Oleh A.P. Edi Atmaja dan D.P. Pratama
Dengan bermodalkan situs peramban masyhur, Google.com, kami menyusuri laman demi laman. Beberapa detik berlalu, akhirnya situs resmi Teater Temis berhasil kami temukan.
Sebagaimana kami duga sebelumnya, situs itu tak termutakhirkan. Nasib situs itu setali-tiga-uang dengan organisasi yang menaunginya: tak terurus, terlupakan, lantas mati-suri.
Pernah mentas di TBRS
Teater Temis merupakan satu dari empat komunitas seni teater besar di lingkungan Universitas Diponegoro. Tiga teater lain yakni Teater Emka (Fakultas Ilmu Budaya), Teater Buih (Fakultas Ekonomi), dan Teater Dipo (Universitas Diponegoro). Teater Temis sendiri berada di lingkungan Fakultas Hukum.
Teater Temis menyelenggarakan pentas perdananya pada 2 Juni 1996—yang kemudian ditetapkan sebagai hari lahirnya—dengan mengangkat naskah “Domba-domba Revolusi”. Mendapat sambutan hangat dari publik yang saat itu jenuh dengan carut-marut politik kampus, pementasan selanjutnya bagai tak terbendung: “Langit Berkarat” (1996), “Sumur tanpa Dasar” (1997), “Pedati Kita di Kubangan” (1998), “Malam Jahanam” (1999), “Ratu Kepleset” (2001), “Polos” (2002), dan “Wabah” (2003).

"Ratu Kepleset", pentas tunggal ke-6, dipentaskan di Ruang Notariat Universitas Diponegoro, Lokalisasi Sunan Kuning Semarang, dan Balai Desa Susukan Salatiga
Setelah pentas perdana di Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Diponegoro tadi, panggung pementasan Temis pun kian meluas seiring penerimaan publik. Misalnya, temissian—sebutan bagi para anggota Teater Temis—pernah mentas di Balai Desa Susukan Salatiga, Lokalisasi Sunan Kuning Semarang, Lembaga Pemasyarakatan Wanita Bulu Semarang, Desa Penatusan Cilacap, Rumah Damai Gunungpati Semarang, Laboratorium Seni Lengkong Cilik Semarang, hingga Aula APMP Yogyakarta.
“Kami pernah pula mentas di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang,” kata Wahyu Fajar Utama, angkatan 2007, generasi terakhir temissian. Sebagai informasi, TBRS adalah panggung yang cukup prestisius di Jawa Tengah dan urat budaya kota Semarang.
Tinggal nama
Namun, kini, geliat Teater Temis sebagai ujung-tombak kehidupan berkesenian di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro rupanya telah padam. Tiada penerus yang mampu sekaligus mau melestarikan eksistensi komunitas seni ini. Temis putus di tahun 2007.
“Sebenarnya, ini masalah internal yang terjadi sejak 2005. Kesibukan dari masing-masing anggotalah yang menjadikan tidak pernah lagi diadakan latihan atau sekadar kumpul-kumpul,” papar Wahyu.
Padahal, menurut Rani, temissian angkatan 2001, alumnus Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, “Masa saya dulu, (Temis) aktif banget. Sampai-sampai, ada pentas saban tiga bulanan segala.”
Ibnu Dwi Cahyo, angkatan 2006, alumnus Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, masih sempat menyaksikan Temis pentas. Itu pun, “Pentas lantaran kerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Diponegoro saat Pemilihan Fakultas,” kata mantan aktivis pers mahasiswa ini.
Sekarang, menurut Galang Taufani—angkatan 2009—pementasan Temis ada karena ada “job” dari lembaga lain, semisal BEM. “Saat BEM memerlukan aksi teatrikal dalam sebuah acara, di situlah Temis tampil. Namun, yang mentas sesungguhnya bukan anggota Temis, melainkan anggota BEM. Temis cuma dipakai sebagai nama,” ungkap bekas anggota BEM Fakultas Hukum Universitas Diponegoro yang pernah kerja bareng dengan Temis ini.
Sinergi
Tak pelak lagi, kevakuman Teater Temis menyebabkan nama besarnya kurang terdengar lagi kini. Berbeda dengan kedua saudaranya, Teater Emka dan Teater Buih, yang hingga kini masih rutin melakukan pementasan.
Kampus Fakultas Hukum yang pada dasarnya (mengajarkan ilmu yang) “kaku” ini menjadi kian positivistik-dogmatis akibat ketiadaan wahana berkesenian. Padahal, ketika hukum tercerabut dari seni, yang bakal dihasilkan adalah robot-robot, bukan manusia. Aparat penegak hukum yang tidak mempergunakan hati.
Diperlukan koordinasi dan sinergi dari masing-masing mahasiswa yang memang memiliki minat yang sama dalam berkesenian. Seperti kata Wahyu, “Kami berusaha mengumpulkan kembali yang tercecer dan benahi lagi organisasi ini.”
Kami yakin masih banyak mahasiswa yang peduli akan kesenian, sekalipun itu “bertabrakan” dengan disiplin ilmu yang dipelajarinya. Bukankah seni dan budaya adalah untuk manusia? [040211]
*) Liputan ini turut berpartisipasi dalam Lomba Koran Kampus dalam Kompas Gramedia Fair (KGF) 2011 di Semarang.


saya tertarik dengan prolog dari tulisan ini, karena tepat sekali di hadapan saya kata kata itu bermuara.
sekarang saya sedang menangani sebuah event di luar G atau P… event tersebut menawarkan kita keluar dari yang namnya lubang kabel maya… sangat menyegarkan dan orisinil kita akan di ajak berselancar di pantai dan membangun istana kerajaan kita dnegan pasir kita sendiri.. selamat ber-Rekreasi…
Menghidupkan seni adalah agenda paling krusial di FH Undip. Siapa mau bergabung?
sedih rasanya membaca tulisan ini, tak berasa, masa jaya itu reduplah sudah, merasa bersalah sie iya.
ingat masa pentas Ratu Kepleset (saya tak terfoto)
tapi sudahlah, biarpun nama teater temis tak bergaung lagi di FH undip tapi kami masih ada, masih sering bertukar pikiran dan masih bertemu.
bagi kami “perjalanan berkesenian tiada pernah berakhir”
Terimakasih, akhirnya salah seorang temissian bersuara. Liputan itu sejujurnya saya bikin dengan motivasi kuat betapa “kering” gairah berkesenian di FH Undip sekarang. Teater Temis hanyalah satu piranti untuk mengungkapkan kegalauan hati saya itu. Tentu saja banyak wujud kesenian lain di kampus kita yang tenggelam bersama kecenderungan mahasiswa sekarang yang hedonistis, organisatoris, dan kurang berminat pada keilmuan dan kesenian.
Salam kenal buat Anda, Mas Sapi, yang sedia memberi tanggapan buat usaha saya yang tak ada apa-apanya ini. Yah, beginilah yang bisa saya lakukan. Secara struktural, saya tak bersentuhan langsung dengan Temis karena saya tak menjadi anggotanya. Di kalangan teman-teman saya angkatan 2008 pun, saya kira, tiada seorang pun yang jadi anggota aktif organisasi ini. Jadi, saat pembuatan liputan, hal ini juga jadi kendala terbesar.
tolong komentar dari saya beberapa di benarkan seperti apa yang saya bilang.
1.Saya tidak pernah ngaku sebagai anggota t
Temis, kalo simpatisan iya. Karena untuk menjadi anggota Temis harus mengikuti semacam pendidikan dasar yg diadakan Temis dan saya tdk pernah mengikuti itu.
2. Saya g pernah bilang anggota Temis tidak pernah kumpul, karena ada beberapa kesempatan anggota Temis kumpul.
Saran untuk saudaro DP, agar lebih cermat dalam menjabarkan apa yang disampaikan oleh narasumber dan ketika wawancara sebaiknya membawa mencatat atau merekam apa yg disampaikan narasumber, sehingga tidak terjadi kekeliruan seperti ini. Terima kasih
Terimakasih buat Saudara Wahyu yang sedia menanggapi tulisan ini. Memang, saya dapat berkas wawancara Anda dari Saudara Depe. Saya khilaf tak melakukan verifikasi terlebih dahulu kepada Anda, sehingga langsung saya tulis begitu saja.
Koreksi Anda akan saya sampaikan pihak terkait segera.
Wah, maaf mas sebelumnya kalau saya salah. Tapi seingat saya waktu itu mas bilang sekarang temen-temen dari themis punya kesibukan masing-masing. Ya kalaupun kumpul mungkin hanya beberapa orang saja. Sekali lagi maaf kalau ingatan saya ternyata salah.
Terima kasih untuk sarannya, semoga kedepan bisa lebih baik lagi.
terima kasih telah memberikan ulasan tentang teater Temis sebelumnya…namun bagi saya pribadi sebagai salah satu “makhluk” dlm komunitas ini merasakan semangat Temis tidak pernah padam, walau saat ini kami berada di tempat yg terpisah-pisah tidak seperti ketika di FH Undip, namun kami tetap menyalurkan obsesi semangat berkesenian kami sesuai jalurnya masing-masing. Dan ijinkankan saya pribadi untuk bilang temis belum bubar dan habis, suatu saat kami kembali dengan profil kami masing-masing dengan cara berkesenian kami masing-masing.
Saya senang semakin banyak temissian berkomentar. Itu menunjukkan betapa pelik masalah kita.
saya bukan temisian, namun saya tumbuh mereka, beberapa kali berpartisipasi pada pentas-pentas mereka sebagai penjaga pintu seperti Polos, Wabah, dan berpartisipasi aktif dengan tertawa sekeras – kerasnya di pentas ketoprakan mereka.
Mungkin kata padam tidak cukup tepat, karena berkesenian tiada di kungkung oleh struktur organisasi dan lokus beroperasinya, lekra boleh mampus dia punya nama, namun martin alaida tetap berkarya, pram tetap melawan, Manifesto Kebudayaan boleh di larang namun wiratmo tetap bekerja, goenawan tetap juga menulis, walau arif lari keluar negeri….
kami masih ada
Saya suka tanggapan Anda.
Sebagai salah seorang manusia yang sering diberdayakan oleh temis dalam beberapa pementasan mereka,melihat perkembangan temis saat ini tentu membuat saya pribadi merasa miris.bagaimana dulu temis bisa begitu aktif berkesenian mendobrak gaung hedonisme kini harus bersusah payah mempertahankan eksistensinya.ini bukan kegagalan tongkat estafet regenerasi,tp lebih kepada minimnya minat mahasiswa baru untuk berteater dan berkesenian.teater sudah dianggap barang usang dan tidak kekinian…mungkin.tapi saya percaya tunas-tunas akan tumbuh kembali,begitulah inti dari hidup ini..hidup,mati kemudian tumbuh kembali.anda harus percaya,karena saya percaya
saya gak suka dgn judul yg anda tuliskan. anda cuma melihat pembandingnya dgn “waktu” saja. padahal Temis yg sebenarnya ada di dalam darah dan ada di dalam hati. tak ada istilah regenerasi yg gagal, karena masa memang memiiki kecenderungan masing2. angkatan 95 memiliki jumlah anggota yg cukup banyak, tak seperti angkatan 96 dan 98. jumlah terbanyak mungkin adalah angkatan 97, dan demikian seterusnya tiap angkatan memiliki ke khas-an masing2. Maka tak ada yg bisa disalahkan jika tak ada lagi mahasiswa FH Undip yg memiliki minat berkesenian. Seni dan Temis bukanlah kewajiban, melainkan cinta dan panggilan hati. Dari yang dicap sebagai rombongan orang nyentrik yg demen main ketoprak dan happening art, menjadi mahasiswa2 berkarakter yang mampu membuat karya yg disebut PAGELARAN, lengkap dengan dukungan tata panggung, tata lampu, musik, penyanyi, kostum, make up artist, produksi dan penyutradaraan yg boleh diapresiasi. Pada masa2 karya2 Temis diluncurkan, respon dari rekan2 di kampus memang luar biasa dan itulah satu dari sekian sebab. tak ada artinya temissian terdiri dari sutradara dan aktor hebat, tanpa minat seni yg tinggi dari teman2 di kampus yg mengapresiasi pementasan2 kami. Dari situlah harusnya anda memulai angle dari tulisan anda. Coba tanyakan pada rekan2 yang pernah mengalami pementasan2 Temis dgn random , saya yakin anda akan mendapat kesan yg lebih pas. Terlalu murung jika anda pikir ketiadaan penerus Temis di kampus skrg seolah seperti akhir dari peradaban. Dan saya tak suka komentar anda menanggapi ulasan Decky pada 5 November 2011 jam 22.25 WIB ; tak ada masalah pelik yg terjadi kok, not a single thing! walo anggota dan rekan2 yg pernah jadi penikmat karya2nya sdh menyebar jadi hakim, jaksa, lawyer, pns, musisi, artis, ibu rumah tangga, pegawai bank, ato profesi lainnya, semua masih menyimpan Temis dalam diri mereka, and we are more than happy with that. Temis masih ada forumnya baik fisik ataupun virtual, so anda tak usah lagi membuat tulisan yg pilu meratapi tak ada lagi mahasiswa FH yg meneruskan nama Temis d kampus, we’re just fine.. and so fine. Btw selamat ya, tulisan anda yg gak bermutu uda ikut masuk dalam Lomba Koran Kampus dalam Kompas Gramedia Fair (KGF) 2011 di Semarang. Next anda bisa paksa otak anda bekerja lebih keras lagi utk membuat ulasan yg bisa mendatangkan respon yg lebih positif .
Melalui tanggapan ini, saya nyatakan, Sastra Kelabu tak lagi memuat tanggapan bernada kebencian, emosionalistis, dan mengumbar kepengecutan. Sastra Kelabu menghargai kesatriaan. Maka, kirimlah tanggapan dengan tautan tetap. Kirim dengan nama terang seasli-aslinya.
Demi kenyamanan pembaca, tanggapan-tanggapan dengan kriteria sebagaimana disebut di atas, setelah tanggapan ini diketik, dihapus.
Terimakasih. Demikian, harap maklum.
jika anda memang mengaku sebagai seorang jurnalis sejati maka terbukalah untuk menerima kritik dari orang lain. saya juga seorang jurnalis yang dilahirkan dari temis namun sikap anda inilah yang membuat saya meragukan kejurnalisan anda. tetap terbuka dengan kritik kawan… jangan bersikap apriori terhadap kritikan, jika anda merasa benar berikan tanggapan sebagai seorang jurnalis, dan jika memang anda merasa salah akui kesalahan dengan kesatria, bukan dengan menghapus semua postingan teman2 temis (termasuk postingan saya yg saya anggap tidak termasuk unsur2 yg anda sebutkan diatas). banyaknya komentar yang datang menunjukan ada “sesuatu” dari tulisan anda. dan berbahagialah jika hal itu benar, karena banyak tulisan dari jurnalis2 seperti anda yang tidak perhatikan layaknya tulisan anda..demikian semoga ananda berkenan.
Saya justru meragu, benarkah ada “teman-teman” di situ? Bukan cuma “teman”?
Hehe. Terimakasih tanggapan Anda.
[Sebelumnya pernah dikirim via pesan Facebook Decky Paryadi. Belum ada balasan. Terimakasih.]
Saya menunggu, dan terus menunggu, akhirnya ada juga temissian yang bertindak satria dengan menerakan identitas pribadi.
Saya, terus-terang, jengah atas tanggapan-tanggapan yang masuk, yang seolah-olah menyiratkan penolakan atas realita yang terjadi. Betul, saya katakan itu realita, karena memang begitulah keadaannya–minimal dari kacamata saya, sebagai orang awam, orang di luar Temis. Cobalah Anda sebagai temissian sekali-sekali main-main ke FH–yang sekarang sudah pindah ke Tembalang (apalagi!): Anda akan tahu bagaimana keadaannya.
Anda mengatakan, saya tak terbuka pada kritik. Justru, saya kira, tanggapan-tanggapan yang berseliweran itu (entah dari berapa orang sesungguhnya, yang saya katakan sebagai “teman-teman” Anda), saya pikir lebih tak terbuka atas kritik. Nada tanggapan itu bukan lagi berdiskusi etis, melainkan sarat caci-maki dan sangat emosional. Dalam tahap tertentu, memang saya terima. Saya biarkan. Tapi kemudian saya memutuskan mengambil sikap. Tulisan itu ada dalam blog saya. Saya sebagai tuhan di situ, bebas melakukan segala yang perlu demi blog saya.
Memang betul saya akui, liputan itu lebih banyak tampak opini ketimbang liputan dalam arti sesungguhnya. Saya bukan jurnalis. Saya belum bisa bersikap adil pada siapa-siapa dan apa-apa, juga Apa-apa.
Namun, yang perlu Anda ketahui, saya menulis itu–bersama DP Pratama–bukan karena motivasi buruk. Justru sebaliknya, tulisan itu sebenarnya wujud kegelisahan saya, kenapa kampus FH bisa jadi seperti ini? Mengapa tak ada lagi pertunjukan-pertunjukan kesenian? Itu yang justru menggalaukan hati saya. Bahkan, sempat tebersit, bagaimana kalau memulai teater sendiri–entah dengan “membangkitkan” Temis atau lewat medium baru. Saya dan beberapa kawan–yang tentunya adalah orang-orang yang sangat langka di kampus, sehingga kami sering dibilang gila–juga pengen menyelenggarakan diskusi sastra, puisi, cerpen, dsb.
Tulisan itu saya bikin awalnya sebagai konsumsi pribadi, namun kemudian ketika ada Lomba Koran Kampus, terpaksa saya masukkan dalam produk lantaran kekurangan bahan dan waktunya mepet. Tapi, tanpa ada peristiwa itu pun, pada akhirnya saya pasang juga kan tulisan itu di blog? Dan Anda baca.
Yang saya harapkan dari Kakak-kakak, yang dulu pernah mengasuh Temis, sebenarnya, cobalah datang ke kampus lagi. Lihat dengan mata-kepala sendiri kondisinya. Jangan lantas marah-marah pada orang yang mencoba memikirkan Temis. Sekadar informasi: saya, ketika melakukan wawancara, pun pernah tak ditanggapi oleh orang yang saya kira sebagai pengurus Temis (angkatan 2007). Ia sama sekali mengacuhkan saya, padahal saya tahu ialah pengurus Temis sekarang. Jadi, di sini bisa dibaca bagaimana sikap para penerus atas organisasi yang mestinya mereka jaga keberlangsungannya.
Saya mohon maaf atas kata-kata dalam tulisan atau tanggapan saya yang menyinggung segenap temissian. Saya juga cinta kesenian. Saya kira kita satu frame. Mengapa saling mencaci-maki? Terimakasih.
Salam kenal, Mas Decky.
Saya justru meragu, benarkah ada “teman-teman” di situ? Bukan cuma “teman”?
Apa maksud Anda? Saya meninggalkan tautan pribadi demi menanti tanggapan Anda.
Salam..
Okelah. Memang betul ada “teman-teman-teman-teman-teman-teman” di situ.. Hehe.
mas edy makasih banget artikelnya
.
temis uda mulai bergeliat lagi… tahun 2012 ini kita uda ada kegiatan , oprec , dll. tapi beneran artikelnya keren,, bikin aku dan kawan2 lebih semangat di temis
Makasih juga, Maria. Semangat terus memajukan kesenian di FH!
” Sekadar informasi: saya, ketika melakukan wawancara, pun pernah tak ditanggapi oleh orang yang saya kira sebagai pengurus Temis (angkatan 2007). Ia sama sekali mengacuhkan saya, padahal saya tahu ialah pengurus Temis sekarang. Jadi, di sini bisa dibaca bagaimana sikap para penerus atas organisasi yang mestinya mereka jaga keberlangsungannya.”
Apa ada yang tidak tau harus bertanya kepada siapa Temis ini semenjak 2007 sampai saat ini?
Karena saya tidak pernah merasa dipanggil untuk diwawancarai mengenai Temis.
Untuk sang penulis artikel ini.
Saya excited menanggapi artikel anda. Tapi perlu di ketahui, saya membaca pertama kali ini tidak hanya sekali. Berkali saya memastikan apa yang saya rasakan ketika saya membaca artikel ini.
Saya ingin menyampaikan, bahwa cara anda untuk mengetahui tentang Temis ini belum tepat.
Saya selaku yang bertanggung jawab atas TEMIS ini, dimulai sejak karir saya bersama senior dan rekan seangkatan, kemudian saya dipercayakan untuk terus membawa nama Temis ini, sampai akhirnya memang benar TEMIS adalah panggilan hati.
Temis tidak pernah mati. Pengalaman saya, TEMIS tetap hidup.
Getaran TEMIS tidak pernah mati saya rasakan.
Begitu banyak tawaran pementasan. Apakah tawaran itu hanya rasa belas kasihan??
Menurut saya tidak.
Nama saya Marsiat Vera, saya temissian angkatan 2007. Membaca artikel ini, jujur sangat membuat saya sedih. Tapi saya tidak setuju dengan tulisan bahwa “Temis tak terurus, terlupakan, lantas mati-suri”. Saya tanya, seberapa besar Anda mengenal dan mengetahui Temis sehingga Anda bisa berpendapat demikian?
Sejak pertama kali saya mengenal Temis, Temis memang sudah jarang pentas. Saya kurang tahu entah dari kapan tahun, akan tetapi dari yang saya pahami, senior-senior Temis tidak pernah ‘melupakan’ Temis. Hal ini dibuktikan dengan pendekatan yang dilakukan mas Pras, mas Hendy, mas Ghana kepada anak-anak 2007 (sebagai mahasiswa baru saat itu). Lantas, bagaimana bisa dikatakan tidak terurus? Temis memang tidak mempunyai struktural. Tidak ada ketua, sekretaris atau bla bla bla. Akan tetapi, bagi yang pernah bergabung atas nama Temis, kita semua Temissian. Mengapa? Coba lihat realitanya. Ada berapa banyak orang sih yang mau jadi anggota Temis? Bahkan pada saat itu, calon anggota Temis menghilang saat akan diadakan pertemuan perdana. Dan jangan seperti tidak mengetahui, kita punya beberapa UPK yang mana setiap orang pasti mempunyai bidang minat yang lebih dari satu UPK. Temis tidak bisa membatasi bidang minat masing-masing orang. Jika Temis ‘mati-suri’ seperti yang Anda tuliskan, tidak akan pernah ada undangan-undangan untuk Temis tampil. Memang apa salahnya dengan ‘undangan’? Mengapa disebutkan ‘hanya undangan’? Apakah sebegitu tidak kreatif kah Temis pada saat itu sehingga kesannya tidak punya pentas sendiri?? Kalau kita diundang oleh beberapa UPK, tidakkah itu namanya pentas? Keminiman anggota Temis, sangat tidak memungkinkan untuk terlalu berpijak pada temissian, itulah sebabnya ketika ada pentas, kita merekrut orang-orang yang mau mengikuti pentas. Ketika dia pernah pentas, dia pantas untuk disebut temissian, tanpa harus membuktikan atau menunjukkan apa posisi org tersebut di Temis. Siapakah anak 2007 yang pernah Anda datangi namun menolak? Tolong disebutkan.
Di artikel ini, disebutkan bahwa ‘Temis putus di tahun 2007′. Ah yang bener lo? Jelas-jelas saya, Grace, Nina, bang Hans, dan beberapa teman lainnya sudah berapa kali dilatih sama mas Pras, mas Hendy, mas Ghana, pernah juga mas Sapi dateng. Waktu itu kami sering dilatih untuk naskah ‘Wabah’ kalau saya tidak lupa.
Di tahun 2008, kita sempat tampil di PMB. Memang saat itu dalam perkenalan UPK awalnya, namun keesokan harinya, kami bikin pentas sendiri di Boulevard. Coba AP, kamu angkatan 2008, yang katanya suka seni dan ‘galau’ melihat kondisi Temis, pernahkah kamu mendaftar sebagai Temissian pada saat perkenalan UPK? Atau dengan ‘kegalauan’ Anda seharusnya Anda menghubungi kami yg masih ada di kampus untuk lebih berbincang banyak mengenai Temis.
Di tahun 2009, Temis pernah diundang untuk monolog di acara MCC Soedarto, karena monolog jadi yang tampil Grace pada saat itu. Juga di kampung Ramadhan-nya KSHI, juga undangan untuk berpuisi (saya lupa dari mana). Kita juga pernah bikin pentas boneka. di tahun 2010, Temis masih tampil di acara BEM. Dengan banyaknya undangan-undangan tersebut, pantaskah dikatakan Temis terlupakan, tak terurus dan mati-suri?? Sejak 2008 awal, CP Temis ada di Grace. Kalo Temis tak terurus, pasti Grace selalu menolak tawaran-tawaran yang datang. Jadi, valid kah data Anda yang menyatakan bahwa ‘Temis putus di tahun 2007?’
Ini ada beberapa anak 2010 yang berniat mengembangkan Temis. Dan setahu kami, mereka sudah mulai membuat proposal. Semoga di tahun ini, Temis bisa mempunyai anggota yang cukup, sehingga bisa dibuat strukturalnya. Semangat Maria dan kawan-kawan.
Teruslah menulis. Banyaklah belajar. Terimalah kritik dan saran. Cari informasi yang lebih akurat.
Regards,
Terimakasih atas perhatian dan klarifikasi Anda.
Btw, bolehkah saya meminta kesediaan AP untuk lebih sopan terhadap yang memberikan komentar? Karena mereka adalah senior-senior di Temis. Kamu memang Tuhan dalam blog ini, tapi kamu membawa Brand lain dalam tulisan ini, dengan kata lain, siapapun yang komentar berhak untuk memberikan saran dan kritik terhadap artikel ini yang mungkin bagi kamu, pedas. Terimakasih
Sejauh ini, saya kira, saya cukup sopan. Terimakasih.
Beberapa catatan:
Tanggapan-tanggapan dalam reportase ini, sejauh itu terkait dengan isi reportase, adalah juga bagian dari reportase, dan bisa diterima sebagai kebenaran yang valid.
Narasumber reportase ini tak hanya siapa yang tercantum dalam reportase, melainkan juga mereka yang telah memberikan tanggapan.
Perlu dipahami bahwa reportase ini terdiri atas postingan dan tanggapan.