Oleh A.P. Edi Atmaja
[buat Tantri]
Kulihat Bumi di pojokan suatu kali
Badan pepatnya mengerut, wajahnya penuh keriput
Kuterhenyak, Bumi telah renta kini
Kuberjalan di Padang Sahara
Mentari bersinar pekat, teriknya membikin penat
Kuterkesiap, ternyata kotaku pun tak jauh beda
Kumendaki Gunung Merapi
Pohon-pohonnya meranggas, menggundul begitu lekas
Kubaca berita, lahar dingin mengalir sore ini
Kuterbang jelajahi angkasa
Hingga ke atas, tingginya tak terbatas
Kutahu kini, lubang Ozon kian menganga saja
Laut, hutan, dan pohon
Sungai, kebun, dan tetumbuhan
Alam, galaksi, dan bintang-gemintang
Semua memasuki senjakala
Tapi manusia selalu lupa
Bumi segala bangsa diperkosa
Alam semua makhluk ditekuk
Lingkungan hidup terpaksa meredup, menelungkup
Kutakpeduli pada imbas
Kala aku (-aku) yang lain sama memeras
“Own your business!” kata temanku
“Urus perutmu sendiri!” kata sobatku
“Nasib anak-cucu tak penting!” kata handai-tolanku
Kulihat Bumi cemberut,
kini
Kudengar alam mengamuk,
tadi
Katrina di Australia, tornado di Amerika, tsunami di Jepang, banjir rob di Semarang
Semua berlomba, siapa yang perkasa
Adakah upaya manusia selain berdoa?
[Kyai Gilang Rd., 0405011, 22:42 WIB]



bagusnya…..
kalo bisa aku buat sendiri?!!??
Bisa, Yo.. Buatlah.