Susahnya Jadi Siswa SD Zaman Sekarang

1 Oktober 2010

Oleh A.P. Edi Atmaja

COBA Anda tengok materi pelajaran Sekolah Dasar (juga Madrasah Ibtidaiyah dan yang sederajat) sekarang ini. Adik saya baru duduk di kelas tiga, tapi materi yang diperolehnya berkali-kali lipat lebih sulit ketimbang materi yang saya peroleh dulu saat duduk di bangku yang sama. Bahkan, saya rasa, materi itu lebih mirip materi pelajaran kelas lima saya.

Sekarang ini, rupanya LKS (Lembar Kegiatan Siswa)—lewat berbagai macam namanya—merupakan satu kewajiban yang harus diberikan di setiap tingkat, tingkat terendah sekalipun (Dahulu, saya mulai mengenal LKS saat duduk di kelas empat). Semua siswa diwajibkan belajar dengan memakai LKS. Entah kemampuan membaca seorang siswa amat pas-pasan, sang guru tak peduli. Setiap ada PR (Pekerjaan Rumah), LKS-lah tempat berpaling. Seolah-olah guru tak punya kreativitas lain, selain harus selalu terpaku pada soal-soal yang tersaji “instan” dalam LKS. Jadi, sebenarnya, kita terlalu “berbaik-sangka” bahwa siswa kelas satu pun sudah pasti pintar membaca LKS yang umumnya tebal-tebal itu.

Karena tuntutan produksi, siswa-siswa tingkat dasar yang belum lancar memahami kalimat itu mesti mencerna tulisan yang cuma cocok buat murid SMP. LKS harus dibikin setebal-tebalnya, dengan soal sebanyak-banyaknya dan seilmiah-ilmiahnya, tanpa memerhatikan kelayakan isinya.

Kita bersama tentu menginginkan generasi muda kita memperoleh pendidikan yang unggul. Namun, bukankah yang paling penting adalah menyampaikan ilmu sesuai porsinya?

Pemkot, terutama Dinas Pendidikan Kota Semarang, perlu terus mengkaji beban pelajaran tiap satuan pendidikan. Pengawasan terhadap usaha per-LKS-an yang cuma mengejar profit harus terus diperketat. Alih-alih mendidik, LKS-LKS itu hanya akan menambah beban mental siswa. [Jalan Kyai Gilang, 011011]

*) Tulisan ini pernah dimuat dalam harian Kompas, 1 Oktober 2010.


In Memoriam: Pak (Guru) Muin

18 September 2009

oleh A.P. Edi Atmaja

Saya tak ingat kapan pertama kali ketemu dengannya. Yang saya ingat, dialah wali kelas saya saat kelas dua MI. Terlalu banyak kenangan yang saling tindih, terlalu banyak hal indah yang terlupa.

Dia itu seorang yang selalu bersemangat, saya lihat. Hidupnya benar-benar tercurah buat pekerjaan—atau lebih tepatnya: amal—mengajarkan segenap ilmu yang dimilikinya, sesuai dengan profesinya sebagai guru.

Satu hal penting yang selalu ia petuahkan pada kami, murid-muridnya, adalah senantiasa tekun dalam memperoleh kep(f)ahaman. Baginya, tingkat kep(f)ahaman kita akan suatu ilmu selalu berbanding lurus dengan kegigihan dan antusiasme kita dalam mengejar ilmu tersebut .

Asmuin, yang familiar dipanggil Pak Muin, pun seorang yang bersahaja. Tidak pernah saya lihat ia memakai arloji—yang mungkin bisa dimiliki oleh siapa pun saat itu. Meskipun seorang guru sekolah swasta, pakaian yang ia kenakan jauh dari kesan mewah, bahkan cenderung itu-itu saja: kemeja coklat tua dengan celana berwarna sepadan. Kendati demikian, pakaian itu selalu rapi dan bersih, sehingga tampak selalu baru.

Ia juga seorang yang memaparkan hadis kesohor “kebersihan adalah sebagian dari iman” bukan cuma dalam ranah utopis, tapi juga praksis. Tampilan luarnya selalu resikan, apalagi didukung jenis kulitnya yang putih kekuningan. Wajahnya senantiasa bercahaya, buah dari seringnya ia berwudhu. Tak pelak, ia seorang guru yang good-looking.

Pak Muin, seperti halnya sebagian besar guru lain di sekolah dasar Islam ini, selalu mengedepankan profesionalitas dalam mengajar. Kesuksesan saya dan kawan-kawan saya yang lain dalam pelajaran Bahasa Arab, tentu, merupakan buah manis dari profesionalitas yang diterapkannya ini. Dalam mengajar, ia senantiasa memakai metode pengulangan (repetisi)—kendati hal ini memakan waktu tak sedikit. Ia takkan melanjutkan materi jika materi sebelumnya belum selesai sepenuhnya—dalam artian ada muridnya yang belum p(f)aham benar—sampai pertanyaan “Faham?”-nya dijawab “Paham!” oleh murid-muridnya.

Di sela-sela pelajaran, ia suka menceritakan kebiasaan kedua anak perempuannya yang selalu giat belajar. Waktu itu saya ingat, kapan pun dan di manapun, kedua anaknya itu selalu membawa buku, tentu buat dibaca. Bahkan saat makan dan ke toilet pun, cerita dia, mereka tak segan membawa buku. Saya tak melihat maksud apa pun dengan ceritanya ini, selain bahwa ia ingin memotivasi murid-muridnya agar sukses dalam belajar dan pelajaran.

Namun, tak semua muridnya menyukai—atau minimal: menghargai—ini. Kawan-kawan di bangku belakang bahkan dengan tega memberinya komentar sinis.

Setelah ia tiada kini, saya mulai merasa bahwa ia mengajar di MI Ianatusshibyan (sejak tahun berapa saya tak tahu) itu semata-mata bukan karena materi atau hal duniawi lainnya, tapi karena amal buat kehidupan di akhirat kelak. Saya tak yakin seseorang bisa kaya-raya hanya dengan mengajar di sana karena saya tahu sekolah itu didirikan pun oleh amal.

Namun, sebagai manusia, ia juga punya kelemahan. Ia itu orang yang sangat lembut. Karena kelembutannya ini, ia sering tidak terlalu disegani (kalau tidak ingin bilang: diejek) oleh sebagian murid prianya, yang, mungkin, menganggap kelembutan adalah suatu cacat bagi seorang pria. Mungkin saya salah, itu bukan merupakan kelemahan, tapi kelebihannya yang lain. Saya maklum, kawan-kawan saya itu rupanya terobsesi pada lingkungan, di mana kekerasan dan ketegasan (baca: ke-“premanan”-an) mutlak menduduki level teratas dalam kehidupan: tipikal manusia yang mementingkan otot daripada otak. Begitulah, Pak Muin seringkali diremehkan dalam kelas walaupun ia sendiri tak ambil pusing dengan hal itu.

Saya dan keluarganya dan teman-temannya dan kenalan-kenalannya yang lain barangkali tak akan menduga sama sekali, bahkan memimpikannya pun tidak, bahwa Pak Muin akan kembali ke haribaan-Nya secepat itu. Umurnya masih muda: 50-an tahun, belum “pantas” disemati gelar ‘almarhum’.

Dua hari yang lalu, ia masih mengimami mushalla di dekat rumahnya—amalan lainnya saat ia tak mengajar. Minggu-minggu itu sering saya melihatnya momong anak perempuannya yang terkecil. Sering pula ia berpapasan dengan saya di depan rumah: tak lupa menglakson dan menyapa saya dengan bersemangat. Takdir memang sudah ditentukan, manusia tinggal menjalankan. Orang yang segar-bugar pun, jika takdir dan Tuhan menghendaki, sedetik kemudian bisa wafat.

Saya teringat kata-kata Rusli dalam novel Atheis: “Umur manusia memang singkat, tapi kemanusiaan lama. Maka dari itu, lupakan kesedihanmu dan teruskan bekerja. Bekerja buat kemanusiaan.”

Selamat jalan, Pak Muin. Semoga Anda mendapat tempat yang baik di sisi-Nya. Ilmu yang Anda wariskan pada saya dan teman-teman lain tak akan luntur dan tetap mengalir. Hingga ujung waktu. [Mangkang City, 180909]


Mauludan di Kampung Saya

8 Maret 2009

oleh A.P. Edi Atmaja

Jangan Anda pikir “tradisi” Islam tradisional sudah lenyap dari kota semimetropolis sekaliber Semarang. Coba mampir ke kampung saya, Mangkang “City”. Di sana, tradisi yang paling tradisional pun masih tersaji di mana-mana.

Salah satu dari tradisi itu adalah perayaan kelahiran Nabi Muhammad Saw—yang biasa disebut Maulud (atau Maulid, sama saja). Di kampung saya, perayaan Maulud ini sangat unik, membumi, dan, bahkan, langka ditemukan di Semarang, ibukota yang “modern”.

Modernitas ternyata tak berhasil menggusur warisan keislaman leluhur kita. Mauludan, penyebutan lazim Maulud, adalah buktinya.

Mauludan, antara lain, berisi nadham-nadham (syair lagu berbahasa Arab), secuplik ayat Al-Quran (dalam hal ini Surat al-Fath), kisah Nabi Muhammad Saw dalam bahasa Arab yang bersajak indah (biasanya Barzanji Natsar atau Barzanji Nadham), dan doa. Yang paling menarik adalah saat pembacaan bab keempat Barzanji Natsar, di mana setelah pendarus membaca “nuuran yatala’ la u sanaah“, semua yang hadir diharuskan berdiri dengan menyenandungkan:

marhaban ya nural ‘aini, ya marhaban

marhaban jaddal husaini, ya marhaban

wamuhayyan kasysyamsi minka mudhiun

asfarat anhu lailatun gharrau

marhaban ya nural ‘aini, ya marhaban

marhaban jaddal husaini, ya marhaban

lailatul maulidilladzi kana liddi..ni sururun biyaumihi wazdihau

marhaban ya nural aini, ya marhaban

marhaban jaddal husaini, ya marhaban

yauma nalat biwadh’ihibnatu wahbin, ya marhaban

min fakharin malam tanalhunnisau, ya marhaban

marhaban ya nural ‘aini, ya marhaban

marhaban jaddal husaini, ya marhaban

wa atat qaumaha biafdhala mimma, ya marhaban

hamalat qablu maryamul adhrau, ya marhaban

marhaban ya nural ‘aini, ya marhaban

marhaban jaddal husaini, ya marhaban

maulidun kana minhu fi thali’il kuf.. Allah, Allah, ya marhaban

..ri wa balun alaihimu wa wabau, Allah, Allah, ya marhaban

marhaban ya nural ‘aini, marhaban. Allah, Allah, ya marhaban

marhaban jaddal husaini, marhaban. Allah, Allah, ya marhaban

wa tawalat bushralhawati fi an qad.. Allah, Allah, ya marhaban

..wulidalmushthafa wa haqqalhanau. Allah, Allah, ya marhaban

marhaban ya nural ‘aini, marhaban. Allah, Allah, ya marhaban

marhaban jaddal husaini, marhaban. Allah, Allah, ya marhaban

Sangat menarik bahwa perayaan Maulud ini seratus persen memakai bahasa Arab. Kita tak bisa sepenuhnya menganggap orang yang mengikuti Mauludan ini mengerti (atau, setidaknya, tahu secara eksplisit) semua tulisan yang ia baca, juga nadham-nadham yang ia senandungkan. Karena, jika tidak, ia hanya akan, istilahnya, seperti orang buta yang mencoba melukis.

Butuh “keimanan” (atau dengan kata lain: kepercayaan; rasa yakin terhadap sesuatu) yang sangat kuat agar Mauludan ini tetap rutin terselenggara oleh orang buta bahasa Arab tadi.

Perlu pula diadakan suatu pembaruan, misalnya, dengan penjelasan memakai bahasa yang mudah dimengerti, oleh pemimpin Mauludan. Bisa diselipkan di sela-sela pembacaan teks atau setelah Mauludan rampung. Bila hal ini tidak dilakukan, atau pembacaan total memakai bahasa Arab terus dilakukan, dikhawatirkan akan terjadi kejenuhan, yang akhirnya akan berdampak pada kepunahan tradisi ini.

Sesuatu yang tradisional ada kalanya perlu diberi sentuhan modern supaya keberadaannya tetap terjaga. Wallahu a’lam bisshawab.

Selamat merayakan Maulud! [080309, 22:22]