Mengapa Dunia Arab Bergolak?


Oleh A.P. Edi Atmaja

TUNTUTAN REFORMASI di Mesir telah sampai pada tahap yang mengkhawatirkan. Aksi massa memadati jalan-jalan utama dan pusat ibukota. Teriakan-teriakan supaya Presiden Hosni Mubarak mengundurkan diri dari jabatannya santer terdengar. Korban akibat aksi massa berjatuhan di mana-mana dan birokrasi Mesir lumpuh total. Inilah kerusuhan terbesar dalam tiga dekade.

GETTY IMAGES/JOHN MOORE

Jumlah korban dikhawatirkan akan terus bertambah, seiring makin beringasnya aksi massa. Bentrokan yang terjadi di kota-kota besar seperti Kairo, Suez, Alexandria, Rafah, dan Ismailiya memorak-porandakan gedung-gedung perkantoran dan polisi. Penjarahan merajalela di berbagai tempat, termasuk di museum-museum yang menyimpan barang bersejarah bernilai jutaan dolar.

“Revolusi” yang terjadi di Mesir dipicu oleh “suksesnya” revolusi di Tunisia. Tunisia, negara yang terletak di barat Mesir setelah Libya, bergolak lantaran krisis politik akibat kemiskinan rakyat dan korupsi pejabat. Presiden Zine al-Abidine Ben Ali, yang telah berkuasa selama 23 tahun, digulingkan. Situasi menjadi tidak menentu setelah ia melarikan diri ke Arab Saudi.

Efek domino pergolakan politik

Keberhasilan rakyat Tunisia rupanya dicontoh negara-negara tetangganya di Dunia Arab. Revolusi yang dipicu oleh aksi bakar-diri pedagang asongan Tunisia, Mohamed Bouazizi, itu menjalar ke seluruh Tunisia, kemudian kini ke Dunia Arab. Tidak cuma Mesir, negara-negara lain semisal Libya, Yordania, Maroko, dan Yaman menunjukkan sinyal bakal dimulainya revolusi.

Berkuasanya Muammar Gadaffi di Libya selama 41 tahun—terlama di Afrika dan Timur Tengah—bisa jadi akan membikin letupan-letupan revolusi rakyat baru, yang terinspirasi dari pengalaman Tunisia dan Mesir. Rakyat yang berpandangan kian demokratis bisa jadi akan mempertanyakan legitimasi (masih) berkuasanya pemimpin mereka itu.

Di Yordania, telah digelar aksi unjuk rasa oleh ribuan orang yang menentang kenaikan harga pangan dan pengangguran. Sebagian di antara mereka menuntut pula supaya Perdana Menteri Samir Rifai mundur.

Rakyat Maroko bergolak lantaran masalah ekonomi dan dugaan korupsi di kalangan pemerintah. Raja yang berkuasa, Mohammed VI, terlampau memberi keleluasaan buat orang-orang terdekatnya soal bisnis kerajaan, sehingga menimbulkan keserakahan yang mencederai nurani rakyat. Kemungkinan besar, negara kerajaan yang disokong rakyat itu tak akan bertahan jika situasi masih demikian.

Mirip sebagaimana yang terjadi di Tunisia dan Mesir, terjadi aksi massa selama beberapa hari di Sanaa, ibukota Yaman. Kemiskinan menjadi alasan kelompok pemuda dan oposisi turun ke jalan. Mereka menuntut pengunduran diri Presiden Ali Abdullah Saleh yang berkuasa selama 32 tahun.

Demokrasi di Dunia Arab

Terjadinya pelbagai aksi massa dan gerakan rakyat yang seakan beruntun atau serentak itu menyiratkan betapa demokrasi di Dunia Arab coba dibangkitkan. Efek domino pergolakan politik di Dunia Arab tersebut membuktikan bahwa sistem pemerintahan yang berlaku telah usang dan mesti diganti.

Sejumlah alasan ditengarai menjadi penyebab munculnya aksi massa di Mesir, salah satunya adalah karena pemerintahan yang represif. Presiden Hosni Mubarak telah mengekang kebebasan warganya. Ia pun, ditandai dengan manipulasi hasil pemilu legislatif yang luar biasa pada bulan November, dituduh telah mempraktikkan politik yang tertutup selama tiga dasawarsa. Para pemuda—berusia 17 hingga 30 tahunan, yang sejak lahir sampai remaja hanya mengenal Hosni Mubarak sebagai presiden—yang putus asa akan kondisi sulit negaranya menjadi sangat emosional, kemudian meluapkannya dalam intifadah (letupan), turun ke jalan.

Pemerintah Mesir, juga pemerintah lain di negara-negara Arab, semestinya segera tanggap akan perubahan-perubahan yang terjadi di dunia. Bahwa, bukan zamannya lagi sistem pemerintahan sentralistik-otoriter diterapkan, yang memperkenankan seseorang memimpin negara untuk masa jabatan yang tak terbatas. Kekuasaan, bagaimanapun bentuknya, akan menghasilkan “korupsi” bila ia terlalu lama dipegang oleh seseorang. Teori John D acton (1834-1902) itu sedikitnya benar bila “korupsi” yang dimaksud adalah dalam bentuk eksklusivitas pemerintahan, otoriterisme, pemasungan hak-hak individu, dan korupsi itu sendiri.

Dengan demikian, menjadi urgen kini—sekali lagi, di Dunia Arab—diterapkan apa yang George Soros (2000) namakan sebagai “masyarakat terbuka” (open society). Masyarakat terbuka menghendaki sistem demokrasi yang bawah-atas (bottom-up). Kewenangan tertinggi atas negara ada pada rakyat: rakyatlah yang berhak mengangkat atau memberhentikan pemimpin.

Para pemimpin di negara-negara Arab mesti segera belajar dari Mesir dan Tunisia. Di samping itu, dalam hal-hal tertentu, juga pada Sudan—yang kini pecah menjadi dua bagian. Disusunnya konstitusi baru yang prorakyat barangkali akan menjadi solusi yang menjanjikan, demi terwujudnya stabilitas di kawasan Arab, baik di Timur Tengah maupun Afrika. [070211]

2 pemikiran pada “Mengapa Dunia Arab Bergolak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s