Separuh Kemenangan

21 September 2011

Oleh A.P. Edi Atmaja

Separuh kemenanganku ada di matamu yang lentik,

yang mengibaskan sejuta pesona, menjerat segenap jiwa

Sepenggal kebahagiaanku ada di parasmu yang cantik,

yang menyejukkan semburat angkara, memadamkan luka-lara

Seluruh dambaku ada di hatimu yang sunyi,

yang mementalkan segala asaku padamu, sepiku untukmu

Semua urat sadarku akhirnya menyinggir,

kamu tak layak untukku, aku tak layak untukmu.

[18092011; 01:26]


Sajak Penghiburan

3 Juni 2011

Oleh A.P. Edi Atmaja

(buat Anggit)

Jika dirimu merasa jenuh,

Kepalamu serasa penuh,

Tak perlu kau mengeluh,

Segeralah mencari peluh,

Berjuang dengan energi seluruh,

Sampai kulitmu melepuh,

Dan kau pun akan berkata, “Aduh…”

[Tegalirik, 030611]



Jalan yang Tak ‘kan Kita Tempuh

30 Juli 2010

oleh A.P. Edi Atmaja

[buat temanku yang ultah 22 Juli]

Aku tak hidup di masa lalu

Begitu pun kamu

Kenangan tak ‘kan melenakan kita

Pun dengan mereka

Di belakang kita

Jalanan menggelap

Hawa dingin terkecap

Harapan meredup

Menekuk, telungkup

Di depan kita

Sang aral meruncingkan giginya

Memicingkan matanya

Bersegera menyambut

Membikin kita carut-marut

Namun ku tak ‘kan gentar, Cerahku

Sayap-sayap sedia membimbingku

Mengatasi segala

Melampaui semua

Ku akan jalan terus, Mimpiku

Menikmati ekstase ini

Mereguk spiritualitas ini

Jika “spirit” berarti semangat

Akankah kau pun begitu, Laluku?

Membuang nasib

Ku terpancang terlalu jauh

Tanganku kebas

Semburat itu emoh mendekat

Aku berpikir tentang masa depan

Aku berpikir tentang kehidupan

Kontemplasiku mengarah ke jalan

Yang tak dari kita akan tempuh

Aku berpikir tentangmu.

[Kyai Gilang Rd., 210710, 21:53]

Jalan yang Tak 'kan Kita Tempuh


Awan Berarak ke Barat

1 Juni 2010

oleh A.P. Edi Atmaja

Sepercik derita

Menghilang tanpa tanda

Melegakan sukma

Dari nestapa

Terbit asa

Habis remuk relung jiwaku

Menerbitkan luka, kurasa ujian

Kau berlari

Di tengah gemerincing surgawi

Impianmu tak pasti

Kucoba mengerti

Dari nestapa

Terbit asa

Lalu gelora

Geloramu, geloraku

Bersatu rupa, merajai lintasan

Ambiguitas asa

Probabilitas cinta

Merapat, mendekat

Awan berarak ke Barat

[The City of Mangkang, 010610, 23:23]


Perempuan dan Tahta yang Terpendam

24 Februari 2010

oleh A.P. Edi Atmaja

Perempuan

Tiada yang mengerti

Segala yang kucari

Tidak juga kau

Malam berganti, dunia bersemi

Begitupun modernisasi

Sayang tidak kau

Meratapi sunyi. Sendiri

Adakah yang lain?

Belenggu pikiran mencengkeram nurani

Menumpas segenap liberasi

Itu jelas kau

Kau dan mimpi-mimpi kecilmu. Berlari

Setengah tak pasti

Kenapa ragu?

Lepaskan pasungmu

Bebaskan mimpimu

Zaman terang menanti

Meratapi sunyi. Sendiri

Adakah yang lain?

24-02-2010