Karangan Tersiar, Prosa, Sastra Kelabu

Aku bin Atang

Oleh AP Edi Atmaja

NAMAKU Aku. Bapakku Atang. Aku bin Atang.

“Ku,” seru teman-temanku, “Kenapa kamu suka jadi benalu?”

Mengapa teman-temanku bisa ngomong begitu, akan kuceritakan padamu.

***

DI suatu Oktober yang kerontang, pembantaian itu terjadi di hari Sabtu. Seratusan orang berarak menuju Tegalirik, desa terbarat di kelurahan ini. Orang-orang itu sebelumnya telah berhasil kuprovokasi. Mereka, beriman baru kemarin sore, percaya saja pada hasutan yang kuembuskan.

Awalnya, kupikir aku mesti menyiapkan dalil-dalil yang lama tak kubuka. Meski oleh banyak orang aku dibilang alim nan saleh, dan mereka percaya petuahku mentah-mentah seperti mereka percaya pada ibunya, terakhir kali buka Kitab Suci seingatku sepuluh tahun yang lalu. Setelah membaca habis Kitab dua kali, aku merasa tak memerlukannya lagi. Hanya di saat-saat tertentu aku jinjing Kitab itu, tapi dengan tetap tidak membukanya, untuk meyakinkan orang-orang bahwa pendapatku memang mengacu padanya.

Not a Foe/IBG Wiraga

Not a Foe/IBG Wiraga

Tapi untuk urusan kali ini aku merasa tak perlu membawa-bawa Kitab. Mereka langsung terbakar begitu aku menyelesaikan orasiku. Aku tak kehilangan apa pun kecuali suaraku yang jadi serak beriak. Namun, itu tak jadi soal. Segelas limun segar segera mereka, orang-orang dungu itu, sodorkan padaku, yang lalu kutandaskan dengan bunyi tak sopan.

Selebihnya, kuasa setanlah yang mengatur. Di depan barisan, aku terus mengompori mereka dengan maki-makian bernada religius. Kalau perlu, aku bawa-bawa nama Tuhan setelah menyerukan nama-nama penghuni kebun binatang. Tapi, entah kenapa, tak ada yang protes padaku karena nama Tuhan disandingkan dengan penghuni kebun binatang.

Kami menemukannya tengah bersantai di beranda. Hidup sebagai wiraswasta membuatnya libur sepanjang minggu. Ia tampak hidup amat sejahtera. Mobilnya lima, rumahnya gedongan belaka, pembantu-pembantunya makmur semua.

Pria itu dulu pernah hendak kami usir dari kampung. Orang aneh dengan ibu yang tak kalah aneh. Satu-satunya doktor di kampung, bahkan di kecamatan. Di usia semuda itu, kami baca di koran-koran, dialah doktor termuda di negeri ini. Memang tak mengherankan. Otaknya memang encer luar biasa. Sampai-sampai guru-guru pun berdecak kagum padanya. Tatkala pulang dari studinya di Inggris, ternyata sifat anehnya tak jua menghilang. Balik kampung, ia bahkan berani mengajarkan agama baru kepada para tetangga. Agama baru itu mengajarkan bahwa manusia pada dasarnya makhluk mandiri, yang tak butuh apa pun dan siapa pun, selain upayanya sendiri. Sinting.

Melihat kami yang datang berbondong-bondong, ia bangkit dari kursinya. Raut itu, raut keramahan yang aku benci, kini ditingkahi sedikit rona keheranan. Sebelum kata terucap dari mulutnya, batu seukuran kepalan tangan meluncur ke kepalanya. Darah berceceran. Sebelum ia sanggup memahami apa yang terjadi, seseorang berteriak dari belakang, “Kafir! Tumpas dia sebelum menyesatkan seluruh warga!” Suara itu seolah memiliki kekuatan magis yang mampu menerbangkan batu-batu ke pria itu saja. Tak ayal, ia, tak lagi berbentuk manusia, jadi bulan-bulanan kami semua.

Beberapa orang merangsek ke dalam rumah dan menemukan perempuan-perempuan yang menjerit. Melihat mereka, aku jadi bernafsu. Kuperkosa mereka satu per satu, dan yang lain mengantre di belakang. Setelah kebagian semua, kami bereskan perempuan-perempuan itu, mengirimnya ke neraka. Kemudian kami menyalakan api dan membakar rumah itu dan semua kekayaan yang selalu bikin aku iri hati. Semua orang berjingkrak bersuka ria. Setan-setan menari bersama. Aku tak perlu lagi membawa-bawa nama Tuhan dalam urusan ini. Karena ternyata dukungan setan melebihi apa yang aku inginkan.

Mengapa nasib wiraswasta itu begitu pilu, akan kuceritakan padamu.

***

MALAM itu, setiap orang yang merasa dirinya laki-laki mesti keluar dari rumah masing-masing. Lusa peringatan tujuhbelasan, dan jalanan kampung belum sedikit pun dipermak. Entah sejak kapan, atau kenapa, jalanan kampung harus dipermak untuk menyambut hari kemerdekaan. Apakah seremoni selalu berarti kesemarakan?

Aku sebenarnya tidak tertarik acara semacam ini. Selain biasanya sangat membosankan, aku merasa lebih baik mengerjakan sesuatu yang lebih berarti di rumah. Aku tipikal orang yang tak bisa berbasa-basi di depan banyak orang, mengobrolkan sesuatu yang tak jelas juntrungannya. Ya, aku merasa, acara ini lebih banyak ngomongnya ketimbang kerjanya. Gotong royong macam mana yang kau harapkan ketika segelintir orang berpeluh-peluh saking capainya bekerja sementara yang lain berleha-leha dengan kuas yang tak pernah sekali pun diusap-usapkan?

Dan inilah aku. Terpaksa keluar dari rumah supaya eksistensiku sebagai lelaki diakui.

Dengan kuas di tangan kanan dan sapu lidi di tangan kiri, aku menuju Paidi yang tengah mengaduk kapur di ember. “Kamu bawa ini, Man, dan laburlah jalan yang sebelah sana,” katanya sembari menyerahkan ember bagianku. Aku menuju jalan yang belum terjamah orang. Aku sapu pinggirannya dari debu agar kapur yang kukuaskan melekat dengan sempurna.

Jam sebelas pekerjaan sepakat diakhiri. Sepakat karena tiada lagi orang berkuas atau bersapu lidi yang terlihat bekerja. Orang-orang berkumpul di depan pos untuk menikmati makanan ringan. Awalnya ketawa-ketiwi melulu. Obrolan biasa yang mempercakapkan liga Inggris, keadaan sawah yang terus-menerus paceklik, atau pengalaman-pengalaman lucu di pabrik. Aku hanya mendengarkan saja lantaran aku benar-benar buta sepakbola, tak paham seluk-beluk pertanian, dan tidak pernah bekerja di pabrik.

Semakin malam, suasana mendadak jadi mencekam. Entah apa masalahnya, Pak Dar mengumpat kasar kepada Pak Cung yang duduk di dekatnya. Pak Cung yang tidak terima lantas berdiri seraya balas mengumpat tak kurang kasarnya. Pak Dar pun berdiri. Kami semua berdiri melihat urat mereka sama-sama menegang. Sebelum salah seorang mendaratkan bogem mentahnya, kami dengan sigap memisahkan mereka. Mereka masih terus mengumpat setelah diajak pulang ke rumah masing-masing.

Tongkrongan belum bubar sehabis insiden itu. Telah lama tertanam di otakku, jangan pernah meminta diri sebelum ada yang mengundurkan diri. Aku bertahan dengan pikiran itu, takut diolok-olok sebagai anak rumahan kendati jam dinding sudah menunjuk pukul satu dinihari. Ketika Pak San agaknya hendak pulang, kulihat inilah kesempatanku untuk menyudahi kumpul-kumpul tak bermutu ini.

Baru dua langkah mengayun, seseorang meneriakiku, “Mau ke mana, Man?” Aku menoleh, ternyata ada orang yang paham gelagatku. Dia Aku, si pembual. Orang yang doyan ngomong meski tak pernah mengerti apa yang ia omongkan. Aku tak menyahut. Buat apa, pikirku.

“Mau kelon sama ibumu, Man?” Dia berseru keras sekali. Semua orang ketawa terbahak-bahak. Dadaku bergolak, tapi aku masih punya otak.

“Lihat anak kuliahan zaman sekarang. Tak doyan begadang. Tongkrongannya di rumah melulu,” tambahnya bikin kupingku panas. Ketawa mereka semakin kencang setelah menemukan bahan obrolan baru. Sejauh yang kukira, orang-orang itu tak pernah bermasalah denganku. Sikap mereka selalu sopan meski bagiku sangat membosankan.

Di saat tertentu, aku memahami sikap mereka yang menyunggingkan senyum sinis ketika bercakap denganku. Aku berusaha, selalu berusaha, supaya kalimat yang keluar dari mulutku terdengar berlogat sama seperti mereka. Tapi rupanya buat mereka aku terlalu sok kota, karena kurang bisa berbahasa dengan memakai langgam kampung. Mereka pun, sangkaku, semakin tak suka padaku lantaran hobiku yang suka mengurung diri di rumah, enggan bercakap-cakap dengan tetangga. Tapi, apa yang salah dengan itu? Bukankah aku tak pernah mengganggu mereka?

Aku berjalan tersaruk-saruk sambil masygul: semua orang serasa memusuhiku. Sejak saat itu, aku merasa diriku sebatang kara saja di dunia ini. Tak punya siapa-siapa yang bisa kupercaya dan mau percaya padaku, selain diriku dan ibuku sendiri.

Mengapa aku bisa menyimpulkan seperti itu, ada baiknya kuceritakan padamu.

***

TIBA-TIBA anakku datang dengan menangis sesenggukan. Sungguh tak biasa. Musim ujian seperti sekarang selalu jadi saat yang asyik baginya. Tak pernah ia merasa kesulitan mengerjakan soal-soal itu.

Tapi inilah yang terjadi: putra semata wayangku mengiba padaku dengan bercucuran airmata. Kutanya ada apa dia malah menjawab, “Bu, aku tak mau sekolah lagi.”

Bagai mendengar petir di siang bolong, aku mencoba tenang. Ada apa, tanyaku lagi. Dan dia pun bercerita. Di sekolah, katanya, Pak Guru memintanya jadi pembohong. “Man, kamu kan pintar. Kalau mau balas jasa gurumu, gunakan kepintaranmu untuk membantu teman-teman lulus ujian,” kata Pak Guru seperti ditirukan anakku.

Pada saat ujian, Pak Guru telah menyiapkan distribusi jawaban. Kertas jawaban anakku ditunjukkan kepada teman yang duduk di belakangnya, yang lantas menyalin dan memperbanyak jawaban itu di kertas buram. Kertas inilah yang kemudian diedarkan ke semua kelas. Buat murid kelas sebelah, salinan lembar jawaban diserahkan di toilet atau ditaruh di pot bunga.[1] Aku benar-benar kaget mendengar ceritanya.

Esoknya, aku mendatangi sekolah dan mengadukan perkara anakku. Di luar dugaan, Kepala Sekolah malah membentak dan mengataiku egois. Aku lari ke Komite Sekolah dan perlakuan serupa yang aku terima. Aku pergi ke Dinas Pendidikan tapi mereka juga melakukan hal yang sama. “Kalau mau maju sendirian, anda tidak cocok tinggal di sini. Negara ini bukan tempat orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri,” kata Kepala Dinas Pendidikan Aku bin Atang yang bekas penatar P-4 itu dengan sinis.

Sesampainya di rumah, aku mendapati rumahku telah porak-poranda. Beberapa tetangga dekat menjelaskan, serombongan orangtua muridlah pelakunya. Aku mencari anakku dan menemukannya sedang meringkuk di bawah pohon mangga. “Bu,” katanya, “semua orang tak suka melihat orang-orang jujur seperti kita hidup bahagia.”

Mengapa anakku bisa sampai bilang begitu, terpaksa kuceritakan padamu.

***

ENAM tahun berlalu sejak pembantaian itu. Enam tahun sudah aku melakoni profesi baru sebagai peminta-minta. Adakah yang salah dengan meminta-minta? Bukankah negara ini negara gotong royong yang harus menolong siapa pun yang pantas ditolong? Dan peminta-minta sepertiku bukankah sudah selayaknya ditolong oleh siapa saja yang merasa dirinya penolong?

Namun aku tak mengerti tabiat masyarakat akhir-akhir ini. Semakin hari, semakin banyak orang menutup pintunya dari peminta-minta sepertiku. Sejumlah daerah melarang keras warganya memberi sesuatu kepada peminta-minta. Gerbang besi dibangun tinggi-tinggi demi menghalau kedatanganku. Orang-orang menganggapku benalu. Anak-anakku pun malu memiliki orangtua sepertiku. Hidupku tambah sepi, tambah hampa. Malam apa lagi.[2]

Demikian laporan ini kutulis. Semoga berguna buat siapa pun yang membaca. Namaku Aku. Bapakku Atang. Aku bin Atang.

Pleburan, 25062012, 11.31

Mangkang, 01012014, 09.13

Catatan:

[*] Untuk Chairil.

[1] Narasi diperoleh dari pemberitaan Majalah Tempo Edisi 20-26 Juni 2011.

[2] Sajak “Sendiri”, Chairil Anwar.

*) Tulisan ini pertama kali disiarkan oleh LenteraTimur.com pada 13 Juni 2014 dan disiarkan kembali oleh Indoprogress.com pada 16 Desember 2014.

Standar
Karangan Tersiar, Puisi, Sastra Kelabu

Wortel Malam Itu

Oleh AP Edi Atmaja

: F–yang tak suka sayuran

kaugigit wortel malam itu dan katakan,
aku mencintaimu sepanjang seumpama wortel yang kugigit ini,
tak berbatas tak bertepi sampai hari yang tak kunjung pagi

bukankah wortel itu berbatas bertepi? kataku

wortel punya panjang dan panjang berbatas ukuran
cinta juga berbatas bertepi sebenarnya
wortel pun iya

lalu?

cinta berbatas karena tiada yang mencintai
wortel tak berbatas karena yang membenci perlahan jadi menyukai

07032013

Wortels (Carrots)/Margarita Sommerdijk

Wortels (Carrots)/Margarita Sommerdijk

*) Tulisan ini pertama kali disiarkan oleh Horison Online pada 13 November 2014.

Standar
Esai, Karangan Tersiar, Kuliah Hukum

Akuntansi Berbasis Akrual dan Kesiapan Pemda

Oleh AP Edi Atmaja

SELEPAS Reformasi 1998, pelbagai program pembenahan dilakukan di segala bidang kenegaraan. Salah satunya adalah pembenahan di bidang pengelolaan keuangan negara, dengan diundangkannya paket undang-undang keuangan negara.

Paket undang-undang keuangan negara terdiri dari Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan.

Pengejawantahan lebih lanjut atas paket undang-undang keuangan negara, salah satunya, adalah dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Hal itu dikarenakan, UU 17/20003 mewajibkan adanya suatu standar akuntansi pemerintahan (SAP) sebagai dasar penyusunan laporan keuangan bagi instansi pemerintah.

Lingkup pengaturan PP 71/2010 meliputi SAP berbasis akrual dan SAP berbasis kas-menuju-akrual. SAP berbasis akrual berlaku sejak tanggal ditetapkan dan dapat diterapkan oleh setiap entitas, sedangkan SAP berbasis kas-menuju-akrual berlaku selama masa transisi bagi entitas yang belum siap untuk menerapkan SAP berbasis akrual. Namun, dengan catatan bahwa penerapan SAP berbasis kas-menuju-akrual paling lama empat tahun setelah tahun anggaran 2010 atau, dengan kata lain, hanya dapat diberlakukan untuk laporan keuangan atas pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran sampai dengan tahun anggaran 2014.

Dengan demikian, pemerintah, baik pusat maupun daerah, harus mempersiapkan diri untuk menyusun sistem akuntansi pemerintahan dengan mengacu pada SAP berbasis akrual sebab tahun 2014 sebentar lagi akan berakhir dan tahun 2015 akan segera tiba.

Basis akuntansi akrual

Basis akuntansi adalah salah satu prinsip akuntansi untuk menentukan periode pengakuan dan pelaporan transaksi ekonomi dalam laporan keuangan. Basis akuntansi yang umum diketahui antara lain (1) basis akrual (accrual basis), (2) basis akrual modifikasian (modified accrual basis), (3) basis kas (cash basis), dan (4) basis kas modifikasian (modified cash basis).

Sebenarnya, apa itu akuntansi berbasis akrual? Akuntansi berbasis akrual adalah suatu basis akuntansi di mana transaksi ekonomi dan peristiwa lainnya diakui, dicatat, dan disajikan dalam laporan keuangan pada saat terjadinya transaksi atau peristiwa itu, tanpa memperhatikan waktu kas atau setara kas diterima atau dibayarkan.

Menurut Komite Standar Akuntansi Pemerintahan (KSAP), dalam akuntansi berbasis akrual waktu pencatatan sesuai dengan saat terjadinya arus daya, sehingga dapat menyediakan informasi yang paling komprehensif sebab seluruh arus sumber daya dicatat. Pendapatan diakui pada saat penghasilan telah diperoleh dan beban diakui pada saat kewajiban timbul atau sumber daya dikonsumsi. Penerapan akuntansi berbasis akrual pada umumnya meliputi pencatatan transaksi keuangan dan penyusunan laporan keuangan (Bambang Widjajarso, tanpa tahun: 31).

Akuntansi Berbasis Akrual dan Kesiapan PemdaPemerintah daerah (pemda) wajib menyusun laporan keuangan yang terdiri dari laporan pelaksanaan anggaran dan laporan finansial. Laporan pelaksanaan anggaran meliputi Laporan Realisasi Anggaran (LRA) dan Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (SAL), sementara laporan finansial terdiri dari Neraca, Laporan Operasional (LO), Laporan Perubahan Ekuitas, dan Laporan Arus Kas. Di samping itu, pemda juga wajib menyusun Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) yang merupakan bagian tak terpisahkan dari laporan keuangan.

Sesungguhnya, akuntansi berbasis akrual sudah diakui secara luas di sektor swasta. Akuntansi berbasis akrual dinilai lebih menguntungkan secara bisnis karena laporan keuangan yang disusun memberikan informasi kepada pengguna tak hanya transaksi di masa lalu yang melibatkan penerimaan dan pembayaran kas, melainkan juga kewajiban pembayaran kas di masa depan serta sumber daya yang merepresentasikan kas yang akan diterima di masa mendatang.

Pengadopsian akuntansi berbasis akrual pada organisasi sektor publik dipicu oleh salah satu gerakan reformasi sektor publik yang paling populer, New Public Management (NPM). Konsep tersebut didasarkan pada gambaran mengenai organisasi sektor publik yang acap kali dinilai tidak produktif, tidak efisien, selalu rugi, rendah kualitas, kurang inovasi dan kreativitas, keadaan utang pemerintah yang terus meningkat, pajak lebih tinggi, turunnya pertumbuhan ekonomi, dan pelbagai kekurangan lainnya.

NPM dilandaskan pada ide bahwa praktik dan manajemen sektor swasta lebih baik ketimbang sektor publik, dan untuk memperbaiki kinerja sektor publik perlu diadopsi beberapa praktik dan teknik yang diterapkan di sektor swasta. Akuntansi berbasis akrual adalah salah satu praktik yang berjalan baik di sektor swasta dan oleh karena itu perlu diterapkan di sektor publik.

Dengan demikian, pemda, yang memperoleh amanat dari pemerintah pusat untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan, pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah, berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, harus pula menerapkan akuntansi berbasis akrual.

Konsisten

Menurut Tickell (dalam Muhammad Ichsan, tanpa tahun: 50), terdapat beberapa kondisi atau faktor yang perlu disiapkan dan dijawab agar penerapan akuntansi berbasis akrual dapat dilaksanakan dengan baik. Pertama, sistem pemerintahan dan lingkungan politik suatu bangsa.

Kedua, apakah reformasi hanya berfokus pada perubahan kerangka pelaporan atau lebih luas daripada itu. Ketiga, apakah perubahan dimulai dari atas (top down) atau diinisiasi dari bawah (bottom up). Keempat, basis akuntansi yang digunakan oleh entitas, kemampuan sistem informasi yang tersedia, serta kelengkapan dan keakuratan informasi tersebut, khususnya yang berkaitan dengan aset dan kewajiban.

Kelima, basis akuntansi yang digunakan dalam penyiapan dokumen penganggaran. Keenam, taraf komitmen politis untuk mengadopsi akuntansi berbasis akrual. Ketujuh, kemampuan dan keahlian dari orang-orang dan organisasi untuk menerapkan perubahan-perubahan tersebut.

PP 71/2010 sudah cukup komprehensif mengatur segala hal yang berkaitan dengan penerapan SAP berbasis akrual. Ketentuan mengenai SAP berbasis akrual pada PP 71/2010 dijabarkan secara rinci dalam Lampiran I yang terdiri dari Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan dan duabelas PSAP.

Mengacu pada Pasal 7 ayat (3) PP 71/2010 yang menyatakan bahwa ketentuan lebih lanjut mengenai penerapan SAP berbasis akrual secara bertahap pada pemda diatur dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri, pada 6 Desember 2013 diundangkanlah Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 2013 tentang Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual pada Pemerintah Daerah yang merupakan pedoman bagi pemda dalam rangka penerapan SAP berbasis akrual (Pasal 2 Permendagri 64/2013).

Ruang lingkup Permendagri 64/2013 meliputi kebijakan akuntansi pemda, sistem akuntansi pemda (SAPD), dan bagan akun standar (BAS). Pasal 10 Permendagri 64/2013 menyatakan bahwa kebijakan akuntansi pemda dan SAPD diatur lebih lanjut dengan peraturan kepala daerah. Peraturan kepala daerah tersebut ditetapkan paling lambat pada 31 Mei 2014. Menyatakan kembali apa yang telah dinyatakan PP 71/2010, Permendagri 64/2013 menegaskan bahwa penerapan SAP berbasis akrual pada pemda paling lambat mulai tahun anggaran 2015.

PP 71/2010 dan Permendagri 64/2013 secara tegas dan lengkap telah mengatur segala hal tentang penerapan SAP berbasis akrual di pemda. Koridor hukum telah terbentuk—sekarang bergantung pada subyek hukum tersebut: apakah pemda siap dan dapat melaksanakan secara konsisten akuntansi berbasis akrual yang telah dilegalkan itu demi tercapainya pengelolaan keuangan negara yang tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. [24102014, 10.35]

*) Tulisan ini pertama kali disiarkan oleh harian Analisa pada 1 Desember 2014.

Standar
Catatan Harian, Karangan Tersiar, Kemanusiaan, Puisi

Gila Membaca

Oleh AP Edi Atmaja

: unu

aku duduk membaca di satu beranda saat orang-orang berbaju meriah bersepatu mewah lewat di depanku dan ketika sampai di sampingku mereka bilang:

“Jangan terus-terusan membaca nanti cepat tua lekas gila tiada guna.”

aku tertegun berkeras hendak menyangkal tuduhan itu seraya meneruskan membaca tapi tak kutemukan tangkisan yang pas hingga akhirnya mereka sia-sia saja meledekku dan berlalu.

aku masih suntuk membaca sampai matahari karam di lensa dan mata jadi gila.

04082013, 16.23

Too Much Reading/BlackJack0919

Too Much Reading/BlackJack0919

*) Tulisan ini pertama kali disiarkan oleh Horison Online pada 13 November 2014.

Standar
Karangan Tersiar, Puisi, Sastra Kelabu

Di Museum

Oleh AP Edi Atmaja

: illa

Di museum itu sepasang kekasih berbicara tentang cuaca.

“Maukah kau menjadi awan?” kata yang perempuan.

“Dan kau menjadi hujan?” timpal yang lelaki.

“Ya, dan awan harus lenyap demi hujan.”

“Mengapa harus? Aku ingin jadi awan dan kau jadi hujan tapi kita tak perlu saling melenyapkan.”

“Tapi itu tak mungkin.”

Dan mereka bicara tentang kemungkinan dan ketidakmungkinan.

Lalu perbedaan dan persamaan.

Lalu binatang-binatang yang diawetkan.

“Alangkah malangnya binatang-binatang itu,” bisik perempuan, “mereka diburu cuma untuk diawetkan.”

“Aku juga,” kata lelaki, “mungkin memburu kemudian mengawetkanmu.”

“Tapi aku tak merasa diburu dan tak ingin diawetkan olehmu.”

“Ya, karena kita telah awet di hati kita masing-masing.”

Mungkin terdengar gombal. Tampak bercanda.

Seperti keluar dari cerpen absurd.

Tapi itulah keduanya.

Mereka sama tersipu. Sama ketawa.

Lelaki itu, 32 tahun, teringat istrinya.

Perempuan itu, 31 tahun, teringat suami dan anak-anaknya.

Dan keduanya tak ambil pusing dengan urusan Matahari.

Malam semakin larut, dan mereka saling memandang.

Hanya memandang.

Mereka bicara dan terus berbicara.

Sementara di luar, orang-orang bertikai dan saling membantai.

Semarang, 02082014

Rahmat International Wildlife Museum & Gallery--Rahmatgallery.com

Rahmat International Wildlife Museum & Gallery/Rahmatgallery.com

 *) Tulisan ini pertama kali disiarkan oleh Horison Online pada 13 November 2014.

Standar
Karangan Tersiar, Kemanusiaan, Puisi, Sastra Kelabu

Terbangun di Malam Hari

Oleh AP Edi Atmaja

: rian

Aku terbangun di malam hari dan menyaksikan pemuja-Ku berlarian.

Dikejar-kejar pemuja-Ku yang lain.

Dihabisi.

Ditangkap.

Diciduk.

Dibantai.

Aku terbangun di malam hari ketika matahari ciptaan-Ku sembunyi di peraduan.

Dan pemuja-Ku mengadakan permufakatan jahat.

Untuk mengejar-kejar pemuja-Ku yang lain.

Menghabisi.

Menangkap.

Menciduk.

Membantai.

Aku terbangun di malam hari dan hati-Ku masygul:

Betapa sia-sia manusia.

Dengan segala daya-upaya mereka.

Memuja-Ku.

05082013, 01.54

God/Kienzan

God/Kienzan

*) Tulisan ini pertama kali disiarkan oleh Horison Online pada 13 November 2014.

Standar
Esai, Karangan Tersiar, Kuliah Hukum

Fitrah Ilmuwan Ketua BPK

Oleh AP Edi Atmaja

SIDANG anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada Selasa (21/10/2014) lalu menyisakan harapan. Ketua baru lembaga pemeriksa ektern pemerintah itu akhirnya ditetapkan. Harry Azhar Azis, anggota BPK yang baru saja terpilih pada 15/9/2014 lalu itu, ditabalkan menduduki singgasana BPK, menggantikan Rizal Djalil yang menjabat ketua BPK selama enam bulan.

Terpilihnya Harry Azhar Azis sebagai ketua BPK selain menerbitkan harapan juga menuai kecaman. Kecaman dialamatkan pada latar belakang Harry yang seorang politisi. Peneliti Indonesian Corruption Watch (ICW) Firdaus Ilyas, misalnya, menyatakan bahwa terpilihnya Harry Azhar Azis sebagai ketua BPK adalah sebuah kemunduran. Sebab, menurut Firdaus Ilyas, seseorang yang berafiliasi dengan partai politik disangsikan dapat mengedepankan independensi, integritas, dan profesionalismenya sebagai pimpinan lembaga yang semestinya steril dari nuansa politis (Metrotvnews.com, 23/10/2014).

Kritik semacam itu patut diapresiasi karena hal itu menunjukkan bahwa eksistensi BPK di mata publik dan rasa memiliki (sense of belonging) publik terhadap lembaga yang telah ada sejak era Hindia Belanda itu masih sangat kuat.

Namun, jika kita mempersoalkan latar belakang, rekam-jejak, atau riwayat hidup untuk menilai kepantasan seseorang menduduki pucuk pimpinan BPK, dan kalau kita mau sedikit obyektif, sesungguhnya banyak hal positif dalam pribadi seorang Harry Azhar Azis. Harry pernah lama menjadi akademisi dan peneliti, yang habitatnya bukanlah ruang riuh-ramai-berisik semacam parlemen, melainkan ruang sunyi pergulatan manusia dengan ilmu pengetahuan. Ruang di mana peradaban manusia diabadikan dan dikembangkan.

Pemeriksa: wartawan, hakim, ilmuwan

Latar belakang Harry sebagai seorang ilmuwan itu menarik untuk diperbincangkan karena BPK sejatinya adalah lembaga negara yang tak dapat (di)lepas(kan) dari kultur ilmiah. BPK bekerja berdasarkan idealitas, standar, sesuatu yang dicita-citakan (das Sollen), dan melalui BPK-lah semua itu coba diwujudkan, diterapkan, dan ditegakkan.

Seorang pemeriksa/auditor pada hakikatnya adalah seorang peneliti yang bekerja tak semata bermodalkan intuisi, melainkan juga dasar akademik yang kuat, pengujian ilmiah nan ketat, dan diskusi (baca: konsinyering) yang mendalam. Pemeriksa sejatinya merupakan perpaduan antara wartawan dan hakim. Wartawan karena dalam bekerja pemeriksa menggunakan data dan fakta. Hakim karena dalam menuangkan “putusan kuasi-yudisial”-nya di Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP), pemeriksa harus berlandaskan nurani dan akal yang sehat.

Fitrah Ilmuwan Ketua BPKLHP, produk yang dibikin oleh seorang pemeriksa, ditulis dengan metodologi ilmiah. Dalam rupa tertulisnya saja kita dapat menebak bahwa LHP pastilah disusun dengan metodologi penulisan tertentu yang baku dan, tentu saja, dievaluasi formatnya sepanjang waktu.

Standar Pemeriksaan Keuangan Negara, Pedoman Manajemen Pemeriksaan, Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) Pemeriksaan Keuangan, Juklak Pemeriksaan Kinerja, Juklak Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu, Sistem Pengendalian Mutu, Petunjuk Teknis (Juknis) Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah, Juknis Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Umum, Juknis Penilaian Risiko, dan Juknis Penetapan Batas Materialitas adalah sebagian dari seabrek aturan yang dibikin BPK berdasarkan riset mendalam demi terwujudnya LHP yang berkualitas.

Sejak perencanaan hingga pelaporan pemeriksaan, suatu tim pemeriksa mengacu pada standar tertentu yang telah teruji secara keilmuan sebagai standar pemeriksaan (auditing) internasional. Karena luasnya lingkup pemeriksaan yang dilakukan BPK—mencakup segala aspek—seorang pemeriksa harus menguasai hampir semua disiplin keilmuan. Hakikat multidisiplinaritas ilmu melekat secara otomatis pada diri seorang pemeriksa, suka-tidak suka.

Maka, tidak salahlah jika dikatakan bahwa seorang pemeriksa adalah juga seorang ilmuwan. Oleh sebab itu, seseorang yang layak memimpin lembaga yang berisi para “ilmuwan” tentu saja adalah dia yang memiliki kapabilitas keilmuan yang mumpuni. Terkandung fitrah ilmuwan dari seorang ketua BPK.

Publik menunggu

Menilik riwayat panjang BPK sejak masa awal kemerdekaan, akan tampaklah ke hadapan kita bahwa jabatan ketua BPK secara berselang-seling dipegang oleh kalangan ilmuwan dan militer. Para ketua BPK di era pemerintahan Presiden Sukarno hampir semuanya berlatarbelakang profesional non-partai atau ilmuwan non-militer.

R Soerasno (menjabat sejak 1947), R Kasirman (1949), AK Pringgodigdo (1957), dan I Gusti Ketut Pudja (1960) adalah nama-nama ketua BPK di era pemerintahan Presiden Sukarno yang menjabat benar-benar lantaran kapasitas kenegarawanan, keilmuan, dan profesionalitas mereka. Kendati terdapat sisi militer dalam diri seorang Sri Sultan Hamengkubuwono IX (1964), publik mengakui kiprahnya sebagai pendiri Republik, dan merupakan suatu kebanggaan pucuk pimpinan BPK dijabat olehnya.

Tatkala Presiden Soeharto berkuasa hingga menjelang senjakala kekuasaannya, singgasana BPK diduduki oleh para jenderal TNI Angkatan Darat. D Suprayogi (menjabat sejak 1966), Umar Wirahadikusumah (1973), dan M Jusuf (1983) adalah para purnawirawan militer yang dikenal dekat dengan Presiden.

M Jusuf diketahui sebagai salah satu saksi kunci Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar), satu dari tiga jenderal—lainnya Basuki Rahmat dan Amirmachmud—yang menemui Presiden Sukarno di Istana Bogor dan berperan di balik lahirnya Supersemar. Bahkan, saking dekatnya dengan Presiden, selepas menjabat ketua BPK, Umar Wirahadikusumah lantas diangkat menjadi wakil presiden (Tokohindonesia.com, 23/10/2014).

Tiga ketua BPK selanjutnya benar-benar berlatar belakang ilmuwan. JB Sumarlin (menjabat sejak 1993), Satrio B Joedono (1998), dan Anwar Nasution (2004) merupakan para guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Di tangan merekalah BPK bertransformasi di tengah transisi pemerintahan menuju era Reformasi.

Kiprah Anwar Nasution sebagai pengemban amanat transformasi BPK berdasar amendemen konstitusi bahkan demikian luar biasa. BPK di bawah kepemimpinan Anwar adalah BPK yang garang. Dua buah undang-undang—yakni UU 15/2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara dan UU 15/2006 tentang BPK—yang meneguhkan kedigdayaan wewenang BPK berhasil diterbitkan.

Pelbagai kritik cerdas, keras, dan pedas kerap dilontarkan Anwar Nasution demi membangun dan menyuarakan eksistensi lembaga yang dipimpinnya. Beragam riset diselenggarakan buat merumuskan teknik pemeriksaan yang paling mutakhir dan mampu menyajikan LHP yang bermanfaat bagi para pemangku kepentingan. Dan, yang paling penting, di bawah kepemimpinan Anwar Nasutionlah kesejahteraan pegawai BPK benar-benar diperhatikan.

Kini publik menunggu, apakah kepemimpinan Harry Azhar Azis yang peneliti, MA dari University of Oregon (1990), PhD dari Oklahoma State University (2000), dan mantan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) (1983-1986) itu dapat memberi warna baru buat BPK. Menunjukkan fitrah ilmuwan seorang ketua BPK.

Akankah, di tangan Harry Azhar Azis, BPK dapat merdeka dari belenggu bekas partai politik para anggotanya. Akankah reformasi birokrasi BPK dengan tiga nilai dasar—integritas, independensi, dan profesionalisme—yang telah dimulai dengan bagus oleh para ilmuwan seperti Anwar Nasution dapat dilanjutkan dan dikembangkan. Hanya waktu yang bisa menjawab. Semoga. [26102014, 15.16]

*) Tulisan ini pertama kali disiarkan oleh Detik.com pada 5 November 2014 dan disiarkan kembali oleh harian Analisa pada 10 November 2014.

Standar