Oleh A.P. Edi Atmaja
Pengantar:
Sketsa ini merupakan pengamatan penulis saat mengikuti Kuliah Kerja Nyata di Desa Dudakawu, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara dari 19 Juli 2011 sampai 23 Agustus 2011.
SAYA sambangi dia dalam udara pagi yang dingin. Sempat bingung tanya orang sana-sini sebelum akhirnya saya temukan rumah mungil itu: beratap rendah dengan pintu geser dari kayu. Saya beruluk salam. Lantas Nyonya Umar pun keluar, mempersilakan masuk, dan menyuguhi saya kopi hitam pekat.
Mbah Umar, ketua RT 1 RW 5, ternyata lagi di kebun kopi, sembari mencari ramban buat pakan sapi, demikian keterangan sang Nyonya. Setelah menanti lebih-kurang 15 menit, kakek berusia 70-an tahun itu pun nongol dan menyalami kami satu per satu dengan senyum cengengesannya yang khas.
Mbah Umar sosok yang garang. Kendati bisa dibilang renta, vitalitas muda masih tampak dari guratan mukanya. Tangannya liat berotot, punggungnya tegak, tak bungkuk. Warna kulitnya cokelat pekat terbakar terik mentari. Tak kebayang, seperti apa ia di waktu muda.
Di ruang tamu sempit yang kuyup perabot antik itulah saya dikibuli bermacam-macam soal. Dari keberagaman seni hingga kesatuan agama-agama.
***
RUANG TAMU itu gelap ketika saya masuk. Karena tak bersekat, kita bisa melihat bagian rumah lain lewat ruang tamu itu. Kamar tidur diberi gorden sebagai pengganti pintu. Di dinding, terpasang ornamen tokoh-tokoh pewayangan dari kayu: ada Kresna, Bimasena, dan Srikandi. Ada pula pahatan kayu berbentuk Garuda Pancasila. Semua itu buatan tangannya sendiri.
Di pojok samping, bertengger vespa dan sepeda ontel. Griya yang antik.
Mbah Umar mempersilakan minum kopi. Saya seruput kopi hitam di hadapan saya dengan takzim. Mantap. Manis. Terakhir kali saya seruput kopi model begini ketika mengikuti rapat RT se- Desa Dudakawu. Dan itu benar-benar orisinal: kebanyakan warga di Dudakawu memang punya kebun kopi di halaman yang mereka olah sendiri jadi bubuk kopi.
Mbah Umar menyeruput kopi miliknya yang sudah mendingin. “Kopi dingin lebih manjur, Mas. Lebih kuat mencegah kantuk,” kata dia. Kopi itu tinggal endapan. Hitam pekat di dasar gelas.
***
MBAH Umar pernah tersangkut G-30-S. Dan, seperti korban sejarah lain, ia amat membenci Soeharto.
Di almarinya yang penuh buku-buku usang—yang amat sangat jarang dijumpai di masyarakat Dudakawu—bisa kita temukan fotokopian Dosa-dosa Besar Soeharto. Ia nangkring dengan manisnya bersama buku tentang fakta G-30-S menurut LB Moerdani. Terhitung, ada tiga buku soal PKI yang disodorkannya kepada saya.
Apakah Mbah Umar membaca itu semua? “Ya, saya baca. Saya kaget, kualitas mata saya di penghujung usia ini justru sangat bagus. Serasa muda lagi. Inilah keluhuran Tuhan,” kata dia.
Jadilah masa senja Mbah Umar dihabiskan buat mengkhatamkan buku-buku tuanya, selain terus aktif mengurusi kopi-kopi dan beternak sapi.
Di dalam almari bikinan sendiri itu, dapat kita temukan pula kertas manual kelompok aliran kebatinan dari Madiun. Di situ tercetak angka 1931, pemimpinnya seorang raden. Mbah Umar pernah belajar di “sekolah” itu di waktu muda. Sampai kini, ia masih mengamalkannya dengan tekun setiap hal terperinci darinya.
Orang hidup, kata Mbah Umar, harus tahu betul buat apa ia hidup. Jangan cuma numpang hidup. Ia mesti punya tujuan hidup. Ia mesti berusaha mencapai hidup utama. Hidup utama adalah hidup yang sebenarnya, setelah kita moksa. Hidup di dunia ini hanyalah semu dan sementara.
Saat ajal menjemput kita, membebaskan diri dari belenggu dunia, kita mesti mengupayakan kemunculannya secara wajar. Secara normal. Seseorang yang meninggal lantaran kecelakaan atau pembunuhan, misalnya, bukan meninggal dengan cara yang wajar, sehingga belum bisa mencapai hidup utama.
Mbah Umar bercerita dengan nada suara yang menggebu. Tak segan ia berlaku sangat provokatif untuk menjelaskan maksudnya. Saya kaget tatkala ia tiba-tiba mencopot kaosnya ketika sampai pada pembahasan tentang agama-agama. “Kaos saya ibaratkan sebagai Islam, agama yang saya anut, yang melekat pada diri saya,” ujar dia.
Ketika kaos itu dicopot, lanjut dia, kemudian diganti dengan kaos lain berlabel Kristen, misalnya, maka kita sekarang jadi seorang Kristen. Begitu pula bila kaos itu diganti lagi jadi kaos Budha, Hindu, atau Konghuchu, tampilan luarlah yang akan mengikuti kaos yang kita pakai. Akan tetapi, isi dari apa yang dipakaikan kaos itu sesungguhnya sama, yakni badan, yang memiliki satu tujuan: panghambaan kepada Tuhan.
Maka, tandas Mbah Umar, “Saya ini seorang nasionalis. Saya tak ingin terpaku pada satu agama. Terjebak pada fanatisme sempit. Saya ingin mempelajari semuanya.” Di dalam almarinya, Alkitab juga ia simpan dan ia baca kadang-kadang.
***
MBAH Umar, buat saya, adalah sosok yang sangat khas: sebagai manusia, sebagai orang tua, juga sebagai seorang ketua RT.
Saya suka keblak-blakannya dalam bersikap dan bertutur kata. Ia tegaskan, negara ini sedang dilanda banyak problem. Itu karena manusia-manusianya punya banyak problem. Ia kritik kaburnya Muhammad Nazaruddin sebagai bagian dari kebobrokan institusi kepartaian kita, dus institusi politik.
Mbah Umar memiliki pengetahuan yang lumayan soal dunia perpolitikan negeri ini. Padahal, ia cuma mengenyam pendidikan setingkat SD. Lebih dari itu, ia piawai dalam soal kesenian. Ornamen wayang adalah bagian kecil dari kepiawaiannya itu. Ia pun bisa menari dan melukis. Pokoknya, semua pasti mudah asal kita mau mencoba, tuturnya.
Buat saya, kepiawaian itu muncul bukan lantaran kenekatan semata, melainkan juga rasa ingin tahunya yang besar. Ia masygul, tidak dilahirkan di abad informasi seperti sekarang ini. Ia, dalam beberapa obrolan, amat antusias bertanya mengenai pemakaian komputer dan telepon genggam. Betapa sangat beruntung jadi manusia sekarang, katanya.
***
SAYA TERPERANJAT kala pulang ke posko malam-malam, Mbah Umar sudah jagongan bersama teman-teman di ruang tamu. Ia memakai sarung dan kemeja batik lusuhnya yang berlengan panjang. Tak ketinggalan, tentu saja, senyum cengengesan yang seperti biasa.
Senter tergenggam di tangannya. Rupanya sedang ada giliran ronda, dan ia sengaja mampir dulu ke posko kami. Ia sudah bercerita panjang-lebar sebelum saya datang. Setelah saya turut-serta dalam jagong itu, ceritanya makin tak terhentikan. Ia baru pamit pulang sehabis pukul sepuluh malam.
Begitulah Mbah Umar. Sebagai seorang ketua RT, ia loyal bukan main. Seperti sekarang, ia ikut ronda di poskamling. Begadang sampai pagi bersama warga yang lain, tua dan muda. Pun, ia selalu mengikuti kegiatan RT selagi ia sempat. Padahal, kita tahu, masa senja semestinya dihabiskannya dengan lebih tenang di rumah. Namun, “pagi” rupanya jadi kosakata yang selalu pas disematkan untuknya. [Dudakawu, 21082011]
*) Tulisan ini pernah dimuat dalam buletin Replik Edisi I/XXXV/Oktober/2011 terbitan Lembaga Pers Mahasiswa Gema Keadilan.
Ditulis oleh sastrakelabu 
