Perempuan di Ujung Gang


Oleh A.P. Edi Atmaja

 [Buat A di Jangli]

DIA sekonyong-konyong berdiri di hadapanku. Tanpa kumengerti, ragaku mendadak terpaku. Tidak perlu waktu lama baginya—dengan kemunculannya yang entah dari mana—buat menjerat mataku dengan tatapannya. Dia telah sukses memalingkanku dari dunia. Dia menyihirku. Dia—kau tahu, Sahabat—dulu pernah menjadi perempuan yang amat kubenci.

Kini, aku dan dia bersitatap, lewat perjumpaan yang tak disengaja, dalam sebuah acara mahasiswa di Tembalang.

Suasana yang melingkupi kami waktu itu tak senyaman yang kaubayangkan. Di atas ubun-ubun, matahari bersinar amat menyengat. Kami berdiri santai di tanah lapang seakan-akan lama nian tak bersua dengan mentari.

Aku tak ingat apa pun, Sahabat. Kecuali matanya; mata itu berbinar dengan demikian cantik bak rembulan di tengah gulita. Kecuali bibirnya; bibir itu melengkung dengan derajat kelengkungan sensual yang mampu meluluhlantakkan hati lelaki mana pun. Kecuali rambutnya; rambut itu melengkapi sekaligus mempercantik wajahnya, rambut yang telah lama kunantikan dimiliki seorang perempuan. Sahabat, aku telah mabuk. Maafkan jika kata membuncah tak karuan.

Kuangsurkan salam terhangatku padanya. Dan, kala ia menjabat tanganku, ada semacam percikan listrik di hati, pergesekan voltase, yang membuat jantung berdebar kencang. Tangannya begitu halus dan lembut, dengan jemari nan mungil. Kugenggam tangannya dan ia genggam tanganku, dan kemarau yang melanda di sekitar kami tak terasa lagi. Darahku berdesir dan, tanpa kumengerti, segera teraliri molekul-molekul kesejukan yang datang entah dari mana.

Kata-kata yang tak terucap terwakili dalam diam. Diamku punya seribu makna. Makna-makna itu menyumbat tenggorokanku, sehingga yang keluar dari mulut cuma basa-basi tak berarti. Aku terperangkap suasana. Oh, Sahabat, andai saja lidahku tak kelu begini.

“Apa kabar?” kataku.

“Kabar baik,” katanya.

Diriku dan dirinya pun berlalu laiknya semilir angin. Kami punya rutinitas. Aku punya banyak pikiran yang mesti dilakukan. Tetapi—ini rahasia, Sahabat—potret wajahnyalah yang sejak saat itu menghiasi koridor-koridor kepalaku nan berliku.

***

Perempuan di Ujung Gang
© Analisa, 2012

Empat tahun yang lalu, dalam sebuah ruang kelas, aku dan A berjumpa buat kali pertama. A—si buruk rupa itu—seorang hiperaktif sejati. Dia selalu enerjik dan bersemangat tiap waktu. Hingga, kau mungkin akan merasa, kehidupannya indah senantiasa, dan kita tak perlu demikian mengkhawatirkannya.

Itu jauh sebelum aku mengerti apa yang dinamakan dengan kepura-puraan.

Berkat semangat A yang meluap-luap—entah di dalam, entah di luar kelas—itu, guru-guru mengenalnya dengan sangat baik. Ia pun menjadi teman karib bagi semua kalangan di sekolah menengah ini.

Tapi itu tidak berlaku bagiku. Aku telanjur jengah kepadanya. Aku selalu membuat jarak dan ogah dekat-dekat. Bukan karena apa-apa, justru lantaran tingkah-lakunya yang hiperaktif itulah, yang berlebihan, yang sering membuatku bergidik. Aku benci melihat perempuan yang tidak menjaga kodrat ke-kemayu-annya. Selain itu, penampilannya yang kodian pun kian menambah kadar kejijikanku padanya.

Yang paling kubenci dari A adalah cara ketawanya yang sering kelewat batas. Tawanya berderai dengan sangat keras—hingga kau pun akan masih mendengarnya dalam radius belasan meter—meski kupikir lelucon itu tak pantas ditertawai sedemikian heboh. Tawa A nyaris tanpa beban, lepas, dan seolah-olah mengejekku, pria dengan kadar kependiaman tingkat wahid.

Aku semakin memperlebar garis demarkasi dengannya kala kucium gelagat itu: ia menaksir padaku, Sahabat! Kumohon jangan menuduhku ge-er dulu. Ia mengataiku tampan di suatu waktu, langsung di depan mukaku, dan teman-teman tahu semua. Jelas aku malu setengah mati diperlakukan begitu. Aku sadar, dia berupaya mendekatiku dengan segenap daya. Kupikir hal bodoh jika membiarkan ini lebih lanjut. Aku menjauh darinya sembari meningkatkan kadar kebencianku untuknya.

Aku melakukan beragam cara demi meredam gelagat agresifnya itu. Aku tak peduli lagi, bahkan kata-kataku yang paling kasar pun bakal kusumpah-serapahkan jika ia tak jua mengerti. Demikian antipatinya aku, Sahabat, sampai-sampai berdiri di dekatnya pun aku tak sudi. Memalingkan muka untuknya kulakukan sehari-hari. Aku tak sadar, sikap demikian terang telah melampaui level kebencian manusia.

Dan kemudian, ia benar-benar jauh dariku. Percakapan kami lakukan hanya untuk urusan-urusan penting dan mendesak. A terbenam dalam dunianya, yang tak pernah kutahu dan tak akan kupedulikan.

***

Kelas 2 SMA, kata orang-orang, adalah masa muda yang paling indah. Kadang-kadang, Sahabat, kuakui itu. Aku memperbandingkannya dengan masa-masa lain, dan semakin kuakui itu. Kelas 1 identik dengan masa awal menapakkan kaki di SMA, masa adaptasi dengan semua yang terlihat, teraba, tercium, dan terdengar. Masa mengenali teman, bukan berteman. Bagaimana bisa menikmati indahnya pertemanan kalau masih dalam tahap mengenali?

Kelas 3 lebih tampak sebagai masa belajar tiada akhir. Ujian akhir dan masa depan selepas SMA selalu jadi beban pikiran sepanjang waktu. Buku dan pena mesti senantiasa kita akrabi, tugas-tugas kudu telaten kita garap, bila tak ingin masa depan kita tak pasti. Semua terasa menekan, terasa menyiksa, hingga kita pun lupa menghibur diri sendiri.

Kenangan yang kuingat kuat saat kelas 2 SMA, Sahabat, adalah kala berlibur ke Bali. Sahabat, masih ingatkah kau pada kenangan itu?

Malam itu malam terakhir liburan di Bali. Wali kelas memerintahkan kami berkumpul di luar penginapan. Aku tak tahu alasan pak tua itu dengan idenya. Tak tahukah dia betapa capek badan ini sehabis berputar-putar seharian di tiga tempat wisata. Kami mestinya tidur pulas seperti yang lain. Kulihat rona letih menggelayuti muka saban teman yang kutemui.

Di pondok kecil di samping penginapan, kami berkumpul. Semua duduk melingkar dengan wali kelas sebagai pusatnya. A duduk membenamkan kepala di lututnya. Aku sendiri duduk jauh darinya.

Belum ada setengah jam wali kelas menyerocos dengan ceramahnya yang membosankan, kulihat di pojokan, tempat A membenamkan kepala di lutut, terjadi kehebohan. Anak-anak perempuan berteriak histeris. A kesurupan.

Forum yang semestinya khidmat itu kacau-balau tak karuan. Wali kelas bingung, gugup, dan tak tahu apa yang mesti diperbuat. Ketua kelas kami berinisiatif mencari Pak Mul, guru Bahasa yang konon cukup “pintar”. Pak Mul datang. Dengan tenang ia mendekati A, meraba kepalanya, sembari mengomat-kamitkan sesuatu. Kulihat A meraung. Ia mirip cacing kepanasan, meronta-ronta liar mau lari, sesekali menjerit kencang. Pak Mul adalah pria yang tabah, tak gentar ia menghadapi “makhluk bandel” itu—yang kini ia yakini hinggap di jisim A.

Teman-teman kelas lain terbangun dari tidurnya. Pondok mungil itu mendadak ramai. Semua bersiaga menghadapi kemungkinan terburuk. Dalam suasana kritis itu, masih ada juga orang yang bisa-bisanya iseng, membumbui peristiwa itu dengan isu-isu lain yang tak kalah seru: melihat sepotong kepala di atas televisilah, dikasih lihat “penampakan” saat shalatlah, ditemui makhluk kala berbelanja tadi sianglah, dan sebagainya. Suasana yang pada mulanya memang horor menjadi kian mencekam lantaran cerita-cerita itu.

Beberapa menit berlalu. Situasi telah normal kembali. A berbaring dengan tenang di kamarnya. Si makhluk bandel, kata Pak Mul, sudah berhasil diusir dari raganya. Teman-teman sekamarnya—juga teman-teman karibnya—tidak berani dekat-dekat, lebih memilih tidur di tempat lain, meski di kamar anak laki-laki sekalipun!

Kami, para pria, mau tak mau mesti ronda semalaman. Bagi teman yang penakut, jelas ini bagus. Kumpul-kumpul membicarakan sesuatu jelas lebih asyik ketimbang berusaha tidur dengan imajinasi-imajinasi seram di kepala.

Kami semua mengerti pada akhirnya: A ternyata bukan perempuan yang riang selalu. Buktinya, ia bisa kerasukan seperti itu, tak lain karena jiwanya kosong. Orang dengan jiwa kosong adalah orang yang kesepian, yang menghadapi kepedihan meski di luar tampak senang. Tidak pernah sekali pun kutahu, Sahabat, seberat apa kepedihan yang menderanya. Kata teman-teman karibnya, ia sering kedapatan sedang melamun sendirian. Entah apa yang ia pikirkan. A yang dipahami semua orang adalah A yang selalu gembira dan senang serta menggembirakan dan menyenangkan orang lain. A yang kita kenal tak bakal sekelebat pun kita bayangkan akan sanggup kesurupan—sindrom yang cuma melanda orang-orang yang putus asa, tak punya teman, hilang arah, tersesat dalam kepekatan gang-gang kehampaan.

Itu jauh sebelum kita mengerti apa yang dinamakan dengan kepura-puraan.

***

Seorang perempuan manis duduk anggun di hadapanmu. Kau datang telat sepuluh menit dari waktu yang diperjanjikan. Kau sedikit malu, sekaligus rikuh, lantaran keterlambatan yang sangat biasa itu. Kau meminta maaf padaku, juga pada perempuan manis di hadapanmu. Mimik penasaranmu kulihat dengan jelas mengandung tanya padaku, siapa dia?

Perkenalkan, Sahabat, namanya A. Usianya 25 tahun, bekerja sebagai psikolog andal di kantor psikologi ternama di kota ini. Kariernya yang terus menanjak dari bulan ke bulan, pelan tapi pasti bakal mengantarkannya menjadi psikolog terkemuka di negeri ini.

Buat meraih posisinya sekarang, bukan tanpa perjuangan. Cukup lama A memahami apa arti kesungguhan dan keuletan. Kesabarannya dalam menghadapi hidup telah menempanya menjadi pribadi yang keras hati. Kadang aku malah khawatir akan kondisi fisiknya yang selalu diforsir semacam itu.

Beberapa waktu sejak pertemuan kami di lapangan nan terik itu, A lekat selalu di hatiku. Aku tak mengerti rasa aneh yang tiba-tiba kurasakan. Yang pasti, stereotip negatifku padanya menjadi hangus dengan sendirinya.

Caci-makilah aku layaknya lelaki yang sedang kena batunya, Sahabat. Terkadang aku memang menyesal atas sikapku di masa silam. Aku menjustifikasi manusia dengan begitu bengisnya, dan kini kebengisan itu menjadi bumerang bagiku. Padahal, aku hapal benar bunyi sabda Nabi suatu kali, “Bencilah manusia sewajarnya karena siapa tahu ia bakal menjadi orang yang paling kau cintai. Cintailah manusia sewajarnya karena, di kemudian hari, barangkali ia menjadi orang yang paling kaubenci.”

A yang barusan kuperkenalkan padamu, bagiku, kini bermetamorfosis. Ia telah menjadi kupu-kupu yang amat menawan. Ia melihat seberkas cahaya, yang kemudian menuntunnya keluar dari kungkungan gang kehampaan dan kepura-puraan. Ia telah menemukan dirinya, dan dengan percaya diri menciptakan mimpi-mimpi lantas berusaha menggapainya. Ia telah sampai di ujung gang. Ia siap menyongsong dunia baru.

Mangkang City, 050311, 00:49 WIB

*) Tulisan ini pertama kali disiarkan oleh harian Analisa pada 18 Januari 2012.

2 pemikiran pada “Perempuan di Ujung Gang

  1. Akhirnya kamu terbitkan jg Ed.. :)..selamat ya bagus ky true story..biar lebih hidup cb tulis ttg true story bneran+dimodif… sukses terus dh…dtgguu crt2 slnjtnya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s