Oleh A.P. Edi Atmaja
JANGAN pernah merasa mengenal Semarang sebelum bervakansi ke Mangkang. Ada apa di Mangkang? Gersang belaka daerah itu. Hujan sedikit, banjir. Jalanannya sumpek, polutif, dipenuhi truk-truk. Nggak asyik. Demikian barangkali komentarmu mendengar nama Mangkang disebut-sebut.
Eits, tunggu dulu. Mangkang yang mana dulu. Mangkang itu terbentang berkilo-kilometer, Teh. Luas. Dari IAIN Walisongo sampai Taman Margasatwa Semarang, itulah Mangkang. Mangkang itu meliputi daerah-daerah yang sebenarnya punya nama masing-masing. Daerah seperti Tambakaji, Karanganyar, Damri, Karpet, Tapak, Timbangan, Gunung Jati, dan Wonosari disangka orang-orang yang tinggal di luar Mangkang sebagai Mangkang. Padahal, semua keliru. Mangkang yang “asli”, sebenarnya, cuma Mangkangkulon dan Mangkangwetan: dua nama kelurahan di Kecamatan Tugu.
Jadi, Mangkang yang mana yang lagi kita bicarakan? Kalau mau misuh-misuh (bahasa Semarangan: mengumpat-umpat), Mangkang yang mana yang mesti kita mesti pisuh-pisuhi? Kalau mau mengkritik ketidakberesan pengelolaan Mangkang, atawa masyarakatnya, Mangkang manakah yang seharusnya kita semprot? He-he. Nggak usahlah kita debat kusir (meski saya bukan kusir), bicara yang bukan-bukan, ndakik-ndakik (bahasa Semarangan: serius), atawa jelimet. Biarlah urusan semprot-menyemprot kita serahkan kepada aktivis Mangkang saja—tapi masalahnya, ada nggak ya makhluk bernama aktivis Mangkang itu? He-he-he.
Oke, kembali ke jemuran, eh tulisan.
Mangkang yang definisinya nggak jelas itu sebenarnya indah lo. Ini saya serius. Dua rius malah. Masa sih? katamu.
Gatal
Iya, Teh, kata saya. Mangkang itu, asal kamu tahu, pernah jadi tempat mendarat Laksamana Cheng Ho lo. Kamu tahu kan? Itu tuh penjelajah samudra dari China, yang pernah mendirikan masjid di Semarang—yang sekarang dialihfungsikan jadi kelenteng bernama Sam Po Kong.
Iya, “gosip”-nya memang begitu: Mangkang jadi salah satu tempat pendaratan Laksamana Cheng Ho kala berkunjung ke daerah yang sekarang dinamakan Semarang. Setidaknya, gosip yang saya utarakan benar karena “fakta” itu kecantum dalam buku sejarah Semarang—saya lupa judul dan pengarangnya (sic!)—yang bisa kamu temukan lagi nangkring dengan manisnya, lantaran nggak pernah kesentuh tangan-tangan jahil manusia, di rak Perpustakaan Universitas Diponegoro. Coba deh kamu cek ke sana, Teh, kalau nggak percaya.
Yoi. Di buku itu disebutkan, Laut Mangkang pernah didarati sang laksamana Muslim dalam misi muhibahnya. Keren nggak? Memang seperti apa sih Laut Mangkang? Apa bagusnya?
Laut Mangkang dapat dicapai dengan menyusuri Jalan Kyai Gilang. Lurus terus ke arah utara, sejauh tiga kiloan. Nggak tahu Jalan Kyai Gilang? Itu jalan utama menuju Pondok Pesantren al-Ishlah, Masjid at-Taqwim, atawa SMP Negeri 28 Semarang. Masih nggak tahu juga? Katro banget sih kamu, Teh, katanya orang Semarang. Pokoknya, setelah nemu Jalan Kyai Gilang, kamu lurus saja ke utara sampai mentok.
Jalan ke laut bisa diakses kendaraan roda empat kok. Jangan kuatir. Jalanan telah diaspal mulus, cuma 500 meter menjelang laut belum diaspal. Di sepanjang jalan, bisa kamu temukan pemandangan eksotis khas Mangkang, seperti sawah, tambak, kebun, sungai dengan perahu-perahu yang hendak berlayar ke laut, bau asin laut, bau amis ikan, dan kolor. Lo, kolor siapa itu? tanyamu. Tentu saja kolor nelayan yang mau berangkat ke laut. Memang sengaja koloran, Teh, biar sepoi-sepoi, kata sang nelayan. He-he, sepoi-sepoi apanya? Ada-ada saja nih Kak Nelayan.
Lanjut. Sesampai di Mangkang, jangan kaget kalau yang kamu temui cuma sampah-serapah (?). Yup. Laut yang di awal 1980-an masih indah itu, masih dihiasi pantai berpasir hitam, bersih belum terjamah sampah dan kawan-kawannya, kini tergerus abrasi di sana-sini. Sudah tak tampak kayak pantai lagi. Boro-boro mau berenang, yang ada kulitmu bakal gatal-gatal gara-gara laut yang kotornya ngujubile itu. Syukur-syukur nggak kena panu, kadas, kurap, kutu-air, dan saudara-saudaranya.
Sampah-sampah berserakan. Sampah beranekamacam, berwujud plastik, kayu, sandal jepit kehilangan pasangan, sepatu butut, tas lusuh, kemeja kumal bergeletakan tak karuan mencolok pandangan. Sampah basah atawa kering (tapi kemudian jadi basah—yaiyalah!) itu memproduksi merkuri dan zat-zat yang berbahaya bagi manusia. Jadi, selain merusak pemandangan, sampah-sampah di Laut Mangkang juga bisa memperindah tubuh manusia. Membikinnya jadi semakin nyeni dengan polesan panu, kadas, kurap, kutu-air, dan saudara-saudaranya.
Teh, Teh…
Meski banyak sampah, Laut Mangkang sering jadi tempat melepas penat yang asyik juga. Saban akhir pekan, warga Mangkang beserta seluruh handai-tolannya datang berbondong-bondong ke laut. Bukan mau nyebur, bunuh diri ramai-ramai, Teh, melainkan bunuh waktu, bunuh segala kesumpekan lantaran selama enam hari-tanpa-putus bersibuk-ria di Mangkang.
Warga Mangkang memang terkenal sibuk. Yang punya sawah, sibuk macul, menanami sawahnya. Yang punya tambak, sibuk menguras tambaknya, memanen bandeng-bandeng lantas menjualnya. Yang punya kebun, sibuk menanami kebunnya. Yang punya kerja, sibuk dengan pekerjaannya. Yang punya pacar, sibuk dengan pacarnya. Yang nggak punya apa-apa, sibuk meratapi nasibnya yang papa. Jadilah Laut Mangkang tempat penghiburan yang ramah kantong, terbuka buat segala usia dan lapisan masyarakat.
Untunglah, sampai saat ini, otak-otak bisnis belum bercokol di Laut Mangkang. Investor belum pada datang karena belum melihat potensi riilnya. Seperti beberapa tempat lain di Mangkang, yang dewasa ini mulai dipermak sejak pembangunan besar-besaran Terminal Mangkang, Laut Mangkang pun demikian. Beberapa tempat di Mangkang, meski mendadak punya potensi berkat berdiri megahnya terminal, belum bisa jadi ladang usaha berarti. Rumah toko-rumah toko (ruko) yang dibangun dengan semangat berlebih di awal ternyata hidup-segan-mati-tak-mau lantaran nggak disokong antusiasme penyewa. Beberapa ruko malah tampak telantar di tengah jalan, nggak ada niatan hendak dirampungkan.
Makanya, kendati abrasi dari hari ke hari, Laut Mangkang sebenarnya masih tergolong alami. Belum dicanangkan pembangunan di sana-sini. Menurutmu, Teh, itu keuntungan ataukah kerugian?
Saya kok merasa, ada bagus dan nggak bagusnya, katamu. Tanpa campur-tangan pemerintah, sesungguhnya itu bagus buat warga Mangkang secara keseluruhan. Laut Mangkang, seperti yang sudah dan tengah terjadi selama ini, dijadikan hiburan alternatif warga Mangkang, di samping objek wisata lain yang kebanyakan berbayar. Laut Mangkang adalah ruang publik otonom yang jadi milik semua (res communis), sehingga pemanfaatannya mesti terkait dengan semua warga. Apa yang sudah terjadi kini sudah bagus. Jangan sampai di masa depan Laut Mangkang dikuasai oleh swasta, bahkan oleh pemerintah pun jangan.
Lantas, apa nggak bagusnya, Teh?
Justru sebab tanpa dicampurtangani pemerintah itulah, warga Mangkang seharusnya proaktif menjaga Laut Mangkang baik-baik. Penguasaan meniscayakan tanggungjawab. Alih-alih menjaga, warga malah mengotori laut. Sampah-sampah rumahan dibuang ke kali yang bermuara ke laut. Ketika berwisata, sampah-sampah sisa jajan dibuang seenaknya.
Saya pikir, kamu berujar, setiap warga Mangkang punya kewajiban yang sama buat menjaga sejengkal demi sejengkal karunia alam yang Tuhan limpahkan kepadanya. Laut Mangkang termasuk karunia alam yang tiada tara nilainya.
Beberapa tahun lagi, siapa tahu, karunia itu akan dicabut Tuhan dari kita, akibat kelalaian kita sendiri. Atau, bisa jadi, hakikat alamiahnya terenggut kepentingan ekonomi atawa pemupuk modal. Laut Mangkang tak bisa lagi kita nikmati sebagaimana kita menikmati udara. Kalau itu terjadi, karamlah sudah kedaulatan rakyat. Kedaulatan warga Mangkang. Kedaulatan warga Semarang. Lalu, kedaulatan kita sebagai manusia. Ruang publik tidak lagi jadi milik publik. Bisa berabe!
Teh, Teh… Kamu kok banyak cakap ta… [18032012, 12.41]


Ditulis oleh sastrakelabu 


