Karangan Tersiar, Reportase

Sendang Sinatah: Mata Air Keramat yang Membawa Berkah


Oleh A.P. Edi Atmaja

Pengantar:

Reportase ini merupakan pengamatan penulis saat mengikuti Kuliah Kerja Nyata di Desa Dudakawu, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara dari 19 Juli 2011 sampai 23 Agustus 2011.

SENDANG SINATAH berada 11,6 km dari ibukota Kecamatan Kembang, Jinggotan, dan masuk ke dalam wilayah Desa Dudakawu. Desa Dudakawu adalah satu dari sebelas desa di Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, yang terletak persis di lereng Gunung Muria. Maka tak heran topografinya naik-turun dan suhunya relatif dingin.

Gerbang Depan

Gerbang Depan

Sendang Sinatah berwujud mata air (sendang) yang memancarkan air tak henti-henti. Suasana di sekitarnya sangat kuyup hijaunya pepohonan, karena Sendang Sinatah sesungguhnya masuk ke dalam wilayah hutan hujan tropis lereng Gunung Muria.

Para peziarah—datang dari segenap penjuru di Indonesia, mulai dari penduduk lokal, Semarang, Kendal, Jakarta, hingga Riau dan Kalimantan—mempergunakan air tersebut sebagai sarana penyembuhan, perantara jodoh, enteng rejeki, dan beragam hajat lain.

Sendang Sinatah dikeramatkan oleh masyarakat Dudakawu lantaran ia dipercaya pernah menjadi tempat persinggahan (petilasan) seorang wali. Wali—seseorang yang dipercaya oleh sebagian besar masyarakat pedesaan di Jawa memiliki kesaktian—tersebut berpesan kepada warga di situ (Dudakawu) supaya sendang itu dijaga dan dirawat karena kelak ia bakal memberi keberkahan pada warga.

Mataair (Sendang) Sinatah

Mataair (Sendang) Sinatah

Dan benar. Beberapa saat setelah persinggahan sang wali, orang berbondong-bondong mengunjungi sendang. Mereka meminta bermacam-macam hajat dan keinginan, dan berharap sendang tersebut bisa menjadi perantara keterkabulan hajat mereka. Maka, mulai saat itu sendang itu diberi nama Sinatah oleh Pemerintah Desa Dudakawu, yang lantas membangunnya secara swadaya.

Banyak orang yang hajatnya terkabul setelah berziarah di sendang. Mereka yang terkabul biasanya bernazar menyembelih sapi, kerbau, atau kambing, yang bisa diolah di tempat (disediakan dapur untuk mengolah daging nazar). Kabar dari mulut ke mulut tentang betapa mustajabnya sendang itu kian memopulerkan keberadaannya di segenap pelosok Nusantara.

Hutan di Sekitar Sendang Sinatah

Hutan di Sekitar Sendang Sinatah

Mau berkunjung? Sendang Sinatah rata-rata diziarahi oleh 3000-an orang tiap tahun. Buat masuk, peziarah mesti merogoh kocek Rp 3.000, yang dibayarkan kepada Juru Kunci. Peziarah pun mesti menyiapkan “bawaan wajib”, antara lain rokok, kembang, pisang goreng, onde-onde, dan air tapai (badhek). Mari beramai-ramai mengunjungi Sendang Sinatah! [Dudakawu, 27072011, 23:05]

*) Tulisan ini pertama kali disiarkan oleh situs resmi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Diponegoro.

About these ads
Standar

2 thoughts on “Sendang Sinatah: Mata Air Keramat yang Membawa Berkah

  1. Mas, Jika untuk wisata kembali ke alam pedesaan dengan penuh kesederhanaan, oke saja. Tapi jika niat “hajat” itu sangat dekat ke musrikan, Yang justru sangat tidak diingini Wali Sn Kalijaga dan Empu Supo. Itulah diperingati dengan batas desa-Larangan sebelum masuk ke wilayah kramat sumber air belik Sinatah. Yang memang di Isolir oleh lembah dan Sungai, bahkan sebelum thn 80 an belum ada Jembatan AMD yang kini merupakan jalan satu satunya ke Dudakawu.
    Bukan tanpa sebab tlatah mata air Sinatah ini di Isolir ? Akibat pelanggaran yang dilakukan oleh warga Dudakawu-Larangan yang mengkomersialisasikan Air Sinatah dan mendanyangkan sebagai pemujaan dan minta hajat bernadar, maka kebanyakan penduduknya hidup pas pasan bahkan prihatin ke miskin,
    Yang tinggal bertahan kebanyakan manula, Janda dan anak belia.
    Hutan dan ekosistem sudah terbabat gundul, sungai mengering, sawah jadi tegal, walau 5 tahun terakhir penghijauan masarakat desa hutan telah dimulai, untuk bertahan banyak putri-putrinya menjadi PSK dan TKW, sedangkan putranya harus berkelana diluar daerah boro-kerja alias buruh nukang dan supir, namun banyak pula yang menjadi kriminal. Sebagai kutukan melanggar kramat wali atas penyalah gunaan belik Air sinatah yang mestinya dijaga ke kramatan nya.
    Semoga Allah mengampuni dan memberi pencerahan ke segenap warga dusun Gerod-Sinatah di Dudakawu. Untuk kembali ke Jalan yang di Ridhoi Nya. Agar terbebas dari Afaat dan Azab Allah.

    • sastrakelabu berkata:

      Tulisan saya itu sekadar pengamatan saya selama 35 hari berada di Desa Dudakawu. Sejauh pengamatan saya, memang Sendang Sinatah amat berlainan dalam hal popularitas dengan era-era sebelum sekarang: ia meredup dan jarang dikunjungi lagi.

      Saya dengar dari perangkat desa, upaya untuk meng-“Islam”-kan Sendang beserta budaya desa (seperti Tayuban) telah dilaksanakan dengan gencar. Banyak warga yang justru ogah bila harus mengantar pengunjung ke Sendang. Tradisi Sedekah Bumi yang diiringi dengan Tayuban (yang diikuti pula dengan pesta miras) bagi salah seorang perangkat memang bertentangan dengan gagasan luhur awal diadakannya tradisi tersebut. Namun, justru warga lokallah (dari Dukuh Gerot, terutama) yang bersikukuh hendak melestarikan budaya itu–yang tentu kita anggap sebagai musyrik–beserta pesta mirasnya.

      Jadi, di kalangan kaum elite desa, sebenarnya upaya penyucian itu sudah mulai ada dalam kesadaran diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s