Catatan Harian

Sayembara Ahmad Wahib: Semua Agama Pasti Toleran


Oleh A.P. Edi Atmaja

PENGALAMAN saya, seorang Muslim (alhamdulillah), merasai nikmatnya toleransi terjadi ketika saya duduk di kelas dua SMA. Sekolah saya adalah sekolah negeri dengan beragam pemeluk agama: dua orang teman sekelas saya, misalnya, beragama Hindu.

Saat itu, saya sedang mengikuti wisata studi (study tour) ke Bali. Dalam suatu kunjungan ke pura di Bali, kami sekelas yang seluruhnya Muslim diajak dua teman Hindu itu duduk bersimpuh di pelataran pura, meminta pemberkatan. Kami ketawa-ketawa dan geli sendiri ketika pendeta menciprati kepala kami dengan air dari cawannya.

Tatkala kembali ke bus, kami berfoto mengabadikan butiran beras yang ditempelkan pendeta ke dahi kami masing-masing, penanda bahwa kami telah disucikan. Tiada rasa apa pun dalam diri kami semua, seolah ritual itu sah-sah saja (dan kami pun memang merasa demikian!).

Buat kalangan yang agak “ekstrem”, barangkali akan langsung mengecap “kafir” perilaku-perilaku semacam itu. Buat saya, terserah. Yang jelas, saat itu saya merasakan, betapa damai kalau segala perbedaan keagamaan (dan lainnya) yang terjadi di Indonesia sekarang ini dikesampingkan demi nilai-nilai universal yang luhur, semisal persahabatan dan cinta, atau untuk tujuan yang lebih besar, semisal persatuan dan kesatuan.

Pengalaman berbeda terjadi ketika saya duduk di kelas tiga SMA. Waktu itu beberapa hari sehabis Natal. Saya dan teman Katolik saya diundang ke acara seorang teman yang beragama Kristen (Protestan). Sebuah acara khas suku Batak di Semarang. Marga teman saya itu Manik.

Saya, seperti pengalaman sebelumnya dengan tradisi Hindu, menikmati betul acara teman saya itu. Saya berterimakasih padanya telah mau mengenalkan tradisi agama dan budayanya kepada saya. Saya semakin merasa, kendati kami berbeda agama, hal itu tak seharusnya dijadikan penghalang untuk mempererat tali silaturahmi.

Sebenarnya, saya ingin suatu kali mengundang teman-teman saya yang telah berbaik hati mengenalkan sesuatu yang berbeda kepada saya itu. Saya juga ingin berbagi dengan mereka. Namun, masa SMA yang demikian cepat berlalu membuat saya tidak sempat mewujudkan rencana saya itu.

Dari dua pengalaman saya akan dua agama (dan budaya) yang berbeda tadi, semoga menginspirasi sekaligus memotivasi kita untuk mau memahami kemajemukan Indonesia. Bukan cuma dalam tataran retorika, melainkan juga dalam tataran praktik.

Sesungguhnya, semua agama mengajarkan toleransi kepada semua pemeluknya. Yang jadi soal tinggal sejauh mana setiap pemeluk menemukan esensi agama itu (baca: toleransi) di tengah pemahaman keagamaan yang kian merosot—untuk tak dikatakan dangkal dan ditinggalkan—dari hari ke hari.

Semoga Sayembara Ahmad Wahib 2012 menjadi ikhtiar yang berbuah manis untuk masa depan Indonesia. Sekadar informasi, sayembara ini didedikasikan khusus untuk Ahmad Wahib, pemikir muda yang terbukti tanpa putus memperjuangkan pluralisme dan toleransi di Indonesia hingga ajal menjemput.

Hajatan yang dihelat saban tahun ini terdiri dari tiga macam kompetisi: sayembara esai, blog, dan video. Mari ramai-ramai berpartisipasi dalam hajatan ini, memberi andil dalam pemajuan toleransi negeri ini, dengan mengeklik tautan berikut: http://ahmadwahib.com/id. [16052012]

*) Tulisan ini turut berpartisipasi dalam “Quiz Note Sayembara Ahmad Wahib 2012″.

About these ads
Standar

2 thoughts on “Sayembara Ahmad Wahib: Semua Agama Pasti Toleran

  1. Yedi berkata:

    Bagaimana pendapat anda tentang Ahmadiyah yang dianggap telah menghina Islam, seperti adanya fatwa MUI? Apakah umat Islam salah bila mengajak Ahmadiyah untuk kembali kepada Islam, bahkan dengan menggunakan kekerasan seperti di Cikuesik Banten?

    • sastrakelabu berkata:

      Buat saya pribadi, cara-cara kekerasan, apa pun alasannya, tidak dibenarkan. Untuk menyikapi fatwa MUI, ada baiknya kita mengerti sungguh-sungguh, apa MUI itu? :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s