Karam di Laut Mangkang

18 Maret 2012

Oleh A.P. Edi Atmaja

JANGAN pernah merasa mengenal Semarang sebelum bervakansi ke Mangkang. Ada apa di Mangkang? Gersang belaka daerah itu. Hujan sedikit, banjir. Jalanannya sumpek, polutif, dipenuhi truk-truk. Nggak asyik. Demikian barangkali komentarmu mendengar nama Mangkang disebut-sebut.

Eits, tunggu dulu. Mangkang yang mana dulu. Mangkang itu terbentang berkilo-kilometer, Teh. Luas. Dari IAIN Walisongo sampai Taman Margasatwa Semarang, itulah Mangkang. Mangkang itu meliputi daerah-daerah yang sebenarnya punya nama masing-masing. Daerah seperti Tambakaji, Karanganyar, Damri, Karpet, Tapak, Timbangan, Gunung Jati, dan Wonosari disangka orang-orang yang tinggal di luar Mangkang sebagai Mangkang. Padahal, semua keliru. Mangkang yang “asli”, sebenarnya, cuma Mangkangkulon dan Mangkangwetan: dua nama kelurahan di Kecamatan Tugu.

Jadi, Mangkang yang mana yang lagi kita bicarakan? Kalau mau misuh-misuh (bahasa Semarangan: mengumpat-umpat), Mangkang yang mana yang mesti kita mesti pisuh-pisuhi? Kalau mau mengkritik ketidakberesan pengelolaan Mangkang, atawa masyarakatnya, Mangkang manakah yang seharusnya kita semprot? He-he. Nggak usahlah kita debat kusir (meski saya bukan kusir), bicara yang bukan-bukan, ndakik-ndakik (bahasa Semarangan: serius), atawa jelimet. Biarlah urusan semprot-menyemprot kita serahkan kepada aktivis Mangkang saja—tapi masalahnya, ada nggak ya makhluk bernama aktivis Mangkang itu? He-he-he.

Oke, kembali ke jemuran, eh tulisan.

Mangkang yang definisinya nggak jelas itu sebenarnya indah lo. Ini saya serius. Dua rius malah. Masa sih? katamu.

Gatal

Iya, Teh, kata saya. Mangkang itu, asal kamu tahu, pernah jadi tempat mendarat Laksamana Cheng Ho lo. Kamu tahu kan? Itu tuh penjelajah samudra dari China, yang pernah mendirikan masjid di Semarang—yang sekarang dialihfungsikan jadi kelenteng bernama Sam Po Kong.

Iya, “gosip”-nya memang begitu: Mangkang jadi salah satu tempat pendaratan Laksamana Cheng Ho kala berkunjung ke daerah yang sekarang dinamakan Semarang. Setidaknya, gosip yang saya utarakan benar karena “fakta” itu kecantum dalam buku sejarah Semarang—saya lupa judul dan pengarangnya (sic!)—yang bisa kamu temukan lagi nangkring dengan manisnya, lantaran nggak pernah kesentuh tangan-tangan jahil manusia, di rak Perpustakaan Universitas Diponegoro. Coba deh kamu cek ke sana, Teh, kalau nggak percaya.

Yoi. Di buku itu disebutkan, Laut Mangkang pernah didarati sang laksamana Muslim dalam misi muhibahnya. Keren nggak? Memang seperti apa sih Laut Mangkang? Apa bagusnya?

Laut Mangkang dapat dicapai dengan menyusuri Jalan Kyai Gilang. Lurus terus ke arah utara, sejauh tiga kiloan. Nggak tahu Jalan Kyai Gilang? Itu jalan utama menuju Pondok Pesantren al-Ishlah, Masjid at-Taqwim, atawa SMP Negeri 28 Semarang. Masih nggak tahu juga? Katro banget sih kamu, Teh, katanya orang Semarang. Pokoknya, setelah nemu Jalan Kyai Gilang, kamu lurus saja ke utara sampai mentok.

Armada Perahu menuju Laut

Armada Perahu menuju Laut/tvku.tv

Jalan ke laut bisa diakses kendaraan roda empat kok. Jangan kuatir. Jalanan telah diaspal mulus, cuma 500 meter menjelang laut belum diaspal. Di sepanjang jalan, bisa kamu temukan pemandangan eksotis khas Mangkang, seperti sawah, tambak, kebun, sungai dengan perahu-perahu yang hendak berlayar ke laut, bau asin laut, bau amis ikan, dan kolor. Lo, kolor siapa itu? tanyamu. Tentu saja kolor nelayan yang mau berangkat ke laut. Memang sengaja koloran, Teh, biar sepoi-sepoi, kata sang nelayan. He-he, sepoi-sepoi apanya? Ada-ada saja nih Kak Nelayan.

Lanjut. Sesampai di Mangkang, jangan kaget kalau yang kamu temui cuma sampah-serapah (?). Yup. Laut yang di awal 1980-an masih indah itu, masih dihiasi pantai berpasir hitam, bersih belum terjamah sampah dan kawan-kawannya, kini tergerus abrasi di sana-sini. Sudah tak tampak kayak pantai lagi. Boro-boro mau berenang, yang ada kulitmu bakal gatal-gatal gara-gara laut yang kotornya ngujubile itu. Syukur-syukur nggak kena panu, kadas, kurap, kutu-air, dan saudara-saudaranya.

Sampah-sampah berserakan. Sampah beranekamacam, berwujud plastik, kayu, sandal jepit kehilangan pasangan, sepatu butut, tas lusuh, kemeja kumal bergeletakan tak karuan mencolok pandangan. Sampah basah atawa kering (tapi kemudian jadi basah—yaiyalah!) itu memproduksi merkuri dan zat-zat yang berbahaya bagi manusia. Jadi, selain merusak pemandangan, sampah-sampah di Laut Mangkang juga bisa memperindah tubuh manusia. Membikinnya jadi semakin nyeni dengan polesan panu, kadas, kurap, kutu-air, dan saudara-saudaranya.

Teh, Teh…

Meski banyak sampah, Laut Mangkang sering jadi tempat melepas penat yang asyik juga. Saban akhir pekan, warga Mangkang beserta seluruh handai-tolannya datang berbondong-bondong ke laut. Bukan mau nyebur, bunuh diri ramai-ramai, Teh, melainkan bunuh waktu, bunuh segala kesumpekan lantaran selama enam hari-tanpa-putus bersibuk-ria di Mangkang.

Warga Mangkang memang terkenal sibuk. Yang punya sawah, sibuk macul, menanami sawahnya. Yang punya tambak, sibuk menguras tambaknya, memanen bandeng-bandeng lantas menjualnya. Yang punya kebun, sibuk menanami kebunnya. Yang punya kerja, sibuk dengan pekerjaannya. Yang punya pacar, sibuk dengan pacarnya. Yang nggak punya apa-apa, sibuk meratapi nasibnya yang papa. Jadilah Laut Mangkang tempat penghiburan yang ramah kantong, terbuka buat segala usia dan lapisan masyarakat.

Laut Mangkang Kotor

Laut Mangkang Kotor/Biota Foundation

Untunglah, sampai saat ini, otak-otak bisnis belum bercokol di Laut Mangkang. Investor belum pada datang karena belum melihat potensi riilnya. Seperti beberapa tempat lain di Mangkang, yang dewasa ini mulai dipermak sejak pembangunan besar-besaran Terminal Mangkang, Laut Mangkang pun demikian. Beberapa tempat di Mangkang, meski mendadak punya potensi berkat berdiri megahnya terminal, belum bisa jadi ladang usaha berarti. Rumah toko-rumah toko (ruko) yang dibangun dengan semangat berlebih di awal ternyata hidup-segan-mati-tak-mau lantaran nggak disokong antusiasme penyewa. Beberapa ruko malah tampak telantar di tengah jalan, nggak ada niatan hendak dirampungkan.

Makanya, kendati abrasi dari hari ke hari, Laut Mangkang sebenarnya masih tergolong alami. Belum dicanangkan pembangunan di sana-sini. Menurutmu, Teh, itu keuntungan ataukah kerugian?

Saya kok merasa, ada bagus dan nggak bagusnya, katamu. Tanpa campur-tangan pemerintah, sesungguhnya itu bagus buat warga Mangkang secara keseluruhan. Laut Mangkang, seperti yang sudah dan tengah terjadi selama ini, dijadikan hiburan alternatif warga Mangkang, di samping objek wisata lain yang kebanyakan berbayar. Laut Mangkang adalah ruang publik otonom yang jadi milik semua (res communis), sehingga pemanfaatannya mesti terkait dengan semua warga. Apa yang sudah terjadi kini sudah bagus. Jangan sampai di masa depan Laut Mangkang dikuasai oleh swasta, bahkan oleh pemerintah pun jangan.

Lantas, apa nggak bagusnya, Teh?

Justru sebab tanpa dicampurtangani pemerintah itulah, warga Mangkang seharusnya proaktif menjaga Laut Mangkang baik-baik. Penguasaan meniscayakan tanggungjawab. Alih-alih menjaga, warga malah mengotori laut. Sampah-sampah rumahan dibuang ke kali yang bermuara ke laut. Ketika berwisata, sampah-sampah sisa jajan dibuang seenaknya.

Saya pikir, kamu berujar, setiap warga Mangkang punya kewajiban yang sama buat menjaga sejengkal demi sejengkal karunia alam yang Tuhan limpahkan kepadanya. Laut Mangkang termasuk karunia alam yang tiada tara nilainya.

Beberapa tahun lagi, siapa tahu, karunia itu akan dicabut Tuhan dari kita, akibat kelalaian kita sendiri. Atau, bisa jadi, hakikat alamiahnya terenggut kepentingan ekonomi atawa pemupuk modal. Laut Mangkang tak bisa lagi kita nikmati sebagaimana kita menikmati udara. Kalau itu terjadi, karamlah sudah kedaulatan rakyat. Kedaulatan warga Mangkang. Kedaulatan warga Semarang. Lalu, kedaulatan kita sebagai manusia. Ruang publik tidak lagi jadi milik publik. Bisa berabe!

Teh, Teh… Kamu kok banyak cakap ta[18032012, 12.41]


Bakau

11 November 2011

Oleh A.P. Edi Atmaja

Berdiri tegak merumpun
Kumpulanmu membuatku bingung

Di suatu pagi yang teduh
Di jalan tak ada ujung
Di sungai keruh yang berkelok-kelok
–ke laut

Dua ekor kucing memperdebatkan masa lalu
Dua orang manusia duduk mesra berdua
Mengapa dunia kian fana saja?

Kusapa hai pada bakau-bakau itu
Akar-akarnya mendekapku erat
Memeluk laut

Biarlah begitu, seru orang-orang
Harap orang-orang

Ku tak sabar menanti Mangkang
Setengah abad kemudian

[191111.0714]


Secuil Waktu buat Tomo

13 April 2011

Oleh A.P. Edi Atmaja

SEKOLAH ITU cukup besar kalau dibandingkan dengan SMP kebanyakan. Bukan besar, ding, melainkan luas. Maklum, letaknya yang di pinggiran kota membuatnya gampang melahap segala lahan yang ada. Tanah di situ—menurut bahasa lokal—turah-turah; artinya tak terbatas, berhektar-hektar luasnya hingga “bersisa-sisa”. Harganya pun relatif murah. Dan, tahukah kau, itulah sebab mengapa sekolah itu memperluas “ekspansi”-nya saban ganti tahun ajaran.

Tembok pembatas yang tinggi-tinggi dibangun mengitari sekolah. Laksana benteng, keluasan yang ada diimbangi dengan ketertutupan, yang kemudian menjadikannya tampak megah dan perkasa dan angker dari luaran.

Sebetulnya, ada kata sifat lain yang tepat buat sekolah itu: mewah. Ya, via sudut-pandang tertentu, kau akan melihat, sekolah ini bak berada di tengah-tengah sawah. Sehingga orang-orang menyebutnya mewah: mepet sawah.

Jauh dari kemegahan, apalagi ketertutupan, sekitar satu kilometer ke utara dari sekolah, ada sebuah perkampungan nelayan. Menuju sana, kau bakal disuguhi panorama pesisir nan eksotik. Jalanan mulus bekas aspal baru akan segera menuntunmu. Berkelok-kelok, nyaris bebas hambatan.

Sawah-sawah yang lantas ditingkahi pula oleh panorama tambak—dengan pemukiman penduduk di sela-selanya—berjejer di sepanjang jalan. Di tepinya, sungai besar nan panjang terdapat. Sungai itu bermuara ke laut.

Tanggulsari nama perkampungan itu. Bau pantai sudah bisa kau cium mulai dari sini. Rumah-rumah dengan ukuran bervariasi berderet-deret yang, sayang, menampakkan sedikit kekumuhan. Perahu-perahu bermesin diesel terparkir rapi, rada menjauh di depan rumah, di sungai yang makin mendekati laut makin melebar itu.

Ketandusan, kegersangan, keamisan bau pantai, semilir angin laut, dan (sedikit) kekumuhan—itulah yang bakal kau rasai kalau nekat melepas waktu di kampung ini. Begitu pun dari seorang Nur Utomo, yang sudah sejak lama menganggap Tanggulsari sebagai tumpah-darahnya.

***

NUR UTOMO, 14 tahun, duduk sebangku dengan Ardiansyah alias Kates. Urutan bangku mereka nomor dua dari depan. Miopilah alasan mengapa kedua makhluk ini memilih depan—sebuah ketaklaziman di antara murid sekelas, yang paranoid dengan bangku depan.

Dalam suasana kelas yang ingar-bingar itulah, Nur Utomo, tokoh pesisir kita ini, berusaha mencerap pengetahuan dari SMP negeri satu-satunya di daerah itu—SMP dengan tembok pembatas yang tinggi menjulang, yang barusan kita kulik.

Tomo—demikian sapaan buat tokoh kita ini, kadangkala—memilih bersekolah di situ bukan tanpa alasan. SMP yang mewah itu sedari dulu telah masyhur dikenal sebagai SMP favorit, paling tidak dalam “kawasan regional” (baca: Mangkang dan sekitarnya). Tompel—demikian sapaan buat tokoh kita ini, seringkali—jelas bukan seorang dengan intellectual quotient cetek. Semata-mata lantaran otaknya yang encerlah, Tompel dapat turut tersaring di sekolah prestisius itu.

Tompel—berpostur sedang, dengan tinggi kurang dari 165 cm, berkulit coklat gelap akibat terlalu lama terpapar sinar Matahari—senantiasa memakai celana pendek 5 cm di atas lutut yang ketatnya ngujubile. Maklum, celana itu sudah dua tahun ia pakai, dan menurut orangtuanya belum waktunya diperbaharui.

Tompel, kita semua tahu, adalah anak yang berbakti. Tak pernah ia menuntut macam-macam, sementara kebanyakan anak lelaki lain berlomba-lomba memakai celana dengan gaya terkini: kombor, di bawah lutut, mirip celana tiga-perempat yang lagi booming. Celana yang dari jauh tampak kebesaran.

Alhasil, mereka, anak-anak itu, mengolok-olok Tompel sebagai anak seksi. Tak ketinggalan teman sebangkunya, Kates. Kates termasuk pengolok yang cukup militan. Sehingga Tompel pada akhirnya justru menangis di bangkunya sendiri, menjadi korban KDRK: kekerasan dalam ruang kelas.

***

TENTU SAJA yang saya maksud sebagai “menangis” adalah menangis dalam definisi sungguhan. Ya, Tomo adalah pria dengan kadar emosional tinggi. Perasaannya sangat sensitif sehingga kala kau senggol sedikit saja, air matanya akan dengan gampang bercucuran.

Dalam ajang tangis-menangis, Tomo punya rekor yang fantastis. Prestasinya nyaris menyamai Charles Kurzman, penangis tersering di dunia. Omong-omong, saya kurang tahu pasti, adakah orang bernama Charles Kurzman? Atau, apakah memang benar ada rekor penangis tersering?

Baik, serius. Maksud saya, atau saya ingin bilang bahwa, Tomo sering sekali kedapatan sedang berasyik-masyuk menangis di kelas, dengan disaksikan banyak orang. Mau menangis ketika pelajaran berlangsung atau pas istirahat-main, tak jadi soal baginya. Pokoknya, menangis mesti jalan terus, begitu barangkali prinsip Tomo.

Dan Tomo punya pengalaman menangis-saat-pelajaran-berlangsung yang cukup bervariasi, lho. Salah satunya, saat pelajaran Matematika.

Pada suatu pagi yang bolong, Pak F, guru Matematika, memberi soal yang bukan main susahnya. Kami sekelas sudah gemetaran bahkan saat angka pertama selesai dituliskan. Pasalnya, sehabis itu, Pak F pasti akan langsung menyelenggarakan acara tunjuk-menunjuk, yang sama sekali tak menarik bagi para orok sekalipun. Dalam acara itu, akan ditentukan siapa manusia yang ketiban sial disuruh menggarap soal bikinannya, yang tak jarang bisa menyebabkan pingsan tiga hari-tiga malam.

Di tribun depan, atmosfer serasa gonjang-ganjing. Karena, biasanya, dari sanalah kandidat pertama terpilih.

Tomo, duduk di bangku nomor dua dari depan, sontak menjadi pusat perhatian. Bangku nomor satu kosong lantaran penghuninya mendadak absen tanpa alasan yang jelas. Dalam keadaan yang “berbahagia” itu, ternyata Kates pun memperparah keadaan. Hari itu ternyata ia juga absen. Dan Tomo pun menjadi single fighter di garda terdepan.

Tanpa sedikit pun keraguan, Pak F menunjuk Tomo.

Semenit, dua menit, lima menit, kemudian sepuluh menit berlalu, tiada gelagat soal bakal diselesaikan dengan hasil memuaskan. Di depan, Tomo memegang kapur sembari berzikir. Jiwanya sudah menyerah lima menit yang lalu. Pikirannya berputar-putar. Semua jalan telah tertutup untuk Roma.

Semakin ia berpikir, semakin sebal ia pada semuanya. Pada Pak F yang memberinya soal yang tak mampu ia kerjakan, pada kedua teman di bangku nomor satu dan Kates yang tiba-tiba absen, pada semua teman yang cuma memelototinya—menikmati betul kesusahannya bergulat dengan soal di depan.

Tomo berubah menjadi sangat emosional. Ada kesesakan tertentu yang pada awalnya muncul dari dalam dada, kemudian naik ke kerongkongan. Kian naik, kian naik, kian naik… Kesesakan itu sampai di pelupuk mata, berdesak-desakan mau keluar. Dalam sepersekian detik, Tomo sadar, ia mesti bertahan sekuat tenaga. Tapi pertahanannya telat. Sang sesak telah menemukan kebebasannya, berhasil lolos dari kelopak mata. Ada cairan mengalir dari mata. Tomo menangis.

Pak F pun mesti menyudahi acara tunjuk-menunjuk itu sebelum kehebohan kelas semakin menjadi-jadi.

***

SESEORANG menepuk pundak saya pada suatu senja. Saya lagi menunggang motor, mengendarainya pelan-pelan.

Saya menoleh. Pria berambut gondrong menjajari motor saya dengan skutermetiknya. Sesaat, saya kurang ngeh dengan pemuda berbadan gelap itu. Tampangnya mengingatkan saya pada preman terminal yang kerap bersitatap kala SMA dulu. Kalung dan gelang yang dipakainya kian meneguhkan sangkaan saya.

Akan tetapi, lima detik berlalu. Cerebellum saya bereaksi dan tanpa saya minta memaparkan bukti-bukti yang mengingatkan saya pada sosok yang saya kenal. Dan ternyata benar. Pria itu mengaku sebagai Tomo teman saya, yang selalu juara dalam ajang tangis-menangis itu.

“Tomo!” teriak saya, yang segera disambut dengan uluran tangan sembari cengengesan.

Sudah hampir tujuh tahun sejak “insiden” Matematika itu terjadi. Kini Tomo sudah berkepala dua, sudah bukan anak ingusan (dalam arti sebenarnya) lagi. Tomo bercelana seksi telah bermetamorfosis menjadi Tomo bermuka preman terminal—Tomo yang gaul, Tomo sang anak masa kini.

Tomo bercerita santai sambil menunggangi skutermetiknya yang hasil modifikasi itu. Setamat dari sekolah-berpagar-tinggi, ia tak melanjutkan pendidikannya. Sebagaimana kebanyakan pemuda Tanggulsari lain, ia mesti melupakan nikmatnya sekolah, kudu membantu orangtuanya mencari nafkah.

Di usia yang masih belia, ia pun segera akrab dengan perahu bermotor, sungai yang keruh dan mendangkal, laut yang bersampah, dan—tentu saja—ikan-ikan. Demikian ia berkisah, dengan raut muka yang sama sekali tak menunjukkan kesenduan, malah justru cengengesan.

Terpaan dan tempaan waktu dengan sukses telah mengubah manusia menjadi seorang yang berbeda ketimbang sebelumnya. Masa lalu sering dengan telak dikangkangi oleh masa kini, yang datang dengan tawaran memabukkan: kemapanan. Masa depan kadang dilihat dari kacamata masa kini, menafikan peran masa lalu sebagai bahan penyusun historisitas manusia.

Dengan demikian, apakah salah jika kita katakan, keacuhan terhadap masa lalulah yang melahirkan kesombongan, kerakusan, dan harga diri berlebihan, sehingga manusia merasa berhak merendahkan manusia lain? Dengan begitu, bukankah arif bila sesekali kita mengingat masa lalu? Menyadari kekerdilan kita, mengingat ketakberartian kita, menyepakati bahwa Akhir tersusun dari Awal-awal…

Dan Tomo—yang menulis kata-kata mutiara di buku tahunan SMP dengan “Hargailah waktu karena tidak bisa kembali ke semula”—pun bakal berteriak lantang, “Berikan secuil waktu untukku!” [Jl Kyai Gilang, 110411, 14:36 WIB]




Tegalirik, Malam-malam..

2 April 2010

oleh A.P. Edi Atmaja

Dengan gamang, kustarter motor. Langit mulai menghitam, bawahnya senyap-senyap saja. Motor pun melajulah.

Satu-dua perempuan nongkrong di luaran. Tak jelas apa yang mereka bahas. Barangkali: gosip. Lain itu, senyap meremang, jalanan mengelam.

Di mana-mana tak kulihat tanda-tanda kehidupan. Apalagi gejolak gemerlap malam. Jalanan mirip kuburan. Hening.

Semakin ke depan, semakin kutahu kampung ini makam. Kecuali mungkin: angsa-angsa itu, berkeliaran bebas di halaman.

Beberapa motor bertengger di luaran. Biar keren, mereka tak dikunci, distandartengahkan. Ternyata maling pun langka di sini.

Apa yang orang-orang lakukan di dalam rumah, kutak-tahu. Bahkan tak peduli. Motor melaju pelan-pelan.

Di ujung jalan, pun ujung “gang”, gejolak masa muda nongol malu-malu. Sayang, cuma dua orang. Itu pun tak penting benar: mereka bergitaran, berdendang tembang tak penting: dangdutan.

Oh ya, spirit itu tampak pula di warnet. Kebanyakan SMP, dengan dandanan khas mereka.

Keluar kampung (dan masuk kampung lain), tongkrongan pemuda nyata meraja: di atas kreteg sempit, di bawahnya mengalir sungai buatan mungil.

Pemuda-pemuda itu anak kampung juga. Jengah merasai keadaan kampung. “Berserikat dan berkumpul” memenuhi hak mereka. Dalam kadar tertentu: mencari perhatian. Dengan bikin macet akses satu-satunya kampung itu.

Dengan mereka, kucuma bilang, “Mangga..”

Kampung lain, namanya Kauman, lebih semarak. Dekat jalan raya adalah alasan utama.

Pelbagai toko bisa ditemui di sini. Banyak juga yang sepi. Ekonomi lagi ngos-ngosan rupanya. Segan menanjak.

Kupenuhi hajatku. Bercengkerama sekejap dengan kawan lama. Habis dapat kerja. Baru bikin kokard, dengan foto dia narsis di depan, berseragam. Bahagia sekali rupanya.

Pelayanan toko sama saja, dari dulu. Pembeli dikira pembeli, bukan raja. Yah, inilah kampung.

Di masjid, hening terkoyak. Anak-anak pesantren berdendang, mirip koor tapi tak seirama. Entah “ritual” apa kali ini. Yang pasti, memang beginilah mestinya masjid. Kudu ramai.

Masuk kampung lagi. Ketemu pemuda kreteg lagi. Melewati dua biduwan jalanan lagi. (Kali ini dengan dendangan dangdut yang lebih seru, rupanya). Warnet, angsa, motor, semua masih di tempat. Lain itu kosong, melompong, seperti kampung-bohong.

Beginilah Tegalirik, malam-malam.. [21:35, 020410]


In Memoriam: Pak (Guru) Muin

18 September 2009

oleh A.P. Edi Atmaja

Saya tak ingat kapan pertama kali ketemu dengannya. Yang saya ingat, dialah wali kelas saya saat kelas dua MI. Terlalu banyak kenangan yang saling tindih, terlalu banyak hal indah yang terlupa.

Dia itu seorang yang selalu bersemangat, saya lihat. Hidupnya benar-benar tercurah buat pekerjaan—atau lebih tepatnya: amal—mengajarkan segenap ilmu yang dimilikinya, sesuai dengan profesinya sebagai guru.

Satu hal penting yang selalu ia petuahkan pada kami, murid-muridnya, adalah senantiasa tekun dalam memperoleh kep(f)ahaman. Baginya, tingkat kep(f)ahaman kita akan suatu ilmu selalu berbanding lurus dengan kegigihan dan antusiasme kita dalam mengejar ilmu tersebut .

Asmuin, yang familiar dipanggil Pak Muin, pun seorang yang bersahaja. Tidak pernah saya lihat ia memakai arloji—yang mungkin bisa dimiliki oleh siapa pun saat itu. Meskipun seorang guru sekolah swasta, pakaian yang ia kenakan jauh dari kesan mewah, bahkan cenderung itu-itu saja: kemeja coklat tua dengan celana berwarna sepadan. Kendati demikian, pakaian itu selalu rapi dan bersih, sehingga tampak selalu baru.

Ia juga seorang yang memaparkan hadis kesohor “kebersihan adalah sebagian dari iman” bukan cuma dalam ranah utopis, tapi juga praksis. Tampilan luarnya selalu resikan, apalagi didukung jenis kulitnya yang putih kekuningan. Wajahnya senantiasa bercahaya, buah dari seringnya ia berwudhu. Tak pelak, ia seorang guru yang good-looking.

Pak Muin, seperti halnya sebagian besar guru lain di sekolah dasar Islam ini, selalu mengedepankan profesionalitas dalam mengajar. Kesuksesan saya dan kawan-kawan saya yang lain dalam pelajaran Bahasa Arab, tentu, merupakan buah manis dari profesionalitas yang diterapkannya ini. Dalam mengajar, ia senantiasa memakai metode pengulangan (repetisi)—kendati hal ini memakan waktu tak sedikit. Ia takkan melanjutkan materi jika materi sebelumnya belum selesai sepenuhnya—dalam artian ada muridnya yang belum p(f)aham benar—sampai pertanyaan “Faham?”-nya dijawab “Paham!” oleh murid-muridnya.

Di sela-sela pelajaran, ia suka menceritakan kebiasaan kedua anak perempuannya yang selalu giat belajar. Waktu itu saya ingat, kapan pun dan di manapun, kedua anaknya itu selalu membawa buku, tentu buat dibaca. Bahkan saat makan dan ke toilet pun, cerita dia, mereka tak segan membawa buku. Saya tak melihat maksud apa pun dengan ceritanya ini, selain bahwa ia ingin memotivasi murid-muridnya agar sukses dalam belajar dan pelajaran.

Namun, tak semua muridnya menyukai—atau minimal: menghargai—ini. Kawan-kawan di bangku belakang bahkan dengan tega memberinya komentar sinis.

Setelah ia tiada kini, saya mulai merasa bahwa ia mengajar di MI Ianatusshibyan (sejak tahun berapa saya tak tahu) itu semata-mata bukan karena materi atau hal duniawi lainnya, tapi karena amal buat kehidupan di akhirat kelak. Saya tak yakin seseorang bisa kaya-raya hanya dengan mengajar di sana karena saya tahu sekolah itu didirikan pun oleh amal.

Namun, sebagai manusia, ia juga punya kelemahan. Ia itu orang yang sangat lembut. Karena kelembutannya ini, ia sering tidak terlalu disegani (kalau tidak ingin bilang: diejek) oleh sebagian murid prianya, yang, mungkin, menganggap kelembutan adalah suatu cacat bagi seorang pria. Mungkin saya salah, itu bukan merupakan kelemahan, tapi kelebihannya yang lain. Saya maklum, kawan-kawan saya itu rupanya terobsesi pada lingkungan, di mana kekerasan dan ketegasan (baca: ke-“premanan”-an) mutlak menduduki level teratas dalam kehidupan: tipikal manusia yang mementingkan otot daripada otak. Begitulah, Pak Muin seringkali diremehkan dalam kelas walaupun ia sendiri tak ambil pusing dengan hal itu.

Saya dan keluarganya dan teman-temannya dan kenalan-kenalannya yang lain barangkali tak akan menduga sama sekali, bahkan memimpikannya pun tidak, bahwa Pak Muin akan kembali ke haribaan-Nya secepat itu. Umurnya masih muda: 50-an tahun, belum “pantas” disemati gelar ‘almarhum’.

Dua hari yang lalu, ia masih mengimami mushalla di dekat rumahnya—amalan lainnya saat ia tak mengajar. Minggu-minggu itu sering saya melihatnya momong anak perempuannya yang terkecil. Sering pula ia berpapasan dengan saya di depan rumah: tak lupa menglakson dan menyapa saya dengan bersemangat. Takdir memang sudah ditentukan, manusia tinggal menjalankan. Orang yang segar-bugar pun, jika takdir dan Tuhan menghendaki, sedetik kemudian bisa wafat.

Saya teringat kata-kata Rusli dalam novel Atheis: “Umur manusia memang singkat, tapi kemanusiaan lama. Maka dari itu, lupakan kesedihanmu dan teruskan bekerja. Bekerja buat kemanusiaan.”

Selamat jalan, Pak Muin. Semoga Anda mendapat tempat yang baik di sisi-Nya. Ilmu yang Anda wariskan pada saya dan teman-teman lain tak akan luntur dan tetap mengalir. Hingga ujung waktu. [Mangkang City, 180909]