Oleh A.P. Edi Atmaja
MENCINTAI produk lokal semestinya bukan sebagai anjuran, melainkan kewajiban bagi generasi muda. Produk lokal adalah identitas kita. Mencintai produk lokal berarti mengakui jatidiri kita sebagai bangsa, ibarat kacang yang selalu setia dengan kulitnya.
Di tengah merangseknya produk-produk luar negeri sebagai akibat globalisasi, kesadaran tersebut penting untuk selalu dilestarikan. Generasi muda bukanlah antek-antek asing, baik paham maupun kepentingan politisnya. Menolak produk luar negeri adalah upaya kita menolak sifat menghamba pada asing dalam diri kita.
Mencintai saja tentu tidak pernah cukup. Kita pun mesti sadar implikasi dan konsekuensi jika kita mencintai produk lokal, yakni mesti pula membeli, memakai, dan mempromosikannya. Dalam rangka mempromosikan, sebagai generasi muda, kita bisa memaksimalkan sesuatu yang akrab dengan kita. Apa itu? Ya, dunia maya.
Dunia maya (cyberspace) telah lama menjadi bagian hidup saban kawula muda. Facebook, Twitter, dan jejaring sosial lain seolah mesti dikuasai kawula muda mana pun kalau tak mau dibilang ketinggalan zaman. Oleh karena itu, pemanfaatan dunia maya mesti efektif sebagai ajang promosi produk lokal di antara kawula muda. Dengan demikian, semangat cinta produk lokal akan menggurita di jiwa generasi muda. [09022012]
*) Tulisan ini, dalam bentuk komentar singkat dengan judul “Promosi Produk Lokal”, pernah dimuat dalam rubrik Argumentasi!, harian Kompas, 14 Februari 2012.
Ditulis oleh sastrakelabu 
