Catatan Harian, Kemanusiaan

Hari Ini 24 Tahun yang Lalu: Merindukan Kota

Oleh AP Edi Atmaja

BERAPA banyak kota yang dikau kenal? Andaikan sudah cukup banyak, dan halaman ini tak sanggup lagi menampungnya, berapa banyak kota yang sempat dikau tinggali?

Taruhlah daku. Di usia yang daku rasa belum cukup bangkotan ini, kota yang daku kenali dengan baik praktis cuma sebiji. Mengapa bisa begitu? Sebab, sejak daku lahir Ibu memang segera mengenalkan daku dengan kota itu. Mengenalkan dengan cara mengajak untuk hidup di sana, bersama Bapak dan dua adik perempuan yang manis-manis, tinggal dan bertumbuh-kembang selayaknya manusia pada umumnya.

Kota yang daku kenal pada awalnya tampak biasa-biasa saja. Kota yang di waktu tertentu berkumandang panggilan sembahyang dan di waktu lain bergema kidung mauludan ibu-ibu pengajian. Kota yang menyediakan pohon nyiur-melambai buat daku, rumpun bambu bernyamuk yang tunas mudanya kadang dipetik Ibu sebagai penambah lauk, dan kota yang kuyup akan pemandangan persawahan yang luasnya mendekati luas bandara. Kota yang pada mulanya religius, alami, perawan. Mooi, kata orang Belanda.

Pemahamanku akan kota meningkat kala daku meneruskan sekolah ke Sekayu. Kotaku berubah menjadi kota antik nan romantik. Kota kaum urban yang modern segera memikat hatiku dan menantangku untuk terus menelusurinya.

Kota Lama, Semarang/Bayu Mahendra

Kota Lama, Semarang/Bayu Mahendra

Sering daku membayangkan diri kembali ke zaman tatkala Kota Lama memancarkan pesonanya: semacam adegan di novel Atheis. Sering kuhabiskan waktu buat mengukur panjang kota, merasakan denyut nadinya, tenggelam dalam semilir angin musim kemarau dan lambaian pohon di tepi Jalan Pemuda. Dalam kesendirian, daku menikmati kotaku. Betapa modern ia—dan betapa udiknya diriku selama ini.

Ketika pendidikan mempertemukan daku dengan sejumlah manusia-manusia lain-kota, kebanggaanku sebagai warga kota teruji. Daku pun coba berdamai dengan kotaku. Berdamai dengan segala kekurangannya sebagai kota yang, sejak era kemerdekaan, tak pernah dikonsepsikan dengan baik, diarahkan untuk menjadi sebenar-benar kota.

Kotaku adalah kota yang kucintai dengan masygul. Kota yang kekeringan dan kebanjiran di waktu yang bersamaan. Kota yang jalanannya dikotori polusi udara dan suara. Kota yang gersang bukan karena Bumi tak mampu lagi menumbuhkan kehidupan, melainkan karena tetumbuhan ditebang atas nama perut dan kerakusan. Alangkah malang nasib kotaku di tangan para pemimpinku!

Semakin bertambah usiaku, semakin lama daku tinggali kotaku, semakin bertambah pula faset-faset kotaku yang tak kuketahui dan, karena itu, ingin kucari tahu. Perlahan tapi pasti bersemi rasa sayangku terhadap kotaku, dari sisi terburuk maupun terbaiknya. Kotaku telah memberiku kehidupan dan membentuk eksistensi pribadiku. Penggalan-penggalan hidupku tertinggal dalam jisim kotaku, meski belum ada sepenggal bagian pun dari kotaku yang terbentuk berkat kreasiku.

Kini daku telah jauh meninggalkan kotaku, buat sementara atau bahkan mungkin selamanya. Dan entah mengapa daku pun mulai merindukannya. Kuakui, ada fase ketika daku benar-benar membenci dia beserta segala perilaku busuk manusianya. Namun, kota tetaplah kota, elemen yang menyusun jati-diri manusia. Daku tak mampu lagi melupakannya. Kotaku selalu menyertaiku di mana pun daku pergi. Kota lama dan kota baru adalah daku; mereka adalah mata-rantai yang merangkai takdirku.

Atau, barangkali daku hanya merindukan masa lalu dengan bersikap terlampau sayu. Masa lalu yang mengejawantah dalam ingatan akan kota. Masa lalu yang menyadarkanku bahwa masa kini mesti disyukuri dan masa depan memang layak diperjuangkan. Mungkin saja. Ya, mungkin saja. [Medan, 17062014, 22.59]

*) Untuk kawan-kawanku di kota baru yang pertama kali mengingatkanku pada hari ini 24 tahun yang lalu: Muhammad Khibran, Agmalun Hasugian, Judika Lestari Manurung, Mangiring Silalahi, Yan Emersan Merari Sembiring, Hardi Cornelis Gultom, Thariqul Fatha, Adib Fathoni, Ahmad Kholik, Wandhi Wijaya, Andika Surgery, dst. Dirgahayu semua.

Standar
Karangan Tersiar, Prosa, Sastra Kelabu

Aku bin Atang

Oleh AP Edi Atmaja

NAMAKU Aku. Bapakku Atang. Aku bin Atang.

“Ku,” seru teman-temanku, “Kenapa kamu suka jadi benalu?”

Mengapa teman-temanku bisa ngomong begitu, akan kuceritakan padamu.

***

DI suatu Oktober yang kerontang, pembantaian itu terjadi di hari Sabtu. Seratusan orang berarak menuju Tegalirik, desa terbarat di kelurahan ini. Orang-orang itu sebelumnya telah berhasil kuprovokasi. Mereka, beriman baru kemarin sore, percaya saja pada hasutan yang kuembuskan.

Awalnya, kupikir aku mesti menyiapkan dalil-dalil yang lama tak kubuka. Meski oleh banyak orang aku dibilang alim nan saleh, dan mereka percaya petuahku mentah-mentah seperti mereka percaya pada ibunya, terakhir kali buka Kitab Suci seingatku sepuluh tahun yang lalu. Setelah membaca habis Kitab dua kali, aku merasa tak memerlukannya lagi. Hanya di saat-saat tertentu aku jinjing Kitab itu, tapi dengan tetap tidak membukanya, untuk meyakinkan orang-orang bahwa pendapatku memang mengacu padanya.

Not a Foe/IBG Wiraga

Not a Foe/IBG Wiraga

Tapi untuk urusan kali ini aku merasa tak perlu membawa-bawa Kitab. Mereka langsung terbakar begitu aku menyelesaikan orasiku. Aku tak kehilangan apa pun kecuali suaraku yang jadi serak beriak. Namun, itu tak jadi soal. Segelas limun segar segera mereka, orang-orang dungu itu, sodorkan padaku, yang lalu kutandaskan dengan bunyi tak sopan.

Selebihnya, kuasa setanlah yang mengatur. Di depan barisan, aku terus mengompori mereka dengan maki-makian bernada religius. Kalau perlu, aku bawa-bawa nama Tuhan setelah menyerukan nama-nama penghuni kebun binatang. Tapi, entah kenapa, tak ada yang protes padaku karena nama Tuhan disandingkan dengan penghuni kebun binatang.

Kami menemukannya tengah bersantai di beranda. Hidup sebagai wiraswasta membuatnya libur sepanjang minggu. Ia tampak hidup amat sejahtera. Mobilnya lima, rumahnya gedongan belaka, pembantu-pembantunya makmur semua.

Pria itu dulu pernah hendak kami usir dari kampung. Orang aneh dengan ibu yang tak kalah aneh. Satu-satunya doktor di kampung, bahkan di kecamatan. Di usia semuda itu, kami baca di koran-koran, dialah doktor termuda di negeri ini. Memang tak mengherankan. Otaknya memang encer luar biasa. Sampai-sampai guru-guru pun berdecak kagum padanya. Tatkala pulang dari studinya di Inggris, ternyata sifat anehnya tak jua menghilang. Balik kampung, ia bahkan berani mengajarkan agama baru kepada para tetangga. Agama baru itu mengajarkan bahwa manusia pada dasarnya makhluk mandiri, yang tak butuh apa pun dan siapa pun, selain upayanya sendiri. Sinting.

Melihat kami yang datang berbondong-bondong, ia bangkit dari kursinya. Raut itu, raut keramahan yang aku benci, kini ditingkahi sedikit rona keheranan. Sebelum kata terucap dari mulutnya, batu seukuran kepalan tangan meluncur ke kepalanya. Darah berceceran. Sebelum ia sanggup memahami apa yang terjadi, seseorang berteriak dari belakang, “Kafir! Tumpas dia sebelum menyesatkan seluruh warga!” Suara itu seolah memiliki kekuatan magis yang mampu menerbangkan batu-batu ke pria itu saja. Tak ayal, ia, tak lagi berbentuk manusia, jadi bulan-bulanan kami semua.

Beberapa orang merangsek ke dalam rumah dan menemukan perempuan-perempuan yang menjerit. Melihat mereka, aku jadi bernafsu. Kuperkosa mereka satu per satu, dan yang lain mengantre di belakang. Setelah kebagian semua, kami bereskan perempuan-perempuan itu, mengirimnya ke neraka. Kemudian kami menyalakan api dan membakar rumah itu dan semua kekayaan yang selalu bikin aku iri hati. Semua orang berjingkrak bersuka ria. Setan-setan menari bersama. Aku tak perlu lagi membawa-bawa nama Tuhan dalam urusan ini. Karena ternyata dukungan setan melebihi apa yang aku inginkan.

Mengapa nasib wiraswasta itu begitu pilu, akan kuceritakan padamu.

***

MALAM itu, setiap orang yang merasa dirinya laki-laki mesti keluar dari rumah masing-masing. Lusa peringatan tujuhbelasan, dan jalanan kampung belum sedikit pun dipermak. Entah sejak kapan, atau kenapa, jalanan kampung harus dipermak untuk menyambut hari kemerdekaan. Apakah seremoni selalu berarti kesemarakan?

Aku sebenarnya tidak tertarik acara semacam ini. Selain biasanya sangat membosankan, aku merasa lebih baik mengerjakan sesuatu yang lebih berarti di rumah. Aku tipikal orang yang tak bisa berbasa-basi di depan banyak orang, mengobrolkan sesuatu yang tak jelas juntrungannya. Ya, aku merasa, acara ini lebih banyak ngomongnya ketimbang kerjanya. Gotong royong macam mana yang kau harapkan ketika segelintir orang berpeluh-peluh saking capainya bekerja sementara yang lain berleha-leha dengan kuas yang tak pernah sekali pun diusap-usapkan?

Dan inilah aku. Terpaksa keluar dari rumah supaya eksistensiku sebagai lelaki diakui.

Dengan kuas di tangan kanan dan sapu lidi di tangan kiri, aku menuju Paidi yang tengah mengaduk kapur di ember. “Kamu bawa ini, Man, dan laburlah jalan yang sebelah sana,” katanya sembari menyerahkan ember bagianku. Aku menuju jalan yang belum terjamah orang. Aku sapu pinggirannya dari debu agar kapur yang kukuaskan melekat dengan sempurna.

Jam sebelas pekerjaan sepakat diakhiri. Sepakat karena tiada lagi orang berkuas atau bersapu lidi yang terlihat bekerja. Orang-orang berkumpul di depan pos untuk menikmati makanan ringan. Awalnya ketawa-ketiwi melulu. Obrolan biasa yang mempercakapkan liga Inggris, keadaan sawah yang terus-menerus paceklik, atau pengalaman-pengalaman lucu di pabrik. Aku hanya mendengarkan saja lantaran aku benar-benar buta sepakbola, tak paham seluk-beluk pertanian, dan tidak pernah bekerja di pabrik.

Semakin malam, suasana mendadak jadi mencekam. Entah apa masalahnya, Pak Dar mengumpat kasar kepada Pak Cung yang duduk di dekatnya. Pak Cung yang tidak terima lantas berdiri seraya balas mengumpat tak kurang kasarnya. Pak Dar pun berdiri. Kami semua berdiri melihat urat mereka sama-sama menegang. Sebelum salah seorang mendaratkan bogem mentahnya, kami dengan sigap memisahkan mereka. Mereka masih terus mengumpat setelah diajak pulang ke rumah masing-masing.

Tongkrongan belum bubar sehabis insiden itu. Telah lama tertanam di otakku, jangan pernah meminta diri sebelum ada yang mengundurkan diri. Aku bertahan dengan pikiran itu, takut diolok-olok sebagai anak rumahan kendati jam dinding sudah menunjuk pukul satu dinihari. Ketika Pak San agaknya hendak pulang, kulihat inilah kesempatanku untuk menyudahi kumpul-kumpul tak bermutu ini.

Baru dua langkah mengayun, seseorang meneriakiku, “Mau ke mana, Man?” Aku menoleh, ternyata ada orang yang paham gelagatku. Dia Aku, si pembual. Orang yang doyan ngomong meski tak pernah mengerti apa yang ia omongkan. Aku tak menyahut. Buat apa, pikirku.

“Mau kelon sama ibumu, Man?” Dia berseru keras sekali. Semua orang ketawa terbahak-bahak. Dadaku bergolak, tapi aku masih punya otak.

“Lihat anak kuliahan zaman sekarang. Tak doyan begadang. Tongkrongannya di rumah melulu,” tambahnya bikin kupingku panas. Ketawa mereka semakin kencang setelah menemukan bahan obrolan baru. Sejauh yang kukira, orang-orang itu tak pernah bermasalah denganku. Sikap mereka selalu sopan meski bagiku sangat membosankan.

Di saat tertentu, aku memahami sikap mereka yang menyunggingkan senyum sinis ketika bercakap denganku. Aku berusaha, selalu berusaha, supaya kalimat yang keluar dari mulutku terdengar berlogat sama seperti mereka. Tapi rupanya buat mereka aku terlalu sok kota, karena kurang bisa berbahasa dengan memakai langgam kampung. Mereka pun, sangkaku, semakin tak suka padaku lantaran hobiku yang suka mengurung diri di rumah, enggan bercakap-cakap dengan tetangga. Tapi, apa yang salah dengan itu? Bukankah aku tak pernah mengganggu mereka?

Aku berjalan tersaruk-saruk sambil masygul: semua orang serasa memusuhiku. Sejak saat itu, aku merasa diriku sebatang kara saja di dunia ini. Tak punya siapa-siapa yang bisa kupercaya dan mau percaya padaku, selain diriku dan ibuku sendiri.

Mengapa aku bisa menyimpulkan seperti itu, ada baiknya kuceritakan padamu.

***

TIBA-TIBA anakku datang dengan menangis sesenggukan. Sungguh tak biasa. Musim ujian seperti sekarang selalu jadi saat yang asyik baginya. Tak pernah ia merasa kesulitan mengerjakan soal-soal itu.

Tapi inilah yang terjadi: putra semata wayangku mengiba padaku dengan bercucuran airmata. Kutanya ada apa dia malah menjawab, “Bu, aku tak mau sekolah lagi.”

Bagai mendengar petir di siang bolong, aku mencoba tenang. Ada apa, tanyaku lagi. Dan dia pun bercerita. Di sekolah, katanya, Pak Guru memintanya jadi pembohong. “Man, kamu kan pintar. Kalau mau balas jasa gurumu, gunakan kepintaranmu untuk membantu teman-teman lulus ujian,” kata Pak Guru seperti ditirukan anakku.

Pada saat ujian, Pak Guru telah menyiapkan distribusi jawaban. Kertas jawaban anakku ditunjukkan kepada teman yang duduk di belakangnya, yang lantas menyalin dan memperbanyak jawaban itu di kertas buram. Kertas inilah yang kemudian diedarkan ke semua kelas. Buat murid kelas sebelah, salinan lembar jawaban diserahkan di toilet atau ditaruh di pot bunga.[1] Aku benar-benar kaget mendengar ceritanya.

Esoknya, aku mendatangi sekolah dan mengadukan perkara anakku. Di luar dugaan, Kepala Sekolah malah membentak dan mengataiku egois. Aku lari ke Komite Sekolah dan perlakuan serupa yang aku terima. Aku pergi ke Dinas Pendidikan tapi mereka juga melakukan hal yang sama. “Kalau mau maju sendirian, anda tidak cocok tinggal di sini. Negara ini bukan tempat orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri,” kata Kepala Dinas Pendidikan Aku bin Atang yang bekas penatar P-4 itu dengan sinis.

Sesampainya di rumah, aku mendapati rumahku telah porak-poranda. Beberapa tetangga dekat menjelaskan, serombongan orangtua muridlah pelakunya. Aku mencari anakku dan menemukannya sedang meringkuk di bawah pohon mangga. “Bu,” katanya, “semua orang tak suka melihat orang-orang jujur seperti kita hidup bahagia.”

Mengapa anakku bisa sampai bilang begitu, terpaksa kuceritakan padamu.

***

ENAM tahun berlalu sejak pembantaian itu. Enam tahun sudah aku melakoni profesi baru sebagai peminta-minta. Adakah yang salah dengan meminta-minta? Bukankah negara ini negara gotong royong yang harus menolong siapa pun yang pantas ditolong? Dan peminta-minta sepertiku bukankah sudah selayaknya ditolong oleh siapa saja yang merasa dirinya penolong?

Namun aku tak mengerti tabiat masyarakat akhir-akhir ini. Semakin hari, semakin banyak orang menutup pintunya dari peminta-minta sepertiku. Sejumlah daerah melarang keras warganya memberi sesuatu kepada peminta-minta. Gerbang besi dibangun tinggi-tinggi demi menghalau kedatanganku. Orang-orang menganggapku benalu. Anak-anakku pun malu memiliki orangtua sepertiku. Hidupku tambah sepi, tambah hampa. Malam apa lagi.[2]

Demikian laporan ini kutulis. Semoga berguna buat siapa pun yang membaca. Namaku Aku. Bapakku Atang. Aku bin Atang.

Pleburan, 25062012, 11.31

Mangkang, 01012014, 09.13

Catatan:

[*] Untuk Chairil.

[1] Narasi diperoleh dari pemberitaan Majalah Tempo Edisi 20-26 Juni 2011.

[2] Sajak “Sendiri”, Chairil Anwar.

*) Tulisan ini pertama kali disiarkan oleh LenteraTimur.com pada 13 Juni 2014.

Standar
Puisi, Sastra Kelabu

Tentang Sepeda

Oleh AP Edi Atmaja

–untuk F

Melintasi jalanan ini tiba-tiba aku ingat padamu
Kukayuh sepeda dan kurasakan suasana yang sama
Saat kita ke mana-mana berdua

Waktu berlalu kala kita sama termangu
Aku di sini, kau di sana
Duduk di bangku dan berdebat
Tentang sesuatu yang setan pun takkan pernah tahu

Jika kau rindu padaku ingatlah jalanan itu
Ingatlah semburat senja
Lambaian mahoni
Rasakan embusan angin
Kilatan cahaya bulan purnama

Kukayuh sepeda dan kutahu kau bersamaku selalu
Menceritakan sukamu
Meratapi dukamu
Menghentikan waktu sampai segalanya berlalu bagai debu

Kautahu selamanya aku, aku
Kutahu selamanya kau, kau
Dan sepeda kita masih sepeda yang itu-itu juga
Tapi kita tak resah, pantang menyerah

Medan, 01052014

Tentang Sepeda

Standar
Karangan Tersiar, Kemanusiaan, Prosa, Sastra Kelabu

Gorden

Oleh AP Edi Atmaja

GORDEN itu bergerak-gerak ketika kami berbuat mesum di depan kos. Awalnya gorden itu kami lihat tertutup tapi kemudian kami sadari ia tersingkap. Kami terduduk dalam diam dan mengamati gorden itu lekat-lekat. Benar saja, gorden itu tertutup lagi seperti pertama kali kami lihat.

Siapa yang menyingkap gorden itu? Siapa yang menutup gorden itu kembali? Kami waswas. Adakah orang menyaksikan perbuatan mesum kami?

Kami terduduk dalam diam dan terus mempertanyakan semua kejadian yang baru saja kami lalui. Saat itu jam dinding di samping beranda telah menunjuk pukul sebelas malam. Jam yang secara spesial disediakan bapak kos buat menyindir mereka yang kerap pulang larut malam itu berdetak juga dalam diam.

Hujan mengantar kedatangan kami sehabis menghadiri acara makan-makan dari seorang sahabat yang baru saja diwisuda. Kami berangkat bakda Isya dan terus menuju tempat makan bergaya tradisional di sudut kota. Kami terus mengobrol dan ketawa-ketiwi hingga semua pengunjung telah menelan makanan di perutnya masing-masing sebagaimana mestinya dan membubarkan diri. Kami sadar diri dan sadar waktu dan turut pula bubar.

Sebelum kami tiba di tempat makan, langit memang sudah mulai menggelap. Kami bergegas menuju tempat makan dengan harapan supaya tidak bersua hujan di tengah jalan. Kami sampai juga di parkiran meski terserempet sedikit tetes gerimis yang menitik ritmik.

Seusai meninggalkan tempat makan menuju parkiran, kami mendapati motor kami telah basah kuyup. Hujan deras agaknya meluncur bertubi-tubi tatkala kami tengah menyikat paha ayam dengan kerakusan tingkat tinggi. Kami hanyalah anak kos biasa. Anak kos biasa bebas melakukan apa pun, bahkan menyikat paha ayam dengan kerakusan tingkat tinggi.

Kami bilas air hujan di jok motor demi mengamankan pantat kami masing-masing. Lengan jaket kami usap-usapkan ke jok dan beratus-ratus tetes air segera hijrah ke lengan jaket itu. Tetes-tetes air itu saling bersahutan menyindir kelakuan kami yang mengorbankan sepasang lengan demi segepok pantat yang buntat.

Perjalanan pulang terasa dingin mencekat tapi kami tidak berkeberatan. Kami berangkulan dan berpelukan satu sama lain dengan demikian erat selekat perekat sehingga badan terasa hangat. Inilah nikmat di tengah malam yang mulai mengelam. Kami tenggelam dalam romantisme kasih yang terdalam.

Beberapa meter sebelum kos, tanpa dinyana, tanpa diduga, dan tanpa diundang, hujan menyerbu kami. Komplotan tetes-tetes air menanti kelengahan kami rupanya. Panglimanya terjun di barisan terdepan dengan menggenggam tombak pusaka. Tombak cair itu mental tertangkis oleh helm keramat yang kami kenakan dan jaket tebal yang tahan serangan.

“Kurang ajar. Anak buah, serbuuuu!” seru sang panglima yang badannya cuma sebesar gundu itu. Kami tak ambil pusing dengan dia. Mau diserang seperti apa, seharusnya dia sadar dengan siapa lagi berhadapan. Kami makhluk padat tak akan gentar menghadapi makhluk cair tak berarti seperti gerombolan tetes hujan itu. Kami lanjutkan melaju menembus terjangan hujan seraya mencari-cari tempat berteduh guna menyelongsongkan mantel ke tubuh kami.

Kami sampai di tempat berteduh yang tepat, sebuah tempat yang disebut orang-orang sebagai pasar-mini. Pasar anekdotal yang berhasil mengaparkan pasar-besar, pasar dalam arti sungguhan, hingga nyaris tak berdaya. Di kota, pasar-pasar-mini tumbuh menjamur dengan kerapatan melebihi tumbuhnya cendawan di musim penghujan. Kami tak habis pikir mengapa pemegang kuasa lebih suka mengurusi pasar-pasar gadungan semacam itu ketimbang pasar betulan yang kaya fungsi dan sering dianggap sebagai milik bangsa sendiri.

Apa pun alasan pemegang kuasa, kami tak ingin peduli. Apalagi mencoba mencaci-maki. Kami hanya anak kos biasa yang hidup dengan filosofi hemat, cepat, dan praktis. Kami menjauhi segala yang memboroskan, lelet, dan merepotkan. Sejauh kami alami, pasar gadungan lebih menjamin filosofi kami ketimbang pasar betulan. Tidak pernah sedetik pun kami memalingkan rasa cinta kami kepada negeri ini. Namun, apa daya, keadaanlah yang menuntut kami harus berlaku seperti ini.

***

TATKALA kami sampai kos, hujan masih belum berhenti tapi enggan tamat sama sekali. Jalanan benar-benar lengang, tidak seperti biasa yang selalu ramai orang. Rumah-rumah di sebelah kos pun tak ubahnya seperti kuburan. Semua terlelap dan mengkeret di balik selimut di kamar di rumah masing-masing rupanya. Orang-orang tak hendak bercengkerama di beranda seperti biasa. Tak hendak memergoki anak-anak kos yang hobi pulang larut malam.

Kami memasuki pagar besi yang berderencing lirih. Kami tak kepengin mengganggu ketenteraman mimpi orang-orang yang tentu akan menggebuki kami sepanjang malam seandainya kami bergedebuk tak keruan. Sebelum memasuki pagar, kami sudah mematikan mesin motor. Kami menstandarkan motor lantas duduk-duduk di kursi beranda rehat sejenak sehabis diterjang sepasukan tetes hujan yang tak berperasaan.

Di tengah kesunyian itu, nafsu berahi terbit dengan tak disangka-sangka dan kami tak kuasa menolaknya. Asmara yang kian mendalam membuat kami susah menahan diri. Apalagi, kami merasa, kini tinggal kami yang masih tersisa di Bumi ini. Kami awasi tidak bakal ada orang yang memergoki kami. Perhitungan kami sebegitu yakinnya hingga kami tak sungkan lagi melepas berahi dan berbuat mesum di tengah malam yang melarut pelan-pelan.

Tapi gorden di jendela di sebuah rumah di depan kos tiba-tiba tersingkap. Ketersingkapannya membuat segitiga yang aneh, yang dilatarbelakangi oleh sinar lampu berwarna putih di ruang tamu. Sinar lampu neon itu berbentuk segitiga dengan sudut 45 derajat. Sinar berwujud segitiga 45 derajat itu menampakkan terali jendela dan amat mencolok di tengah nuansa di sekitarnya yang nyaris gulita.

Kami tercenung berpikir dan mengawasi gorden itu. Adakah seseorang atau beberapa orang yang mengintip segala perbuatan kami di beranda? Mengapa ia atau mereka melakukannya? Kami benar-benar tak habis pikir. Gorden itu mendadak tertutup kembali dengan gerakan yang sangat tak wajar seusai kami mengawasinya. Segitiga bersudut 45 derajat itu lenyap dan gorden gelap terbentang sempurna menutupi jendela.

Sembari terduduk diam, kami menghela nafas berulang-ulang karena telah kecolongan. Bumi yang kami ketahui hanya berisi kami belaka tiba-tiba penuh sesak oleh orang-orang yang selalu ingin tahu urusan orang lain. Memasang mata dan kepala untuk mengurusi kepentingan orang lain. Walau di luar kelihatan sepi dan sunyi, kami merasa semua tetangga telah dan tengah terjaga dengan mata yang menyala-nyala. Mereka kami rasai lagi menanti tindakan kami selanjutnya. Orang-orang seakan sedang memusatkan perhatian ke beranda kos kami dengan teropong yang siap-siaga.

Kami mendadak jadi bintang panggung dalam semalam yang sedang disorak-soraii penggemar. Penggemar-penggemar yang memiliki fanatisme luar-biasa terhadap idolanya. Penggemar yang selalu meniru segala tingkah-laku sang idola dengan tak jemu-jemu. Penggemar yang tak mengerti bahwa idolanya sebenarnya seperti mereka juga: selalu khilaf, selalu butuh istirahat, dan terkadang kepengin melakukan maksiat.

Amboi, salahkah perbuatan yang barusan kami lakukan? Tak bolehkah anak kos biasa dengan filosofi hemat, cepat, dan praktis melepas berahi yang sudah tak tertahankan lagi? Asyikkah mengintip perbuatan mesum orang lain? Mestikah harus mengintip? Mengapa tidak membuka jendela saja lebar-lebar supaya jelas menyaksikan apa yang kami lakukan? Mengapa semua orang harus melakukan sesuatu dengan diam-diam? Sudah hilangkah sikap terus-terang dari perbendaharaan orang-orang?

Kami berbuat mesum dan beberapa orang telah mengintip kami. Oh, alangkah pegecutnya. Kami merasa privasi kami dikangkangi. Seolah-olah, kami sedang berak dan orang-orang menonton bersama-sama. Seakan-akan, berak adalah kegiatan yang amat langka di dunia sehingga perlu ditonton dengan saksama.

Kami hanya anak kos biasa yang segan mengusik ketenteraman orang. Kami hanya menyalurkan hasrat individual yang semua orang pasti mempunyainya. Adakah salah menyalurkan hasrat? Apakah keliru jika suatu kali seorang manusia memerlukan berbuat maksiat?

Salahkah ketika cinta bersemi dari hubungan antarmanusia? Asmara bisa terbit kapan saja tanpa seorang pun menghendaki atau mencegahnya. Asmara bisa datang kepada orang yang sekali pun tak pernah mengenal, bisa pula mengadang dua orang sahabat yang saling mengenal selama bertahun-tahun. Dan, tatkala asmara yang abstrak di antara dua sejoli mesti dikonkretkan, cinta yang menderu-gebu mesti dinyatakan, salahkah itu semua? Apa kepentingan orang-orang untuk mencampurinya?

Berjuta-juta orang berkasih-kasihan. Banyak di antara mereka memaknai cinta yang suci sebagai berahi. Beberapa pecinta terperosok ke lubang yang dilarang kaidah-kaidah kesusilaan. Mereka menjadi pecinta terlarang tanpa mengerti di mana letak kesalahannya. Mereka hanya menjalani naluri dan kodrat kemanusiaan. Mereka hanyalah manusia biasa yang bertingkah-polah sebagaimana manusia pada umumnya.

Melalui sehelai gorden, semua orang dengan amat nyata telah menghakimi kami malam itu. Kami disudutkan dalam pengadilan tanpa pembelaan. Tiada seorang pun mendukung kami. Semua bertekad bulat, menjadikan kami sebagai seterunya dan berniat menumpas kami dengan sepenuh jiwa. Buah khuldi telah kami makan dan hukuman tengah disiapkan.

Semua orang berbondong-bondong ke arah kami. Tangan mereka menggenggam obor dan pisau belati. Pisau belati untuk menikam kami, obor untuk memanggang kami hidup-hidup. Kami adalah setan yang mesti dibinasakan. Orang-orang berteriak-teriak dalam kemurkaan yang tak mampu terjabarkan bahasa. Teriakan seseorang memicu teriakan yang lain. Semua tenggelam dalam lautan kemarahan.

Kami tercekat. Kami terpojok. Kalau hidup tersusun dari konsekuensi-konsekuensi, kami ikhlas dan pasrah menghadapinya. Tidak ada gunanya melawan kemapanan. Kemapanan yang bilang bahwa berbuat mesum malam-malam di depan kos adalah sebentuk pelanggaran yang tak termaafkan.

***

KAMI terduduk dalam diam di kursi yang disediakan bapak kos di beranda. Kami menghela nafas menanti dalam detak jam yang kian kencang kian mencekam, ditingkahi hujan yang jatuh rintik-rintik ritmik. Gorden itu tak jua menyingkap kembali. Gorden itu tak pernah bergerak-gerak lagi.

Mangkang City, 22032012, 01012014

*) Tulisan ini pertama kali disiarkan oleh Kamarbudaya.com pada 1 Maret 2014.

Standar
Karangan Tersiar, Kuliah Hukum, Ulasan

Menyingkap Sejarah Nusantara lewat Tempayan

Oleh AP Edi Atmaja

Sultan, Pahlawan dan Hakim: Lima Teks Indonesia LamaJudul: Sultan, Pahlawan dan Hakim: Lima Teks Indonesia Lama

Penulis: Henri Chambert-Loir

Penerjemah: Arif Bagus Prasetyo, Ida Sundari Husen, Talha Bachmid

Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), Jakarta

Tahun: Cetakan I, Desember 2011

Tebal: 180 halaman

ISBN: 978-979-91-0407-6

MENELUSURI sejarah Indonesia di masa lampau tak cukup hanya dengan mengandalkan sumber data “formal”. Karya sastra dan aksara-aksara yang sengaja dicetak di barang pecah-belah, misalnya, memiliki nilai historis seampuh relief, artefak, atau prasasti. Teks-teks lama yang kebanyakan berbahasa Melayu itu—lingua franca di masanya—pantas dijadikan sumber data sahih guna menyingkap kebenaran masa silam.

Hikayat Raja Pasai, Sulalat al-Salatin, Hikayat Aceh, Hikayat Banjar, Ceritera Asal Bangsa Jin dan Segala Dewa-dewa, dan Salasilah Kutai adalah beberapa contoh bagus karya sastra yang memiliki fakta sejarah—kendati fakta sejarah di dalamnya bisa saja tunduk pada kaidah sastra.

Karya sastra memang mengandung banyak mitos yang lumrah demi menampilkan sisi estetisnya. Terkadang, karya sastra yang tersaji sangat sukar diterima nalar lantaran kekentalan mitosnya. Oleh karena itu, dibutuhkan kejelian sejarawan untuk menyingkap fakta sejarah yang terkandung di dalam karya sastra.

Buku berjudul Sultan, Pahlawan dan Hakim: Lima Teks Indonesia Lama ini merupakan ikhtiar seorang sejarawan yang keranjingan teks-teks lama. Diterbitkan atas prakarsa sastrawan Sunda, Ajip Rosidi, buku ini berisi kumpulan artikel Henri Chambert-Loir yang sebelumnya pernah terbit di beberapa tempat. Terjemahan Indonesia dikerjakan oleh Arif Bagus Prasetyo, Ida Sundari Husen, dan Talha Bachmid.

Pujangga Baru

Pembeberan fakta sejarah Nusantara dimulai dengan telaah kritis atas Hikayat Hang Tuah, epos Melayu yang ditulis sekira abad ke-17 di Semenanjung Melayu. Epos itu, menurut Henri, bersifat semi-sejarah atau legenda: tokoh Hang Tuah pernah hidup dalam kenyataan sebenarnya. Teks itu bisa memberi kita gambaran yang sangat hidup mengenai kehidupan politik dan sosial, bahkan aspek keseharian, di Kerajaan Malaka pada abad ke-15 (hal. 23).

Hang Tuah, hulubalang utama Sultan Malaka, dikisahkan dalam hikayat itu sebagai perantara hubungan diplomatik antara Kerajaan Malaka dan kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya. Peran Hang Tuah amat penting untuk menegakkan kedaulatan kerajaan di tengah kerajaan sekutu seperti Bukit Seguntang, Palembang, Bentan, Lingga, Minangkabau, dan Singapura; kerajaan bawahan seperti Indrapura dan Terengganu; kerajaan sahabat seperti Brunei, Aceh, dan Patani; dan kerajaan musuh seperti Majapahit.

Membaca hikayat itu akan diperoleh kenyataan bahwa hubungan diplomatik di masa lampau dijalin berdasarkan ikatan perkawinan. Sultan Malaka adalah raja yang banyak mengajukan lamaran kepada putri-putri kerajaan di sekitarnya. Penolakan atas lamaran berarti sikap hendak memutus simpul diplomatik kedua kerajaan. Dan, adalah tugas Hang Tuah untuk memerangi kerajaan-kerajaan yang berlaku demikian dengan kesaktiannya.

Teks lama kedua yang ditelisik dalam kumpulan ini merupakan teks pertama dari sebuah dokumen yang disalin oleh HN van der Tuuk selama tahun 1852-1857. Oleh E. Wieringa, teks sepanjang 15 halaman itu lantas diberi judul Syair Sejarah Sultan Fansuri. Lewat teks yang diperoleh di Barus, Sumatra Utara, itu, kita bisa belajar soal genre puisi saat itu. Sebagai puisi, ia menunjukkan kekacauan prosodi serta tak diindahkannya harmoni dan estetika. Bukan cuma rima yang sering tampak kacau, sejumlah pengulangan pun terasa salah (hal. 58).

Di sisi lain, ada cacat struktur dalam susunan syair. Syair terdiri atas 501 baris, jadi mestinya berupa 125 bait plus 1 baris. Tapi ternyata hanya terdapat 62 bait, ditambah 8 bait yang tiga larik, 89 bait yang dua larik, serta 51 larik tunggal (hal. 59). Syair Sejarah Sultan Fansuri seolah hendak menegaskan, pembaharuan puisi (dan kemunculan ‘puisi bebas’) di Nusantara telah dimulai jauh sebelum kemunculan Pujangga Baru dengan Chairil Anwar sebagai pentolannya (lihat Bakdi Soemanto, 2006: 47).

Profan

Sementara dua teks sebelumnya membincang sastra lama, teks ketiga yang ditelaah Henri Chambert-Loir berupa surat dakwaan dari Pontianak berangka tahun 1872-1882. Dokumen hukum itu ditulis di atas kertas bikinan negara-negara Eropa, terutama Inggris. Ini membuktikan kebenaran pernyataan Russel Jones bahwa kertas dipakai di Indonesia selang beberapa tahun sesudah diproduksi di Eropa (hal. 95).

Naskah Pontianak mulai dicatat di era pemerintahan sultan kelima Kesultanan Pontianak, Syarif Yusuf bin Sultan Syarif Hamid, yang bertakhta tahun 1872-1895. Sebagian besar dakwaan ditujukan kepada Sultan sendiri, sebagian lainnya dialamatkan kepada Mahkamah (Raad) Agama dan pejabat kesultanan. Dakwaan yang diajukan beragam, misalnya seorang Tionghoa bernama Te Cing menggugat lantaran kebunnya diserobot orang tatkala ditinggal ke luar negeri. Ada pula gugatan dari seorang perempuan yang menuntut nafkah kepada suaminya.

Henri menilai, Naskah Pontianak merupakan sumbangan berharga terhadap tujuan pembangunan hukum di Indonesia, terutama lembaga hukumnya. Dia mengutip pendapat Daniel S Lev (1972), yang mengatakan bahwa sejarah lembaga hukum adalah sejarah ketetapan dan struktur hukum, yang harus dipahami dalam praktiknya yang nyata serta latarbelakang politik, sosial, dan ekonominya.

Memang sangat menarik mengkaji dokumen hukum itu. Disebutkan, 32 dakwaan (38% dari jumlah keseluruhan surat dakwaan) diajukan oleh perempuan. Hal itu jelas menunjukkan kemajuan di masanya—dan barangkali di masa sekarang juga.

Teks keempat berupa teks Melayu berangka tahun 1893 yang berbicara ihwal tempayan. Teks itu mendeskripsikan soal tempayan dari Kalimantan serta peredarannya ke penjuru dunia. Ia ditemukan di sepanjang rute-rute maritim terpenting. Di Kalimantan masa lalu, tempayan dianggap sebagai simbol kekayaan dan martabat keluarga. Tempayan menempati peran sangat fungsional, yang terkait dengan adat minum-minum dan ritus-ritus tertentu, seperti pemakaman (hal. 112).

Status istimewa tempayan Kalimantan itu menyebabkan ia terus diimpor dari Cina pada abad ke-13 dan ke-14, hingga datanglah tukang gerabah dari Cina pada akhir abad ke-19 dan menetap di Singkawang. Mulai saat itu, tempayan menjadi produk Nusantara dan bersaing dengan tempayan lain dari Vietnam, Thailand, Myanmar, dan Cina.

Teks terakhir mengurai hiasan sajak Melayu di piring-piring bikinan perusahaan keramik Inggris yang beredar di Nusantara sekira tahun 1822-1840. Piring-piring Inggris itu berhias teks yang bersifat profan: memuat pepatah penuh hikmah atau syair cinta yang cenderung “mesum”.

Henri Chambert-Loir dengan jeli dan telaten menyingkap sejarah Nusantara dengan “cuma” berbekal lima teks lama tak biasa. Penguasaannya atas pelbagai macam ilmu—seperti etnologi dan filologi—membuat kajiannya memiliki bobot kesejarahan nan kuat. [19022012, 14.55]

*) Tulisan ini pertama kali disiarkan oleh Okezone.com pada 13 Februari 2014.

Standar
Karangan Tersiar, Kuliah Hukum, Ulasan

Pertautan antara Hukum dan Sistem Politik

Oleh AP Edi Atmaja

Pertautan antara Hukum dan Sistem PolitikJudul: Kebebasan Berserikat di Indonesia: Suatu Analisis Pengaruh Perubahan Sistem Politik terhadap Penafsiran Hukum

Penulis: Arief Hidayat

Penerbit: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang

Tahun: Cetakan I, Juli 2006

Tebal: x + 300 halaman

ISBN: 979-704-416-5

BUKU ini cukup langka meski cetakannya terhitung baru. Seorang dosen mengatakan kepada saya, bahkan di perpustakaan kampus yang menerbitkannya pun, buku ini sukar dijumpai. Tapi anehnya, tatkala sang dosen berkunjung ke Universitas Leiden, Belanda, untuk keperluan riset pustaka, ia dapat menemukannya dengan mudah. Buku setebal 300 halaman ini tersusun rapi beberapa jilid di perpustakaan bekas kampus Sutan Sjahrir, bapak bangsa kita, itu.

Buat memperolehnya, lantas mengulasnya untuk Anda, saya mesti meminjam buku ini dari Airlangga Suryanagara, putra sang penulis. Saya cuma mau bilang, betapa penting buku ini supaya dicetak ulang dan didistribusikan ke khalayak luas. Perpustakaan mana pun mesti mengoleksinya. Jangan sampai buah pemikiran anak negeri malah hanya ada di luar negeri.

Seberapa pentingkah sumbangan buku bertajuk “Kebebasan Berserikat di Indonesia: Suatu Analisis Pengaruh Perubahan Sistem Politik terhadap Penafsiran Hukum” ini bagi khazanah pemikiran kita? Dengan melontarkan pertanyaan semacam itu kita akan membedah buku ini secara ringkas.

“Kebenaran” G30S

Sebelum beranjak menjelas-jabarkan kandungan bukunya, Arief Hidayat (kini bergelar profesor), sang penulis, mengajukan sebuah pertanyaan-hipotesis: adakah pertautan antara sistem politik dan perubahan penafsiran hukum suatu negara? Tatkala sebuah negara bersistem politik otoritarian, misalnya, apakah lantas hukum yang berlaku juga bernuansa otoriter? Begitu pun sebaliknya: adakah negara dengan sistem politik demokrasi sistem hukumnya pasti demokratis? Penafsiran hukum mengenai kebebasan berserikat jadi fokus kajian buku ini.

Mantan dekan Fakultas Hukum Universitas Diponegoro dan ketua Program Magister Ilmu Hukum Universitas Diponegoro yang kini menjadi hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia ini, demi menemukan jawaban dari pertanyaan-hipotesisnya, bertolak dari asumsi bahwa hukum di suatu negara pastilah dipengaruhi oleh anasir lain di luar hukum, seperti politik, ekonomi, budaya, bahasa, dan seterusnya (h. 49-50). Tiada hukum yang betul-betul steril dan murni sebagaimana dikatakan Hans Kelsen. Yang ada justru bahwa hukum itu produk politik sehingga—demikian Satjipto Rahardjo pernah menulis—hukum selalu cacat setelah dilahirkan.

Buku yang aslinya merupakan disertasi Arief Hidayat untuk memperoleh gelar doktor dalam ilmu hukum di Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Diponegoro ini menelusuri perkembangan sistem politik Indonesia dalam empat periode pemerintahan. Pertama, Demokrasi Presidensial dan Demokrasi Parlementer (1945-1949). Kedua, Demokrasi Terpimpin (1959-1966). Ketiga, Demokrasi Pancasila (Orde Baru) (1966-1998). Keempat, Demokrasi Reformasi (1998-sekarang).

Teks-teks sejarah langka dikerahkan untuk meraba corak politik masing-masing periode. Misalnya saja buku AG Pringgodigdo terbitan Yayasan Fonds Universitas Negeri Gadjah Mada (tanpa tahun), buah tangan Muhammad Yamin (1959), karya Widjojo Nitisastro (1965), karangan Soepomo (1965), Buku Induk Hasil Seminar TNI AD Ke-2 (1966), dan lain-lain. Terang saja Kebebasan Berserikat di Indonesia: Suatu Analisis Pengaruh Perubahan Sistem Politik terhadap Penafsiran Hukum ini bukan semata-mata karya keilmuan hukum, melainkan bisa pula dianggap sebagai dokumen sejarah.

Namun, sebagai dokumen sejarah, buku ini cenderung tak kritis pada historiografi Indonesia arus-utama (mainstream). Satu contoh, antara lain, sikap buku ini pada Partai Komunis Indonesia (PKI) sama belaka dengan buku-buku sejarah pada umumnya yang terbit sebelum era reformasi. Buku ini masih menganggap bahwa PKI-lah pihak yang bertanggung jawab dalam Gerakan 30 September 1965 (G30S/Gestapu). Padahal, kini telah hadir amat sangat banyak buku, saksi hidup, dan ilmuwan yang berupaya menampik pemutarbalikan fakta sejarah oleh penguasa Orde Baru itu.

Anda mungkin akan sukar percaya bahwa dalam buku yang sangat terpelajar ini tertulis kalimat berikut (h. 99): “Persaingan antara PKI dengan Angkatan Darat [...] akhirnya meletus dalam usaha kudeta yang dilakukan PKI pada tanggal 30 September 1965, yang kemudian dikenal sebagai peristiwa Pemberontakan Gerakan 30 September 1965 Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI).”

Penyebutan G30S yang selalu diasosiasikan dengan PKI tampak pula di sejumlah halaman. Dan, banyak lagi data kontroversial lain yang di buku ini masih dianggap sebagai “kebenaran”. Misalnya, Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) dan titik awal berdirinya Orde Baru (h. 99-107)—kendati cara berpolitik dan berhukum rezim ini tak lepas dari kritik penulis (h. 115-144).

Pasang-surut

Membaca buku akademik namun ditulis dengan bahasa yang renyah nan mengalir ini, kita diajak menyelami perjalanan sejarah kebangsaan Indonesia. Betapa bernegara itu sesungguhnya tidak mudah. Dan demokrasi adalah sistem politik yang paling tepat bagi kita, sebagaimana pilihan para pendiri bangsa (h. 231). Namun dengan catatan: model demokrasi yang sesuai dengan situasi dan kondisi mestinya selalu kita cari terus-menerus. Pengalaman empat periode pemerintahan menunjukkan bahwa sistem demokrasi senantiasa mengejawantah dalam dua kutub yang saling bersitegang: bertendensi pada otoriterisme ataukah liberalisme pada akhirnya.

Dari empat periode sistem politik itu, menurut Arief Hidayat, penafsiran hukum terhadap kebebasan berserikat mengalami pasang-surut (h. 267). Ada masa ketika kebebasan berserikat bekerja secara optimal (Demokrasi Presidensial, Parlementer, dan Reformasi). Ada pula masa ketika negara, dengan bersaranakan hukum, merepresi kebebasan berserikat (Demokrasi Terpimpin dan Pancasila). Pada sistem politik yang otoritarian, Pasal 28 UUD 1945—yang mengatur kebebasan berserikat—ditafsirkan secara restriktif-limitatif. Sementara pada sistem politik yang demokratis, Pasal 28 UUD 1945 ditafsirkan secara ekstensif-terbuka (h. 266).

Meskipun sedari awal tak diniatkan menjadi sebuah buku dengan struktur layaknya buku bacaan populer tapi disertasi—karya ilmiah dengan derajat formalitas tertentu sehingga adakalanya kurang bisa dicerna oleh pembaca non-akademik, Kebebasan Berserikat di Indonesia: Suatu Analisis Pengaruh Perubahan Sistem Politik terhadap Penafsiran Hukum buat saya telah bertranslasi dengan cukup berhasil. Barangkali karena promotor penulis adalah sastrawan hukum sekaliber Satjipto Rahardjo, yang masyhur dengan langgam tulisannya yang renyah dan gampang dibaca siapa saja. [06082013, 23.20]

*) Tulisan ini pertama kali disiarkan oleh majalah Konstitusi edisi Desember 2013 terbitan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.

Standar
Karangan Tersiar, Ulasan

Sepak Terjang Mata-mata di Zaman Pergerakan

Oleh AP Edi Atmaja

Memata-matai Kaum PergerakanJudul: Memata-matai Kaum Pergerakan: Dinas Intelijen Politik Hindia Belanda 1916-1934

Penulis: Allan Akbar

Penerbit: Marjin Kiri, Tangerang Selatan

Tahun: Cetakan I, Maret 2013

Tebal: xx + 117 halaman

ISBN: 978-979-1260-20-6

POLITIEKE Inlichtingen Dienst (PID) atau Dinas Intelijen Politik adalah lembaga khusus yang dibentuk pemerintah kolonial Belanda pada Mei 1916. Fungsinya untuk mengawasi dan menghimpun informasi tentang segala kegiatan kaum pergerakan di Hindia Belanda.

Saat itu Perang Dunia I tengah berkecamuk. Di Belanda, kaum liberal menguasai parlemen dan memengaruhi kebijakan politik hingga ke negeri jajahannya yang terutama, Hindia Belanda. Pergeseran kiblat politik Hindia itu tampak, antara lain, dari pemberlakuan Politik Etis (Etische Politiek). Politik Etis adalah “utang budi” pemerintah kolonial atas keuntungan yang diperolehnya lewat Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel).

Politik Etis menyebabkan munculnya golongan baru di masyarakat Hindia: pribumi terpelajar. Kaum elite modern inilah yang kemudian tergerak kesadarannya untuk memberi pemahaman kepada rakyat Hindia tentang rasa kebangsaan yang bukan lagi bersifat kedaerahan (h 2). Di tangan merekalah era pergerakan nasional—yang ditandai dengan bersemainya organisasi-organisasi bercorak sosial dan politis—dimulai.

Di mata pemerintah kolonial, kemunculan organisasi-organisasi itu lebih dinilai sebagai ancaman ketimbang keniscayaan. Mereka cemas, pergerakan nasional menjurus pada keadaan yang kian lama kian radikal dan dapat menggoyang stabilitas negara. Dalam situasi yang semacam itulah PID lahir.

Dalam perkembangannya, PID malah dibubarkan sehabis dua tahun beroperasi. Alasannya, perang telah berakhir dan ancaman dari luar akibat renggangnya hubungan Belanda dengan Hindia dianggap telah kelar. Namun, hanya berselang lima bulan organisasi serupa dibentuk lagi, tapi dengan nama lain: Algemeene Recherche Dienst (ARD) atau Dinas Penyelidikan Umum. Buku ini—publikasi pertama dalam bahasa Indonesia (Harry A Poeze, Pengantar, h vii)—menyigi sepak terjang PID atau ARD dalam kurun waktu 1916-1934.

Sebagai sebuah lembaga yang masuk dalam wilayah kerja kepolisian yang berada di bawah yurisdiksi Jaksa Agung, ARD terdiri dari dua ketua, dua deputi, dan dua ketua pegawai pribumi (h 34). Cabang-cabangnya tersebar di kota-kota besar di Jawa, semisal Batavia, Bandung, Semarang, dan Surabaya, dan agen serta mata-matanya tersebar di seluruh Hindia dengan konsentrasi pada wilayah yang memiliki aktivitas politik radikal seperti Jawa dan Sumatera.

ARD juga merangkul golongan elite pribumi semacam wedana dan asisten wedana. Satu wedana membawahi tiga asisten wedana dan 15 mantri polisi. Mantri polisi bersama enam kepala reserse dan 24 reserse pribumi disebar di saban sektor kepolisian kota buat mengawasi rapat-rapat organisasi massa. Mereka berhak untuk memperingatkan pembicara dalam rapat itu atau, bahkan, membubarkan rapat jika dirasa telah melewati batas yang diperkenankan penguasa (h 44).

Memata-matai Kaum Pergerakan karangan Allan Akbar ini menguak data menarik. Antara lain terungkap bahwa Agus Salim, bapak bangsa dan diplomat ulung Indonesia, ternyata pernah memiliki keterlibatan dengan ARD! Agus Salim disebut-sebut sebagai agen yang sengaja ditugasi ARD untuk menyusup ke dalam internal Sarekat Islam.

Sarekat Islam, yang waktu itu dipimpin Raden Oemar Said Tjokroaminoto, merupakan organisasi sosial-politik dengan jumlah massa yang besar. Karena kebesarannya, banyak pihak merasa berkepentingan dengannya. Di Semarang, organisasi ini—terpengaruh komunisme yang dibawa Semaoen—adalah cikal bakal Partai Komunis Indonesia (Soe Hok Gie, 1999). Di mata penguasa, Sarekat Islam berbahaya lantaran ia ditengarai bakal dijual Tjokroaminoto kepada Jerman guna membiayai pemberontakan besar di Jawa (h 51).

Namun, sebagaimana dijelaskan Allan Akbar, dugaan pemerintah Hindia itu berlebihan. Agus Salim tidak menemukan bukti konkret kebenaran kabar angin itu sehingga ia pun memutuskan hubungan dengan ARD. Namun, buku ini bersikukuh, secara rahasia Agus Salim masih membuat sejumlah laporan tentang kegiatan Sarekat Islam buat pemerintah.

Buku ini asyik karena menyadarkan kita betapa intelijen kita hari ini mewarisi gaya kerja intelijen kolonial. ARD—yang ditakuti kaum pergerakan sebagai PID—mempraktikkan politik adu domba ala VOC lewat pengangkatan pribumi guna melawan pribumi. Perilaku intelijen kita hari ini pun tak jauh beda: alih-alih menyebarkan agen ke luar negeri untuk memata-matai kekuatan asing yang merongrong kedaulatan negara, mereka masih memandang masyarakat itu sendirilah bahaya utama yang mesti diwaspadai (h 109). [13072013, 21.59]

*) Tulisan ini pertama kali disiarkan oleh Jakartabeat.net pada 23 Januari 2014.

Standar