Mereideologisasi Pendidikan Kita

27 Mei 2012

Oleh A.P. Edi Atmaja

PENDIDIKAN Indonesia tengah berada di titik nadir. Kebijakan pemerintah atas pendidikan kita menihilkan tujuan utamanya: mendidik anak sebagai manusia (Mutrofin, 2009: 6). Alih-alih mendidik, pendidikan yang coba dirumuskan amat rentan infiltrasi kepentingan. Pada awalnya kepentingan politis, lantas berkembang menjadi kepentingan ekonomis. Pendidikan Indonesia masa kini dipandang sebagai ladang usaha yang menjanjikan, dus wahana mendulang duit yang fantastis.

Pendidikan kita beserta peranti-perantinya, seperti struktur dan kultur, saling berbenturan satu sama lain. Substansi pendidikan yang hendak dirupa-wujudkan tidak memperhitungkan aspek pelapisan dan kebudayaan masyarakat. Negara seakan menyangkal bahwa terdapat kelas dalam masyarakatnya. Kelas atas, menengah, dan bawah dianggap sama; diberlakukan kebijakan pendidikan yang serupa. Di lain segi, kultur “jer basuki mawa bea” (untuk menjadi makmur dibutuhkan biaya) dipahami peletak kebijakan pendidikan sebagai dasar atas komersialisasi pendidikan.

Seolah menampik bahwa negara mempunyai peran yang strategis dalam soal arah kebijakan pendidikan (Ahmad Ali Riyadi, 2006: 15), pemerintah abai mengawal pendidikan nasional dengan sungguh-sungguh. Semangat kapitalistis yang menghamba pada pemupukan modal tanpa sungkan dicangkokkan oleh pemerintah lewat beberapa regulasi. Sehingga, yang kini terjadi adalah pasar bebas pendidikan.

Mereideologisasi Pendidikan KitaMakhluk macam apakah pasar bebas pendidikan itu? Dewasa ini, kita mengeluh soal mahalnya biaya pendidikan, satu dari beberapa faktor yang memengaruhi pendidikan selain tenaga pengajar, kurikulum sekolah, dan sarana (Sumarsono, 1985: 190-201). Banyak sekolah seolah jual kecap: promosinya mengumbar banyak janji, tapi sesungguhnya miskin substansi. Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI), Sekolah Standar Nasional (SSN), sistem moving class, dan pelbagai tetek-bengek formal nan mercusuaristis lain tinggal label mentereng tanpa makna.

Mengapa berjemawa memakai bahasa pengantar Inggris di kelas kalau yang bisa dikuasai guru cuma bahasa Inggris standar semacam “yes”, “no”, “do you understand”, dan seterusnya? Mengapa menjejali anak dengan kurikulum yang terlampau tinggi kalau hasil akhirnya cuma menyiksa anak? Padahal, bukan semata-mata aspek intelektual yang hendak dicapai pendidikan kita. Moralitas, pembangunan karakter, dan kepekaan sosial semestinya jangan pula dilupakan.

Target: sekolah negeri

Ketika pendidikan dianggap sebagai barang dagangan belaka, tak heran bila kemudian biayanya melejit. Semakin berkualitas suatu sekolah, pengelola sekolah semakin merasa absah menerapkan tarif selangit. Pendidikan menjadi barang mewah buat sebagian besar anak bangsa. Tunas-tunas bangsa jadi terasing dari dan tak bisa mengakses pendidikan. Di sisi lain, siswa pintar nan potensial tapi miskin akhirnya cuma kebagian sekolah guram yang pengelolaannya asal-asalan.

Sekolah negeri yang pada awalnya merupakan tumpuan harapan bagi kaum papa justru jadi pengamal utama paradigma “sekolah mahal”. Dari hari ke hari, tarif sekolah negeri justru kian meningkat, melebihi tarif sekolah swasta. Seharusnya, tujuan pemerintah mendirikan sekolah negeri adalah untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat, khususnya masyarakat miskin (Mohammad Saroni, 2010: 25).

Mana janji pemerintah yang termaktub jelas dalam konstitusi? Lupakah pemerintah dengan rumusan Pasal 31 ayat (1) (“setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”) dan ayat (2) (“setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”) Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945?

Otonomi pendidikan

Pendidikan kita mesti segera direideologisasi. Seperti kata Paul Lengrand (1989: 17), pendidikan harus selalu diperbarui tujuan, isi, dan metodenya sehingga dapat memperhitungkan perubahan yang terjadi dan masalah baru yang timbul.

Kalau Bung Hatta pernah berbicara soal ekonomi kerakyatan, ada baiknya arah ideologis pendidikan kita mengacu ke situ: pendidikan kerakyatan. Pendidikan kerakyatan menyiratkan bahwa pendidikan adalah mutlak hak rakyat dan negara wajib memenuhinya. Aspek komersial wajib dienyahkan dan kesejahteraan guru ditingkatkan. Guru hanya diperkenankan memakan gaji negara, dilarang mencari obyekan lain yang membebani ongkos pendidikan. Menjadi guru merupakan kerja amal dan darmabakti kepada negeri, tak bisa disanding-bandingkan dengan pekerjaan bergaji macam apa pun.

Saya kira, ikhtiar untuk mereideologisasi pendidikan mesti bertolak dari beberapa problem yang melanda pendidikan kita saat ini. Mutrofin (2009: 7) membeberkan beberapa problem itu. Pertama, efektivitas pendidikan. Ini terkait hasil dari proses pendidikan. Kualitas pendidikan negeri ini kalah jauh bila dibandingkan dengan negara lain. Di ranah Asia Tenggara pun, kita masih kalah dengan Malaysia, negeri yang pada 1970-an justru menimba ilmu ke Indonesia.

Kedua, pemerataan pendidikan. Kebijakan otonomi daerah rupanya belum menampakkan hasil nyata di bidang pendidikan. Buktinya, Jawa masih menjadi pusat pendidikan unggulan, sementara luar Jawa senantiasa tertinggal. Sesungguhnya, kualitas sumber daya manusia putra Papua, misalnya, tak kalah bila dibandingkan dengan putra Jakarta. Ikhtiar Prof Yohannes Surya yang melatih lantas mendelegasikan putra-putra daerah ke ajang olimpiade membuktikan hal itu. Pelajar-pelajar dari Sulawesi, Nusa Tenggara, Papua, dan daerah lain bisa bersaing dengan—bahkan mengalahkan—bangsa-bangsa lain sedunia.

Ketiga, relevansi. Kebanyakan lulusan kita masih mempersoalkan sejauh mana relevansi antara disiplin ilmu yang dipelajari dan dunia kehidupan, termasuk pekerjaan, nantinya. Semestinya hal itu tak usah membebani penuntut ilmu mana pun. Tak jadi soal kita belajar biologi, misalnya, tapi kemudian malah bekerja di bank atau menjadi seniman: yang penting kita selalu memupuk minat akan ilmu yang kita pelajari saat ini dan sebisa mungkin mengembangkan ilmu itu.

Keempat, manajemen pendidikan. Inilah pangkal-sebab tingginya ongkos pendidikan di negeri ini. Ketiadaan ideologi yang hendak mengarahkan pendidikan nasional ke mana membikin manajemen pendidikan, sesuatu yang amat teknis sifatnya, menjadi semrawut. Hal tersebut diperparah dengan rumusan kebijakan pendidikan yang saling berbenturan, baik substansi, struktur, maupun kulturnya.

Oleh karena itu, pendidikan mesti diotonomikan. Dibebaskan dari kepentingan politik maupun ekonomi. Mereideologisasi pendidikan berarti mengembalikan pendidikan beserta peranti-perantinya kepada kedudukannya yang luhur. Sehingga, proposisi Paul Lengrand (1989: 16) bahwa pendidikan menghubungkan generasi masa lampau, sekarang, dan yang akan datang, menjadi terwujudkan. [16032012]

*) Terimakasihsayang buat dan dari Fenny Tri Purnamasari.

**) Tulisan ini pernah dimuat di harian Analisa pada 26 Mei 2012.


Karam di Laut Mangkang

18 Maret 2012

Oleh A.P. Edi Atmaja

JANGAN pernah merasa mengenal Semarang sebelum bervakansi ke Mangkang. Ada apa di Mangkang? Gersang belaka daerah itu. Hujan sedikit, banjir. Jalanannya sumpek, polutif, dipenuhi truk-truk. Nggak asyik. Demikian barangkali komentarmu mendengar nama Mangkang disebut-sebut.

Eits, tunggu dulu. Mangkang yang mana dulu. Mangkang itu terbentang berkilo-kilometer, Teh. Luas. Dari IAIN Walisongo sampai Taman Margasatwa Semarang, itulah Mangkang. Mangkang itu meliputi daerah-daerah yang sebenarnya punya nama masing-masing. Daerah seperti Tambakaji, Karanganyar, Damri, Karpet, Tapak, Timbangan, Gunung Jati, dan Wonosari disangka orang-orang yang tinggal di luar Mangkang sebagai Mangkang. Padahal, semua keliru. Mangkang yang “asli”, sebenarnya, cuma Mangkangkulon dan Mangkangwetan: dua nama kelurahan di Kecamatan Tugu.

Jadi, Mangkang yang mana yang lagi kita bicarakan? Kalau mau misuh-misuh (bahasa Semarangan: mengumpat-umpat), Mangkang yang mana yang mesti kita mesti pisuh-pisuhi? Kalau mau mengkritik ketidakberesan pengelolaan Mangkang, atawa masyarakatnya, Mangkang manakah yang seharusnya kita semprot? He-he. Nggak usahlah kita debat kusir (meski saya bukan kusir), bicara yang bukan-bukan, ndakik-ndakik (bahasa Semarangan: serius), atawa jelimet. Biarlah urusan semprot-menyemprot kita serahkan kepada aktivis Mangkang saja—tapi masalahnya, ada nggak ya makhluk bernama aktivis Mangkang itu? He-he-he.

Oke, kembali ke jemuran, eh tulisan.

Mangkang yang definisinya nggak jelas itu sebenarnya indah lo. Ini saya serius. Dua rius malah. Masa sih? katamu.

Gatal

Iya, Teh, kata saya. Mangkang itu, asal kamu tahu, pernah jadi tempat mendarat Laksamana Cheng Ho lo. Kamu tahu kan? Itu tuh penjelajah samudra dari China, yang pernah mendirikan masjid di Semarang—yang sekarang dialihfungsikan jadi kelenteng bernama Sam Po Kong.

Iya, “gosip”-nya memang begitu: Mangkang jadi salah satu tempat pendaratan Laksamana Cheng Ho kala berkunjung ke daerah yang sekarang dinamakan Semarang. Setidaknya, gosip yang saya utarakan benar karena “fakta” itu kecantum dalam buku sejarah Semarang—saya lupa judul dan pengarangnya (sic!)—yang bisa kamu temukan lagi nangkring dengan manisnya, lantaran nggak pernah kesentuh tangan-tangan jahil manusia, di rak Perpustakaan Universitas Diponegoro. Coba deh kamu cek ke sana, Teh, kalau nggak percaya.

Yoi. Di buku itu disebutkan, Laut Mangkang pernah didarati sang laksamana Muslim dalam misi muhibahnya. Keren nggak? Memang seperti apa sih Laut Mangkang? Apa bagusnya?

Laut Mangkang dapat dicapai dengan menyusuri Jalan Kyai Gilang. Lurus terus ke arah utara, sejauh tiga kiloan. Nggak tahu Jalan Kyai Gilang? Itu jalan utama menuju Pondok Pesantren al-Ishlah, Masjid at-Taqwim, atawa SMP Negeri 28 Semarang. Masih nggak tahu juga? Katro banget sih kamu, Teh, katanya orang Semarang. Pokoknya, setelah nemu Jalan Kyai Gilang, kamu lurus saja ke utara sampai mentok.

Armada Perahu menuju Laut

Armada Perahu menuju Laut/tvku.tv

Jalan ke laut bisa diakses kendaraan roda empat kok. Jangan kuatir. Jalanan telah diaspal mulus, cuma 500 meter menjelang laut belum diaspal. Di sepanjang jalan, bisa kamu temukan pemandangan eksotis khas Mangkang, seperti sawah, tambak, kebun, sungai dengan perahu-perahu yang hendak berlayar ke laut, bau asin laut, bau amis ikan, dan kolor. Lo, kolor siapa itu? tanyamu. Tentu saja kolor nelayan yang mau berangkat ke laut. Memang sengaja koloran, Teh, biar sepoi-sepoi, kata sang nelayan. He-he, sepoi-sepoi apanya? Ada-ada saja nih Kak Nelayan.

Lanjut. Sesampai di Mangkang, jangan kaget kalau yang kamu temui cuma sampah-serapah (?). Yup. Laut yang di awal 1980-an masih indah itu, masih dihiasi pantai berpasir hitam, bersih belum terjamah sampah dan kawan-kawannya, kini tergerus abrasi di sana-sini. Sudah tak tampak kayak pantai lagi. Boro-boro mau berenang, yang ada kulitmu bakal gatal-gatal gara-gara laut yang kotornya ngujubile itu. Syukur-syukur nggak kena panu, kadas, kurap, kutu-air, dan saudara-saudaranya.

Sampah-sampah berserakan. Sampah beranekamacam, berwujud plastik, kayu, sandal jepit kehilangan pasangan, sepatu butut, tas lusuh, kemeja kumal bergeletakan tak karuan mencolok pandangan. Sampah basah atawa kering (tapi kemudian jadi basah—yaiyalah!) itu memproduksi merkuri dan zat-zat yang berbahaya bagi manusia. Jadi, selain merusak pemandangan, sampah-sampah di Laut Mangkang juga bisa memperindah tubuh manusia. Membikinnya jadi semakin nyeni dengan polesan panu, kadas, kurap, kutu-air, dan saudara-saudaranya.

Teh, Teh…

Meski banyak sampah, Laut Mangkang sering jadi tempat melepas penat yang asyik juga. Saban akhir pekan, warga Mangkang beserta seluruh handai-tolannya datang berbondong-bondong ke laut. Bukan mau nyebur, bunuh diri ramai-ramai, Teh, melainkan bunuh waktu, bunuh segala kesumpekan lantaran selama enam hari-tanpa-putus bersibuk-ria di Mangkang.

Warga Mangkang memang terkenal sibuk. Yang punya sawah, sibuk macul, menanami sawahnya. Yang punya tambak, sibuk menguras tambaknya, memanen bandeng-bandeng lantas menjualnya. Yang punya kebun, sibuk menanami kebunnya. Yang punya kerja, sibuk dengan pekerjaannya. Yang punya pacar, sibuk dengan pacarnya. Yang nggak punya apa-apa, sibuk meratapi nasibnya yang papa. Jadilah Laut Mangkang tempat penghiburan yang ramah kantong, terbuka buat segala usia dan lapisan masyarakat.

Laut Mangkang Kotor

Laut Mangkang Kotor/Biota Foundation

Untunglah, sampai saat ini, otak-otak bisnis belum bercokol di Laut Mangkang. Investor belum pada datang karena belum melihat potensi riilnya. Seperti beberapa tempat lain di Mangkang, yang dewasa ini mulai dipermak sejak pembangunan besar-besaran Terminal Mangkang, Laut Mangkang pun demikian. Beberapa tempat di Mangkang, meski mendadak punya potensi berkat berdiri megahnya terminal, belum bisa jadi ladang usaha berarti. Rumah toko-rumah toko (ruko) yang dibangun dengan semangat berlebih di awal ternyata hidup-segan-mati-tak-mau lantaran nggak disokong antusiasme penyewa. Beberapa ruko malah tampak telantar di tengah jalan, nggak ada niatan hendak dirampungkan.

Makanya, kendati abrasi dari hari ke hari, Laut Mangkang sebenarnya masih tergolong alami. Belum dicanangkan pembangunan di sana-sini. Menurutmu, Teh, itu keuntungan ataukah kerugian?

Saya kok merasa, ada bagus dan nggak bagusnya, katamu. Tanpa campur-tangan pemerintah, sesungguhnya itu bagus buat warga Mangkang secara keseluruhan. Laut Mangkang, seperti yang sudah dan tengah terjadi selama ini, dijadikan hiburan alternatif warga Mangkang, di samping objek wisata lain yang kebanyakan berbayar. Laut Mangkang adalah ruang publik otonom yang jadi milik semua (res communis), sehingga pemanfaatannya mesti terkait dengan semua warga. Apa yang sudah terjadi kini sudah bagus. Jangan sampai di masa depan Laut Mangkang dikuasai oleh swasta, bahkan oleh pemerintah pun jangan.

Lantas, apa nggak bagusnya, Teh?

Justru sebab tanpa dicampurtangani pemerintah itulah, warga Mangkang seharusnya proaktif menjaga Laut Mangkang baik-baik. Penguasaan meniscayakan tanggungjawab. Alih-alih menjaga, warga malah mengotori laut. Sampah-sampah rumahan dibuang ke kali yang bermuara ke laut. Ketika berwisata, sampah-sampah sisa jajan dibuang seenaknya.

Saya pikir, kamu berujar, setiap warga Mangkang punya kewajiban yang sama buat menjaga sejengkal demi sejengkal karunia alam yang Tuhan limpahkan kepadanya. Laut Mangkang termasuk karunia alam yang tiada tara nilainya.

Beberapa tahun lagi, siapa tahu, karunia itu akan dicabut Tuhan dari kita, akibat kelalaian kita sendiri. Atau, bisa jadi, hakikat alamiahnya terenggut kepentingan ekonomi atawa pemupuk modal. Laut Mangkang tak bisa lagi kita nikmati sebagaimana kita menikmati udara. Kalau itu terjadi, karamlah sudah kedaulatan rakyat. Kedaulatan warga Mangkang. Kedaulatan warga Semarang. Lalu, kedaulatan kita sebagai manusia. Ruang publik tidak lagi jadi milik publik. Bisa berabe!

Teh, Teh… Kamu kok banyak cakap ta[18032012, 12.41]


Harina

17 Desember 2011

Oleh A.P. Edi Atmaja

di gerbong-gerbongmu, menyenandung asmara
di sekitarnya, berkejaran semesta

sepasang manusia bercengkerama dengan takdir
demi harapan terakhir

relmu bergemerincing:
berkata nyaring,
“Aku rindu padamu.
Kapan kita melepas malam di detik yang penghabisan?”

dan Harina cuma terdiam
seumpama gadis yang dipinang
alih-alih perempuan kemarin sore
yang menghamba emansipasi

[17122011, 0:12]

Harina


Ketika Senyum Dilarang

10 Oktober 2011

Oleh A.P. Edi Atmaja

 

Ketika senyum dilarang,

Apa yang bisa kulakukan, Sayang?

Ketika nubuat dijadikan dalih,

Bersamamu ku kan merintih

Akan datangkah matahari itu?

Kala masing-masing dari kita berseteru?

Caci-maki berkelebat,

Kecoa tak mempan diobat,

Dunia nyaris kiamat,

Maka kepadamu, cuma kamu, ku bakal merapat

Sayang, ambilkan senja itu

yang kini tak lagi merona

Tak lagi bersua

Dengan rembulan

Dengan pekat malam

Dengan cinta kita yang terdalam… [MC, 09102011, 15:38]


Perempuan yang Membenci Sepi

5 Oktober 2011

Oleh A.P. Edi Atmaja

 

[dari Budiy]

Perempuan itu

tenang

Setenang riak gelombang

Sehampa gelak pertunjukan

Sesunyi pasar di waktu pagi

Perempuan itu

sabar

Sesabar gembala kehilangan unta

Seteguh atap rapuh dipermainkan puyuh

Setabah induk singa ditinggal pergi anaknya

Perempuan itu

bahagia

Laksana Nurbaya dipinang Meringgih

Ibarat Kartini merelakan Hasan

Bagaikan Zulaikha melepas Yusuf

[Kutengadah bintang-bintang

Menikmati horison malam

Meratapi yang tertunda, menyesali yang terlupa]

Perempuan itu membenci sepi

yang menjalar di dalam hati

berkembang ke seluruh diri

Perempuan itu, kamu

[Kutengadah ke bintang-bintang

Di angkasa kulihat parasmu menyungging senyuman

Senyum manis semanis madu yang tersaji panas-panas

yang menggelegak

yang menerbitkan aroma saripati hidup]

Perempuan itu tak sepi lagi

Kuseka raut sendu dari mukanya

Kusiram sepi pakai air madu

Madu manis yang tersaji panas-panas

yang menggelegak

yang menerbitkan aroma saripati hidup

Kumurnikan tenangnya, sabarnya, bahagianya

Hingga kemudian bintang-bintang menghilang

Ditelan malam yang mulai mengelam

Kutak mampu lagi tak berkata,

kini,

pada perempuan itu,

pada kamu:

“Aku cinta padamu.”

[03102011]