Harina

17 Desember 2011

Oleh A.P. Edi Atmaja

di gerbong-gerbongmu, menyenandung asmara
di sekitarnya, berkejaran semesta

sepasang manusia bercengkerama dengan takdir
demi harapan terakhir

relmu bergemerincing:
berkata nyaring,
“Aku rindu padamu.
Kapan kita melepas malam di detik yang penghabisan?”

dan Harina cuma terdiam
seumpama gadis yang dipinang
alih-alih perempuan kemarin sore
yang menghamba emansipasi

[17122011, 0:12]

Harina


Memperkuat Simpul Diplomatis Iran-Inggris

16 Desember 2011

Oleh A.P. Edi Atmaja

IRAN kembali menuai sorotan dalam soal hubungan internasional. Khususnya, dalam soal hubungan diplomatik.

Setelah pada 31 Maret 2011 silam Iran bersengkarut dengan Kuwait soal dugaan mata-mata Iran di Kuwait, yang kemudian berakibat pada pengusiran sejumlah diplomatnya dari Kuwait, kini ia bermasalah lagi dengan Inggris. Pemicunya, lagi-lagi “cuma” persoalan sepele yang sesungguhnya bisa terselesaikan dengan mudah andaikan kedua belah pihak mau menenggang rasa.

Selasa (29/11/2011), ratusan mahasiswa berkumpul di luar kantor kedutaan besar Inggris di Teheran, dan meneriakkan “kematian untuk Inggris”. Beberapa demonstran memanjat pagar kemudian mengobrak-abrik kompleks kedutaan. Staf kedutaan terpaksa melarikan diri lewat pintu belakang (VOANews.com).

Serangan itu, saya kira, dipicu oleh masalah klasik: program nuklir Iran. Ya, program nuklir itu meresahkan Barat, termasuk Inggris, kendati Iran selalu menegaskan program nuklirnya adalah demi tujuan dan kepentingan damai.

Inggris terus-menerus memperlihatkan sikap yang menunjukkan adanya keresahan tersebut. Yang paling gres, Inggris mengeluarkan kebijakan yang memperkuat sanksi terhadap Iran dengan memutuskan hubungan dengan bank-banknya. Hal inilah yang menyebabkan demonstrasi yang berujung pada perusakan kantor kedutaan besar Inggris di Teheran.

Melihat kantor perwakilannya dirusak, pemerintah Inggris serta-merta mengambil langkah tegas. Ia, pada keesokan harinya, Rabu (30/11/2011) mengusir diplomat Iran dan menegaskan penutupan segera atas kedutaan besar Iran di London (persona non grata).

Diplomatis vs politis

Persoalan bilateral Iran-Inggris sesungguhnya amatlah kompleks. Bukan kali ini saja Iran terlibat konflik diplomatis dengan Inggris. Sebagaimana dilansir Fars News (3/12/2011), pemerintah Inggris dalam sebuah laporannya mengklaim bahwa permusuhan kedua negara telah berlangsung selama berabad-abad.

Tanpa menafikan faktor politis yang memengaruhi hubungan kedua negara, ada baiknya menelaah kasus ini dengan memakai pendekatan hukum diplomatik, yang diatur melalui Konvensi Wina Tahun 1961 tentang Hubungan Diplomatik.

Perlindungan pejabat diplomatik—tercakup di dalamnya gedung perwakilan asing—diatur dalam pasal 22 ayat (2) Konvensi. Merupakan kewajiban negara penerima untuk melindungi perwakilan-perwakilan asing demi mencegah tindakan-tindakan yang sangat mengganggu martabat misi diplomatik suatu negara (Suryokusumo, 2005: 99). Bahkan, sesuai bunyi pasal 45 (a) Konvensi, walau hubungan diplomatik putus, negara penerima harus selalu menghormati dan melindungi gedung perwakilan asing (Ibid.: 76).

Dengan melihat rumusan pasal tersebut, menjadi tepatlah upaya perlindungan yang dilakukan pemerintah Iran tatkala kantor kedutaan besar Inggris diserang. Iran telah berupaya menjaga keselamatan diplomat Inggris. Tidak ada seorang pun diplomat terluka atau bahkan meninggal. Pemerintah Iran pun telah menegakkan hukum dengan mengadili demonstran yang bertindak anarkis.

Jadi, sesungguhnya tidak ada pengabaian hukum diplomatik di situ. Tiada pengesampingan rumusan Konvensi Wina Tahun 1961 dalam sengkarut kedua negara.

Lagi-lagi hulu persoalan tak-lain adalah kulminasi atas akumulasi cekcok di antara kedua negara terkait pelbagai bidang. Utamanya dalam bidang politik dan ekonomi: program nuklir Iran, kepentingan untuk memantapkan pengaruh Inggris (dan/atau Barat, yakni Eropa dan Amerika Utara) di Timur Tengah, dan ancaman nuklir Iran seandainya nuklir itu dipakai buat menyerang Barat.

Maka, tidak aneh, negara-negara semacam Belanda, Jerman, dan Norwegia pun buru-buru mengekor sikap Inggris. Kendati yang disebut belakangan akhirnya membuka hubungan diplomatiknya dengan Iran kembali, sikap tersebut seolah-olah menunjukkan adanya konspirasi Barat melawan Iran. Padahal, Uni Eropa sendiri pun belum memberi keputusan terkait hal itu.

Untuk itulah, demi terciptanya hubungan diplomatik Iran-Inggris yang lebih harmonis di masa mendatang, saya kira beberapa saran berikut bisa dipertimbangkan. Pertama, Iran mesti memahami posisinya dalam hubungan negara-negara. Ia mesti menjelaskan dengan gamblang tujuan-tujuan program nuklirnya dan sebisa mungkin mengatasi paranoia negara-negara—kalau program itu memang benar ditujukan buat alasan-alasan damai.

Kedua, negara-negara Barat, terutama Inggris, semestinya menghilangkan purbasangka negatif atas Iran. Iran harus diperlakukan sebagai kawan yang setara dalam penciptaan perdamaian dunia, bukan malah memulai permusuhan yang tak berdasar.

Ketiga, kesalingpahaman negara-negara mengenai ketentuan-ketentuan hukum diplomatik dalam Konvensi Wina Tahun 1961 yang telah dirumuskan bersama. Tanpa ketundukan pada hukum, mustahil politik dan hubungan negara-negara berjalan dengan adil dan stabil. [06122011]

*) Tulisan ini pernah dimuat dalam harian Analisa pada 15 Desember 2011.


Kebangkitan Masyarakat Virtual

12 Desember 2011

Oleh A.P. Edi Atmaja

Virtual; Sebuah Pengantar KomprehensifJudul: Virtual: Sebuah Pengantar Komprehensif

Judul asli: The Virtual (London & New York: Routledge, 2003)

Penulis: Rob Shields

Penerjemah: Hera Oktaviani

Penerbit: Jalasutra, Yogyakarta

Tahun: I, September 2011

Tebal: xx+272 halaman

Harga: Rp 57.000,-

Adalah seorang wartawan di majalah The New York Times yang diketahui telah mencipta karakter yang konon nyata. Ia, lewat karakter rekaannya itu, membentuk satu cerita sensasional ihwal penjajahan di Pantai Gading. Para editor menolak untuk bertanggungjawab atas penerbitan cerita ini tanpa memeriksa fakta-fakta yang ada.

Layanan jual-beli daring (online) meruyak di mana-mana. Pertukaran uang dan perguliran barang dilangsungkan tanpa perlu beranjak dari tempat duduk. Anak-anak terlarut dalam game-game virtual yang melenakan mereka akan permainan real. Dan orangtua pun cemas menyaksikan perangai anak-anak mereka tatkala berinteraksi di alam nyata.

Kita hidup di era yang kuyup virtualitas. Virtual telah menjadi ide sentral dalam pengorganisasian kebijakan Pemerintah, kebiasaan sehari-hari, dan strategi bisnis. Penemuan komputer dan Internet kian menegaskan hal itu. Antara yang konkret dan yang abstrak kian kabur—kendati virtual sesungguhnya berarti “sesuatu yang nyata namun tidak konkret” (hal. 2).

Buku ini dibuka dengan satu proposisi: “Kembalinya Virtual”. Betapa virtual yang selama ini dipahami coba dirumuskan ulang melalui peristiwa virtualitas Ekaristi Thomas Cranmer pada tahun 1556. Rob Shields, profesor sosiologi dan antropologi dari Universitas Carleton, Ottawa, Kanada, mendedahkan bahwa virtualitas sesungguhnya telah ada di masa lampau, jauh sebelum penemuan komputer dan Internet. Ia tak semata-mata muncul di era kapitalisme global.

Pada masa sebelumnya, virtual dianggap sebagai aspek penting dari sarana kesadaran dan pengetahuan. Liturgi, ritual, dan kebenaran spiritual didekati melalui ihwal virtual. Ritual keagamaan acap dimaksudkan untuk mewujudkan virtual: melukai boneka voodoo akan menyebabkan kerusakan fisik di tempat jauh.

Dengan bangkitnya komunikasi bermediakan komputer dan lingkungan virtual yang diciptakan secara digital, virtual “kembali” ke budaya Barat, melahirkan ‘dunia maya’. Dunia maya (Gibson: 1984) adalah halusinasi konsensual: realitas pengganti yang diciptakan oleh komputer, yang memegang semua pertukaran ekonomi (hal. 56). Dalam konteks teknologi digital, virtual hadir buat menyamakan hal yang divisualisasikan.

Virtual juga merambah tempat kerja. Banyak perusahaan memekerjakan pegawai yang mahir bermain video-game. Ini bukan tanpa sebab: dalam pekerjaan yang tervisualisasi, mesin dan alat-alat dikendalikan melalui papan-ketik (keyboard) dan joystick (hal. 137). Kontrol analog tergantikan oleh antarmuka digital. Pendeknya, lingkungan virtual mengharuskan seorang pegawai nyaman bekerja dengan komputer.

Virtual telah menciptakan masyarakatnya sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari orang Amerika dan Eropa, sistem informasi yang bergantung pada virtual dan forum komunikasi virtual berkembang dengan pesat. Keseimbangan antara waktu untuk keluarga dan interupsi komersial, bekerja dan kehidupan rumahtangga, telah bergeser jauh dari keluarga.

Pada simpulan bukunya, Shields (hal. 231) mengatakan, kita perlu belajar lebih banyak dari manifestasi masa lalu dan bentuk virtual sehingga kita bisa memahami dengan lebih baik implikasi dari investasi kita yang berkelanjutan, dalam penciptaan virtualitas digital global.

Buku ini sangat liat untuk dipahami kalangan awam. Apatah lagi, ada beberapa bagian dari terjemahan yang membingungkan dan kadangkala perlu membolak-balik teks aslinya. Namun demikian, penerjemahan buku yang terbit delapan tahun yang lalu ini memberikan sumbangan cukup berarti bagi perdebatan pemikiran kita. Bahkan, barangkali bisa memantik ditulisnya buku-buku dengan tema serupa, yang sampai saat ini masih amat langka. [22112011, 23.49]

*) Resensi ini pernah dimuat dalam harian Bisnis Indonesia dan Bisnis Jabar edisi Minggu, 11 Desember 2011.