Maksimalkan Dunia Maya

15 Februari 2012

Oleh A.P. Edi Atmaja

MENCINTAI produk lokal semestinya bukan sebagai anjuran, melainkan kewajiban bagi generasi muda. Produk lokal adalah identitas kita. Mencintai produk lokal berarti mengakui jatidiri kita sebagai bangsa, ibarat kacang yang selalu setia dengan kulitnya.

Di tengah merangseknya produk-produk luar negeri sebagai akibat globalisasi, kesadaran tersebut penting untuk selalu dilestarikan. Generasi muda bukanlah antek-antek asing, baik paham maupun kepentingan politisnya. Menolak produk luar negeri adalah upaya kita menolak sifat menghamba pada asing dalam diri kita.

Mencintai saja tentu tidak pernah cukup. Kita pun mesti sadar implikasi dan konsekuensi jika kita mencintai produk lokal, yakni mesti pula membeli, memakai, dan mempromosikannya. Dalam rangka mempromosikan, sebagai generasi muda, kita bisa memaksimalkan sesuatu yang akrab dengan kita. Apa itu? Ya, dunia maya.

Dunia maya (cyberspace) telah lama menjadi bagian hidup saban kawula muda. Facebook, Twitter, dan jejaring sosial lain seolah mesti dikuasai kawula muda mana pun kalau tak mau dibilang ketinggalan zaman. Oleh karena itu, pemanfaatan dunia maya mesti efektif sebagai ajang promosi produk lokal di antara kawula muda. Dengan demikian, semangat cinta produk lokal akan menggurita di jiwa generasi muda. [09022012]

*) Tulisan ini, dalam bentuk komentar singkat dengan judul “Promosi Produk Lokal”, pernah dimuat dalam rubrik Argumentasi!, harian Kompas, 14 Februari 2012.


Melihat Realitas

1 Oktober 2011

Oleh A.P. Edi Atmaja

Kekurangpopuleran bahasa daerah di mata kaum muda sebenarnya berujung pada soal seberapa jauh kita—dalam hal ini, bisa juga dikatakan, “pemerintah”—memahami realitas yang ada di sekitar kaum muda. Realitas itu berkisar pada bermacam hal, antara lain lingkungan keluarga, pendidikan di sekolah yang berorientasi pada teori (nirpraktik), dan praktik bahasa daerah yang “menyimpang”. Kesemua realitas itulah yang mesti dicari penyelesaiannya dulu, sebelum, antara lain, menuduh bahasa daerah terancam punah gara-gara kaum muda.

Kecenderungan yang terjadi sekarang, buat kaum muda yang hidup di kota-kota besar, adalah bahwa bahasa daerah tidak lagi dipergunakan sebagai bahasa percakapan sehari-hari di rumah. Makna “bahasa ibu” pun sesungguhnya rancu karena, sebagai kaum urban, kaum muda di kota besar bisa dikatakan telah menanggalkan tradisi asal mereka, pun soal bahasa. Jadi, kita—sekali lagi, dalam hal ini, “pemerintah”—perlu menyelesaikan persoalan kaum pendatang atau urbanisme ini lebih dahulu.

Pendidikan bahasa daerah di sekolah pun cuma sebatas teori tanpa praktik yang cukup. Inilah yang mengakibatkan terjadi ketidaksesuaian antara teori dan praktik. Bahasa daerah yang mestinya—dalam teori—halus, dipraktikkan secara kasar, tanpa pakem yang jelas. Bahasa Jawa, sebagai contoh, lebih banyak dipraktikkan ngoko (tingkatan paling kasar)-nya ketimbang krama (tingkatan paling halus)-nya. [23092011]


Jangan Sayang Kekuasaan

22 September 2011

Oleh A.P. Edi Atmaja

Kisruh di Universitas Indonesia berlanjut, menyusul pemberian gelar kehormatan doktor honoris causa kepada Raja Arab Saudi. Rektor UI, Gumilar R Soemantri, mendapat protes di sana-sini, baik dari mahasiswa maupun dari para bawahannya di UI. Para pemrotes itu menuding, kepemimpinan sang rektor mengarah pada personalisasi kekuasaan (Kompas, 14/09/2011).

Sebenarnya, kepemimpinan rektor macam bagaimana yang pas menurut mahasiswa?

Pertama, rektor mesti bisa menjaga kebanggaan mahasiswa akan almamaternya. Rektor adalah representasi kampus. Wibawa rektor akan menghasilkan citra positif kampus di dunia luar. Citra positif ini pada akhirnya akan memupuk kebanggaan mahasiswa terhadap almamater.

Kedua, rektor mesti mau dan mampu mengayomi segenap elemen yang berada di bawahnya. Mahasiswa dan staf kampus akan merasa nyaman berkegiatan jikalau sang pemimpin tidak cuma berada di menara gading, melainkan selalu berada di sekitar mereka, mau memahami persoalan mereka.

Terakhir dan yang terutama, seorang rektor mesti sadar sesungguh-sungguhnya bahwa jabatan yang disandangnya itu cuma amanah, titipan, yang, kebetulan, dipercayakan orang banyak kepadanya. Kesadaran semacam ini akan mencegah terjadinya sikap terlalu sayang akan kekuasaan. [14092011; 11:46]

 


Mengurangi Beban

22 April 2011

Oleh A.P. Edi Atmaja

 

BUTUH UPAYA yang sangat keras untuk mewujudkan perubahan ke arah yang lebih baik. Upaya yang mesti dilakukan tak cukup hanya dengan mengandalkan tenaga atau pikiran sendiri. Perlu dukungan dan kekuatan orang lain demi menunjang perubahan-perubahan yang bakal dilakukan.

Manusia, sebagai makhluk sosial, senantiasa membutuhkan bantuan orang lain. Demikian pula ketika kerja yang hendak dilakukannya itu pada dasarnya demi kepentingan masyarakat umum.

Di sinilah peran penting komunitas. Membentuk komunitas adalah agenda wajib bagi mereka yang menyadari bahwa kerja individual semata tidaklah cukup. Dengan membentuk komunitas, visi yang hendak dicapai akan terasa tidak lagi begitu membebani. Karena komunitas adalah wahana berkumpulnya beragam kekuatan, ide, dan pemikiran.

Di kampus, kita melihat ada begitu banyak komunitas mahasiswa. Ada Unit Pelaksana Kegiatan (UPK), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), atau apa pun namanya, yang kesemuanya menunjukkan dari mana geliat aktivitas mahasiswa berasal.

Misalnya, ada lembaga penerbitan dan pers mahasiswa: arena penggodokan kemampuan literasi dan diskusi mahasiswa. Khusus di fakultas hukum, ada juga komunitas peradilan semu: di sini mahasiswa bisa mengolah kemampuan litigasi mereka—layaknya jaksa, hakim, dan pengacara di ruang persidangan.

Tunggu apa lagi? Ayo segera bikin komunitas. Bekerja beramai-ramai jelas akan membuat kegiatan terasa lebih menyenangkan, bukan? [220411]


Memberangus Generasi Malas Baca

10 Maret 2011

Oleh A.P. Edi Atmaja

 

PERPUSTAKAAN sejatinya merupakan gudang ilmu yang menjanjikan buat mahasiswa, asalkan mereka mau menggunakannya. Terutama perpustakaan kampus: ia semestinya menjadi refleksi positif atas kehidupan ilmiah kampus sebagai urat nadi peradaban manusia.

Kini, kebanyakan mahasiswa seakan enggan mendulang ilmu di perpustakaan kampus. Sebabnya barangkali lantaran perpustakaan kampus tidak bisa mengikuti semangat kekinian dan cenderung kolot dalam menyikapi perkembangan teknologi.

Mahasiswa zaman sekarang, yang melabeli diri mereka dengan manusia digital, ternyata tak cukup sabar menghadapi konvensionalitas perpustakaan kampus tersebut. Mereka cenderung menginginkan segalanya serba instan. Bagi mereka, akan sangat memakan waktu dan menguras tenaga kala harus mencari literatur (buku) yang jumlahnya mencapai ribuan, kemudian membuka halaman demi halaman buku, membaca isinya, dan memperbandingkannya dengan buku-buku lain.

Nahasnya, muncul pula generasi malas baca, yakni mahasiswa yang gemar melakukan copy-paste tulisan orang lain dan ogah membaca dengan telaten ketika hendak membuat karya tulis. Bagi generasi ini, berkunjung ke perpustakaan demi sebuah buku merupakan pekerjaan yang merepotkan sekaligus membosankan.

Sebenarnya, buku tak selamanya mesti selalu baru, baik dalam kemasan maupun substansinya. Banyak, justru, buku-buku lawas yang berkualitas tinggi dan memang susah dicari ketersediaannya kini. Buku-buku semacam itulah yang masih dan mestinya terus dilestarikan perpustakaan kampus. Jadi, pembaharuan buku memang perlu, tetapi kelestarian buku lawas seharusnya tetap menjadi perhatian.

Soal perpustakaan kampus yang ditinggalkan mahasiswa, itu berpulang dari peran kampus dalam meningkatkan minat baca mahasiswa. Suasana perkuliahan yang aktif, yang menggalakkan iklim membaca-menulis-berdiskusi, secara tidak langsung akan mendorong mahasiswa untuk lebih mencintai buku. Dari situlah intelektualitas mahasiswa akan jadi kian terasah. Generasi malas baca terberangus dengan sendirinya dan perpustakaan kampus akan senantiasa ramai. [100311]