Menghidupkan Muhammadiyah

16 Juli 2010

Oleh A.P. Edi Atmaja

“Jangan mencari hidup pada Muhammadiyah, tetapi hidup-hidupkanlah Muhammadiyah.”

KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah

Muhammadiyah dikenal sebagai ormas Islam tertua dan, bersama Nahdlatul Ulama, diklaim sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia. Kebesaran Muhammadiyah, yang berdiri sejak masa prakemerdekaan, disebabkan oleh populasi anggotanya yang tersebar di penjuru Indonesia. Muhammadiyah telah tertanam kuat di Nusantara dan merepresentasikan Islam di Indonesia dengan baik.

Semenjak didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada 18 November 1912, Muhammadiyah telah dicap sebagai ikon pembaruan. Pembaruan yang dilakukan dimulai dari bidang keagamaan, dengan semboyan “Kembali pada Qur’an dan Hadits”, memurnikan ajaran Islam dari segala bentuk khurafat dan bidah. Pembaruan dalam bidang teologi itu diikuti pula dengan pembaruan dalam bidang sosial-kemasyarakatan. Pelayanan kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan sosial menjadi agenda penting Muhammadiyah sejak dulu.

Menghidupkan MuhammadiyahMuktamar yang dilangsungkan di “kandang” Muhammadiyah, Yogyakarta, pada 3-8 Juli 2010 ini merupakan muktamar yang istimewa. Karena pada Muktamar ke-46 ini, Muhammadiyah hendak menyongsong seabad usianya. Seratus tahun jelas usia yang tak lagi muda. Usia seabad pada sebuah organisasi jelas mencerminkan kedewasaan dan kematangan.

Muhammadiyah ke depan harus mempertinggi intensitas pelayanan sosialnya. Muhammadiyah sejak dulu, dan hingga kini, terbukti telah menaungi beratus-ratus ribu institusi pendidikan dan kesehatan. Hal inilah yang membedakan Muhammadiyah dengan ormas Islam lain. Muhammadiyah menjadi besar karena amal. Untuk itu, perlu kiranya memperkuat komitmen tersebut sembari senantiasa berpihak pada rakyat kecil. Biaya pendidikan dan kesehatan yang amat mencekik leher saat ini semestinya segera disikapi Muhammadiyah dengan menyediakan sarana pendidikan dan kesehatan yang mudah diakses kalangan menengah ke bawah, sebanyak mungkin.

Di samping itu, dalam bidang keagamaan, Muhammadiyah seyogianya memantapkan kembali konsep pembaruan Islamnya. Umat Islam belakangan ini dirisaukan atas munculnya ekstremisme, baik ekstremisme kanan maupun ekstremisme kiri. Muhammadiyah harus memperjelas posisinya sebagai ormas yang moderat: antifundamentalisme tapi juga bukan pengikut liberalisme. Konsep pembaruan Islam warisan para pendiri kiranya perlu terus dilestarikan dan dikembangkan. Sehingga Muhammadiyah mampu membawa citra Islam Indonesia yang damai sekaligus mandiri ke seantero dunia.

Terakhir, yang paling penting, Muhammadiyah mesti melepaskan diri dari ajang perebutan kekuasaan. Siapapun yang terpilih dalam muktamar jangan sampai membawa Muhammadiyah dalam konstelasi politik. Muhammadiyah perlu memperjelas posisinya dengan Partai Amanat Nasional (PAN). Muhammadiyah harus sepenuhnya mengurus persoalan kemasyarakatan dan tak boleh tertarik dengan iming-iming politik macam apapun. Dengan begitu, niscaya ia akan terus hidup, hingga berabad-abad di depan. [060710]

*) Tulisan ini pernah dimuat dalam harian Kompas edisi Jawa tengah pada 9 Juli 2010.


Sang Roker dan Keyakinannya

7 Juli 2010

oleh A.P. Edi Atmaja

Ada yang salah dengan judulnya, nih. Begitu mungkin kata sebagian manusia. Roker? Kayaknya dipaksakan sekali. Kurang “C” tuh, kata mereka yang kritis. Namun, akan langsung saya tangkis: tergantung, Anda cinta Indonesia apa bukan? Kita harus mengindonesiakan kata asing, khususnya—yang sering menjadi parameter kecendekiaan seseorang—kata Inggris. Sehingga, “pembuangan” konsonan “C” menjadi masuk akal. Akan tetapi, mereka yang kritis akan sekali lagi menyela: Anda pikir, dengan cuma begitu, Anda merasa cinta Indonesia? Penghilangan “C” tidak dengan otomatis membikin kata “Rocker” mengindonesia. Kalau alasan nasionalisme yang Anda pakai, kenapa tidak usulkan saja kata “Pecadas”—yang tentu lebih Indonesia?

Polemik semacam itu sudah barang tentu tidak bakal dengan mudah terjadi. Apalagi melihat kultur Indonesia sekarang, di mana kritisisme (utamanya terhadap bahasa) seakan masih ngendon di menara gading. Menara gading kepentingan, menara gading kerakusan, menara gading penyelewengan…

Saya tak hendak merumitkan polemik soal “Roker”. Percayalah, kata itu mutlak akronim semata.

♠♠♠

Orangnya tinggi. Badannya tak terlalu kurus. Ketinggiannya yang sekitar 170 cm itu ideal dengan berat badannya. Sayang-seribu-sayang, dia sedikit bungkuk, sehingga sebutan gagah tak cocok tersemat padanya.

Arif Setya DharmaKulitnya akan mengantarkannya menjadi seorang model: kulit itu, juga kulit mukanya, putih kekuning-kuningan tanpa cacat. Hidungnya cukup tinggi bila dihitung memakai satuan dpp (di atas permukaan pipi). Matanya agak sipit dengan bibir kemerah-merahan. Di atas dan di bawah bibir ada rambut jarang-jarang: indikator keberadaan testosteron dalam tubuhnya. Intinya, ia bisa saja diterima jadi model, atau bintang iklan, atau artis film, atau vokalis band, asal badannya sedikit lebih tegap.

Ah, tapi ”kelemahannya” tak cukup sampai di situ, ding. Cara ia berjalan akan mendepak kian jauh impiannya—jika mungkin—menjadi model, bintang iklan, bintang film, atau vokalis band. Cara jalannya amat menunjukkan keragu-raguan yang dalam, ketakyakinan akan diri pribadi, dan—dalam kadar tertentu—keminderan yang na’udzubillah. Ia tak berjalan setegap dan sepede model, melainkan kerap mirip cara jalan Songoku saat kesasar di kota tempat Burma tinggal.[1]

Pakaian yang dikenankannya pun amat nyata bakal membikin ia terdepak semakin jauh dari jagad permodelan. Baju, celana, dan sepatunya jauh dari kesan gaul. Cara berpakaiannya tak bisa dikatakan tidak rapi, tetapi ia jauh dari kesan modis dan elegan. Bajunya sangat “dermawan”: kedodoran. Tampilan demikian terang saja menguatkan dan bakal mendapuknya sebagai pria cupu kelas satu.

♠♠♠

Arif Setya Dharma, manusia dimaksud, duduk di bangku belakang. Teman sebangkunya, Firman Sanjaya, sesama alumni Espero[2]. Di belakang mereka ada Mochamad Irfan dan Rio Bayu Prayogo. Keempat orang inilah potret kecil bukti polarisasi yang melanda X-5; kekhasan mereka membikin X-5 tak cuma dipenuhi “begundal-begundal” yang suka grudak-gruduk ke mana-mana.

Arif dengan malu-malu memimpin kelompoknya maju ke depan kelas. Tangan kanannya memegang gitar. Matapelajaran Bahasa Inggris saat itu mengharuskan tiap anak membentuk kelompok, membawakan lagu dalam bahasa Inggris.

Keenam manusia sudah siap-sedia di depan. Pun Arif, jemari tangan kirinya membentuk pola tertentu di fret. Hitungan mundur dimulai. Lagu pun mengalun. Genjrengan gitar terdengar mantap, semua terbawa irama. Dengan cekatan Arif memetik senar-senar itu. Dan “I Will Fly” pun berakhir dengan sorak-sorai dan tepuk-tangan meriah.

♠♠♠

Di kelas, terjadi perubahan yang mengejutkan. Arif, yang dikenal oleh banyak anak sebagai pria pendiam dan cenderung eksklusif, mendadak menjadi tenar. Begundal-begundal yang gemar bergerombol tadi mulai membuka diri terhadap “the others”—sesuatu yang mereka acuhkan lantaran tak sesuai dengan “ideologi” mereka. Para begundal mulai belajar sesuatu, dan perlahan tapi pasti mulai mengetahui rekam-jejak Arif.

Pemuda culun yang kerap mereka temui selalu menghabiskan waktu di kelas itu, rupanya bukan secupu yang mereka kira. Arif ternyata pernah sebegundal mereka. Namun kadarnya lebih positif: ia adalah musisi band dengan kemampuan memainkan beragam alat musik. Teman-teman satu bandnya dulu, kini menjadi artis sekolah, karena sering mejeng di panggung, dalam pelbagai perhelatan yang diadakan sekolah.

Orang-orang semacam Sebastianus Yoga Rinaldi ataupun Deni Wibawanto dulu merupakan rekan segrupnya. Bahkan, kedua orang ini ternyata pernah mendulang ilmu bermusik darinya. Sangat kontradiktif kondisi Arif sekarang: terpental dari “kemewahan” bakat yang dipunyainya. Arif hanya bisa memandang dari jauh, tatkala kedua bekas rekannya itu berlaga, di tengah ingar-bingar soundsystem yang membahana.

♠♠♠

Perjalanan hidup manusia tiada seorang pun yang sanggup menduga. Itu karena setiap manusia punya pilihan. Pilihan itu kadang bercabang dua, dan saling bertentangan. Semua pilihan bisa jadi akan menggiring manusia kepada dua sisi mata-uang: kehancuran atau kejayaan. Namun, semua pilihan esensinya menuju kejayaan. Pilihan bakal menghancurkan bila ia dilakoni dengan penuh keraguan dan keterpaksaan.

Beberapa tahun setelah membawakan “I Will Fly” itu, reputasi Arif sebagai seorang musisi berbakat seakan lenyap ditelan masa, tertimbun rumus-rumus Kimia, seperti umumnya murid IPA. Arif kini lebih dikenal sebagai anak Rohis[3], diajak oleh Firman dan Irfan. Ia tak lagi bermarkas di studio, melainkan sering terlihat di mushalla. Gitar atau keyboard tak lagi menjadi pegangan, tergantikan oleh al-Qur’an atau mikrofon, sesuai “fungsinya” sebagai qari’ dan muadzin. Tongkrongannya tak lagi membahas kunci lagu yang njlimet, melainkan majelis taklim yang mengkaji tawhid, aqaid, dan akhlaq.

Arif telah menjadi dan memilih menjadi orang yang berbeda. Sentuhan keagamaan telah menuntunnya dalam menentukan arah hidupnya. Wataknya yang tenang menjadi amat klop dengan majelis-majelis keagamaan yang damai. Ia telah sampai pada apa yang ia butuhkan, bukan apa yang ia inginkan. Bisa dibilang, inilah proses metamorfosisnya menjadi seorang manusia. Ia telah mencuat sebagai seorang—meminjam ungkapannya dalam sebuah katalog—Roker: Rohis yang keren.

Semua tak akan mengira, pria berjenggot yang tampak alim itu dulunya bintang panggung yang memesona. Semua tak akan menyangka Arif yang gemar adzan itu memendam bakat musik yang luar biasa. Kita akan terkesima bila bakat itu tak terbuang sia-sia. Suatu kolaborasi efektif antara seni dan agama kita nanti bersama. Seberapa mungkinkah? Kita lihat “siapa” yang lebih kuat. [Kyai Gilang Rd., 050710]


[1] Baca “Dragon Ball” jilid 6: Kekalahan Burma.

 

[2] Esempe Loro. Sebutan beken SMP Negeri 2 Semarang.

[3] Rohani Islam: salah satu seksi-bidang dalam Organisasi Siswa Intra-Sekolah (OSIS).


Dua Seperempat Jam bersama Ulil Abshar-Abdalla

1 Juni 2010

oleh A.P. Edi Atmaja

Mulanya adalah sebuah undangan dari Kompas. Tujuan semula BEM-FH 2010, tapi entah kenapa instansi yang bersangkutan malah melimpahkannya pada Lembaga Pers Mahasiswa Gema Keadilan (LPM GK). Tentu saja ini seperti “pucuk dicinta ulam tiba”. Namun, tak terlalu “ulam”, ding. Karena LPM GK tak cukup pantas buat dikatakan nganggur. Apalagi “nggak ada kontribusinya”, kata komentar sinis di Facebook. Ada proker—program kerja—yang lebih besar yang menguras energi: agenda “Great Moment 2010”.

Dari pihak GK pribadi, amat nyata tak tahu-menahu tentang pelimpahan lomba proposal dari Kompas yang bekerjasama dengan Nestcafe itu. Kenapa tidak UPK—unit pelaksana kegiatan—lain? Wallahu a’lam. Padahal di situ dicantumkan, lomba juga bisa diikuti semua UPK sefakultas. Jadi bukan cuma GK. GK sendiri juga tak merasa perlu “mengoar-koarkan” itu undangan ke seantero FH.

Alhasil, saya, karena—untungnya—adalah anggota GK, tentu ikut terseret tanpa sungkan. Sehingga jadilah nama kesepuluh orang (terdiri dari beragam angkatan) memenuhi formulir Kompas yang terlampir.

Dalam kesempatan yang “berbahagia” itu, Mbak Uly—salah seorang yang namanya tertulis dalam formulir—menyodorkan sebuah undangan lain. Saya baca: dari LPM[1] Justisia. Di mana LPM Justisia itu? O, di Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang. Acara apa? O, seminar nasional. Tentang apa? O, “Pandangan Islam tentang Kesatuan Transendental Agama-agama”. Pembicaranya? O, Ulil Abshar-Abdalla.

“Kamu bisa datang?” tanya Mbak Uly.

“Kenapa tidak?!” kata saya, sigap.

♠♠♠

Ketika sampai di sana—di suatu pagi yang cerah, Kamis, 27 Mei 2010—Ero sudah tiba duluan di depan Auditorium I. Saya kaget juga, ada dua seminar dalam waktu yang bersamaan, dalam satu gedung. Herannya, tajuk yang bakal dibahas sama kontroversialnya. Seminar di Lantai 1 itu (seminar yang akan saya ikuti di Lantai 2) bertajuk “Menggugat Fatwa MUI tentang Arah Kiblat”. Pembicaranya “berimbang”: dari MUI ada, juga NU, Muhammadiyah, dan ahli falak.

Ero awalnya sama seperti saya, “pengen liat muka” Ulil. Tapi karena seminar di Lantai 1 “lebih memperkaya ilmu”—katanya—dan gratis, Ero banting setir. Kendati tiada teman, saya tetap konsisten sejak niatan pertama, segera naik ke lantai atas. Karena saya tak ingin duit GK yang diamanatkan kepada saya menjadi sia-sia. Dan, ini yang penting, ternyata ke-ngebet-an saya pengen liat Ulil mengalahkan segalanya.

♠♠♠

Ruangan itu lumayan luas. Ketika saya datang masih terlihat lapang, beru empat orang di dalam. Namun itu tidak lama. Karena menuju momen saat pembicara tiba, sekitar 112 orang telah memadati ruangan.

Ketika Ulil Abshar Abdalla datang, suasana menjadi riuh. Ia melangkah ke depan beserta dua orang, dengan tergopoh-gopoh. Dua orang itu masing-masing moderator dan M. Arja Imroni, pembicara kedua—yang dalam undangan diperkenalkan sebagai “cendekiawan IAIN”.

Ulil Abshar Abdalla and His SonUlil adalah orang yang murah senyum. Berkemeja batik dengan kaus dalam warna hitam, ia tampak lebih muda ketimbang sepenglihatan saya secara tak langsung di media. Ia tak tampak mewah, ataupun elite, bahkan hedonistis, meski saya tahu ia bisa berpenampilan lebih dari itu. Dengan sokongan “dana asing”—menurut gosip—yang mengalir deras ke kantongnya.

Sang moderator, Tedi Khaliuddin, sangat pintar membuka acara. Bahasa yang ia pakai ilmiah sekali. Ia sangat bersemangat dalam bertutur: satu teladan yang hendak saya terapkan. Tedi, kata teman sebangku saya[2], kini tengah menempuh program S3 di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga jurusan Hukum Islam. S1 di IAIN Walisongo dan S2 di UKSW Salatiga dengan jurusan yang sama.

M. Arja Imroni adalah yang tertua dari mereka. Berpeci rajutan, ia membahas kesatuan transendental agama-agama (wihdatul adyan) ditinjau dari pandangan al-Qur’an.

Beberapa jam kemudian, setelah masing-masing mempresentasikan pemikirannya (Ulil membahas tentang manunggaling kawula-Gusti), terjadi diskusi yang cukup interaktif antara para pembicara dan peserta seminar. Secara awam, dapat dikemukakan bahwa agama (Islam) beserta norma-norma bakunya menjadi objek yang dikaji dan ditelaah. Iklim demikian terang saja bakal menjadi shock-therapy buat mereka yang kurang memiliki wawasan luas tentang Islam. Seperti kata Ulil, tentu tema beginian tak akan pantas jika dilontarkan pada masyarakat umum, dalam acara peringatan maulid Nabi, misalnya. Yang bakal kita terima jelas lemparan batu dari segala penjuru.

Sayang memang, tidak ada “bentrokan” pemikiran dalam seminar dua seperempat jam ini. Antara Ulil dan Arja, semua sama, dengan pandangan-pandangan liberal mereka. Jadi yang mengemuka adalah pemikiran-pemikiran yang monoton dan membosankan.

Ulil menurut pandangan saya pribadi bukanlah layaknya pemikir liberal yang liar. Ia justru tampak sebagai akademisi yang kurang militan, tidak seperti yang sering kita baca dari tulisan-tulisannya atau pemberitaan-pemberitaan “kelompok” tertentu di media. Dalam melontarkan kata, ia cenderung bersikap hati-hati dan berpikir lama terlebih dahulu, sehingga terbersit nuansa keraguan—sesekali—dalam omongannya.

Saya dahulu pernah berbeda pandangan dengan seseorang. Menurut si fulan, seorang liberalis adalah orang yang liberal baik dalam pemikiran (fikrah—kata dia) dan perbuatannya. Saya sanggah, belum tentu. Justru orang yang sangat liberal perbuatannya kadangkala tak punya pemikiran yang liberal. Artinya, ia berbuat tidak berdasarkan nalar yang sehat dan bertanggungjawab, cuma berpatok pada hawa nafsu.

Pandangan saya ini sedikitnya benar lewat tokoh semacam Ulil Abshar-Abdalla. Sebagai orang yang “didapuk” di mana-mana sebagai tokoh liberal, penampilan atau caranya berjalan atau caranya bertutur sama saja dengan orang kebanyakan. Ia, saya rasa, masih memegang teguh etika dan moralitas[3].

Begitulah. Sebebas apa pun pemikiran yang kini menggurita di IAIN, baiknya itu dipandang sebagai sesuatu yang niscaya. Objek keilmuan mereka memang agama, dan pandangan mereka yang berbeda dari kita tentu saja tak bisa dengan mudah kita anggap “sesat”, “kafir”, atau semacamnya. Mereka pasti punya dasar dan dalil-dalil yang mungkin lebih “ampuh” daripada yang kita punya. Inilah susahnya menjadikan agama sebagai ilmu, bukan “sekadar” keyakinan: ia bisa “diobrak-abrik” dan dikaji—seperti halnya jika kita mengkaji biologi, teknik, atau botani.

Tentu saja pengalaman di IAIN Walisongo—dan bertemu Ulil Abshar-Abdalla—ini menjadi amat berkesan buat saya, di tengah pemahaman keagamaan di kampus yang monoton. [010610, 21:58]


[1] Lembaga Penerbitan Mahasiswa. Ini jelas berbeda dengan GK yang “Lembaga Pers Mahasiswa”—tapi logonya, ini yang aneh, tertulis “Majalah Mahasiswa Gema Keadilan”. Tentu pers tak semudah itu direduksi maknanya menjadi sekadar majalah.

[2] Dalam auditorium itu, satu meja untuk dua tempat duduk. Teman itu mahasiswa IAIN yang baru saya kenal. Jurusan Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin. Saya lupa namanya.

[3] Tentang ini, ada pernyataan yang cukup mengganjal dari teman-teman LPM Justisia sendiri. Dalam undangan—pun slogan rangkaian acara mereka, saya kira—ada tulisan begini: “Semoga kita tetap dalam komitmen pada kebenaran dan keadilan, meski melintas batas melanggar etika”. Bagaimana bisa kebenaran dan keadilan ditegakkan dengan cara-cara demikian?


Muadzin

22 Mei 2010

oleh A.P. Edi Atmaja

Hayya ‘alal falah..

Mari menuju kemenangan..

Lengkingan itu mengusikku pada suatu petang. Aku, seorang pemuda dengan prospek cerah di depan, segera bergegas menuntaskan mandi.

Bilal bin Rabah berdiri tegak di menara masjid setinggi lima meter. Ia berkulit hitam-legam, dan lengkingannya dua kali sehari itu acapkali membikin kaum Quraisy panas hati dan panas kuping. Bagaimana tidak panas kuping, orang yang memiliki kedudukan rendah dalam stratifikasi kaum (baca: budak), oleh agama “baru” Muhammad, diperkenankan tampil di depan. Kaum Quraisy memandang ini sebagai penghinaan besar atas tradisi mereka. Mereka muntab. Sehingga penyiksaan budak berikutnya lebih diperkerap lagi.

Adzan, nama lengkingan itu, dalam beberapa kasus membikin banyak orang kerasukan mengerang-erang. Mereka kepanasan mendengar kata-kata suci diteriakkan berulang-ulang. Mereka: orang itu dan “dia” yang bersemayam di jasadnya.

♠♠♠

Rizal Khabi siap sedia sedari awal-mula, dengan mike tergenggam erat di tangan. Percikan air wudhu belum jua kering dari mukanya. Namun ia telah bertekad: ia membayangkan di hadapannya adalah berjuta manusia, dari penjuru dunia, lagi berhaji. Dan, alunan suci yang melengking itu pun melantunlah—dengan volume bombastis, produk speaker jumbo yahud di atap.

Rizal sudah mulai berpuji-pujian, sedangkan surau di seberang rumahku itu masih senyap tak terjamah. Kudengar puji-pujian itu: nadham pengagungan atas keduapuluh sifat Allah. Salah satu kesukaanku, dan satu dari sedikit yang bisa pula kusenandungkan.

MuadzinSurau Nurul Falah—“cahaya kemenangan”—masih temaram, tak sinkron dengan namanya yang beken. Kupikir inilah satu markah lagi telah terjadi pergeseran budaya—bila agama bisa dikategorikan sebagai budaya. Yang jelas, surau hasil renovasi tahun 1995 itu masih sepi, di tengah riuhnya adzan di beberapa surau lain dan masjid. Bersahut-sahutan.

Surau itu—kusebut langgar—sebelum renovasi adalah mahakarya tak ternilai zaman baheula. Ia terdiri atas dua lantai, tinggi menjulang, dengan bahan penyusun utama adalah kayu. Ia monumen utama ulama di zamannya buat menyikapi banjir yang senantiasa menghadang. Jadi, terkadang, ia pernah pula dipakai sebagai tempat evakuasi warga yang rumahnya kebanjiran.

Sejauh kuingat—aku pernah pula mengecap kenangan langgar dua lantai itu—desain demikian cukup berisiko; apalagi dengan struktur kayu macam itu, sangat riskan tatkala angin leysus tiba-tiba berhembus kencang.

Tak banyak cakap, segera kuposisikan diriku laiknya Rizal Khabi—dengan imajinasi di Tanah Suci, tentu saja. Adzan yang sudah expired itu rupanya tak kehilangan gaung: tetap mengangkasa kendati di banyak tempat sudah bersahutan iqamat.

Belasan jamaah bergegas menuju surau mungil itu, menyambut seruanku. Adzan memang magis: seakan-akan mampu menghalau sekat-sekat individual orang per orang.

Laiknya insan yang rindu akan siraman spiritual, mereka berbondong-bondong coba menggapai ritme puji-pujian yang kini kusenandungkan—sembari menunggu sang Imam. Dalam suasana sosialistis yang aneh, kurasa inilah sisi terindah Islam: keseimbangan antara kapan mesti bersikap individual, kapan mesti sangat sosial.

Tatkala meraih kemenangan—sesuai bunyi panggilan adzan itu—kita harus selalu bersama-sama, berjamaah. [220510, 22:10, The City of Mangkang]


Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah

29 Maret 2010

oleh A.P. Edi Atmaja

Sejarah Islam ternyata tidak lepas dari pergesekan. Silang pendapat dan perang pemikiran merupakan hal yang lazim dalam masa shahabat, tabi’in, maupun tabi’it tabi’in. Di sini perlu dicatat, lawan utama dari perselisihan yang timbul sebenarnya bukan lantaran lawan paham (antitesis) masing-masing. Melainkan akibat kooptasi dan campur tangan kekuasaan (baca: negara, kekhalifahan) dalam “meredam” paham yang bertentangan dengan paham “resmi” negara.

Paham yang resmi diterima sebagai alat melanggengkan kekuasaan itu lantas dibakukan, sementara paham-paham di luar itu (di-)musnah(-kan).

Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam SejarahLambat laun, paham yang dibakukan tadi tampak—baik secara tersirat maupun tersurat—lewat produk hukum Islam masa kini. Begitulah kira-kira salah sebuah pemikiran yang saya peroleh setelah membaca “Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah”.

Buku ini memuat kumpulan tulisan dengan muatan yang bervariasi—bahkan satu-dua bisa kita katakan makalah—dari beberapa pemuka Islam di negeri ini, pada dekade 1990-an. Mereka antara lain Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, KH Alie Yafie, Masdar Farid Mas’udi, Atho’ Mudzhar, Jalaluddin Rakhmat, Zainun Kamal, Komaruddin Hidayat, M Quraish Shihab, dan KH Ibrahim Hosen. Tulisan mereka menunjukkan latarbelakang masing-masing: dari pesantren, intelektual, perguruan tinggi, dsb. Namun kesemuanya rupanya hendak menyajikan lontaran-lontaran pemikiran beranekaragam, dalam koridor ajaran (doktrin) Islam kontemporer.

Yang menjadi sorotan kebanyakan dari mereka adalah tentang sejarah pembakuan hukum Islam (munculnya ilmu fiqh dan madzhab), antara taqlid dan ijtihad, juga tantangan Islam dalam modernitas.

Hadits yang secara populer dikenal sebagai sabda dan perilaku Nabi—dan di pelbagai segi sering disamakan, oleh orang awam, sebagai Sunnah—rupanya perlu ditelaah. Dalam beberapa periwayatan Hadits—Bukhari, Muslim, dsb—nyata benar bahwa di sana bukan cuma berisi Sunnah Rasulullah, melainkan juga Sunnah para shahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in dalam mempraktikkan Sunnah Rasulullah SAW.

Dahulu, menurut paparan beberapa penulis (dengan bukti-bukti konkret shahih yang turut disertakan), timbul keyakinan dalam diri para Shahabat—tentu saja meliputi Abu Bakar, Umar bin Khatthab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib—mengenai sangat tidak perlunya pengumpulan hadits, karena dikhawatirkan bakal memecah-belah persatuan umat. Umar, juga Abu Bakar, bahkan dengan tegas memerintahkan pemusnahan ribuan hadits yang banyak dihapal lantas ditulis para shahabat.

Setelah masa akhir kekuasaan Khalifah Ali bin Abi Thalib—yang menandai pula era tamat Khulafa’ ar-Rasyidin (para Khalifah yang diberi petunjuk Allah)—maka terjadi friksi umat yang membagi menjadi beberapa golongan: Khawarij, Sunny, Syi’ah, dsb. Hadits (dan/atau Sunnah Nabi) pun dipakai sebagai alat untuk melegitimasi kekuasaan kekhalifahan seseudahnya, baik Umayyah maupun Abbasiyyah. Maka, kita semestinya perlu senantiasa kritis dalam menilai “keaslian” hadits.

Di masa kedua kekhalifahan itu, kita tahu Islam mengalami masa kejayaan dan menjadi pusat peradaban. Terlebih pada masa dinasti Abbasiyah di mana pusat kekuasaan berada di Baghdad. Sehingga corak keislamannya pun berbeda dengan di Makkah. Karena, di Baghdad, ajaran Islam berjibaku dengan macam-macam pemikiran yang telah lama menghujam kuat di sana. Penggunaan rasio yang kuat sangat kentara, dengan dicirikan oleh Imam Abu Hanifah, pendiri madzhab Hanafi.

Memang bukan pada tempatnya bilamana kita mengklaim keislaman kita pribadi sebagai sebuah ajaran Islam yang paling benar. Melalui sejarah, kita tahu bahwa ajaran Islam itu sangat beranekaragam tergantung bagaimana kita menganut, meyakini, dan merasai ajaran kita, juga menoleransi ajaran yang berbeda dari kita. Di situlah barangkali salah satu sebab Islam meraih kegemilangannya. [290310—16:25 WIB]