Karam di Laut Mangkang

18 Maret 2012

Oleh A.P. Edi Atmaja

JANGAN pernah merasa mengenal Semarang sebelum bervakansi ke Mangkang. Ada apa di Mangkang? Gersang belaka daerah itu. Hujan sedikit, banjir. Jalanannya sumpek, polutif, dipenuhi truk-truk. Nggak asyik. Demikian barangkali komentarmu mendengar nama Mangkang disebut-sebut.

Eits, tunggu dulu. Mangkang yang mana dulu. Mangkang itu terbentang berkilo-kilometer, Teh. Luas. Dari IAIN Walisongo sampai Taman Margasatwa Semarang, itulah Mangkang. Mangkang itu meliputi daerah-daerah yang sebenarnya punya nama masing-masing. Daerah seperti Tambakaji, Karanganyar, Damri, Karpet, Tapak, Timbangan, Gunung Jati, dan Wonosari disangka orang-orang yang tinggal di luar Mangkang sebagai Mangkang. Padahal, semua keliru. Mangkang yang “asli”, sebenarnya, cuma Mangkangkulon dan Mangkangwetan: dua nama kelurahan di Kecamatan Tugu.

Jadi, Mangkang yang mana yang lagi kita bicarakan? Kalau mau misuh-misuh (bahasa Semarangan: mengumpat-umpat), Mangkang yang mana yang mesti kita mesti pisuh-pisuhi? Kalau mau mengkritik ketidakberesan pengelolaan Mangkang, atawa masyarakatnya, Mangkang manakah yang seharusnya kita semprot? He-he. Nggak usahlah kita debat kusir (meski saya bukan kusir), bicara yang bukan-bukan, ndakik-ndakik (bahasa Semarangan: serius), atawa jelimet. Biarlah urusan semprot-menyemprot kita serahkan kepada aktivis Mangkang saja—tapi masalahnya, ada nggak ya makhluk bernama aktivis Mangkang itu? He-he-he.

Oke, kembali ke jemuran, eh tulisan.

Mangkang yang definisinya nggak jelas itu sebenarnya indah lo. Ini saya serius. Dua rius malah. Masa sih? katamu.

Gatal

Iya, Teh, kata saya. Mangkang itu, asal kamu tahu, pernah jadi tempat mendarat Laksamana Cheng Ho lo. Kamu tahu kan? Itu tuh penjelajah samudra dari China, yang pernah mendirikan masjid di Semarang—yang sekarang dialihfungsikan jadi kelenteng bernama Sam Po Kong.

Iya, “gosip”-nya memang begitu: Mangkang jadi salah satu tempat pendaratan Laksamana Cheng Ho kala berkunjung ke daerah yang sekarang dinamakan Semarang. Setidaknya, gosip yang saya utarakan benar karena “fakta” itu kecantum dalam buku sejarah Semarang—saya lupa judul dan pengarangnya (sic!)—yang bisa kamu temukan lagi nangkring dengan manisnya, lantaran nggak pernah kesentuh tangan-tangan jahil manusia, di rak Perpustakaan Universitas Diponegoro. Coba deh kamu cek ke sana, Teh, kalau nggak percaya.

Yoi. Di buku itu disebutkan, Laut Mangkang pernah didarati sang laksamana Muslim dalam misi muhibahnya. Keren nggak? Memang seperti apa sih Laut Mangkang? Apa bagusnya?

Laut Mangkang dapat dicapai dengan menyusuri Jalan Kyai Gilang. Lurus terus ke arah utara, sejauh tiga kiloan. Nggak tahu Jalan Kyai Gilang? Itu jalan utama menuju Pondok Pesantren al-Ishlah, Masjid at-Taqwim, atawa SMP Negeri 28 Semarang. Masih nggak tahu juga? Katro banget sih kamu, Teh, katanya orang Semarang. Pokoknya, setelah nemu Jalan Kyai Gilang, kamu lurus saja ke utara sampai mentok.

Armada Perahu menuju Laut

Armada Perahu menuju Laut/tvku.tv

Jalan ke laut bisa diakses kendaraan roda empat kok. Jangan kuatir. Jalanan telah diaspal mulus, cuma 500 meter menjelang laut belum diaspal. Di sepanjang jalan, bisa kamu temukan pemandangan eksotis khas Mangkang, seperti sawah, tambak, kebun, sungai dengan perahu-perahu yang hendak berlayar ke laut, bau asin laut, bau amis ikan, dan kolor. Lo, kolor siapa itu? tanyamu. Tentu saja kolor nelayan yang mau berangkat ke laut. Memang sengaja koloran, Teh, biar sepoi-sepoi, kata sang nelayan. He-he, sepoi-sepoi apanya? Ada-ada saja nih Kak Nelayan.

Lanjut. Sesampai di Mangkang, jangan kaget kalau yang kamu temui cuma sampah-serapah (?). Yup. Laut yang di awal 1980-an masih indah itu, masih dihiasi pantai berpasir hitam, bersih belum terjamah sampah dan kawan-kawannya, kini tergerus abrasi di sana-sini. Sudah tak tampak kayak pantai lagi. Boro-boro mau berenang, yang ada kulitmu bakal gatal-gatal gara-gara laut yang kotornya ngujubile itu. Syukur-syukur nggak kena panu, kadas, kurap, kutu-air, dan saudara-saudaranya.

Sampah-sampah berserakan. Sampah beranekamacam, berwujud plastik, kayu, sandal jepit kehilangan pasangan, sepatu butut, tas lusuh, kemeja kumal bergeletakan tak karuan mencolok pandangan. Sampah basah atawa kering (tapi kemudian jadi basah—yaiyalah!) itu memproduksi merkuri dan zat-zat yang berbahaya bagi manusia. Jadi, selain merusak pemandangan, sampah-sampah di Laut Mangkang juga bisa memperindah tubuh manusia. Membikinnya jadi semakin nyeni dengan polesan panu, kadas, kurap, kutu-air, dan saudara-saudaranya.

Teh, Teh…

Meski banyak sampah, Laut Mangkang sering jadi tempat melepas penat yang asyik juga. Saban akhir pekan, warga Mangkang beserta seluruh handai-tolannya datang berbondong-bondong ke laut. Bukan mau nyebur, bunuh diri ramai-ramai, Teh, melainkan bunuh waktu, bunuh segala kesumpekan lantaran selama enam hari-tanpa-putus bersibuk-ria di Mangkang.

Warga Mangkang memang terkenal sibuk. Yang punya sawah, sibuk macul, menanami sawahnya. Yang punya tambak, sibuk menguras tambaknya, memanen bandeng-bandeng lantas menjualnya. Yang punya kebun, sibuk menanami kebunnya. Yang punya kerja, sibuk dengan pekerjaannya. Yang punya pacar, sibuk dengan pacarnya. Yang nggak punya apa-apa, sibuk meratapi nasibnya yang papa. Jadilah Laut Mangkang tempat penghiburan yang ramah kantong, terbuka buat segala usia dan lapisan masyarakat.

Laut Mangkang Kotor

Laut Mangkang Kotor/Biota Foundation

Untunglah, sampai saat ini, otak-otak bisnis belum bercokol di Laut Mangkang. Investor belum pada datang karena belum melihat potensi riilnya. Seperti beberapa tempat lain di Mangkang, yang dewasa ini mulai dipermak sejak pembangunan besar-besaran Terminal Mangkang, Laut Mangkang pun demikian. Beberapa tempat di Mangkang, meski mendadak punya potensi berkat berdiri megahnya terminal, belum bisa jadi ladang usaha berarti. Rumah toko-rumah toko (ruko) yang dibangun dengan semangat berlebih di awal ternyata hidup-segan-mati-tak-mau lantaran nggak disokong antusiasme penyewa. Beberapa ruko malah tampak telantar di tengah jalan, nggak ada niatan hendak dirampungkan.

Makanya, kendati abrasi dari hari ke hari, Laut Mangkang sebenarnya masih tergolong alami. Belum dicanangkan pembangunan di sana-sini. Menurutmu, Teh, itu keuntungan ataukah kerugian?

Saya kok merasa, ada bagus dan nggak bagusnya, katamu. Tanpa campur-tangan pemerintah, sesungguhnya itu bagus buat warga Mangkang secara keseluruhan. Laut Mangkang, seperti yang sudah dan tengah terjadi selama ini, dijadikan hiburan alternatif warga Mangkang, di samping objek wisata lain yang kebanyakan berbayar. Laut Mangkang adalah ruang publik otonom yang jadi milik semua (res communis), sehingga pemanfaatannya mesti terkait dengan semua warga. Apa yang sudah terjadi kini sudah bagus. Jangan sampai di masa depan Laut Mangkang dikuasai oleh swasta, bahkan oleh pemerintah pun jangan.

Lantas, apa nggak bagusnya, Teh?

Justru sebab tanpa dicampurtangani pemerintah itulah, warga Mangkang seharusnya proaktif menjaga Laut Mangkang baik-baik. Penguasaan meniscayakan tanggungjawab. Alih-alih menjaga, warga malah mengotori laut. Sampah-sampah rumahan dibuang ke kali yang bermuara ke laut. Ketika berwisata, sampah-sampah sisa jajan dibuang seenaknya.

Saya pikir, kamu berujar, setiap warga Mangkang punya kewajiban yang sama buat menjaga sejengkal demi sejengkal karunia alam yang Tuhan limpahkan kepadanya. Laut Mangkang termasuk karunia alam yang tiada tara nilainya.

Beberapa tahun lagi, siapa tahu, karunia itu akan dicabut Tuhan dari kita, akibat kelalaian kita sendiri. Atau, bisa jadi, hakikat alamiahnya terenggut kepentingan ekonomi atawa pemupuk modal. Laut Mangkang tak bisa lagi kita nikmati sebagaimana kita menikmati udara. Kalau itu terjadi, karamlah sudah kedaulatan rakyat. Kedaulatan warga Mangkang. Kedaulatan warga Semarang. Lalu, kedaulatan kita sebagai manusia. Ruang publik tidak lagi jadi milik publik. Bisa berabe!

Teh, Teh… Kamu kok banyak cakap ta[18032012, 12.41]


Perempuan di Ujung Gang

22 Januari 2012

Oleh A.P. Edi Atmaja

 [Buat A di Jangli]

Dia sekonyong-konyong berdiri di hadapanku. Tanpa kumengerti, ragaku mendadak terpaku. Tidak perlu waktu lama baginya—dengan kemunculannya yang entah dari mana—buat menjerat mataku dengan tatapannya. Dia telah sukses memalingkanku dari dunia. Dia menyihirku. Dia—kau tahu, Sahabat—dulu pernah menjadi perempuan yang amat kubenci.

Kini, aku dan dia bersitatap, lewat perjumpaan yang tak disengaja, dalam sebuah acara mahasiswa di Tembalang.

Suasana yang melingkupi kami waktu itu tak senyaman yang kaubayangkan. Di atas ubun-ubun, matahari bersinar amat menyengat. Kami berdiri santai di tanah lapang seakan-akan lama nian tak bersua dengan mentari.

Aku tak ingat apa pun, Sahabat. Kecuali matanya; mata itu berbinar dengan demikian cantik bak rembulan di tengah gulita. Kecuali bibirnya; bibir itu melengkung dengan derajat kelengkungan sensual yang mampu meluluhlantakkan hati lelaki mana pun. Kecuali rambutnya; rambut itu melengkapi sekaligus mempercantik wajahnya, rambut yang telah lama kunantikan dimiliki seorang perempuan. Sahabat, aku telah mabuk. Maafkan jika kata membuncah tak karuan.

Kuangsurkan salam terhangatku padanya. Dan, kala ia menjabat tanganku, ada semacam percikan listrik di hati, pergesekan voltase, yang membuat jantung berdebar kencang. Tangannya begitu halus dan lembut, dengan jemari nan mungil. Kugenggam tangannya dan ia genggam tanganku, dan kemarau yang melanda di sekitar kami tak terasa lagi. Darahku berdesir dan, tanpa kumengerti, segera teraliri molekul-molekul kesejukan yang datang entah dari mana.

Kata-kata yang tak terucap terwakili dalam diam. Diamku punya seribu makna. Makna-makna itu menyumbat tenggorokanku, sehingga yang keluar dari mulut cuma basa-basi tak berarti. Aku terperangkap suasana. Oh, Sahabat, andai saja lidahku tak kelu begini.

“Apa kabar?” kataku.

“Kabar baik,” katanya.

Diriku dan dirinya pun berlalu laiknya semilir angin. Kami punya rutinitas. Aku punya banyak pikiran yang mesti dilakukan. Tetapi—ini rahasia, Sahabat—potret wajahnyalah yang sejak saat itu menghiasi koridor-koridor kepalaku nan berliku.

***

Perempuan di Ujung Gang

© Analisa, 2012

Empat tahun yang lalu, dalam sebuah ruang kelas, aku dan A berjumpa buat kali pertama. A—si buruk rupa itu—seorang hiperaktif sejati. Dia selalu enerjik dan bersemangat tiap waktu. Hingga, kau mungkin akan merasa, kehidupannya indah senantiasa, dan kita tak perlu demikian mengkhawatirkannya.

Itu jauh sebelum aku mengerti apa yang dinamakan dengan kepura-puraan.

Berkat semangat A yang meluap-luap—entah di dalam, entah di luar kelas—itu, guru-guru mengenalnya dengan sangat baik. Ia pun menjadi teman karib bagi semua kalangan di sekolah menengah ini.

Tapi itu tidak berlaku bagiku. Aku telanjur jengah kepadanya. Aku selalu membuat jarak dan ogah dekat-dekat. Bukan karena apa-apa, justru lantaran tingkah-lakunya yang hiperaktif itulah, yang berlebihan, yang sering membuatku bergidik. Aku benci melihat perempuan yang tidak menjaga kodrat ke-kemayu-annya. Selain itu, penampilannya yang kodian pun kian menambah kadar kejijikanku padanya.

Yang paling kubenci dari A adalah cara ketawanya yang sering kelewat batas. Tawanya berderai dengan sangat keras—hingga kau pun akan masih mendengarnya dalam radius belasan meter—meski kupikir lelucon itu tak pantas ditertawai sedemikian heboh. Tawa A nyaris tanpa beban, lepas, dan seolah-olah mengejekku, pria dengan kadar kependiaman tingkat wahid.

Aku semakin memperlebar garis demarkasi dengannya kala kucium gelagat itu: ia menaksir padaku, Sahabat! Kumohon jangan menuduhku ge-er dulu. Ia mengataiku tampan di suatu waktu, langsung di depan mukaku, dan teman-teman tahu semua. Jelas aku malu setengah mati diperlakukan begitu. Aku sadar, dia berupaya mendekatiku dengan segenap daya. Kupikir hal bodoh jika membiarkan ini lebih lanjut. Aku menjauh darinya sembari meningkatkan kadar kebencianku untuknya.

Aku melakukan beragam cara demi meredam gelagat agresifnya itu. Aku tak peduli lagi, bahkan kata-kataku yang paling kasar pun bakal kusumpah-serapahkan jika ia tak jua mengerti. Demikian antipatinya aku, Sahabat, sampai-sampai berdiri di dekatnya pun aku tak sudi. Memalingkan muka untuknya kulakukan sehari-hari. Aku tak sadar, sikap demikian terang telah melampaui level kebencian manusia.

Dan kemudian, ia benar-benar jauh dariku. Percakapan kami lakukan hanya untuk urusan-urusan penting dan mendesak. A terbenam dalam dunianya, yang tak pernah kutahu dan tak akan kupedulikan.

***

Kelas 2 SMA, kata orang-orang, adalah masa muda yang paling indah. Kadang-kadang, Sahabat, kuakui itu. Aku memperbandingkannya dengan masa-masa lain, dan semakin kuakui itu. Kelas 1 identik dengan masa awal menapakkan kaki di SMA, masa adaptasi dengan semua yang terlihat, teraba, tercium, dan terdengar. Masa mengenali teman, bukan berteman. Bagaimana bisa menikmati indahnya pertemanan kalau masih dalam tahap mengenali?

Kelas 3 lebih tampak sebagai masa belajar tiada akhir. Ujian akhir dan masa depan selepas SMA selalu jadi beban pikiran sepanjang waktu. Buku dan pena mesti senantiasa kita akrabi, tugas-tugas kudu telaten kita garap, bila tak ingin masa depan kita tak pasti. Semua terasa menekan, terasa menyiksa, hingga kita pun lupa menghibur diri sendiri.

Kenangan yang kuingat kuat saat kelas 2 SMA, Sahabat, adalah kala berlibur ke Bali. Sahabat, masih ingatkah kau pada kenangan itu?

Malam itu malam terakhir liburan di Bali. Wali kelas memerintahkan kami berkumpul di luar penginapan. Aku tak tahu alasan pak tua itu dengan idenya. Tak tahukah dia betapa capek badan ini sehabis berputar-putar seharian di tiga tempat wisata. Kami mestinya tidur pulas seperti yang lain. Kulihat rona letih menggelayuti muka saban teman yang kutemui.

Di pondok kecil di samping penginapan, kami berkumpul. Semua duduk melingkar dengan wali kelas sebagai pusatnya. A duduk membenamkan kepala di lututnya. Aku sendiri duduk jauh darinya.

Belum ada setengah jam wali kelas menyerocos dengan ceramahnya yang membosankan, kulihat di pojokan, tempat A membenamkan kepala di lutut, terjadi kehebohan. Anak-anak perempuan berteriak histeris. A kesurupan.

Forum yang semestinya khidmat itu kacau-balau tak karuan. Wali kelas bingung, gugup, dan tak tahu apa yang mesti diperbuat. Ketua kelas kami berinisiatif mencari Pak Mul, guru Bahasa yang konon cukup “pintar”. Pak Mul datang. Dengan tenang ia mendekati A, meraba kepalanya, sembari mengomat-kamitkan sesuatu. Kulihat A meraung. Ia mirip cacing kepanasan, meronta-ronta liar mau lari, sesekali menjerit kencang. Pak Mul adalah pria yang tabah, tak gentar ia menghadapi “makhluk bandel” itu—yang kini ia yakini hinggap di jisim A.

Teman-teman kelas lain terbangun dari tidurnya. Pondok mungil itu mendadak ramai. Semua bersiaga menghadapi kemungkinan terburuk. Dalam suasana kritis itu, masih ada juga orang yang bisa-bisanya iseng, membumbui peristiwa itu dengan isu-isu lain yang tak kalah seru: melihat sepotong kepala di atas televisilah, dikasih lihat “penampakan” saat shalatlah, ditemui makhluk kala berbelanja tadi sianglah, dan sebagainya. Suasana yang pada mulanya memang horor menjadi kian mencekam lantaran cerita-cerita itu.

Beberapa menit berlalu. Situasi telah normal kembali. A berbaring dengan tenang di kamarnya. Si makhluk bandel, kata Pak Mul, sudah berhasil diusir dari raganya. Teman-teman sekamarnya—juga teman-teman karibnya—tidak berani dekat-dekat, lebih memilih tidur di tempat lain, meski di kamar anak laki-laki sekalipun!

Kami, para pria, mau tak mau mesti ronda semalaman. Bagi teman yang penakut, jelas ini bagus. Kumpul-kumpul membicarakan sesuatu jelas lebih asyik ketimbang berusaha tidur dengan imajinasi-imajinasi seram di kepala.

Kami semua mengerti pada akhirnya: A ternyata bukan perempuan yang riang selalu. Buktinya, ia bisa kerasukan seperti itu, tak lain karena jiwanya kosong. Orang dengan jiwa kosong adalah orang yang kesepian, yang menghadapi kepedihan meski di luar tampak senang. Tidak pernah sekali pun kutahu, Sahabat, seberat apa kepedihan yang menderanya. Kata teman-teman karibnya, ia sering kedapatan sedang melamun sendirian. Entah apa yang ia pikirkan. A yang dipahami semua orang adalah A yang selalu gembira dan senang serta menggembirakan dan menyenangkan orang lain. A yang kita kenal tak bakal sekelebat pun kita bayangkan akan sanggup kesurupan—sindrom yang cuma melanda orang-orang yang putus asa, tak punya teman, hilang arah, tersesat dalam kepekatan gang-gang kehampaan.

Itu jauh sebelum kita mengerti apa yang dinamakan dengan kepura-puraan.

***

Seorang perempuan manis duduk anggun di hadapanmu. Kau datang telat sepuluh menit dari waktu yang diperjanjikan. Kau sedikit malu, sekaligus rikuh, lantaran keterlambatan yang sangat biasa itu. Kau meminta maaf padaku, juga pada perempuan manis di hadapanmu. Mimik penasaranmu kulihat dengan jelas mengandung tanya padaku, siapa dia?

Perkenalkan, Sahabat, namanya A. Usianya 25 tahun, bekerja sebagai psikolog andal di kantor psikologi ternama di kota ini. Kariernya yang terus menanjak dari bulan ke bulan, pelan tapi pasti bakal mengantarkannya menjadi psikolog terkemuka di negeri ini.

Buat meraih posisinya sekarang, bukan tanpa perjuangan. Cukup lama A memahami apa arti kesungguhan dan keuletan. Kesabarannya dalam menghadapi hidup telah menempanya menjadi pribadi yang keras hati. Kadang aku malah khawatir akan kondisi fisiknya yang selalu diforsir semacam itu.

Beberapa waktu sejak pertemuan kami di lapangan nan terik itu, A lekat selalu di hatiku. Aku tak mengerti rasa aneh yang tiba-tiba kurasakan. Yang pasti, stereotip negatifku padanya menjadi hangus dengan sendirinya.

Caci-makilah aku layaknya lelaki yang sedang kena batunya, Sahabat. Terkadang aku memang menyesal atas sikapku di masa silam. Aku menjustifikasi manusia dengan begitu bengisnya, dan kini kebengisan itu menjadi bumerang bagiku. Padahal, aku hapal benar bunyi sabda Nabi suatu kali, “Bencilah manusia sewajarnya karena siapa tahu ia bakal menjadi orang yang paling kau cintai. Cintailah manusia sewajarnya karena, di kemudian hari, barangkali ia menjadi orang yang paling kaubenci.”

A yang barusan kuperkenalkan padamu, bagiku, kini bermetamorfosis. Ia telah menjadi kupu-kupu yang amat menawan. Ia melihat seberkas cahaya, yang kemudian menuntunnya keluar dari kungkungan gang kehampaan dan kepura-puraan. Ia telah menemukan dirinya, dan dengan percaya diri menciptakan mimpi-mimpi lantas berusaha menggapainya. Ia telah sampai di ujung gang. Ia siap menyongsong dunia baru.

Mangkang City, 050311, 00:49 WIB

*) Cerpen ini pernah dimuat dalam harian Analisa pada 18 Januari 2012.


Bakau

11 November 2011

Oleh A.P. Edi Atmaja

Berdiri tegak merumpun
Kumpulanmu membuatku bingung

Di suatu pagi yang teduh
Di jalan tak ada ujung
Di sungai keruh yang berkelok-kelok
–ke laut

Dua ekor kucing memperdebatkan masa lalu
Dua orang manusia duduk mesra berdua
Mengapa dunia kian fana saja?

Kusapa hai pada bakau-bakau itu
Akar-akarnya mendekapku erat
Memeluk laut

Biarlah begitu, seru orang-orang
Harap orang-orang

Ku tak sabar menanti Mangkang
Setengah abad kemudian

[191111.0714]


Secuil Waktu buat Tomo

13 April 2011

Oleh A.P. Edi Atmaja

SEKOLAH ITU cukup besar kalau dibandingkan dengan SMP kebanyakan. Bukan besar, ding, melainkan luas. Maklum, letaknya yang di pinggiran kota membuatnya gampang melahap segala lahan yang ada. Tanah di situ—menurut bahasa lokal—turah-turah; artinya tak terbatas, berhektar-hektar luasnya hingga “bersisa-sisa”. Harganya pun relatif murah. Dan, tahukah kau, itulah sebab mengapa sekolah itu memperluas “ekspansi”-nya saban ganti tahun ajaran.

Tembok pembatas yang tinggi-tinggi dibangun mengitari sekolah. Laksana benteng, keluasan yang ada diimbangi dengan ketertutupan, yang kemudian menjadikannya tampak megah dan perkasa dan angker dari luaran.

Sebetulnya, ada kata sifat lain yang tepat buat sekolah itu: mewah. Ya, via sudut-pandang tertentu, kau akan melihat, sekolah ini bak berada di tengah-tengah sawah. Sehingga orang-orang menyebutnya mewah: mepet sawah.

Jauh dari kemegahan, apalagi ketertutupan, sekitar satu kilometer ke utara dari sekolah, ada sebuah perkampungan nelayan. Menuju sana, kau bakal disuguhi panorama pesisir nan eksotik. Jalanan mulus bekas aspal baru akan segera menuntunmu. Berkelok-kelok, nyaris bebas hambatan.

Sawah-sawah yang lantas ditingkahi pula oleh panorama tambak—dengan pemukiman penduduk di sela-selanya—berjejer di sepanjang jalan. Di tepinya, sungai besar nan panjang terdapat. Sungai itu bermuara ke laut.

Tanggulsari nama perkampungan itu. Bau pantai sudah bisa kau cium mulai dari sini. Rumah-rumah dengan ukuran bervariasi berderet-deret yang, sayang, menampakkan sedikit kekumuhan. Perahu-perahu bermesin diesel terparkir rapi, rada menjauh di depan rumah, di sungai yang makin mendekati laut makin melebar itu.

Ketandusan, kegersangan, keamisan bau pantai, semilir angin laut, dan (sedikit) kekumuhan—itulah yang bakal kau rasai kalau nekat melepas waktu di kampung ini. Begitu pun dari seorang Nur Utomo, yang sudah sejak lama menganggap Tanggulsari sebagai tumpah-darahnya.

***

NUR UTOMO, 14 tahun, duduk sebangku dengan Ardiansyah alias Kates. Urutan bangku mereka nomor dua dari depan. Miopilah alasan mengapa kedua makhluk ini memilih depan—sebuah ketaklaziman di antara murid sekelas, yang paranoid dengan bangku depan.

Dalam suasana kelas yang ingar-bingar itulah, Nur Utomo, tokoh pesisir kita ini, berusaha mencerap pengetahuan dari SMP negeri satu-satunya di daerah itu—SMP dengan tembok pembatas yang tinggi menjulang, yang barusan kita kulik.

Tomo—demikian sapaan buat tokoh kita ini, kadangkala—memilih bersekolah di situ bukan tanpa alasan. SMP yang mewah itu sedari dulu telah masyhur dikenal sebagai SMP favorit, paling tidak dalam “kawasan regional” (baca: Mangkang dan sekitarnya). Tompel—demikian sapaan buat tokoh kita ini, seringkali—jelas bukan seorang dengan intellectual quotient cetek. Semata-mata lantaran otaknya yang encerlah, Tompel dapat turut tersaring di sekolah prestisius itu.

Tompel—berpostur sedang, dengan tinggi kurang dari 165 cm, berkulit coklat gelap akibat terlalu lama terpapar sinar Matahari—senantiasa memakai celana pendek 5 cm di atas lutut yang ketatnya ngujubile. Maklum, celana itu sudah dua tahun ia pakai, dan menurut orangtuanya belum waktunya diperbaharui.

Tompel, kita semua tahu, adalah anak yang berbakti. Tak pernah ia menuntut macam-macam, sementara kebanyakan anak lelaki lain berlomba-lomba memakai celana dengan gaya terkini: kombor, di bawah lutut, mirip celana tiga-perempat yang lagi booming. Celana yang dari jauh tampak kebesaran.

Alhasil, mereka, anak-anak itu, mengolok-olok Tompel sebagai anak seksi. Tak ketinggalan teman sebangkunya, Kates. Kates termasuk pengolok yang cukup militan. Sehingga Tompel pada akhirnya justru menangis di bangkunya sendiri, menjadi korban KDRK: kekerasan dalam ruang kelas.

***

TENTU SAJA yang saya maksud sebagai “menangis” adalah menangis dalam definisi sungguhan. Ya, Tomo adalah pria dengan kadar emosional tinggi. Perasaannya sangat sensitif sehingga kala kau senggol sedikit saja, air matanya akan dengan gampang bercucuran.

Dalam ajang tangis-menangis, Tomo punya rekor yang fantastis. Prestasinya nyaris menyamai Charles Kurzman, penangis tersering di dunia. Omong-omong, saya kurang tahu pasti, adakah orang bernama Charles Kurzman? Atau, apakah memang benar ada rekor penangis tersering?

Baik, serius. Maksud saya, atau saya ingin bilang bahwa, Tomo sering sekali kedapatan sedang berasyik-masyuk menangis di kelas, dengan disaksikan banyak orang. Mau menangis ketika pelajaran berlangsung atau pas istirahat-main, tak jadi soal baginya. Pokoknya, menangis mesti jalan terus, begitu barangkali prinsip Tomo.

Dan Tomo punya pengalaman menangis-saat-pelajaran-berlangsung yang cukup bervariasi, lho. Salah satunya, saat pelajaran Matematika.

Pada suatu pagi yang bolong, Pak F, guru Matematika, memberi soal yang bukan main susahnya. Kami sekelas sudah gemetaran bahkan saat angka pertama selesai dituliskan. Pasalnya, sehabis itu, Pak F pasti akan langsung menyelenggarakan acara tunjuk-menunjuk, yang sama sekali tak menarik bagi para orok sekalipun. Dalam acara itu, akan ditentukan siapa manusia yang ketiban sial disuruh menggarap soal bikinannya, yang tak jarang bisa menyebabkan pingsan tiga hari-tiga malam.

Di tribun depan, atmosfer serasa gonjang-ganjing. Karena, biasanya, dari sanalah kandidat pertama terpilih.

Tomo, duduk di bangku nomor dua dari depan, sontak menjadi pusat perhatian. Bangku nomor satu kosong lantaran penghuninya mendadak absen tanpa alasan yang jelas. Dalam keadaan yang “berbahagia” itu, ternyata Kates pun memperparah keadaan. Hari itu ternyata ia juga absen. Dan Tomo pun menjadi single fighter di garda terdepan.

Tanpa sedikit pun keraguan, Pak F menunjuk Tomo.

Semenit, dua menit, lima menit, kemudian sepuluh menit berlalu, tiada gelagat soal bakal diselesaikan dengan hasil memuaskan. Di depan, Tomo memegang kapur sembari berzikir. Jiwanya sudah menyerah lima menit yang lalu. Pikirannya berputar-putar. Semua jalan telah tertutup untuk Roma.

Semakin ia berpikir, semakin sebal ia pada semuanya. Pada Pak F yang memberinya soal yang tak mampu ia kerjakan, pada kedua teman di bangku nomor satu dan Kates yang tiba-tiba absen, pada semua teman yang cuma memelototinya—menikmati betul kesusahannya bergulat dengan soal di depan.

Tomo berubah menjadi sangat emosional. Ada kesesakan tertentu yang pada awalnya muncul dari dalam dada, kemudian naik ke kerongkongan. Kian naik, kian naik, kian naik… Kesesakan itu sampai di pelupuk mata, berdesak-desakan mau keluar. Dalam sepersekian detik, Tomo sadar, ia mesti bertahan sekuat tenaga. Tapi pertahanannya telat. Sang sesak telah menemukan kebebasannya, berhasil lolos dari kelopak mata. Ada cairan mengalir dari mata. Tomo menangis.

Pak F pun mesti menyudahi acara tunjuk-menunjuk itu sebelum kehebohan kelas semakin menjadi-jadi.

***

SESEORANG menepuk pundak saya pada suatu senja. Saya lagi menunggang motor, mengendarainya pelan-pelan.

Saya menoleh. Pria berambut gondrong menjajari motor saya dengan skutermetiknya. Sesaat, saya kurang ngeh dengan pemuda berbadan gelap itu. Tampangnya mengingatkan saya pada preman terminal yang kerap bersitatap kala SMA dulu. Kalung dan gelang yang dipakainya kian meneguhkan sangkaan saya.

Akan tetapi, lima detik berlalu. Cerebellum saya bereaksi dan tanpa saya minta memaparkan bukti-bukti yang mengingatkan saya pada sosok yang saya kenal. Dan ternyata benar. Pria itu mengaku sebagai Tomo teman saya, yang selalu juara dalam ajang tangis-menangis itu.

“Tomo!” teriak saya, yang segera disambut dengan uluran tangan sembari cengengesan.

Sudah hampir tujuh tahun sejak “insiden” Matematika itu terjadi. Kini Tomo sudah berkepala dua, sudah bukan anak ingusan (dalam arti sebenarnya) lagi. Tomo bercelana seksi telah bermetamorfosis menjadi Tomo bermuka preman terminal—Tomo yang gaul, Tomo sang anak masa kini.

Tomo bercerita santai sambil menunggangi skutermetiknya yang hasil modifikasi itu. Setamat dari sekolah-berpagar-tinggi, ia tak melanjutkan pendidikannya. Sebagaimana kebanyakan pemuda Tanggulsari lain, ia mesti melupakan nikmatnya sekolah, kudu membantu orangtuanya mencari nafkah.

Di usia yang masih belia, ia pun segera akrab dengan perahu bermotor, sungai yang keruh dan mendangkal, laut yang bersampah, dan—tentu saja—ikan-ikan. Demikian ia berkisah, dengan raut muka yang sama sekali tak menunjukkan kesenduan, malah justru cengengesan.

Terpaan dan tempaan waktu dengan sukses telah mengubah manusia menjadi seorang yang berbeda ketimbang sebelumnya. Masa lalu sering dengan telak dikangkangi oleh masa kini, yang datang dengan tawaran memabukkan: kemapanan. Masa depan kadang dilihat dari kacamata masa kini, menafikan peran masa lalu sebagai bahan penyusun historisitas manusia.

Dengan demikian, apakah salah jika kita katakan, keacuhan terhadap masa lalulah yang melahirkan kesombongan, kerakusan, dan harga diri berlebihan, sehingga manusia merasa berhak merendahkan manusia lain? Dengan begitu, bukankah arif bila sesekali kita mengingat masa lalu? Menyadari kekerdilan kita, mengingat ketakberartian kita, menyepakati bahwa Akhir tersusun dari Awal-awal…

Dan Tomo—yang menulis kata-kata mutiara di buku tahunan SMP dengan “Hargailah waktu karena tidak bisa kembali ke semula”—pun bakal berteriak lantang, “Berikan secuil waktu untukku!” [Jl Kyai Gilang, 110411, 14:36 WIB]




Mauludan di Kampung Saya

8 Maret 2009

oleh A.P. Edi Atmaja

Jangan Anda pikir “tradisi” Islam tradisional sudah lenyap dari kota semimetropolis sekaliber Semarang. Coba mampir ke kampung saya, Mangkang “City”. Di sana, tradisi yang paling tradisional pun masih tersaji di mana-mana.

Salah satu dari tradisi itu adalah perayaan kelahiran Nabi Muhammad Saw—yang biasa disebut Maulud (atau Maulid, sama saja). Di kampung saya, perayaan Maulud ini sangat unik, membumi, dan, bahkan, langka ditemukan di Semarang, ibukota yang “modern”.

Modernitas ternyata tak berhasil menggusur warisan keislaman leluhur kita. Mauludan, penyebutan lazim Maulud, adalah buktinya.

Mauludan, antara lain, berisi nadham-nadham (syair lagu berbahasa Arab), secuplik ayat Al-Quran (dalam hal ini Surat al-Fath), kisah Nabi Muhammad Saw dalam bahasa Arab yang bersajak indah (biasanya Barzanji Natsar atau Barzanji Nadham), dan doa. Yang paling menarik adalah saat pembacaan bab keempat Barzanji Natsar, di mana setelah pendarus membaca “nuuran yatala’ la u sanaah“, semua yang hadir diharuskan berdiri dengan menyenandungkan:

marhaban ya nural ‘aini, ya marhaban

marhaban jaddal husaini, ya marhaban

wamuhayyan kasysyamsi minka mudhiun

asfarat anhu lailatun gharrau

marhaban ya nural ‘aini, ya marhaban

marhaban jaddal husaini, ya marhaban

lailatul maulidilladzi kana liddi..ni sururun biyaumihi wazdihau

marhaban ya nural aini, ya marhaban

marhaban jaddal husaini, ya marhaban

yauma nalat biwadh’ihibnatu wahbin, ya marhaban

min fakharin malam tanalhunnisau, ya marhaban

marhaban ya nural ‘aini, ya marhaban

marhaban jaddal husaini, ya marhaban

wa atat qaumaha biafdhala mimma, ya marhaban

hamalat qablu maryamul adhrau, ya marhaban

marhaban ya nural ‘aini, ya marhaban

marhaban jaddal husaini, ya marhaban

maulidun kana minhu fi thali’il kuf.. Allah, Allah, ya marhaban

..ri wa balun alaihimu wa wabau, Allah, Allah, ya marhaban

marhaban ya nural ‘aini, marhaban. Allah, Allah, ya marhaban

marhaban jaddal husaini, marhaban. Allah, Allah, ya marhaban

wa tawalat bushralhawati fi an qad.. Allah, Allah, ya marhaban

..wulidalmushthafa wa haqqalhanau. Allah, Allah, ya marhaban

marhaban ya nural ‘aini, marhaban. Allah, Allah, ya marhaban

marhaban jaddal husaini, marhaban. Allah, Allah, ya marhaban

Sangat menarik bahwa perayaan Maulud ini seratus persen memakai bahasa Arab. Kita tak bisa sepenuhnya menganggap orang yang mengikuti Mauludan ini mengerti (atau, setidaknya, tahu secara eksplisit) semua tulisan yang ia baca, juga nadham-nadham yang ia senandungkan. Karena, jika tidak, ia hanya akan, istilahnya, seperti orang buta yang mencoba melukis.

Butuh “keimanan” (atau dengan kata lain: kepercayaan; rasa yakin terhadap sesuatu) yang sangat kuat agar Mauludan ini tetap rutin terselenggara oleh orang buta bahasa Arab tadi.

Perlu pula diadakan suatu pembaruan, misalnya, dengan penjelasan memakai bahasa yang mudah dimengerti, oleh pemimpin Mauludan. Bisa diselipkan di sela-sela pembacaan teks atau setelah Mauludan rampung. Bila hal ini tidak dilakukan, atau pembacaan total memakai bahasa Arab terus dilakukan, dikhawatirkan akan terjadi kejenuhan, yang akhirnya akan berdampak pada kepunahan tradisi ini.

Sesuatu yang tradisional ada kalanya perlu diberi sentuhan modern supaya keberadaannya tetap terjaga. Wallahu a’lam bisshawab.

Selamat merayakan Maulud! [080309, 22:22]