Dudakawu: Permata Lereng Muria [3]

5 September 2011

Oleh A.P. Edi Atmaja

Pengantar:

Reportase ini merupakan pengamatan penulis saat mengikuti Kuliah Kerja Nyata di Desa Dudakawu, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara dari 19 Juli 2011 sampai 23 Agustus 2011.

Hari kelimabelas

Bersama Anak-anak PAUD

Bersama Anak-anak PAUD

2 Agustus 2011. Kami punya program yang sebenarnya bukan merupakan program formal kami. Ia ada berkat kebutuhan desa—dalam hal ini, atas usulan Bu Sri Nurhayati dalam pertemuan kader posyandu.

Program itu berkaitan dengan nonaktifnya kegiatan pemuda di desa ini. Bu Sri berniat membangkitkan kembali Bina Keluarga Remaja (BKR) sebagai wadah bagi pemuda melangsungkan kegiatannya. Dan fungsi kami adalah memberi asupan materi buat pemuda-pemuda terpilih yang diharapkan mampu mengemban tugas pembangkitan itu.

Kami memutar akal bagaimana cara mengumpulkan seluruh pemuda di Dudakawu, dari Nglarangan sampai Gerot. Maka, kami memutuskan hendak mendekati kamituwa masing-masing dukuh. Dari situ, kami berharap, akan diperoleh nama-nama pemuda potensial yang bisa kami kumpulkan dalam satu penyuluhan.

Pertama-tama, kami berkunjung ke kamituwa Nglarangan pada 28 Juli kemarin. Hari ini, kami coba sowan kembali ke rumah Mbah Saryadi, kamituwa Gerot. Sekali lagi kami kecele: yang bersangkutan tak kami jumpai di rumah. Selalu saja ia sedang berada di ladang nan jauh di gunung.

Sementara tim Gerot pulang dengan tangan hampa, tim kamituwa Krajan berhasil menemui Pak Mulyadi. Selain itu, tim papanisasi juga berbelanja bahan-bahan dan perangkat yang dibutuhkan untuk program papanisasi.

Hari keenambelas

3 Agustus 2011. Dari raut-wajah siswa-siswi Pendidikan Anak Usia Dini, kami temukan kepolosan manusia.

Kebanyakan siswa menggelendot dan tak mau lepas dari ibunya. Sebagian lainnya berada dalam gendongan dan susuan. Cuma sedikit yang dengan berani berlarian ke sana-ke mari, seolah mau berkata, “Ini lho, aku.”

Ketika kami tiba di PAUD bersahaja itu, beberapa pasang mata menatap kami bulat-bulat. Tatapan mata tak seseram sebelumnya kala kami salami mereka, ibu-ibu beserta anak mereka, satu per satu. Suasana jadi demikian cair ketika kami putar lagu anak-anak dan bernyanyi bersama siswa-siswi PAUD itu. Bahkan, beberapa di antaranya berani menyanyi di tengah lingkaran—meski tak begitu jelas dalam pelafalan.

Seluruh siswa—berjumlah 30-an—PAUD yang bertempat di Dukuh Gerot itu hadir dalam Gerakan Cuci Tangan Memakai Sabun yang kami adakan. Program kami mendulang keberhasilan.

Jam 9.00 kami hengkang dari PAUD menuju SD Negeri 3 Dudakawu, hendak mengajar kelas 4, 5, dan 6. Kami diberi waktu sampai pukul 11.00.

Pulang ke posko, dua anak SD, Dika dan Abib, bermain-main ke posko. Mereka cukup lama mengobrol dengan kami. Di akhir perjumpaan, mereka mengajak bermain Playstation (PS). Sungkan menolak, kami turuti ajakan itu. Tak rugi, karena dari tempat mangkal bermain PS, kami berkenalan dengan banyak warga yang sejatinya ingin mengenal kami lebih dekat.

Hari ketujuhbelas

Pelatihan Jurnalistik

Pelatihan Jurnalistik

4 Agustus 2011. SMP Negeri 4 Kembang, seperti halnya SD Negeri 3 Dudakawu, terletak di depan Balai Desa. Bangunannya sangat mungil, berbentuk huruf “L”: sisi yang panjang adalah kelas 7, 8, dan 9, sementara sisi pendeknya menjadi ruang guru dan UKS.

Praktis, cuma ada satu kelas di masing-masing jenjang kelas. Itu pun dengan murid tak lebih dari 30 orang. Murid-muridnya tersebar di Dudakawu dan sekitarnya, seperti Pendem dan Bucu.

Kami melakukan pembimbingan belajar tepat pukul 12.00, seusai bubaran sekolah. Sepuluh orang menyebar tiga-tiga ke tiga kelas, mengajar selama satu jam. Satu hal yang kami catat: murid-murid itu sebenarnya pintar, meski mereka pada awalnya sering tampak tak serius dan malu-malu tatkala diajak berdiri di depan. Ketika mempraktikkan naskah percakapan dalam matapelajaran Bahasa Inggris, misalnya, mereka mampu melafalkan dengan cukup fasih setelah berhasil digeret ke depan dengan susah-payah. Kepintaran khas anak desa, kami kira.

Pukul 13.00, kami pulang ke posko. Johan dan Yemi lantas pergi lagi, berbelanja peralatan dan bahan-bahan buat papanisasi.

Sehabis Tarawih, kami dikejutkan oleh tamu yang tak disangka-sangka. Ia memperkenalkan diri sebagai Sumari yang, kami ketahui kemudian, ternyata bertempat-tinggal di belakang posko kami. Pria berusia 30-an tahun berambut cepak itu memulai sapaan hangat dengan: “Kenapa pintu posko KKN selalu tertutup?”

Ia mengaku diri sebagai representasi dari aspirasi tetangga-tetangga kami yang, menurutnya, menganggap kami jarang bergaul, selalu ndhekem di rumah, tak pernah bersosialisasi, tak pernah menyapa saat berpapasan, dan segala macam “keburukan khas pendatang” lainnya—yang ujung-ujungnya melahirkan pernyataan (atau kenyataan?) final: mahasiswa KKN kok nggak ada baunya!

Baru kali itu ada tetangga bertamu ke posko dengan nada sinis semacam itu.

Demo Pembuatan Emping Jagung

Demo Pembuatan Emping Jagung

Namun kami suka pada orang seperti Mas Sumari ini. Inilah kritik yang kami tunggu-tunggu. Kami memang mengakui, kami sangat kurang bisa berkunjung ke banyak tetangga. Selain karena padatnya program, sarana untuk itu juga terbatas. Cuma ada empat motor yang kami pakai secara “brutal” untuk mengangkut sepuluh orang. Ada motor yang selalu dipakai tumpuk-tiga, padahal medannya naik-turun. Kadangkala, motor-motor dengan jumlah minim itu dipakai pula dengan melangsir: mengangkut bolak-balik dari tempat satu ke tempat lain.

Komposisi laki-perempuan yang sangat tidak proporsional (7:3) juga kami rasa mengganggu gerak kami. Siang kami habiskan buat berkegiatan, jadi nyaris cuma malam harilah waktu efektif untuk kunjungan-kunjungan dari Ngalarangan sampai Gerot. Padahal, sangat berbahaya bagi perempuan keluar di malam hari seperti itu. Selain dari diri perempuan-perempuan itu sendiri (kebanyakan takut pada gelap dan makhluk-irasional-entah-apa), malam hari sangat rawan kejahatan di desa terpencil nan sepi seperti Dudakawu ini.

Alhasil, ketika, barangkali, tim desa lain leluasa keluyuran bahkan hingga jam 12 malam, kami dari jam 7 petang pun sudah mengunci diri di rumah. Seyogianya, di masa medatang, LPPM mengonsep dengan cermat rasio lelaki-perempuan yang efektif demi kesuksesan program KKN itu sendiri. Bukannya kami menafikan kesetaraan gender, buat sampai ke tahap itu rupanya masih sangat jauh. Karena yang namanya perempuan, tetap saja seorang perempuan.

Mas Sumari mengobrol hingga larut malam. Ia bercerita soal pengalaman hidupnya yang sangat kaya. Ia satu contoh pemuda Dudakawu yang menghabiskan hidup di rantauan. Bekerja di Jakarta dan Sumatra sangat biasa baginya. Di masa mudanya, ia terus-terang mengaku pernah jadi preman Terminal Bangsri, yang kerap berurusan dengan polisi.

Ada saja bahan pembicaraan yang dengan cergas ia ceritakan. Apalagi setelah Pak Inggi nimbrung dalam jagongan itu. Luar-biasa. Baru ketika sampai jam-jam sahur, Pak Sumari berpamitan pulang.

Hari kedelapanbelas

Palatihan Komputer

Palatihan Komputer

5 Agustus 2011. Kami berangkat ke SD Negeri 1 Dudakawu dengan berjalan kaki. Letaknya sekitar 750 meter dari posko, jadi masih berada di Ngalarangan. Seperti kebanyakan sekolah di desa ini, SD Negeri 1 Dudakawu berdiri dengan penuh keterbatasan.

Kelas lima dan enam yang kami ajar cuma mempunyai murid lima dan tujuh orang. Kelas empat tidak ada karena ketiadaan murid. Tragis.

Keadaan ini diperparah oleh persaingan antara SD ini dengan MI Miftahul Huda, yang terletak tak jauh dari situ, masih di Nglarangan. Jumlah murid MI jauh lebih banyak kendati di SD Negeri 1 Dudakawu sudah dicanangkan program Sekolah Gratis. Menurut Pak Inggi, semua itu terjadi karena fanatisme agama demikian kental di sini. Orangtua yang hendak menyekolahkan anaknya diprovokasi oleh oknum tertentu yang mengklaim bahwa masuk SD berarti masuk neraka. Karena di SD, pelajaran agama (Islam) sangat minim.

Selain itu, masih menurut Pak Inggi, sangat langkanya siswa yang bersekolah di SD (terutama SD Negeri 1 Dudakawu) lantaran klik ormas. Terdapat dua ormas besar di sini: NU dan Muhammadiyah. Anggotanya memiliki sentimen keagamaan yang khas, seperti banyak terjadi di tempat lain. NU direpresentasikan oleh MI, sedangkan Muhammadiyah direpresentasikan oleh SD. Anak-anak dengan orangtua seorang  nahdliyin pasti disekolahkan ke MI, tak peduli seberapa melangitnya biaya sekolah. Sementara SD sejak lama dicap sebagai sekolah orang-orang Muhammadiyah, entah sejak kapan cap itu ada.

Kami mengajar sampai jam 9.00. Kepada semua guru kami berpamitan, hendak melanjutkan kegiatan Praktik Pembuatan Emping Jagung.

Ibu-ibu PKK perwakilan masing-masing RW di Dudakawu berkumpul di gedung mungil berdebu itu. Mereka duduk di bangku panjang di gedung yang dipergunakan sebagai madrasah diniyah (sekolah agama di waktu sore). Seperti biasa, kami bertemu Bu Sri.

Acara dimulai dengan mars PKK. Selanjutnya, waktu sepenuhnya menjadi milik kami.

Kami menerangkan semua tahapan pembuatan emping jagung. Mulai dari saat jagung dipetik, diupil biji-bijinya, dijemur, direndam air kapur, dicuci, dikukus, dipipihkan, dijemur lagi, hingga emping siap digoreng. Ibu-ibu turut antusias praktik memipihkan jagung. Malah ada yang bertanya, apa lagi makanan yang bisa dibikin dari bahan jagung. Kami kelabakan karena ibu-ibu meminta demo lanjutan dengan menu berbeda.

Sepulang dari kegiatan, siang hari, kami kerjakan Kartu Kontrol (K-1) bersama-sama.

Malamnya, kami diundang mengikuti Tarawih Keliling bersama Pak Inggi di Masjid Baitussalam, Krajan. Masjid itu baru saja dibangun dan tampak megah. Namun, jamaahnya tak melebihi setengah dari isi masjid meski diembel-embeli kehadiran Petinggi beserta perangkat dan anggota Badan Perwakilan Desa.

Direncanakan bakal ada enam jadwal Tarawih Keliling di enam masjid berbeda, yang ada di Ngalarangan, Krajan, dan Gerot.

Tarawih berlangsung khusyuk dengan diimami Pak Mulyadi. Usai pukul 20.30, jamaah duduk melingkar, mendengarkan sambutan dan pengarahan dari Petinggi. Kami dikasih kesempatan untuk memberikan sambutan di tengah-tengah jamaah.

Selepas Tarawih Keliling, ternyata tak langsung pulang. Kami beserta jajaran Petinggi dan BPD dijamu makan malam. Menunya soto ayam dan es cendol. Serasa, sekali lagi, pejabat saja!

Hari kesembilanbelas

Di SD Negeri 1 Dudakawu

Di SD Negeri 1 Dudakawu

6 Agustus 2011. Kami datang kepagian di posyandu “Sidotresno” di Krajan itu. Lantai masih dipel oleh pemilik rumah (posyandu berada di rumah warga). Baru dua jam kemudian, ibu-ibu mulai berdatangan.

Balita-balita menjerit-jerit kala ditimbang. Berat badan mereka ada yang bertambah, ada pula yang menyusut.

Kami memberi sedikit penyuluhan tentang pemberian ASI yang baik dan kesehatan pascamelahirkan—yang mendapat tanggapan beragam dari ibu-ibu yang hadir. Acara berakhir tepat di pukul 9.30. Kami pun melajukan motor ke arah Balai Desa untuk melaksanakan agenda selanjutnya: pelatihan komputer bagi perangkat desa.

Pelatihan komputer tak mengalami kendala berarti. Tujuh orang dilatih oleh sepuluh mahasiswa di ruang pertemuan Balai Desa. Mereka diajar tentang Microsoft Word dan Excel. Berlatih membikin surat, amplop, dan tabel yang baik. Para perangkat yang kebanyakan sudah berusia lanjut itu belajar dengan antusias dan tak kenal lelah. Hingga jam dinding menunjukkan pukul 11.30, kegiatan itu diakhiri.

Dalam perjalanan pulang, kami mendapat kabar dari teman-teman Desa Pendem, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) sudah sampai ke posko mereka. Jadi, kami buru-buru balik ke posko, mempersiapkan penyambutan buat sang DPL.

Beberapa menit menunggu. Rezha, yang turun ke Pendem menjemput DPL, datang bersama Ir Adi Susanto, MSc. Kami cukup kaget karena Pak Adi mestinya adalah DPL untuk wilayah pesisir semacam Tubanan dan Kaliaman, bukan wilayah dataran tinggi atau pegunungan. Menurut kesepakatan awal, DPL kedualah, Kusyogo Cahyono, SKM, MKes, yang mestinya berkunjung ke posko kami.

Pak Adi tiba dengan mengendarai sepeda motor bebek. Menempuh perjalanan sejauh itu, ia tak memakai perlengkapan berkendara yang memadai. Ia cuma memakai helm dan jaket tipis, tanpa pelindung debu maupun sarung tangan. Kami sangat prihatin: “orang muda” mana yang tahan melihat itu terjadi? Kami berdoa semoga ia selamat sampai Semarang.

Pak Adi memeriksa Kartu Kontrol (K-1) kami sembari mengajukan sedikit pertanyaan dan komentar. Ia juga beramah-tamah dengan Pak Inggi seraya berpesan, tolong jaga kami dalam melaksanakan kegiatan KKN di desa ini.

Setelah DPL pulang, kami pun segera bersiap. Kami hendak mengadakan sosialisasi dan pertemuan perdana BKR. Targetnya, para pemuda di Nglarangan. Besok, kami bakal mengadakan pertemuan serupa untuk Krajan dan Gerot.

Pukul 15.30. Gedung Muslimat NU yang rencananya bakal kami pergunakan, sudah siap. Beberapa pemudi telah berkumpul di sekitar lokasi. Cuma tinggal pemudanya, yang tak seorang pun menunjukkan batang hidungnya. Dalam pada itu, Mbah Umar dan Mbah Sampan, ketua RT 1 RW 4, turut hadir. Paras tua semangat muda.

Sampai hampir pukul 17.00, acara belum hendak dimulai lantaran masih sedikit yang datang, terutama dari kalangan pemuda. Pukul 17.00, mau tak mau, acara mesti segera dimulai. Pembahasan pertama adalah soal pernikahan dini.

Materi kedua adalah bahaya narkotika dan obat-obatan terlarang. Ketika sesi tanya-jawab dibuka oleh moderator, beberapa peserta mengajukan pertanyaan mereka. Saban pertanyaan, segera saja ditimpali pertanyaan lain. Meski agak ceplas-ceplos, acara itu telah menimbulkan suasana diskusi yang persuasif.

Sehabis Tarawih, kami diundang main ke rumah Sudarmono, salah seorang terpelajar di Dudakawu. Sudarmono pertama kali kami sua tatkala Musyawarah Desa Perencanaan dan Khusus Perempuan. Ia terpilih sebagai sekretaris TPK PNPM 2011.

Sudarmono lulusan Universitas Muria Kudus tahun 2011, Jurusan Teknik Informasi dan Komunikasi. Sosok semacam dia jarang sekali ditemukan di Dudakawu, mengingat kesempatan pendidikan kebanyakan pemuda sangatlah terbatas.

Rumahnya berada di Krajan, beberapa meter dari Balai Desa. Ia menyambut kami dalam balutan sarung, jaket, dan kopiah: khas “santri” gunung. Kami dipersilakan masuk ke rumah, digelari tikar, dan disuguhi penganan anekaragam beserta teh manis. Kami mengobrol hingga pukul 22.30.

Hari keduapuluh

7 Agustus 2011. Teman kami Yemima (biasa dipanggil Iyem) pergi hendak beribadah ke gereja di Bangsri. Di Kembang belum berdiri satu pun gereja rupanya.

Sementara itu, teman-teman yang lain pergi mengajar di MI Miftahul Huda. Selesai mengajar, kegiatan dilanjutkan dengan pengecatan papan (dua buah) sumbangan dari Balai Desa. Papan pertama rencananya bertuliskan “Sendang Sinatah: 3,5 km”, sedangkan papan kedua bertuliskan “Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Lestari”.

Dalam melakukan pengecatan itu, kami diributkan dengan datangnya beberapa siswa MI yang main ke posko. Mereka hendak mengonsultasikan PR mereka.

Di rumah, Pak Inggi panen jagung. Jagung berton-ton diangkut dari ladang ke rumahnya untuk kemudian diupil dan dijemur. Satu kilogram jagung yang telah diupil dan dijemur, kata Pak Inggi, dijual ke pabrik tepung dengan harga Rp 2.700,-

Alat pengupil jagung yang dipakai masih sederhana: jagung digesek-gesekkan ke ban mobil bekas. Mengapa tak memakai mesin? Selain mampu memberdayakan sebanyak mungkin orang, alat pengupil jagung manual semacam itu juga membuat nilai jual jagung jadi tinggi karena hasil yang diperoleh jauh lebih bersih.

Sorenya, kami bersiap ke Gedung TPQ sekaligus TK Lestari di Krajan buat menyelenggarakan pertemuan BKR untuk pemuda Krajan dan Gerot. Sudah banyak anak berkumpul di depan sekolah. Kamituwa Mulyadi juga hadir. Rupanya ia yang menggerakkan pemuda-pemudi di desanya.

Acara dilangsungkan di ruang kelas. Pesertanya sebagian besar remaja usia SMP. Sudarmono juga hadir bersama Budi, adik kandung Pak Carik.

Materi yang dibawakan lebih beragam ketimbang pertemuan di Nglarangan: pernikahan dini, bahaya narkoba, bahaya rokok, dan mitigasi bencana. Diskusi terjadi dengan tak kalah interaktif. Ketika qira’ (pembacaan al-Quran) menjelang beduk Magrib dilantunkan, acara pun bubarlah.

Kala bersiap pulang, Sudarmono mengundang kami berbuka di rumahnya—ajakan yang sungkan kami tolak. Rumahnya terletak sebelum persimpangan jalan menuju Balai Desa. Sangat bersahaja, laiknya makanan yang jadi suguhan berbuka: ikan mangut, keripik talas, telur dadar, dan mie goreng.

Setelah sampai rumah, ternyata Bu Inggi telah menyiapkan masakan seperti biasa. Memang salah kami yang tak memberitahu kepergian kami. Merasa tak enak hati, kami pun makan di kali kedua.

Pengecatan jalan menyongsong Tujuhbelasan ternyata diadakan malam ini. Para pejantan pun bersiap dan berkumpul bersama warga. Jalan yang dicat merupakan jalan RT sepanjang 500-an meter. Pinggir jalan dibersihkan memakai air atau sapu lidi, kemudian dikuasi cat putih selarik demi selarik. Sayang sekali, warga yang turut-serta dalam pengecatan bisa dihitung jari. Sampai pukul 09.00, bahkan sudah sepi, kendati jalanan belum selesai dicat.

Setelah selesai mengecat, kami ikut nimbrung (jagong) mengupil jagung bersama Pak Inggi dan tetangga, sampai tangan lecet karena tak biasa mengupil. []


Dudakawu: Permata Lereng Muria [2]

30 Agustus 2011

Oleh A.P. Edi Atmaja

 

Pengantar:

Reportase ini merupakan pengamatan penulis saat mengikuti Kuliah Kerja Nyata di Desa Dudakawu, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara dari 19 Juli 2011 sampai 23 Agustus 2011.

 

Hari ketujuh

25 Juli 2011. Tak terasa, sudah sepekan kami berada di Desa Dudakawu tanpa kurang suatu apa. Malah, justru kamilah yang merasa bersalah karena belum melaksanakan program satu pun, cuma sebatas kunjungan (kayak pejabat aja!).

Di Dudakawu ini, kami temukan orang-orang luar-biasa. Bagaimana Pak Inggi memimpin demi kemajuan desanya, tak perlu diragukan lagi kesungguhannya. Kemudian Pak Jamin yang sangat berpengalaman dan cekatan. Bu Sri Nurhayati—pengajar PAUD sekaligus sekretaris TPK PNPM—yang ibarat srikandi desa. Mbah Umar—ketua RT 1 RW 5—yang multitalenta dan sangat nasionalis (ia yakin semua agama adalah sama, sehingga kita mesti mempelajari semuanya). Mas Dwi—ketua TPK PNPM—putra desa yang masih muda tapi banyak memberi sumbangsih bagi desa. Dan masih banyak lainnya, yang kami “temukan” kedudakaawuan mereka setelah kunjungan-kunjungan itu.

Hari kedelapan

26 Juli 2011. Kami diminta Pak Inggi mengantar proposal ke beberapa instansi di kabupaten. Beberapa proposal yang diajukan di antaranya proposal pengecoran jalan, pengaspalan jalan, perbaikan sarana olahraga voli, dan pendirian poskamling. Menurut dia, mahasiswa KKN akan memberi nilai lebih dalam hal tembusnya proposal-proposal itu.

Pagi-pagi kami turun ke kantor kecamatan buat meminta tanda-tangan Camat Kembang, Samiadji, SSos. Namun, tak dinyana, ia tak berada di tempat, sedang mengikuti pelatihan di Semarang. Maka kami putuskan, akan kembali pada Jumat besok.

Lama tinggal dengan fasilitas terbatas membuat kami selalu memanfaatkan kesempatan yang ada secara maksimal. Contohnya, saat kami “turun gunung” semacam ini. Gagal dapat tanda-tangan, agenda lain segera diupayakan. Kami fotokopi semua bahan pamflet (penyuluhan UU Penghapusan KDRT dan pembuatan chicken nugget) dan membeli semua perlengkapan Gerakan Cuci Tangan Pakai Sabun di PAUD. Sabun-cair-pencet untuk cuci tangan amatlah susah dicari di Kembang, tapi akhirnya kami temukan di Bangsri.

Demo Pembuatan Nugget

Demo Pembuatan Nugget

Siang, jam 14.00, kami buru-buru mendatangi rumah Bu Susi. Di sana, kami mempersiapkan segala hal sebelum melakukan demo pembuatan chicken nugget ke ibu-ibu PKK. Tuan rumah sangat mendukung program kami dengan menyiapkan segala peralatan yang dibutuhkan. Demo pembuatan chicken nugget terbilang sukses dan menyedot perhatian ibu-ibu PKK di Dudakawu.

Satu hal yang menggelitik hati, kami dapati “ibu-ibu” itu ternyata berusia jauh di bawah usia kami. Banyak terjadi pernikahan dini di sini. Kenapa itu bisa terjadi? Faktor utamanya ternyata pendidikan. Kebanyakan anak putus sekolah ketika tamat SMP karena keadaan ekonomi orangtua tak mendukung. Apa yang bisa dilakukan orangtua pada anak-anak mereka—utamanya perempuan—yang tak punya kegiatan apa-apa di rumah? Tak ada pilihan lain selain mengawinkannya! Dengan kawin, hilanglah kewajiban orangtua pada sang anak. Memang tragis.

Miris rasanya melihat perempuan-perempuan itu: masih belia tapi berwajah tua dan mesti menggendong balita  lantaran tekanan hidup yang datang sangat cepat.

Rezha Mehdi Bazargan mengemukakan hipotesis: masalah pernikahan dini di Dudakawu ada kaitannya dengan sepeda motor sebagai alat transportasi utama di sini. Kebanyakan anak usia SD sudah bisa (baca: diajari) cara mengendarai sepeda motor. Di SD Negeri 3 Dudakawu, misalnya, sangat biasa kita temukan siswa mengendarai motor ke sekolah. Maklumlah, banyak juga murid yang bertempat tinggal puluhan kilometer dari sekolah.

Nah, di sinilah hipotesis itu bermula. Terampilnya siswa SD dalam mengendarai motor bisa kita sebut sebagai “percepatan budaya”—sampel dari budaya dalam narasi besarnya. Bayangkan, keterampilan bermotor saja sudah diajarkan plus dikuasai dengan amat dini, bagaimana dengan “keterampilan” yang lain?

Hari kesembilan

27 Juli 2011. Pagi-pagi kami sudah bersiap, belum mandi tapi sudah membalut diri dengan jaket KKN. Kami, Rezha, Johan, dan Edi—tiga orang perjaka dari Tim KKN Dudakawu—harus mengikuti pengecoran jalan di RT 1 RW 5.

Belum-belum, kami mesti mengangkat molen (alat pengaduk semen dan pasir) bersama warga. Berat nian molen itu. Namun, usaha bersama akhirnya mampu membuat molen itu nangkring dengan manis di mobil pickup yang membawanya ke tempat pengecoran.

Jalan yang bakal dicor sepanjang kurang-lebih 500 meter. Aspal jalan telah mengelupas saking tipisnya lapisan aspal—sehingga yang tersisa dari jalan itu tinggal batu-batu kasar dan tanah liat yang bergeronjal di musim kemarau dan bikin becek di musim hujan.

Seluruh warga se-RT bahu-membahu. Tak ketinggalan ibu-ibu yang mestinya beres-beres rumah. Bahkan, jumlah mereka paling banyak di antara 40 orang yang hadir. Dengan bercaping dan cuma memakai daster, mereka turut menggotong pasir dan batu kali.

Tim KKN Dudakawu dalam Pengecoran Jalan RT 1 RW 5

Tim KKN Dudakawu dalam Pengecoran Jalan RT 1 RW 5

Sangat disayangkan, nyaris tak terlihat seorang pemuda pun di sini. Yang tampak cuma pria-pria dewasa dan usia lanjut, selebihnya anak-anak usia SD. Pemuda desa sangat sukar ditemukan lantaran mereka semua merantau mencari kerja ke desa, kota, bahkan pulau lain.

Pengecoran itu membutuhkan persiapan yang lama. Aspal harus dikupas seluruhnya demi membuat cor jadi kokoh. Kerikil mesti disingkirkan satu per satu. Dan itu sungguh melelahkan. Jam 10.00, kami pun minta diri pada ketua RT 1 RW 5, Mbah Umar.

Sementara para pejantan ikut pengecoran jalan, para perempuan menyebar ke beberapa sekolah buat mengonfirmasi agenda bimbingan belajar. Mereka pergi ke SD Negeri 1 Dudakawu, SD Negeri 3 Dudakawu, SMP Negeri 4 Kembang, MI Miftahul Huda, dan PAUD.

Sorenya, kami bertamu di rumah Pak Carik lagi. Petang hari, kami shalat berjamaah di masjid.

Hari kesepuluh

28 Juli 2011. Kami mandi lebih pagi ketimbang biasa buat menghadiri Musyawarah Desa Perencanaan dan Musyawarah Khusus Perempuan sekaligus Pembentukan TPK PNPM 2011. Setelah acara itu, kami berencana hendak memberi penyuluhan tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT). Balai Desa sangat ramai kala kami ke sana. Sudah datang ibu-ibu bersama balita-balita mereka.

Musyawarah Desa Perencanaan dan Khusus Perempuan

Musyawarah Desa Perencanaan dan Khusus Perempuan

Ternyata Dudakawu adalah desa yang cukup feminis. Betapa tidak, dalam setiap pengambilan keputusan selalu memerhatikan pendapat perempuan. Dan dalam musyawarah pengusulan program pembangunan desa ini, kaum perempuan diberi kesempatan seluas-luasnya buat mengemukakan pendapat.

Musyawarah berlangsung dengan sangat meriah. Banyak orang mengusulkan progam: mulai dari pengecoran jalan, pendirian jembatan, hingga penyediaan alat permainan edukatif (APE) untuk anak-anak. Usulan ditampung untuk dirumuskan kembali oleh TPK, yang lantas bakal mengajukannya ke pemerintah pusat.

Pembentukan TPK baru memantik sedikit konflik. Acara yang diagendakan rampung pada jam 10.00 baru berakhir pada pukul 11.30. Pengunduran diri dan ketidaksediaan-dicalonkan-kembali Mas Dwi menimbulkan pembentukan TPK baru berlangsung cukup panas. Suasana panas mereda setelah terpilih susunan anggota TPK baru yang disepakati bersama.

Jam 11.30, kendati meleset dari rencana semula, Pak Carik memberi kami waktu 10 menit untuk melakukan penyuluhan tentang Penghapusan KDRT. Pamflet dan stiker kami bagikan. Penyuluhan kami, meski singkat, memperoleh apresiasi cukup positif dari hadirin.

Pulang dari Balai Desa, segera kami lakukan persiapan pembuatan emping jagung: rebusan jagung yang telah melalui proses penjemuran dan perendaman dengan air kapur kami uleg dan ratakan menjadi pipih lantas dijemur kembali.

Sehabis Magrib, kami berkunjung ke kediaman kamituwa Ngalarangan, Sujud, buat meminta izin (nembung) soal sosialisasi sekaligus pencanangan Bina Keluarga Remaja (BKR) yang bakal melibatkan kaum muda di Dukuh Nglarangan. BKR merupakan proyek yang dirintis oleh Bu Sri dalam rangka menghidupkan kembali organisasi kepemudaan.

Sesampainya di rumah, Mbah Sujud ternyata lagi menghadiri satu undangan ruwahan (dedoa yang ditujukan untuk leluhur yang telah wafat menyongsong datangnya bulan suci Ramadhan). Sembari menunggu, tuan-rumah menyuguhi kami makan malam yang dengan sungkan kami tampik.

Mbah Sujud adalah seorang nahdliyin (sebutan bagi “orang” Nahdlatul Ulama, baik secara kultural maupun organisatoris) sejati. Rumahnya nan bersahaja amat kental nuansa ke-NU-an: potret Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, Walisanga, dan lambang NU. Ia berusia lebih-kurang enam dasawarsa tapi nampak masih bugar—pertanyaan kami dijawab dengan demikian lancar.

Ibu-ibu pun Turut Membantu

Ibu-ibu pun Turut Membantu

Terdapat dua RW (RW 4 dan RW 5) yang terdiri dari lima RT di Dukuh Nglarangan. Masing-masing RT diketuai oleh Sampan (RT 1 RW 4), Kemijan (RT 2 RW 4), Umar (RT 1 RW 5), Nur Adzim (RT 2 RW 5), dan Abdul Jalil (RT 3 RW 5).

Pulang dari rumah Mbah Sujud, rupanya Mbah Umar telah menanti. Ia bertamu di posko kami dengan membawa senter (hendak meronda rupanya). Ia bercerita ngalor-ngidul seperti yang sudah-sudah. Ia agung-agungkan semangat Soekarno, sama militannya ketika ia menjunjung tinggi Pancasila. Tak ketinggalan, semangat kesamaan dan kesatuan agama-agama. Ia baru pamit setelah tempo menunjukkan pukul 22.30.

Hari kesebelas

29 Juli 2011. Jumat pagi yang cerah, para pejantan sudah menguber-uber parang dan arit. Ada kerjabakti seluruh warga RT 2 RW 5. Rumput-rumput yang menganggu pemandangan kanan-kiri jalan dibabati sampai habis. Kemudian dibakar.

Setelah kerjabakti selesai, para pejantan tak langsung mandi karena mesti ikut pula pengecoran jalan yang kemarin sudah dimulai. Sampai kira-kira jam 11.

Sementara pejantan berolah fisik, yang lain turun ke kantor kecamatan, mencari tandatangan Sekretaris Kecamatan. Ternyata yang bersangkutan tak berada di tempat. Akhirnya proposal Perbaikan Sarana Olahraga Voli itu pun kami tinggal dan akan kami ambil Senin esok hari.

Sehabis shalat Jumat, penyuluhan Peningkatan Produksi Ternak Sapi Potong pun kami persiapkan. Tempatnya di Balai Desa, mengundang 20 orang lebih yang masing-masing terdiri dari perwakilan kelompok tani. Acara yang pada mulanya mengundang pembicara dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Jepara pun berjalan lancar meski yang bersangkutan membatalkan kedatangan secara sepihak dan mendadak.

Alhasil, cuma Kardina Enny DK yang menjawab seluruh pertanyaan para peternak sapi yang kaya pengalaman itu. Di sinilah teori di bangku perkuliahan dan praktik di lapangan bergelut mesra. Semua orang, baik Dina maupun para peternak, mendapat pembelajaran yang seimbang.

Hari keduabelas

30 Juli 2011. Hari ini tiga orang anggota tim meninggalkan tempat KKN. Mereka harus menyelesaikan urusan masing di Semarang (Edi dan Yemima Anggraeni) dan Rembang (Johan).

Anggota tim yang masih berada di lokasi, melanjutkan program yang telah diagendakan sebelumnya. Pukul 10.00, kami ke Balai Desa, hendak memberi pelatihan Microsoft Office buat perangkat desa. Acara rampung pukul 11.30.

Hari ketigabelas

31 Juli 2011. Johan kembali dari Rembang jam 16.00. Ia langsung diajak Ayu, Dina, dan Rosmalia Safitri main-main ke Alun-alun Jepara.

Edi sampai posko dari Semarang pas Isya. Masjid sudah berkumandang adzan, bersiap melaksanakan shalat Isya dan Tarawih perdana. Posko sepi karena ternyata Rezha, Rizka, Nur Wulan Aprilia, dan Tri Wahyuni diajak Pak Inggi berkeliling Jepara mencari ikan segar.

Tim kumpul lengkap—kecuali Yemi—setelah pukul 22.00. Mereka berkumpul di dapur bersama Pak Inggi sekeluarga. Suasana saat itu benar-benar hangat. Pak Inggi berkisah tentang pengalamannya kala terpilih menjadi Petinggi Dudakawu—betapa di desa sesunyi itu pun, persaingan politiknya demikian kuat. Selain itu, ia bercerita pula tentang asal-muasal kawasan Kembang.

Kembang sebetulnya nama dukuh di Desa Jinggotan. Dan ia pun cuma perluasan dari Kecamatan Bangsri. Jadi, Bangsri sudah ada lebih dulu—tak heran kemajuan terlihat pesat di sana. Soal riwayat pun, Bangsri yang jadi cikal-bakal dari daerah-daerah lain.

Pada mulanya, seorang bernama Ki Gedhe Bangsri (yang makamnya dibangun dengan sangat megah di Bangsri). Ia merupakan salah seorang murid Sunan Muria—satu dari sembilan anggota dewan wali yang disebut Walisanga. Ia memiliki seorang putri. Sang Putri teramat cantiknya sehingga ditaksir lantas dilamar Surajatha, seorang sakti-mandraguna yang menguasai segala jenis ilmu hitam. Namun, Sang Putri ogah menerima pinangan itu. Ia pun kabur dari Surajatha. Surajatha bukan pria yang mau dihinakan perempuan begitu saja. Ia bertekad membawa pulang putri pujaannya itu dengan cara apa pun.

Berkat kesaktiannya, Surajatha mengendus keberadaan Sang Putri di tempat orang berjualan wedel (pusar) sapi. Karena jadi tempat persembunyian buruannya, Surajatha membunuh si penjual wedel. Untung Sang Putri berhasil kabur. Lama-kelamaan, tempat terbunuhnya penjual wedel sapi itu dinamakan Wedelan.

Sang Putri pun bergerak ke utara, sampailah ia di kediaman seorang penjual kembang. Penjual kembang itu mengizinkan Sang Putri ngumpet di rumahnya. Akan tetapi, Surajatha segera mengetahui tempat persembunyian itu. Ia pun membunuh si penjual kembang dan, buat kedua kalinya, Sang Putri berhasil lolos. Tempat itulah yang sekarang dinamakan Dukuh Kembang.

Dalam pelariannya yang ke sekian kali, Sang Putri bersembunyi di rumah seorang bernama Ki Jinggot. Surajatha segera ke sana dan berduel dengan Ki Jinggot. Namun, Ki Jinggot bukan lawan yang sepadan buat Surajatha. Ia akhirnya berhasil dibinasakan. Bekas pertarungan itu kini disebut Jinggotan.

Sang Putri terus lari ke utara. Mentoklah ia di laut. Akhirnya, Sang Putri sampai pada tingkat terjauh pengharapannya. Ia nekat menceburkan diri ke laut karena tak punya pilihan lain. Surajatha yang tercenung, meratapi nasib cintanya yang tragis, memutuskan ikut terjun dan mati pula bersama Sang Putri.

Sangat seru mendengarkan Pak Inggi berkisah. Habis satu cerita, ganti cerita lain. Ia, antara lain, juga mengenang masa silam Dudakawu yang penuh nuansa klenik. Sendang Sinatah, katanya, adalah tempat berkumpul segala dhemit (iblis menurut kepercayaan Jawa). Masyarakat Dudakawu mengenal dan mempraktikkan Islam secara sungguh-sungguh pun semenjak akhir-akhir ini. Sebelum itu, agama cuma dipakai sebatas label, tak dipraktikkan secara sepenuhnya (baca: sesuai syariat).

Obrolan terus berlanjut sampai tengah-malam.

Hari keempatbelas

1 Agustus 2011. Kami bersantai dengan tanpa keharusan bangun pagi-pagi. Hari ini puasa pertama dan semua instansi di Dudakawu libur. Tiada kunjungan ke Balai Desa, tiada sebar proposal ke kecamatan dan kabupaten, tiada bimbingan belajar ke sekolah-sekolah.

Praktis, tiada kegiatan berarti hari ini. Dalam pada itu, keluarga Rizka datang menjenguk dari Pati. []

*) Tulisan ini pernah dimuat dalam situs resmi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Diponegoro.


Sendang Sinatah: Mata Air Keramat yang Membawa Berkah

28 Agustus 2011

Oleh A.P. Edi Atmaja

 

Pengantar:

Reportase ini merupakan pengamatan penulis saat mengikuti Kuliah Kerja Nyata di Desa Dudakawu, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara dari 19 Juli 2011 sampai 23 Agustus 2011.

SENDANG SINATAH berada 11,6 km dari ibukota Kecamatan Kembang, Jinggotan, dan masuk ke dalam wilayah Desa Dudakawu. Desa Dudakawu adalah satu dari sebelas desa di Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, yang terletak persis di lereng Gunung Muria. Maka tak heran topografinya naik-turun dan suhunya relatif dingin.

Gerbang Depan

Gerbang Depan

Sendang Sinatah berwujud mata air (sendang) yang memancarkan air tak henti-henti. Suasana di sekitarnya sangat kuyup hijaunya pepohonan, karena Sendang Sinatah sesungguhnya masuk ke dalam wilayah hutan hujan tropis lereng Gunung Muria.

Para peziarah—datang dari segenap penjuru di Indonesia, mulai dari penduduk lokal, Semarang, Kendal, Jakarta, hingga Riau dan Kalimantan—mempergunakan air tersebut sebagai sarana penyembuhan, perantara jodoh, enteng rejeki, dan beragam hajat lain.

Sendang Sinatah dikeramatkan oleh masyarakat Dudakawu lantaran ia dipercaya pernah menjadi tempat persinggahan (petilasan) seorang wali. Wali—seseorang yang dipercaya oleh sebagian besar masyarakat pedesaan di Jawa memiliki kesaktian—tersebut berpesan kepada warga di situ (Dudakawu) supaya sendang itu dijaga dan dirawat karena kelak ia bakal memberi keberkahan pada warga.

Mataair (Sendang) Sinatah

Mataair (Sendang) Sinatah

Dan benar. Beberapa saat setelah persinggahan sang wali, orang berbondong-bondong mengunjungi sendang. Mereka meminta bermacam-macam hajat dan keinginan, dan berharap sendang tersebut bisa menjadi perantara keterkabulan hajat mereka. Maka, mulai saat itu sendang itu diberi nama Sinatah oleh Pemerintah Desa Dudakawu, yang lantas membangunnya secara swadaya.

Banyak orang yang hajatnya terkabul setelah berziarah di sendang. Mereka yang terkabul biasanya bernazar menyembelih sapi, kerbau, atau kambing, yang bisa diolah di tempat (disediakan dapur untuk mengolah daging nazar). Kabar dari mulut ke mulut tentang betapa mustajabnya sendang itu kian memopulerkan keberadaannya di segenap pelosok Nusantara.

Hutan di Sekitar Sendang Sinatah

Hutan di Sekitar Sendang Sinatah

Mau berkunjung? Sendang Sinatah rata-rata diziarahi oleh 3000-an orang tiap tahun. Buat masuk, peziarah mesti merogoh kocek Rp 3.000, yang dibayarkan kepada Juru Kunci. Peziarah pun mesti menyiapkan “bawaan wajib”, antara lain rokok, kembang, pisang goreng, onde-onde, dan air tapai (badhek). Mari beramai-ramai mengunjungi Sendang Sinatah! [Dudakawu, 27072011, 23:05]

*) Tulisan ini pernah dimuat dalam situs resmi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Diponegoro.


Dudakawu: Permata Lereng Muria [1]

27 Agustus 2011

Oleh A.P. Edi Atmaja

Pengantar:

Reportase ini merupakan pengamatan penulis saat mengikuti Kuliah Kerja Nyata di Desa Dudakawu, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara dari 19 Juli 2011 sampai 23 Agustus 2011.

KETIKA Pak Mulyadi mengantar kami pada survei kali pertama, Dudakawu serasa laiknya Bandungan. Jalan berliku-menanjak menghadang perjalanan kami, ditingkahi pepohonan di sana-sini. Rerumahan muncul di sela-selanya, renggang: khas pedesaan Jawa Tengah. Angin dingin menusuk pori-pori kami, empat dari sepuluh anggota tim KKN Dudakawu yang ikut dalam survei pertama ini.

Dudakawu di Lereng Gunung Muria

Dudakawu di Lereng Gunung Muria

Ternyata Pak Mulyadi bukan kepala desa, sebagaimana kami kira. Ia mengantar kami ke kediaman kepala desa sesungguhnya (disebut Petinggi—biasa dipanggil Pak Inggi), bernama Zaenuri. Menyuguhi pisang goreng dan teh manis, Pak Inggi menceritakan segala hal tentang desanya, dari topografi hingga demografi, dengan keramahtamahan yang luar biasa.

Dudakawu adalah satu dari sebelas desa di Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, yang terletak persis di lereng Gunung Muria. Maka tak heran topografinya naik-turun dengan suhu yang relatif dingin. Kecamatan Kembang sendiri bisa dicapai sejauh 22 km dari kota. Sementara Dudakawu berada 7,3 km dari ibukota kecamatan, Desa Jinggotan. Jadi bisa dibayangkan betapa jauhnya jarak yang mesti kami tempuh buat bertegur-sapa di rumah Pak Inggi.

Namun, pisang goreng, teh manis, dan—terutama—keramahtamahan Pak Inggi agaknya mampu melunasi kecapekan kami. Kami mendengarkan kisah Pak Inggi dengan antusias.

Peta Desa Dudakawu

Peta Desa Dudakawu

Dudakawu terdiri dari 3 pedukuhan, 15 rukun tetangga, dan 5 rukun warga. Pedukuhan dipimpin oleh seorang Kamituwa, antara lain Mulyadi untuk Dukuh Krajan, Saryadi (Gerot), dan Sujud (Nglarangan). Dalam menjalankan tugasnya, Petinggi dibantu Carik (dijabat oleh Tarmuji). Selain itu, ada pemimpin-pemimpin lain yang terspesialisasi di beberapa bidang, seperti Ladu (bidang pengairan/perekonomian/kesejahteraan), Modin (bidang keagamaan dan sosial kemasyarakatan), dan Bayan (kependudukan). Kelimabelas RT yang ada di Dudakawu dikoordinatori oleh seorang Ketua Forum Komunikasi Desa (dijabat oleh Nur Adzim).

Hari pertama

19 Juli 2011. Ribuan peserta KKN Tim II berkumpul di depan Gedung Widya Puraya Universitas Diponegoro. Inilah upacara pelepasan sebelum penerjunan. Rencananya, besok, 20 Juli 2011, semua peserta meluncur ke lokasi KKN masing-masing.

Akan tetapi, kami tak hendak mengikuti rencana itu. Tim Dudakawu, dengan dikoordinatori Rezha Mehdi Bazargan, bakal meluncur jam 14.00 nanti. Karena perjalanan amat sangat jauhnya. Padahal, pukul 11.00 besok mesti menghadiri acara penyambutan di pendopo kabupaten. Maka, segala persiapan pun buru-buru dilakukan.

Tim II KKN Undip Dudakawu

Tim II KKN Undip Dudakawu

Tim berangkat pukul 15.00 dari Semarang: tiga motor dan satu mobil pengangkut barang bawaan. Sampai di kawasan Kota Lama, salah seorang anggota, Widiyanti Ayu Perdani, mahasiswi Fakultas Hukum, ditilang lantaran light-on (tidak menyalakan lampu motor pada siang hari). Kami tertahan cukup lama menunggu Ayu. Akhirnya, hukum pun (sekali lagi) takluk pada tuntutan perut. Disodori Rp 20.000, “pak-polisi-yang-baik-hati” itu pun melepaskan SIM dan STNK yang tersita.

Kami melanjutkan perjalanan kembali dengan kesiagaan lebih tinggi. Kami menjelajahi beberapa kawasan: Kota Lama, Kaligawe, Genuk, Sayung, Jalan Lingkar Demak, Welahan, Kalinyamatan, Pecangaan, Tahunan, Mlonggo, Bangsri, sebelum akhirnya sampai di Kembang. Perjalanan yang terang membikin pantat panas dan badan pegal-pegal.

Kami sampai di wilayah Kecamatan Kembang menjelang Isya. Jalanan sudah gelap karena minim penerangan. Beriringan, kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Dudakawu. Kegelapan jalan semakin pekat. Di kanan-kiri jalan, bahkan tiada penerangan sama sekali. Pun sepi. Tak heran, berjalan malam dari atau ke Dudakawu ibarat mempertaruhkan nyawa, karena rawan sasaran kejahatan.

Setelah “mendaki” selama nyaris setengah jam, sampailah kami di rumah Pak Inggi, yang langsung menyambut kami dengan kehangatan teh manis, kacang, dan pisang rebus. Barang-barang bawaan kami taruh di tempat yang ternyata telah dipersiapkan dengan matang oleh Pak Inggi sekeluarga jauh-jauh hari.

Rerumahan di Dudakawu

Rerumahan di Dudakawu

Menikmati suguhan, kami mengobrol bersama Pak Inggi. Ia bercerita tentang desa beserta penduduknya. Ia berkisah, baru-baru ini salah seorang warganya ketiban musibah: menjadi korban tabrak-lari kala pulang dari bekerja di Semarang. Tempat kejadiannya di Kudus. Ia tewas di tempat dan sampai kini pelakunya masih diburu kepolisian. “Sekarang, sebenarnya saya harus ngajikke (mendoakan kepergian sang mayyit selama tujuh hari kepergian),” katanya.

Makan malam rupanya telah disiapkan pula oleh Bu Inggi. Dengan rikuh, kami serbu sajian malam itu.

Pukul 22.00, Ladu II (bernama Jamin) berkunjung ke rumah. Kami pun ikut nimbrung dalam pembicaraan antara Pak Inggi dan Pak Ladu. Obrolan berkisar soal pertanian, mahasiswa KKN dulu dan sekarang, dan macam-macam jagongan tengah malam. Jam 24.00, Pak Ladu minta diri.

Hari kedua

20 Juli 2011. Pagi pertama yang segar di Dudakawu kami habiskan dengan berjalan-jalan di seputaran kampung. Para petani dan murid sekolah berlalu-lalang di jalan. Di sini tak ada angkutan umum, sehingga sepeda motor menjadi andalan.

Jam 10.00, kami bersiap menghadiri acara penyambutan Tim II KKN Undip di pendopo kabupaten. Kami berjumpa dengan kawan-kawan sefakultas yang sama-sama ditempatkan di Jepara. Ramai dan meriah.

Sore hari, kami diajak Pak Inggi memetik jagung yang sedianya bakal menjadi bahan pembuatan emping jagung (salah satu Program Desa kami). Ladang jagung itu amat luas. Baru kali ini kami lihat ladang jagung seluas itu. Jagung-jagung pilihan, tua dan muda, dipetik dengan cekatan oleh Pak Inggi. Kami cuma mengamati.

Menurut Pak Inggi, jagung-jagung di ladang ini berjenis Pioneer-21 dan BC-16. Jagung kini merupakan tanaman pertanian utama di Dudakawu. Berbeda dengan tetangganya, masyarakat Desa Pendem, yang lebih suka bertanam kacang tanah, masyarakat Dudakawu memilih jagung karena dinilai lebih menguntungkan. Selain jagung, mereka juga memanam ketela pohon. Panen ketela pohon bisa mencapai 20 truk!

Habis Magrib, kami bakar-bakaran jagung di depan rumah. Beberapa tetangga ikutan nimbrung. Salah satunya adalah Pak Nur Adzim, Ketua Forum Komunikasi Desa yang membawahi ketua-ketua RT di Dudakawu. Pak Nur juga merupakan guru SD Negeri 1 Dudakawu. Ia bercerita banyak tentang mahasiswa KKN tahun-tahun sebelumnya. Mahasiswa KKN terakhir dari Undip datang pada tahun 1980-an, saat Prof Muladi, SH, menjadi rektor.

Sepulang dari mengobrol, kami bahas revisi Laporan Rencana Kegiatan Individu sampai larut malam.

Hari ketiga

21 Juli 2011. Lebih pagi ketimbang hari-hari sebelumnya, kami terbenam lama dalam selimut. Padahal, ada pertemuan dengan perangkat desa pada jam 8.00. Kami hendak mempresentasikan program-program kami selama sebulan ke depan.

Berdebat Seru

Berdebat Seru

Pukul 08.30, kami sampai di Balai Desa. Sudah banyak orang yang menanti kedatangan kami ternyata. Kami disuguhi kacang dan jagung rebus. Tidak banyak masalah dalam penyampaian program.

Sepulang dari Balai Desa, kami bersama-sama mengupas jagung. Malamnya, kami kerjakan proposal yang diminta desa buat diajukan ke kabupaten dan provinsi. Beberapa teman lainnya menonton drama Korea.

Hari keempat

22 Juli 2011. Hari dimulai tanpa kegiatan yang berarti. Koordinator Desa, Rezha, mesti pergi ke Semarang, mengurus ihwal kuliah. Karena tiada pemimpin, anak-anak cenderung bermalas-malasan memulai kegiatan yang sudah dijadwalkan semalam sebelumnya.

Kunjungan ke sekolah-sekolah batal karena hari sudah terlalu siang, sedangkan waktu sepagian habis buat menonton drama Korea. Siangnya, kami sembahyang di masjid. Namun, shalat Jumat berlangsung datar-datar saja, meski banyak warga memandang kami dengan tatap penuh tanya.

Kumpulan RT se-Dudakawu

Kumpulan RT se-Dudakawu

Pukul 14.00, kami diajak Pak Inggi turut-serta dalam pertemuan rutin RT. Kami diperkenalkan dengan seluruh ketua RT di Dudakawu. Sekitar 20-an orang, berusia 50-an tahun, berkumpul dalam pertemuan itu. Kebanyakan memakai baju seragam dan berpeci. Asap rokok selalu memenuhi ruangan rumah tak berplafon itu. Suguhan diedarkan dalam piring-piring plastik: jajanan khas desa yang tak kami kenal namanya. Kopi hitam dan teh manis kami seruput dengan mantap.

Pukul 16.00, kami buru-buru ke kantor kecamatan, harus mengumpulkan LRK ke Sekretaris Kecamatan. Sesampainya di sana, kami mendengar kabar buruk: Kordes kecelakaan di kawasan Mlonggo. Bergegas, kami menuju RS Islam Sultan Hadlirin di Kuwasen. Kordes tak terkena luka serius.

Kami baru pulang dari RS habis Isya. Jaket KKN yang telah lama dinanti sudah jadi. Beberapa anak langsung mengenakannya dengan penuh kebanggaan. Yang lain melanjutkan nonton drama Korea lagi…

Hari kelima

23 Juli 2011. Pagi-pagi kami sudah antre mandi buat menghadiri Musyawarah Desa dan Laporan Pertanggungjawaban Panitia Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Bergantian, kami berbonceng-tiga dua kali, lantaran sepeda motor yang ada cuma dua.

Acara laporan pertanggungjawaban berlangsung cukup panas. Panitia demisioner menolak dicalonkan kembali. Sementara itu, beberapa peserta menyatakan, sah-sah saja seseorang menjabat kembali, selama itu demi kemajuan desa. Dan panitia demisioner tak sepantasnya menolak pencalonan untuk kedua kali dengan alasan apa pun. “Kesannya kok panitia seperti mutung (kecewa),” kata Pak Inggi, yang pendapatnya amat didengar dalam musyawarah itu.

Ketua panitia (TPK/Tim Pelaksana Kegiatan) Mas Dwi berulangkali meminta “tolong amat sangat” supaya dirinya tidak dipilih menjadi ketua kembali. Sungguh pemandangan yang langka. Di tingkat pusat, yang terjadi justru sebaliknya. Orang berebutan ingin menjadi ketua: semata-mata bukan karena ingin mengabdi buat kemajuan apa atau siapa yang ia ketuai, melainkan demi kepentingan perut sendiri.

Menuju Sendang Sinatah

Menuju Sendang Sinatah

Sorenya, Rezha dan AP Edi Atmaja pergi ke Sendang Sinatah untuk menemui juru kunci Sendang Sinatah, hendak meminta profil Sinatah yang bersejarah. Syukur-syukur bisa mengangkat Sinatah jadi potensi wisata unggulan Jepara. Namun, sang juru kunci ternyata tiada di tempat. Diuber ke kediamannya, ternyata ia sedang pergi ke ladang. Akhirnya, tim pergi dengan tangan hampa.

Sementara itu, Johan Pahlawan dan Rizka Andriani pergi ke Kecamatan Bangsri buat mencari bahan modul yang bakal kami sosialisasikan. Kembang, khususnya Dudakawu, sangat minim sarana dus prasarana. Sinyal operator masyhur pun jarang di sini (Tim terpaksa mengganti nomor ponsel mereka selama KKN). Modem yang sedianya bakal memudahkan tim dalam mencari materi jadi percuma. Kami mesti menyambangi Jinggotan, bahkan acapkali hingga Bangsri, buat sekadar berselancar di dunia maya.

Malam Minggu yang mestinya jadi milik kawula muda kami habiskan buat merevisi LRK sampai tengah-malam.

Hari keenam

24 Juli 2011. Minggu yang malas. Kami mengunjungi rumah Pak Carik, Tarmuji. Awalnya sempat bertanya ke sana-sini lantaran lokasinya kurang akrab bagi kami, di Dukuh Krajan. Rumah Pak Inggi yang jadi posko kami berada di Dukuh Ngalarangan.

Mengenai dukuh-dukuh di Dudakawu, ada ceritanya. Sejak dulu, rumah Petinggi selalu berada di Krajan. Krajan secara etimologis berarti “pusat pemerintahan”. Maka, rumah Petinggi sekarang tak lumrah ketimbang biasanya. Pak Inggi pun sebenarnya bukan penduduk asli Dudakawu. Ia berasal dari Bangsri. Istrinyalah yang merupakan warga Dudakawu.

Rumah Pak Carik kami temukan juga. Rumah itu bercat kuning dan tampak megah ketimbang rumah-rumah di sekitarnya. Pak Carik kami temui dalam penampilan yang bersahaja: bawahan sarung dan atasan kaos seragam perangkat Dudakawu.

Pak Carik bercerita soal desanya. Ia memperbandingkan Dudakawu dengan desa-desa lain, seperti Sumanding, Cepogo, Bucu, Jinggotan, Tubanan, Kaliaman, dan Balong. Dudakawu jauh lebih aman daripada desa-desa tersebut, katanya.

Pak Carik merupakan orang yang tidak terlalu cakap bercerita. Kesenyapan kadang mengimpit kami lantaran kehabisan bahan cerita. Dalam pada itu, teh manis yang disuguhkan terang saja mengalangi kami buat minta diri lebih cepat—teh manis itu benar-benar baru diseduh, panasnya membuat kami mesti mencari bahan obrolan lebih banyak.

Pak Carik meminjami kami daftar presensi Musyawarah Desa kemarin, yang dengan segera kami fotokopi di Jinggotan. Mumpung sedang di bawah, kami membeli air galon yang sudah habis sembari mengisi bensin motor.

Sorenya, beramai-ramai kami uleg jagung yang bakal kami bikin emping. Jagung itu telah dijemur, direndam air kapur, lantas dikukus. Jagung yang masih lunak, pelan-pelan kami uleg dengan memakai gelas kaca, sampai bentuknya pipih seumpama emping. Jagung satu kilo pemberian Pak Inggi jadi tiga nampan penuh yang selanjutnya kami jemur kembali sampai kering.

Menjelang Magrib, kami berkunjung ke bidan terkait posyandu di Dudakawu. Selanjutnya, kami beranjangsana ke kediaman Pak Jamin, bertukar pikiran mengenai masalah-masalah peternakan sapi. Pak Jamin menerima kami dengan ramah. Ia sangat memahami soal kemahasiswaan. Anak semata wayangnya adalah lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian di Yogyakarta. Bertemu Pak Jamin, kami mendapat beberapa masukan yang berguna untuk keberlangsungan program-program kami ke depan.

Habis Magrib, Rezha dan Edi ditemani Pak Inggi dan Pak Jamin pergi mengurus sepeda motor Rezha yang disita polisi. Mulanya, mereka mampir ke rumah keluarga korban yang ditabrak Rezha. Negosiasi tak berlangsung alot karena semua pihak sama-sama tidak ingin mencari siapa yang patut disalahkan atas kecelakaan tersebut. Beramai-ramai, kedua pihak pergi ke Polsek Mlonggo buat mengambil sepeda motor yang disita polisi.

Sangat menggelikan memang bahwa, saat kecelakaan terjadi, bukan korban yang pertama kali diselamatkan polisi, melainkan kedua motor para pihak dululah yang buru-buru disita. (Barangkali karena di situlah “lahan basah”-nya!)

Akhirnya, setelah cukup lama bernegosiasi dengan polisi (dan, tak lupa, tentu-menentukan “harga yang pantas”), kedua pihak berhak membawa pulang motor mereka. Di luar kantor polisi, mereka bersalaman dan, mulai saat itu, tali silaturahmi terjalinlah. []

*) Tulisan ini pernah dimuat dalam situs resmi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Diponegoro.