Oleh A.P. Edi Atmaja
ANGIN bertiup pelan sore itu. Adzan Dzuhur telah lama berselang, dan terik mentari masih sepanas tengah hari. Namun begitu, jalanan yang saya lalui tergenang rob di sana-sini, membuat beberapa pengemudi kendaraan bermotor memilih untuk tidak melewatinya.
Kampung nelayan di sudut utara Kota Semarang itu terletak masuk ke sebuah jalan kecil tak beraspal, bergeronjal, dengan kubangan air sesekali. Tambakmulyo nama kampung itu.
Di kanan-kiri jalan, rumah-rumah penduduk berderet-deret. Ikan, udang, dan hasil laut lain dijemur di halaman, mengeluarkan aroma khas mirip terasi.
Tangkapan yang masih segar dijual di pasar tak jauh dari situ, Pasar Tambaklorog. Pasar kecil inilah urat nadi kehidupan kampung. Pembeli dan penjual berlalu-lalang, seperti halnya kambing-kambing penduduk yang berlarian bebas di jalanan.
***
SELEPAS mata memandang, nyaris seluruh rumah penduduk terendam rob. Air rob nan keruh masuk ke rumah-rumah, setinggi kira-kira lima sentimeter. Sukar dibayangkan bagaimana aktivitas rumahtangga dilakukan dalam kondisi yang basah seperti ini.
“Rob ini sudah tiga hari. Mungkin surut nanti malam, Mas,” kata Sunarto, nelayan Tambakmulyo, ketika ditemui di dermaga.
Sunarto (32), bertelanjang dada dengan hanya memakai celana dalam, sedang sibuk bersih-bersih perahu. Ia baru saja pulang dari melaut. Segera saja ia memakai pakaian lengkap saat menyatakan kesediaan untuk diwawancarai.
Sunarto berasal dari Cirosari, kampung yang terletak beberapa kilometer dari Tambakmulyo. “Istri saya asli Tambakmulyo,” katanya.
Perahu Sunarto, terparkir rapi di samping perahu-perahu lain, adalah perahu bekas-pakai (secondhand) yang dibelinya seharga Rp 10 juta dari seorang kawan. Mau membeli perahu baru, mahal, karena mesti merogoh kocek Rp 18 juta. Itu pun tanpa mesin. “Saya saja masih ngutang buat membeli perahu ini,” ujarnya.
Perahunya berbahan bakar solar. Sekali melaut, ia menghabiskan Rp 150 ribu hanya untuk membeli solar. Dengan modal segitu, ia biasa membawa pulang tangkapan senilai Rp 200 ribu. Untung yang didapat masih dipotong lagi untuk biaya perawatan perkakas.
Angin laut bertiup sepoi-sepoi di atas perahu miliknya. Di seputaran, anak-anak kecil mandi beramai-ramai. Riang dan lepas sekali mereka bermain air.
Nelayan di situ umumnya memiliki perahu sendiri. Sudah tidak ada lagi nelayan penyewa, yang melaut dengan memakai perahu milik orang lain. “Rugi, Mas, cuma menjadi penyewa. Punya perahu sendiri saja belum tentu untung,” kata Sunarto.
Nelayan Tambakmulyo adalah nelayan merdeka. Mau menjadi orang kaya atau orang miskin, mereka sendirilah yang menentukan. Mau bekerja sepanjang waktu atau berleha-leha saja bersama keluarga, suka-suka mereka.
Namun, situasi dan kondisi rupanya tak bisa dengan mudah menjadikan mereka orang kaya. Meski bekerja sekeras apa pun, nyatanya kemiskinan seolah tak mau hengkang dari sini. Berleha-leha sudah barang tentu akan membuat tamat lebih cepat.
Di Pasar Tambaklorog, harga jual hasil laut jauh lebih rendah ketimbang daerah lain. Di sini udang dihargai Rp 40 ribu per kilogram. Padahal, di tempat lain seperti Moro, Demak, bisa dihargai Rp 70 ribu per kilogram. Di samping itu, menurut Sunarto, tangkapan selain udang cenderung tidak dihargai. “Ikan, di sini, sama sekali tak laku,” tutur pria berambut gondrong ini.
***
SUNARTO biasa berangkat melaut pukul enam pagi dan baru pulang pukul dua belas siang hari. Kaliwungu, Moro Demak, dan Kendal adalah daerah tangkapan yang selalu dikunjunginya. Di sana sudah berkumpul nelayan-nelayan lain dari beberapa daerah.
Musim ini merupakan paceklik baginya. Ikan dan udang sangat susah dicari. “Mungkin sampai Agustus akan terus seperti ini,” katanya.
Oleh karena itu, beberapa nelayan nekat mencari tangkapan ke daerah yang sangat jauh. Mereka bisa sampai Jakarta demi memperoleh tangkapan yang besar. Ya, dengan perkakas yang minim dan perahu yang sebetulnya tidak untuk perjalanan jauh, mereka mengarungi lautan luas. Mereka cuma bermodalkan naluri dan cerita rekan yang pernah ke sana.
Nelayan-nelayan itu tak langsung menuju tempat tujuan karena itu akan sangat memboroskan biaya. Bila ke Jakarta, misalnya, mereka akan transit ke beberapa tempat dulu, seperti di Kendal, Batang, Pekalongan, dan seterusnya, untuk sembahyang dan mencari bekal perjalanan selanjutnya.
Nelayan juga tak lepas dari dilema. Ikan dan udang banyak muncul di musim penghujan. Saat-saat itu merupakan berkah bagi para nelayan. Namun, di musim penghujan jualah terdapat ombak yang besar-besar. Sehingga buat meraup keberkahannya, seorang nelayan mesti mempertaruhkan nyawa.
Adakah pemerintah memerhatikan nasib nelayan Tambakmulyo? “Pas musim kampanye dulu ada seorang caleg yang menyumbang bambu untuk merenovasi dermaga ini. Sekarang, ia tak pernah ke sini lagi,” tutur Sunarto. Saat hari pemilihan tiba, caleg itu memperoleh suara terbanyak.
Keadaan Tambakmulyo yang selalu dilanda rob membuat tak sekali pun pemerintah berniat mampir. Mereka barangkali merasa jijik melihat ada manusia hidup di tengah kekumuhan dan bau busuk yang hadir di setiap waktu. Padahal, justru manusia-manusia seperti merekalah, masyarakat Tambakmulyo, yang semestinya memperoleh bantuan lebih.
Untuk mendapatkan air bersih saja, Sunarto mesti merogoh kocek Rp 9 ribu per minggu, dari tetangganya yang mengusahakan sumur artetis. Betapa keras perjuangan hidup di sini.
Namun, ia bukan individualis yang cuma memikirkan dirinya sendiri. Di tengah persoalan pribadinya yang berbagai-bagai, ia berharap pemerintah mau merenovasi jalan kampungnya. Bukan dengan mengurugnya dengan tanah, melainkan dengan pavingisasi. “Dengan dipaving, jalanan tak akan becek seperti sekarang. Walau tetap saja kena rob, nanti ketika surut pasti akan nampak lebih bersih,” katanya.
Dalam sosok Sunarto, kita temukan seorang pancasilais sejati. [02062011, 12:15 WIB]
*) Tulisan ini pernah dimuat dalam majalah Gema Keadilan No. 2 Tahun ke-34; 2011.
Ditulis oleh sastrakelabu 

