Arsip Tag: Burung-burung Manyar

Hari Ini 21 Tahun yang Lalu: Saya, Buku, dan Keseksiannya

Oleh A.P. Edi Atmaja

Buku yang belakangan ini saya baca adalah Ilmu dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan tentang Hakekat Ilmu. Di samping itu, saya juga telah mulai membaca Jalan Ketiga: Pembaruan Demokrasi Sosial. Keduanya, masing-masing, disunting oleh Jujun S Suriasumantri dan ditulis oleh Anthony Giddens.

Saya juga sedang mengkhatamkan Antologi Lengkap Cerpen AA Navis sebagai bacaan selingan. Saya tertarik dengan gaya religius penceritaan Navis.

Ilmu dalam Perspektif dan Jalan Ketiga barangkali, bagi sebagian orang, terasa liat. Namun, Antologi pun demikian halnya—cuma, Navis mampu mengemas keliatan tadi menjadi kelenturan: itulah kelebihan sastra.

Penjelajahan saya tentang buku pun pada dasarnya lewat medium yang tak lentur-lentur amat. Ketika saya berkenalan dengan serial Lupus karya Hilman, hampir setiap waktu saya habiskan buat mempelajari cara dia bercerita, kemudian mencoba menulis ala bahasa ‘gaul’ dia.

Ternyata, di situlah letak “kecanggihan” Hilman: ia mampu mengemas persoalan hidup remaja dengan sangat cair. Bahkan, justru dari situlah saya kemudian seolah diarahkan ke tingkap bacaan yang lebih “serius”.

Tetapi, sesungguhnya asal-muasal keranjingan membaca saya bukan dari buku Hilman ansich. Saya lebih dulu mengenal gambar ketimbang tulisan. Ya, sampai kini pun saya penggila komik yang tekun, sampai-sampai sering iseng sendiri menelisik perbedaan antara komik bikinan Eiichiro Oda, Aoyama Gosho, Akira Toriyama, Naoki Urasawa, dan beberapa komikus (yang sialnya) Jepang lain. Saya bilang sial karena cuma Emma Wardhana nama komikus pribumi yang saya hafal betul.

Komik pertama yang saya candui berjudul Dragon Ball. Nyaris tak pernah putus saya menyimak petualangan Songoku dan teman-temannya itu. Subsidi pun terus mengalir ke saku saya dari kantong Bapak yang, kebetulan, sudah sejak lama jadi kutu buku, dan rupanya berusaha menulari virus mematikan itu ke anaknya. Saya ingat, buku “pedoman” yang Bapak pakai waktu itu adalah buku terjemahan berjudul 99 Cara Menjadikan Anak Anda “Keranjingan” Membaca karangan Mary Leonhardt.

Sejak saat itu, buku seolah selalu seksi di mata saya.

Perpustakaan MI dan SMP jadi surga bagi saya menghabiskan akhir pekan. Saya sering menyelinap masuk perpustakaan MI yang berada tepat di dalam satu-satunya kantor di situ. Koleksi bukunya menarik, tapi kebanyakan anak tak tertarik. Jadilah perpustakaan itu saya monopoli sendirian. Pohon Rengas, satu judul yang saya ingat waktu itu: bercerita tentang satu pohon yang dianggap keramat, padahal secara nalar tidak demikian.

Di SMP pun perpustakaan segera jadi kawan karib saya yang setia. Di sinilah saya pertama kali berkenalan dengan karya-karya sastra klasik. Karya semacam Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai, Layar Terkembang, Ziarah, Surapati, Burung-burung Manyar, Seribu Kunang-kunang di Manhattan, Belenggu, dan banyak lagi, kerap saya selesaikan dengan rakus. Tak ketinggalan Atheis yang membekas cukup dalam di benak hingga hari ini.

Ya, mulanya saya memang bertolak dari sastra. Ketika kemudian “keranjingan” itu berkembang ke arah yang lebih, semakin, dan sangat serius (dalam artian kontennya), itu buat saya merupakan keniscayaan. Tiada buku yang lebih atau kurang liat dan lebih atau kurang serius dari yang lain. Yang ada, buku selalu seksi, memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dan ia mesti dilepaskan dari pengarang untuk menjadikannya makhluk merdeka, yang bisa dengan bebas ditafsirkan pembaca.

Demikianlah. Seorang gila yang gila dengan buku-bukunya. [Kyai Gilang Rd., 180611]