Bangga menjadi Manusia Indonesia
MANUSIA Indonesia memang spesial. Ia berciri-khaskan kearifan lokal yang cenderung kemalu-maluan (seperti bisa ditelaah dari Mochamad Oktaviadi dalam “Mafia Intelektual”), ia menandaskan ‘profesionalisme’ vis-à-vis ‘penampilan’ (pada Arifin Setiawan dalam “Mafia Intelektual”), dan ia—barangkali—semacam gaya bebas dari pola pemikiran yang teratur (Dwi Iswanto dalam “Mafia Intelektual”).
Manusia (pun kemanusiaan) Indonesia takkan pernah usai menjadi bahan kajian dan telaahan—sebagaimana yang bakal terjadi bila kita ‘nekat’ mengkaji manusia dan kemanusiaan pada umumnya. Ia akan menjadi ironi tersendiri bila (kita) meneropongnya cuma dari satu sorotan terhadap kompleksitas (baca: kebobrokan) hukum dan sistem hukum Indonesia belakangan ini. (Seperti ironisme-faktual yang tampak dari Suryanto dalam “Remisi”).
Manusia Indonesia menjadi unik tatkala kita tak melihat lagi keunikan Indonesia hanya dari pelbagai keanekaragaman yang dipunyainya. Sebenarnyalah, manusia Indonesia—yang berpopulasi ratusan juta jiwa itu—memiliki nilai (value) yang lebih, biarpun sering tak kentara, ketimbang keanekaragaman-keanekaragaman budaya, suku-bangsa, agama, dan semacamnya—yang sebenarnya semu itu.
Manusia Indonesia adalah ragam lain yang tercerabut dari asal-muasalnya dahulu kala. Ia kini berbeda seutuhnya dari “nenek-moyang”-nya, yang konon berasal dari China daratan, Afrika daratan, dan/atau belahan dunia yang lain. Manusia Indonesia adalah buah dari suatu hijrah dan pengembaraan; suatu eksodus dari “dunia lain” ke “dunia baru”. Ia adalah bukti adanya suatu pergolakan dari suatu nation ke nation yang lain. Alhasil, nation manusia Indonesia adalah Indonesia—berupa kepulauan (archipelago) yang terhubung satu sama lain (Nusa-antara, Nusantara), bukan China bukan pula Afrika.
Tidak dapat dipungkiri, manusia Indonesia memang takkan pernah luput dari pelbagai macam kelemahan. Ia terkadang dianugerahi Tuhan kejeniusan otak, namun manusia itu sendiri lebih sering tidak memakainya dengan tepat. Ia mungkar dengan karunia Tuhan, mencurahkan minatnya ke hal yang ‘sepele’ (Mustika Mahanarendra dalam “Mustiche’: Tampang Lain Kemujuran”). Nyatalah benar hasil statistik mengenai ketertinggalan kita dalam hal kedisiplinan.
Manusia Indonesia sering pula mencirikan dirinya sebagai pihak yang ‘serbaasih’, sehingga terkadang mengabaikan ketegasan yang—pada titik yang tepat—diperlukan. Ia dengan mudah akan dipusingkan oleh pelbagai macam pembangkangan-pembangkangan yang tentu bakal membikin tak berarti esensi dari ‘serbaasih’ itu pada mulanya (Asmuin dalam “In Memoriam: Pak (Guru) Muin”).
Barangkali cuma manusia Indonesia yang kadar ke-“iman”-an terhadap benda-benda tak kasatmata (baca: takhayulisme)-nya benar-benar berlebihan ketimbang negara-negara lain, apatah lagi bila dibandingkan dengan negara-negara maju. Kadar takhayulisme yang over ini—bahkan bisa dikatakan parah—barangkali yang membuat kemajuan atau kesejahteraan tak jua menghampiri negara kita. Manusia Indonesia terlalu mudah terbius hal-hal utopis (das sollen) ketimbang hal praktis (das sein), bahkan senantiasa antusias terhadapnya. (Seperti terpotret dari Rahmad dalam “Rahmad” dan tercerita dalam “Tokek”).
Namun, inilah manusia Indonesia, yang memutuskan untuk mengikrarkan diri dalam wilayah yang disebut Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Inilah manusia Indonesia, yang masyhur dari dulu dengan keramahtamahan-Timurnya.
Inilah manusia Indonesia, yang terus mengolah prototipe demokrasi bagi dunia.
Inilah manusia Indonesia, yang hendak terus membuktikan, pelbagai macam perbedaan tak berlaku saat menyongsong persatuan.
Inilah manusia Indonesia, yang terus berupaya melangkah menuju negara yang “memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial”.
Itulah sebab mengapa saya bangga menjadi manusia Indonesia. [Mangkang City, 071209]

