Buku Digital dan Intelektualitas Virtual

19 Februari 2012

Oleh A.P. Edi Atmaja

MENJADI mahasiswa di zaman yang kuyup informasi seperti sekarang ini agaknya semudah membalikkan telapak tangan. Apa lacur, mahasiswa yang saban hari cuma punya kewajiban berkutat dengan informasi dan ilmu pengetahuan itu seakan menemukan taman firdausnya. Informasi dan ilmu pengetahuan berlalu-lalang dengan demikian gencar dalam Internet: menunggu buat dimanfaatkan atau malah diabaikan begitu saja.

Beragam janji teknologi memudahkan mahasiswa mengolah kemampuan intelektualnya. Dunia maya nan virtual adalah dunia tanpa tapal batas negara, bangsa, agama, dan disiplin ilmu. Semua segi bertaut mesra di sini. Persoalannya cuma sejauhmana mahasiswa itu mampu (dalam arti materi) dan mau (dalam arti immateri) merengkuh kemudahan-kemudahan yang tersedia.

Dunia seolah-olah menjadi demikian liberal, demokratis, dan terbuka. Barangkali, dunia semacam inilah, dunia maya, yang diandaikan George Soros (2000) sebagai masyarakat terbuka (open society).

Buku Digital dan Intelektualitas VirtualMahasiswa, di tengah pusaran dunia yang sarat keterbukaan itu, mengalami loncatan intelektualitas yang tak pernah dibayangkan generasi sebelumnya. Semua bahan yang menyokong iklim perkuliahan, baik jurnal, artikel ilmiah, esai, resensi buku, majalah, suratkabar, maupun buku digital, bisa diunduh dan dimanfaatkan secara bebas.

Buku digital (e-book) adalah piranti mutakhir yang semestinya bisa digunakan secara maksimal. Keberadaannya sesungguhnya menjadi jawaban buat mahasiswa yang, sebagian besar, mengalami masalah dalam hal biaya, tempat, dan ketersediaan buku-buku cetak konvensional. Namun, amat disayangkan, buku digital rupanya kurang masyhur di mata kebanyakan mahasiswa kita.

Pesaing

Sejak Johannes Gutenberg (1398-1468) menemukan mesin pencetak dalam skala besar pada tahun 1452, ilmu pengetahuan berkembang dengan amat pesat. Buku-buku dicetak dan disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia. Dalam pada itu, pembaca dan penulis-penulis baru bermunculan bak cendawan di musim hujan. Ilmu pengetahuan yang semula dimonopoli kaum tertentu kini menjadi hak setiap orang yang melek huruf dan gemar membaca.

Jauh sebelum itu, buku ditulis secara manual dan digandakan secara terbatas. Buku pertama lahir di Mesir pada tahun 2400-an SM. Aksara ditorehkan dalam lembaran-lembaran papirus: sejenis alang-alang yang dikeringkan lantas disusun menjadi satu kesatuan.

Selain dalam bentuk manuskrip, sastra (tulisan) pun dikemas dalam pahatan-pahatan di bebatuan dan dinding-dinding berupa hieroglif. Di sudut lain di Asia Tenggara, Nusantara, karya tulis para pujangga diukir dalam prasasti-prasasti.

Kesemua itu menunjukkan, sebelum kertas ditemukan pada tahun 200-an SM oleh Tsai Lun, tulisan memiliki keterbatasan dalam soal ketersebaran dan jangkauan pembaca. Semenjak penemuan penting dari Cina itu dibawa oleh para pedagang Muslim ke Eropa pada abad kesebelas, kemudian Gutenberg menggagas mesin cetaknya, mulai saat itulah tulisan dan buku-buku menemukan pembacanya yang lebih luas.

Pemikiran manusia berkembang seiring dengan kemajuan zaman. Komputerisasi yang serbadigital mengembrio pada tahun 1950-an, akibat Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Amerika Serikat, kala itu, lebih berhasil mengembangkan komputer dengan antek inteleknya seperti The Lincoln Laboratory yang bermarkas di Massachusetts Institute of Technology (MIT), sementara Uni Soviet maju dalam bidang penerbangan angkasa luar (Ryan, 2010: hal 45-49).

Di sinilah kemudian muncul era baru pascaindustri yang dinamakan Abad Informasi. Perkembangan teknologi demikian drastis setelah ini. Logika biner 0-1 yang mendasari ruh digital menjadi panglima di segala lini. Buku berbahan kertas nan konvensional pun mesti berhadapan dengan pesaing yang tak pernah diduga sebelumnya.

Buku digital—biasa pula disapa buku elektronik (e-book)—sebenarnya jelmaan lain dari buku kertas beserta isinya (teks dan gambar) lalu dienkripsi guna menghindari pembajakan (Yds Agus Surono, 2001: hal 138, dalam Intisari). Ia sebetulnya naskah pracetak yang telah mengalami perwajahan (layout). Wujud file-nya bisa bermacam-macam: PDF, HTML, TXT, RTF, LIT, JPEG, EPUB, ataupun DJVU.

Virtual

Biaya buku (kuliah) yang kian lama kian mencekik, semestinya jadi alasan mahasiswa untuk berpaling pada buku digital. Selain tak memakan banyak tempat, buku digital pun dinilai ramah lingkungan lantaran membantu mengurangi konsumsi kertas, dus penebangan pohon.

Buku digital bisa dibilang wujud masyarakat virtual yang tinggal di dunia maya. Dunia yang dikatakan William Gibson (1984) sebagai ‘halusinasi konsensual’: dibayangkan sebagai realitas pengganti yang diciptakan oleh komputer (Shields, 2011: hal 56). Virtual, menurut Shields, diartikan sebagai “sesuatu yang nyata namun tidak konkret”.

Dengan atau tanpa “bersenjatakan” buku digital, masyarakat kita sedang beranjak ke masyarakat virtual. Masyarakat semacam ini, lantaran saking banyaknya informasi, cenderung “berpihak pada permukaan yang dangkal” (ibid, hal 58). Apa yang dipahami sebagai ilmu, bukanlah ilmu dalam arti mendalam, melainkan sepotong-sepotong (parsial).

Oleh sebab itu, buat mahasiswa, dengan buku digital akan lebih baik ketimbang tidak. Buku digital adalah sumber informasi dari dunia maya yang sampai saat ini berani saya katakan masih terjaga validitasnya. Pemahaman yang diperoleh dari situ bukanlah pemahaman yang parsial. Buku digital, sebagaimana disebutkan di muka, pada intinya buku konvensional juga.

Bukan tidak mungkin, masyarakat—dimulai oleh para mahasiswa—virtual yang  cinta buku digital akan menjadi masyarakat yang melesat jauh ke depan ketimbang masyarakat buku kertas. Masyarakat demikian mempunyai intelektualitas virtual: kecerdasan, kecergasan, dan keterampilan yang terbangun dari, dalam, dan oleh dunia virtual. [20112011, 22.59]

*) Tulisan ini pernah dimuat di harian Riau Pos pada 18 Februari 2012.


Maksimalkan Dunia Maya

15 Februari 2012

Oleh A.P. Edi Atmaja

MENCINTAI produk lokal semestinya bukan sebagai anjuran, melainkan kewajiban bagi generasi muda. Produk lokal adalah identitas kita. Mencintai produk lokal berarti mengakui jatidiri kita sebagai bangsa, ibarat kacang yang selalu setia dengan kulitnya.

Di tengah merangseknya produk-produk luar negeri sebagai akibat globalisasi, kesadaran tersebut penting untuk selalu dilestarikan. Generasi muda bukanlah antek-antek asing, baik paham maupun kepentingan politisnya. Menolak produk luar negeri adalah upaya kita menolak sifat menghamba pada asing dalam diri kita.

Mencintai saja tentu tidak pernah cukup. Kita pun mesti sadar implikasi dan konsekuensi jika kita mencintai produk lokal, yakni mesti pula membeli, memakai, dan mempromosikannya. Dalam rangka mempromosikan, sebagai generasi muda, kita bisa memaksimalkan sesuatu yang akrab dengan kita. Apa itu? Ya, dunia maya.

Dunia maya (cyberspace) telah lama menjadi bagian hidup saban kawula muda. Facebook, Twitter, dan jejaring sosial lain seolah mesti dikuasai kawula muda mana pun kalau tak mau dibilang ketinggalan zaman. Oleh karena itu, pemanfaatan dunia maya mesti efektif sebagai ajang promosi produk lokal di antara kawula muda. Dengan demikian, semangat cinta produk lokal akan menggurita di jiwa generasi muda. [09022012]

*) Tulisan ini, dalam bentuk komentar singkat dengan judul “Promosi Produk Lokal”, pernah dimuat dalam rubrik Argumentasi!, harian Kompas, 14 Februari 2012.


Berharap pada Teknologi dan Energi Alternatif

15 Februari 2012

Oleh A.P. Edi Atmaja

Pemerintah berencana melakukan pembatasan atas konsumsi premium (BBM bersubsidi) mulai 1 April 2012. Kebijakan ini patut dikaji secara kritis. Tak kurang Centre for Strategic and International Studies (CSIS) menilai kebijakan ini sangat tergesa-gesa dan bisa menimbulkan kekacauan di masyarakat.

Memang dilematis posisi pemerintah saat ini. Harga minyak mentah yang kian membumbung diperparah oleh konsumsi BBM bersubsidi yang membengkak di dalam negeri.

Untuk itu, pemerintah mesti tegas bila harus terus memberi subsidi atas BBM. Perlu dibuat kualifikasi supaya subsidi tepat sasaran, hanya untuk mereka yang berhak. Wajib menunjukkan Surat Keterangan Tidak Mampu setiap hendak membeli premium kiranya bisa dijadikan masukan guna menihilkan kalangan menengah ke atas mengonsumsi BBM bersubsidi.

Di samping itu, pemerintah pun seyogianya segera menyiapkan bahan bakar pengganti minyak. Riset-riset terkait itu mesti digiatkan dan diberi insentif lebih. Amat banyak energi yang bisa diperbarui, tidak seperti minyak, semisal bahan bakar nabati, biogas, ataupun solar cell.

Oleh karena itu, teknologi transportasi yang mendukung energi-energi alternatif tersebut mesti pula disiapkan. Belakangan ini, kita berbangga hati atas kemunculan mobil karya anak bangsa, Esemka. Bukankah amat bagus bila pemerintah turut mendorong mereka untuk menciptakan moda transportasi yang berbahan bakar alternatif? Dengan begitu, persoalan BBM bukan lagi persoalan serius bagi kita. [09022012]


Mentalitas Menerabas Surat Edaran Dikti

15 Februari 2012

Oleh A.P. Edi Atmaja

SURAT Edaran Nomor 152/E/T/2012 tertanggal 27 Januari 2012 itu mengundang banyak kontroversi. Melalui surat itu, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mengumumkan ketentuan yang harus segera ditinjaklanjuti Rektor/Ketua/Direktur Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta seluruh Indonesia.

Isi surat edaran itu mewajibkan pada lulusan setelah Agustus 2012 untuk menghasilkan makalah yang terbit di jurnal ilmiah (program Sarjana); makalah yang terbit di jurnal ilmiah nasional, diutamakan yang terakreditasi Dikti (program Magister); dan makalah yang diterima untuk terbit pada jurnal internasional (program Doktor).

Alasan yang melatari “ultimatum” tiba-tiba itu adalah asumsi bahwa “pada saat sekarang ini jumlah karya ilmiah dari Perguruan Tinggi Indonesia secara total masih rendah jika dibandingkan dengan Malaysia, hanya sekitar sepertujuh”. Tentu pertanyaan menariknya adalah mengapa Malaysia? Mengapa negeri itu yang Dikti jadikan pembanding—bukan Jepang yang menerbitkan 68.000-70.000 judul karya ilmiah per tahun, atau Amerika Serikat yang 75.000 judul per tahun? (Perpustakaan Nasional, 2011).

Saya pikir, jumlah “sepertujuh” dengan pembanding Malaysia masih mending, kurang “mencoreng-moreng” wajah dunia akademik kita. Data Kemdikbud memaparkan, jumlah publikasi ilmiah Indonesia dalam jurnal internasional 12.871, sementara Malaysia 53.691. Itu pun selama rentang-waktu 1996-2011. Kalau diringkas menjadi jumlah per tahun, jelas bakal tampak mengenaskan.

Namun, kendati maksudnya baik, tentu saja kebijakan baru Dikti ini menunjukkan dengan sangat terang tesis Koentjaraningrat (1984) soal mentalitas kita sebagai bangsa, yakni mentalitas menerabas. Kita acap memilih cara cepat untuk mengatasi masalah kita dan enggan berpikir jangka panjang. Begitu pun Dikti.

Akan diperlukan jutaan jurnal ilmiah untuk merealisasikan perintah Dikti itu. Padahal, menurut LIPI sebagaimana dilansir Suara Merdeka (10/2/2012), dari 7.000 jurnal yang ada di Indonesia, hanya 4.000 yang terbit rutin, dan cuma 300 yang memperoleh akreditasi dari LIPI. Sudah bisa dipastikan, realisasi kebijakan itu bakal menghasilkan jurnal “abal-abal” yang rendah mutunya lantaran dipaksakan kemunculannya.

Kalau mau meningkatkan gairah penelitian mahasiswa dan jumlah publikasi karya mereka di jurnal ilmiah, bukan seperti itu caranya. Memberikan dana penelitian yang cukup dan pantas jelas akan memacu motivasi mahasiswa. Bukan malah memangkas dana penelitian menjadi—sebagaimana disampaikan Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kemdikbud Suryo Hapsoro Tri Utomo—Rp 435 miliar di tahun 2011, dari yang semula Rp 453 miliar (2010) dan Rp 1,2 triliun (2009).

Dikti mesti becermin dari negara lain yang gencar publikasi karya ilmiahnya. Umumnya, di samping tradisi menulis dan meneliti yang kuat yang diajarkan para dosen, mahasiswa terpacu lantaran ada dana yang besar untuk itu. Faktanya, semangat pendidikan tinggi kita memang bukan untuk mencetak peneliti, melainkan pencari kerja. Ironis. [15022012, 3.26]


Fokus ke Dua Kembar SDM

15 Februari 2012

Oleh A.P. Edi Atmaja

Tahun 2012 dibuka dengan serentetan kecelakaan mengenaskan. Kecelakaan-kecelakaan itu semakin menunjukkan, betapa membahayakan angkutan publik di negara ini.

Tabrakan besar yang melibatkan dua bus, delapan mobil. dan lima sepeda motor di Jalan Raya Puncak, Cisarua, Bogor pada 10 Februari lalu adalah yang kelima dari kecelakaan beruntun di awal tahun ini.

Sebelumnya, pada 1 Januari 2012, tercatat enam orang tewas seketika, lima orang luka berat, dan 18 luka ringan setelah bus Sumber Kencono terguling di Jalan Raya Madiun-Surabaya KM 155-156. Kemudian, 9 Januari 2012, lima orang tewas dan dua luka-luka setelah mobil Suzuki Carry bertabrakan dengan bus PO Rajawali di jalur Semarang-Bawen, Kabupaten Semarang.

Pada 9 Februari 2012, lagi-lagi bus Sumber Kencono berulah: bertabrakan dengan sedan Accord AG 1663 L di dekat jembatan Glodok, Karangrejo, Magetan, Jawa Timur dan mengakibatkan dua orang tewas. 1 Februari 2012, 12 orang tewas dan puluhan lain luka-luka setelah bus Maju Jaya masuk jurang di Jalan Raya Malangbong-Wado, Sumedang, Jawa Barat.

Mengamati kecelakaan-kecelakaan yang terjadi, ada faktor penting yang menyebabkannya, yakni SDM: sumber daya manusia dan sumber daya mesin. Kecakapan, kewaspadaan, dan kompetensi sopir menjadi garansi keselamatan penumpang. Namun, di samping itu, kelaikan alat transportasi pun semestinya diperhatikan. Banyak kecelakaan terjadi lantaran rem blong.

Sumber daya manusia dan mesin harus selalu dijadikan fokus analisis demi memperkecil tingkat kecelakaan angkutan publik di masa mendatang. [15022012, 2.56]