan pamornya kian naik dari hari ke hari.

Dan, ajaibnya, tidak cuma Matematika yang berhasil ia taklukkan, melainkan hampir semua matapelajaran, kecuali—kita mafhum—olahraga.

♠♠♠

Biarpun berusia muda, Unyil bukanlah tipe seorang pemanja (artinya: anakkecil-banget; satu lagi lema ciptaan saya). Dia mandiri. Lebih mandiri, malah, ketimbang sebagian temannya yang bangkotan itu: ia terbiasa berangkat-pulang sekolah sendirian. Padahal, rumahnya terhitung berkilo-kilo dari sekolah. Bus-kota dengan setia menjadi kawannya sepanjang hari. Saya jadi heran, apa orangtuanya tidak takut anak mereka diculik?

Menurut saya, sikapnya itu tidak cuma mengindikasikan kemandirian, tapi juga kebersahajaan (atau, dalam kadar tertentu, “berkembang” menjadi kepelitan). Melalui penampilan yang ia tampakkan (saya berusaha objektif), tentu kita bisa menaksir, seperti apa “latar” Unyil. Namun, saya kira, dia tetap saja bisa dikatakan bersahaja.

Tentu kesemuanya menjadi formula yang fantastis dan seksi: kejeniusan plus kemandirian plus kebersahajaan. Tidak semua orang mampu menyeimbangkan (apalagi memiliki) ketiga unsur ini. Bung Karno itu jelas jenius, dan mandiri—karena ia mengaku (dan menganjurkan) “berdikari”. Tapi, apakah ia bersahaja?

Tuhan mungkin tepat menganugerahi Unyil ascribed-genius. Sedangkan kemandirian dan kebersahajaan itu kan achieved: bergantung pada itikad baik dan ikhtiar Unyil sendiri. Setelah diperoleh, ketiganya itu mesti diseimbangkan supaya tidak terjadi “goro-goro” di dunia yang fana ini. Persoalannya sekarang, mampukah (si) Unyil, melaksanakannya? [Tegalirik, 100210]


[1] Salah seorang teman saya. Mungkin kapan-kapan kita kaji, tergantung kuasa Tuhan.

[2] Baca “Mafia Intelektual”.

[3] Baca “Mafia Intelektual”. Ingat: kesimpulan saya masih barangkali. Info lebih lanjut? Tanya Netty-lah.

[4] Senep itu masih saudara, lho, dengan serep (ban pengganti). Serep itu bibinya sarap (gila). Jadi, senep itu apa? Taksir sendirilah. [Saya unggah dari bahasa Jawa, khusus buat tulisan ini!]

[5] Mengenai “Swatch” ini, silakan berkorespondensi dengan Netty.

[6] Plesetan dari ascribed-status—istilah Sosiologi: artinya kedudukan yang diperoleh “dari sononya”. Ascribed-genius saya maksudkan sebagai kejeniusan bawaan-lahir: kejeniusan dari Sana.

[7] Ini juga lema baru. Cuma ada buat tulisan ini.