Oleh A.P. Edi Atmaja
Pengantar:
Reportase ini merupakan pengamatan penulis saat mengikuti Kuliah Kerja Nyata di Desa Dudakawu, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara dari 19 Juli 2011 sampai 23 Agustus 2011.
Hari kelimabelas
2 Agustus 2011. Kami punya program yang sebenarnya bukan merupakan program formal kami. Ia ada berkat kebutuhan desa—dalam hal ini, atas usulan Bu Sri Nurhayati dalam pertemuan kader posyandu.
Program itu berkaitan dengan nonaktifnya kegiatan pemuda di desa ini. Bu Sri berniat membangkitkan kembali Bina Keluarga Remaja (BKR) sebagai wadah bagi pemuda melangsungkan kegiatannya. Dan fungsi kami adalah memberi asupan materi buat pemuda-pemuda terpilih yang diharapkan mampu mengemban tugas pembangkitan itu.
Kami memutar akal bagaimana cara mengumpulkan seluruh pemuda di Dudakawu, dari Nglarangan sampai Gerot. Maka, kami memutuskan hendak mendekati kamituwa masing-masing dukuh. Dari situ, kami berharap, akan diperoleh nama-nama pemuda potensial yang bisa kami kumpulkan dalam satu penyuluhan.
Pertama-tama, kami berkunjung ke kamituwa Nglarangan pada 28 Juli kemarin. Hari ini, kami coba sowan kembali ke rumah Mbah Saryadi, kamituwa Gerot. Sekali lagi kami kecele: yang bersangkutan tak kami jumpai di rumah. Selalu saja ia sedang berada di ladang nan jauh di gunung.
Sementara tim Gerot pulang dengan tangan hampa, tim kamituwa Krajan berhasil menemui Pak Mulyadi. Selain itu, tim papanisasi juga berbelanja bahan-bahan dan perangkat yang dibutuhkan untuk program papanisasi.
Hari keenambelas
3 Agustus 2011. Dari raut-wajah siswa-siswi Pendidikan Anak Usia Dini, kami temukan kepolosan manusia.
Kebanyakan siswa menggelendot dan tak mau lepas dari ibunya. Sebagian lainnya berada dalam gendongan dan susuan. Cuma sedikit yang dengan berani berlarian ke sana-ke mari, seolah mau berkata, “Ini lho, aku.”
Ketika kami tiba di PAUD bersahaja itu, beberapa pasang mata menatap kami bulat-bulat. Tatapan mata tak seseram sebelumnya kala kami salami mereka, ibu-ibu beserta anak mereka, satu per satu. Suasana jadi demikian cair ketika kami putar lagu anak-anak dan bernyanyi bersama siswa-siswi PAUD itu. Bahkan, beberapa di antaranya berani menyanyi di tengah lingkaran—meski tak begitu jelas dalam pelafalan.
Seluruh siswa—berjumlah 30-an—PAUD yang bertempat di Dukuh Gerot itu hadir dalam Gerakan Cuci Tangan Memakai Sabun yang kami adakan. Program kami mendulang keberhasilan.
Jam 9.00 kami hengkang dari PAUD menuju SD Negeri 3 Dudakawu, hendak mengajar kelas 4, 5, dan 6. Kami diberi waktu sampai pukul 11.00.
Pulang ke posko, dua anak SD, Dika dan Abib, bermain-main ke posko. Mereka cukup lama mengobrol dengan kami. Di akhir perjumpaan, mereka mengajak bermain Playstation (PS). Sungkan menolak, kami turuti ajakan itu. Tak rugi, karena dari tempat mangkal bermain PS, kami berkenalan dengan banyak warga yang sejatinya ingin mengenal kami lebih dekat.
Hari ketujuhbelas
4 Agustus 2011. SMP Negeri 4 Kembang, seperti halnya SD Negeri 3 Dudakawu, terletak di depan Balai Desa. Bangunannya sangat mungil, berbentuk huruf “L”: sisi yang panjang adalah kelas 7, 8, dan 9, sementara sisi pendeknya menjadi ruang guru dan UKS.
Praktis, cuma ada satu kelas di masing-masing jenjang kelas. Itu pun dengan murid tak lebih dari 30 orang. Murid-muridnya tersebar di Dudakawu dan sekitarnya, seperti Pendem dan Bucu.
Kami melakukan pembimbingan belajar tepat pukul 12.00, seusai bubaran sekolah. Sepuluh orang menyebar tiga-tiga ke tiga kelas, mengajar selama satu jam. Satu hal yang kami catat: murid-murid itu sebenarnya pintar, meski mereka pada awalnya sering tampak tak serius dan malu-malu tatkala diajak berdiri di depan. Ketika mempraktikkan naskah percakapan dalam matapelajaran Bahasa Inggris, misalnya, mereka mampu melafalkan dengan cukup fasih setelah berhasil digeret ke depan dengan susah-payah. Kepintaran khas anak desa, kami kira.
Pukul 13.00, kami pulang ke posko. Johan dan Yemi lantas pergi lagi, berbelanja peralatan dan bahan-bahan buat papanisasi.
Sehabis Tarawih, kami dikejutkan oleh tamu yang tak disangka-sangka. Ia memperkenalkan diri sebagai Sumari yang, kami ketahui kemudian, ternyata bertempat-tinggal di belakang posko kami. Pria berusia 30-an tahun berambut cepak itu memulai sapaan hangat dengan: “Kenapa pintu posko KKN selalu tertutup?”
Ia mengaku diri sebagai representasi dari aspirasi tetangga-tetangga kami yang, menurutnya, menganggap kami jarang bergaul, selalu ndhekem di rumah, tak pernah bersosialisasi, tak pernah menyapa saat berpapasan, dan segala macam “keburukan khas pendatang” lainnya—yang ujung-ujungnya melahirkan pernyataan (atau kenyataan?) final: mahasiswa KKN kok nggak ada baunya!
Baru kali itu ada tetangga bertamu ke posko dengan nada sinis semacam itu.
Namun kami suka pada orang seperti Mas Sumari ini. Inilah kritik yang kami tunggu-tunggu. Kami memang mengakui, kami sangat kurang bisa berkunjung ke banyak tetangga. Selain karena padatnya program, sarana untuk itu juga terbatas. Cuma ada empat motor yang kami pakai secara “brutal” untuk mengangkut sepuluh orang. Ada motor yang selalu dipakai tumpuk-tiga, padahal medannya naik-turun. Kadangkala, motor-motor dengan jumlah minim itu dipakai pula dengan melangsir: mengangkut bolak-balik dari tempat satu ke tempat lain.
Komposisi laki-perempuan yang sangat tidak proporsional (7:3) juga kami rasa mengganggu gerak kami. Siang kami habiskan buat berkegiatan, jadi nyaris cuma malam harilah waktu efektif untuk kunjungan-kunjungan dari Ngalarangan sampai Gerot. Padahal, sangat berbahaya bagi perempuan keluar di malam hari seperti itu. Selain dari diri perempuan-perempuan itu sendiri (kebanyakan takut pada gelap dan makhluk-irasional-entah-apa), malam hari sangat rawan kejahatan di desa terpencil nan sepi seperti Dudakawu ini.
Alhasil, ketika, barangkali, tim desa lain leluasa keluyuran bahkan hingga jam 12 malam, kami dari jam 7 petang pun sudah mengunci diri di rumah. Seyogianya, di masa medatang, LPPM mengonsep dengan cermat rasio lelaki-perempuan yang efektif demi kesuksesan program KKN itu sendiri. Bukannya kami menafikan kesetaraan gender, buat sampai ke tahap itu rupanya masih sangat jauh. Karena yang namanya perempuan, tetap saja seorang perempuan.
Mas Sumari mengobrol hingga larut malam. Ia bercerita soal pengalaman hidupnya yang sangat kaya. Ia satu contoh pemuda Dudakawu yang menghabiskan hidup di rantauan. Bekerja di Jakarta dan Sumatra sangat biasa baginya. Di masa mudanya, ia terus-terang mengaku pernah jadi preman Terminal Bangsri, yang kerap berurusan dengan polisi.
Ada saja bahan pembicaraan yang dengan cergas ia ceritakan. Apalagi setelah Pak Inggi nimbrung dalam jagongan itu. Luar-biasa. Baru ketika sampai jam-jam sahur, Pak Sumari berpamitan pulang.
Hari kedelapanbelas
5 Agustus 2011. Kami berangkat ke SD Negeri 1 Dudakawu dengan berjalan kaki. Letaknya sekitar 750 meter dari posko, jadi masih berada di Ngalarangan. Seperti kebanyakan sekolah di desa ini, SD Negeri 1 Dudakawu berdiri dengan penuh keterbatasan.
Kelas lima dan enam yang kami ajar cuma mempunyai murid lima dan tujuh orang. Kelas empat tidak ada karena ketiadaan murid. Tragis.
Keadaan ini diperparah oleh persaingan antara SD ini dengan MI Miftahul Huda, yang terletak tak jauh dari situ, masih di Nglarangan. Jumlah murid MI jauh lebih banyak kendati di SD Negeri 1 Dudakawu sudah dicanangkan program Sekolah Gratis. Menurut Pak Inggi, semua itu terjadi karena fanatisme agama demikian kental di sini. Orangtua yang hendak menyekolahkan anaknya diprovokasi oleh oknum tertentu yang mengklaim bahwa masuk SD berarti masuk neraka. Karena di SD, pelajaran agama (Islam) sangat minim.
Selain itu, masih menurut Pak Inggi, sangat langkanya siswa yang bersekolah di SD (terutama SD Negeri 1 Dudakawu) lantaran klik ormas. Terdapat dua ormas besar di sini: NU dan Muhammadiyah. Anggotanya memiliki sentimen keagamaan yang khas, seperti banyak terjadi di tempat lain. NU direpresentasikan oleh MI, sedangkan Muhammadiyah direpresentasikan oleh SD. Anak-anak dengan orangtua seorang nahdliyin pasti disekolahkan ke MI, tak peduli seberapa melangitnya biaya sekolah. Sementara SD sejak lama dicap sebagai sekolah orang-orang Muhammadiyah, entah sejak kapan cap itu ada.
Kami mengajar sampai jam 9.00. Kepada semua guru kami berpamitan, hendak melanjutkan kegiatan Praktik Pembuatan Emping Jagung.
Ibu-ibu PKK perwakilan masing-masing RW di Dudakawu berkumpul di gedung mungil berdebu itu. Mereka duduk di bangku panjang di gedung yang dipergunakan sebagai madrasah diniyah (sekolah agama di waktu sore). Seperti biasa, kami bertemu Bu Sri.
Acara dimulai dengan mars PKK. Selanjutnya, waktu sepenuhnya menjadi milik kami.
Kami menerangkan semua tahapan pembuatan emping jagung. Mulai dari saat jagung dipetik, diupil biji-bijinya, dijemur, direndam air kapur, dicuci, dikukus, dipipihkan, dijemur lagi, hingga emping siap digoreng. Ibu-ibu turut antusias praktik memipihkan jagung. Malah ada yang bertanya, apa lagi makanan yang bisa dibikin dari bahan jagung. Kami kelabakan karena ibu-ibu meminta demo lanjutan dengan menu berbeda.
Sepulang dari kegiatan, siang hari, kami kerjakan Kartu Kontrol (K-1) bersama-sama.
Malamnya, kami diundang mengikuti Tarawih Keliling bersama Pak Inggi di Masjid Baitussalam, Krajan. Masjid itu baru saja dibangun dan tampak megah. Namun, jamaahnya tak melebihi setengah dari isi masjid meski diembel-embeli kehadiran Petinggi beserta perangkat dan anggota Badan Perwakilan Desa.
Direncanakan bakal ada enam jadwal Tarawih Keliling di enam masjid berbeda, yang ada di Ngalarangan, Krajan, dan Gerot.
Tarawih berlangsung khusyuk dengan diimami Pak Mulyadi. Usai pukul 20.30, jamaah duduk melingkar, mendengarkan sambutan dan pengarahan dari Petinggi. Kami dikasih kesempatan untuk memberikan sambutan di tengah-tengah jamaah.
Selepas Tarawih Keliling, ternyata tak langsung pulang. Kami beserta jajaran Petinggi dan BPD dijamu makan malam. Menunya soto ayam dan es cendol. Serasa, sekali lagi, pejabat saja!
Hari kesembilanbelas
6 Agustus 2011. Kami datang kepagian di posyandu “Sidotresno” di Krajan itu. Lantai masih dipel oleh pemilik rumah (posyandu berada di rumah warga). Baru dua jam kemudian, ibu-ibu mulai berdatangan.
Balita-balita menjerit-jerit kala ditimbang. Berat badan mereka ada yang bertambah, ada pula yang menyusut.
Kami memberi sedikit penyuluhan tentang pemberian ASI yang baik dan kesehatan pascamelahirkan—yang mendapat tanggapan beragam dari ibu-ibu yang hadir. Acara berakhir tepat di pukul 9.30. Kami pun melajukan motor ke arah Balai Desa untuk melaksanakan agenda selanjutnya: pelatihan komputer bagi perangkat desa.
Pelatihan komputer tak mengalami kendala berarti. Tujuh orang dilatih oleh sepuluh mahasiswa di ruang pertemuan Balai Desa. Mereka diajar tentang Microsoft Word dan Excel. Berlatih membikin surat, amplop, dan tabel yang baik. Para perangkat yang kebanyakan sudah berusia lanjut itu belajar dengan antusias dan tak kenal lelah. Hingga jam dinding menunjukkan pukul 11.30, kegiatan itu diakhiri.
Dalam perjalanan pulang, kami mendapat kabar dari teman-teman Desa Pendem, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) sudah sampai ke posko mereka. Jadi, kami buru-buru balik ke posko, mempersiapkan penyambutan buat sang DPL.
Beberapa menit menunggu. Rezha, yang turun ke Pendem menjemput DPL, datang bersama Ir Adi Susanto, MSc. Kami cukup kaget karena Pak Adi mestinya adalah DPL untuk wilayah pesisir semacam Tubanan dan Kaliaman, bukan wilayah dataran tinggi atau pegunungan. Menurut kesepakatan awal, DPL kedualah, Kusyogo Cahyono, SKM, MKes, yang mestinya berkunjung ke posko kami.
Pak Adi tiba dengan mengendarai sepeda motor bebek. Menempuh perjalanan sejauh itu, ia tak memakai perlengkapan berkendara yang memadai. Ia cuma memakai helm dan jaket tipis, tanpa pelindung debu maupun sarung tangan. Kami sangat prihatin: “orang muda” mana yang tahan melihat itu terjadi? Kami berdoa semoga ia selamat sampai Semarang.
Pak Adi memeriksa Kartu Kontrol (K-1) kami sembari mengajukan sedikit pertanyaan dan komentar. Ia juga beramah-tamah dengan Pak Inggi seraya berpesan, tolong jaga kami dalam melaksanakan kegiatan KKN di desa ini.
Setelah DPL pulang, kami pun segera bersiap. Kami hendak mengadakan sosialisasi dan pertemuan perdana BKR. Targetnya, para pemuda di Nglarangan. Besok, kami bakal mengadakan pertemuan serupa untuk Krajan dan Gerot.
Pukul 15.30. Gedung Muslimat NU yang rencananya bakal kami pergunakan, sudah siap. Beberapa pemudi telah berkumpul di sekitar lokasi. Cuma tinggal pemudanya, yang tak seorang pun menunjukkan batang hidungnya. Dalam pada itu, Mbah Umar dan Mbah Sampan, ketua RT 1 RW 4, turut hadir. Paras tua semangat muda.
Sampai hampir pukul 17.00, acara belum hendak dimulai lantaran masih sedikit yang datang, terutama dari kalangan pemuda. Pukul 17.00, mau tak mau, acara mesti segera dimulai. Pembahasan pertama adalah soal pernikahan dini.
Materi kedua adalah bahaya narkotika dan obat-obatan terlarang. Ketika sesi tanya-jawab dibuka oleh moderator, beberapa peserta mengajukan pertanyaan mereka. Saban pertanyaan, segera saja ditimpali pertanyaan lain. Meski agak ceplas-ceplos, acara itu telah menimbulkan suasana diskusi yang persuasif.
Sehabis Tarawih, kami diundang main ke rumah Sudarmono, salah seorang terpelajar di Dudakawu. Sudarmono pertama kali kami sua tatkala Musyawarah Desa Perencanaan dan Khusus Perempuan. Ia terpilih sebagai sekretaris TPK PNPM 2011.
Sudarmono lulusan Universitas Muria Kudus tahun 2011, Jurusan Teknik Informasi dan Komunikasi. Sosok semacam dia jarang sekali ditemukan di Dudakawu, mengingat kesempatan pendidikan kebanyakan pemuda sangatlah terbatas.
Rumahnya berada di Krajan, beberapa meter dari Balai Desa. Ia menyambut kami dalam balutan sarung, jaket, dan kopiah: khas “santri” gunung. Kami dipersilakan masuk ke rumah, digelari tikar, dan disuguhi penganan anekaragam beserta teh manis. Kami mengobrol hingga pukul 22.30.
Hari keduapuluh
7 Agustus 2011. Teman kami Yemima (biasa dipanggil Iyem) pergi hendak beribadah ke gereja di Bangsri. Di Kembang belum berdiri satu pun gereja rupanya.
Sementara itu, teman-teman yang lain pergi mengajar di MI Miftahul Huda. Selesai mengajar, kegiatan dilanjutkan dengan pengecatan papan (dua buah) sumbangan dari Balai Desa. Papan pertama rencananya bertuliskan “Sendang Sinatah: 3,5 km”, sedangkan papan kedua bertuliskan “Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Lestari”.
Dalam melakukan pengecatan itu, kami diributkan dengan datangnya beberapa siswa MI yang main ke posko. Mereka hendak mengonsultasikan PR mereka.
Di rumah, Pak Inggi panen jagung. Jagung berton-ton diangkut dari ladang ke rumahnya untuk kemudian diupil dan dijemur. Satu kilogram jagung yang telah diupil dan dijemur, kata Pak Inggi, dijual ke pabrik tepung dengan harga Rp 2.700,-
Alat pengupil jagung yang dipakai masih sederhana: jagung digesek-gesekkan ke ban mobil bekas. Mengapa tak memakai mesin? Selain mampu memberdayakan sebanyak mungkin orang, alat pengupil jagung manual semacam itu juga membuat nilai jual jagung jadi tinggi karena hasil yang diperoleh jauh lebih bersih.
Sorenya, kami bersiap ke Gedung TPQ sekaligus TK Lestari di Krajan buat menyelenggarakan pertemuan BKR untuk pemuda Krajan dan Gerot. Sudah banyak anak berkumpul di depan sekolah. Kamituwa Mulyadi juga hadir. Rupanya ia yang menggerakkan pemuda-pemudi di desanya.
Acara dilangsungkan di ruang kelas. Pesertanya sebagian besar remaja usia SMP. Sudarmono juga hadir bersama Budi, adik kandung Pak Carik.
Materi yang dibawakan lebih beragam ketimbang pertemuan di Nglarangan: pernikahan dini, bahaya narkoba, bahaya rokok, dan mitigasi bencana. Diskusi terjadi dengan tak kalah interaktif. Ketika qira’ (pembacaan al-Quran) menjelang beduk Magrib dilantunkan, acara pun bubarlah.
Kala bersiap pulang, Sudarmono mengundang kami berbuka di rumahnya—ajakan yang sungkan kami tolak. Rumahnya terletak sebelum persimpangan jalan menuju Balai Desa. Sangat bersahaja, laiknya makanan yang jadi suguhan berbuka: ikan mangut, keripik talas, telur dadar, dan mie goreng.
Setelah sampai rumah, ternyata Bu Inggi telah menyiapkan masakan seperti biasa. Memang salah kami yang tak memberitahu kepergian kami. Merasa tak enak hati, kami pun makan di kali kedua.
Pengecatan jalan menyongsong Tujuhbelasan ternyata diadakan malam ini. Para pejantan pun bersiap dan berkumpul bersama warga. Jalan yang dicat merupakan jalan RT sepanjang 500-an meter. Pinggir jalan dibersihkan memakai air atau sapu lidi, kemudian dikuasi cat putih selarik demi selarik. Sayang sekali, warga yang turut-serta dalam pengecatan bisa dihitung jari. Sampai pukul 09.00, bahkan sudah sepi, kendati jalanan belum selesai dicat.
Setelah selesai mengecat, kami ikut nimbrung (jagong) mengupil jagung bersama Pak Inggi dan tetangga, sampai tangan lecet karena tak biasa mengupil. []





Ditulis oleh sastrakelabu 














