Oleh A.P. Edi Atmaja
MENJADI mahasiswa di zaman yang kuyup informasi seperti sekarang ini agaknya semudah membalikkan telapak tangan. Apa lacur, mahasiswa yang saban hari cuma punya kewajiban berkutat dengan informasi dan ilmu pengetahuan itu seakan menemukan taman firdausnya. Informasi dan ilmu pengetahuan berlalu-lalang dengan demikian gencar dalam Internet: menunggu buat dimanfaatkan atau malah diabaikan begitu saja.
Beragam janji teknologi memudahkan mahasiswa mengolah kemampuan intelektualnya. Dunia maya nan virtual adalah dunia tanpa tapal batas negara, bangsa, agama, dan disiplin ilmu. Semua segi bertaut mesra di sini. Persoalannya cuma sejauhmana mahasiswa itu mampu (dalam arti materi) dan mau (dalam arti immateri) merengkuh kemudahan-kemudahan yang tersedia.
Dunia seolah-olah menjadi demikian liberal, demokratis, dan terbuka. Barangkali, dunia semacam inilah, dunia maya, yang diandaikan George Soros (2000) sebagai masyarakat terbuka (open society).
Mahasiswa, di tengah pusaran dunia yang sarat keterbukaan itu, mengalami loncatan intelektualitas yang tak pernah dibayangkan generasi sebelumnya. Semua bahan yang menyokong iklim perkuliahan, baik jurnal, artikel ilmiah, esai, resensi buku, majalah, suratkabar, maupun buku digital, bisa diunduh dan dimanfaatkan secara bebas.
Buku digital (e-book) adalah piranti mutakhir yang semestinya bisa digunakan secara maksimal. Keberadaannya sesungguhnya menjadi jawaban buat mahasiswa yang, sebagian besar, mengalami masalah dalam hal biaya, tempat, dan ketersediaan buku-buku cetak konvensional. Namun, amat disayangkan, buku digital rupanya kurang masyhur di mata kebanyakan mahasiswa kita.
Pesaing
Sejak Johannes Gutenberg (1398-1468) menemukan mesin pencetak dalam skala besar pada tahun 1452, ilmu pengetahuan berkembang dengan amat pesat. Buku-buku dicetak dan disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia. Dalam pada itu, pembaca dan penulis-penulis baru bermunculan bak cendawan di musim hujan. Ilmu pengetahuan yang semula dimonopoli kaum tertentu kini menjadi hak setiap orang yang melek huruf dan gemar membaca.
Jauh sebelum itu, buku ditulis secara manual dan digandakan secara terbatas. Buku pertama lahir di Mesir pada tahun 2400-an SM. Aksara ditorehkan dalam lembaran-lembaran papirus: sejenis alang-alang yang dikeringkan lantas disusun menjadi satu kesatuan.
Selain dalam bentuk manuskrip, sastra (tulisan) pun dikemas dalam pahatan-pahatan di bebatuan dan dinding-dinding berupa hieroglif. Di sudut lain di Asia Tenggara, Nusantara, karya tulis para pujangga diukir dalam prasasti-prasasti.
Kesemua itu menunjukkan, sebelum kertas ditemukan pada tahun 200-an SM oleh Tsai Lun, tulisan memiliki keterbatasan dalam soal ketersebaran dan jangkauan pembaca. Semenjak penemuan penting dari Cina itu dibawa oleh para pedagang Muslim ke Eropa pada abad kesebelas, kemudian Gutenberg menggagas mesin cetaknya, mulai saat itulah tulisan dan buku-buku menemukan pembacanya yang lebih luas.
Pemikiran manusia berkembang seiring dengan kemajuan zaman. Komputerisasi yang serbadigital mengembrio pada tahun 1950-an, akibat Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Amerika Serikat, kala itu, lebih berhasil mengembangkan komputer dengan antek inteleknya seperti The Lincoln Laboratory yang bermarkas di Massachusetts Institute of Technology (MIT), sementara Uni Soviet maju dalam bidang penerbangan angkasa luar (Ryan, 2010: hal 45-49).
Di sinilah kemudian muncul era baru pascaindustri yang dinamakan Abad Informasi. Perkembangan teknologi demikian drastis setelah ini. Logika biner 0-1 yang mendasari ruh digital menjadi panglima di segala lini. Buku berbahan kertas nan konvensional pun mesti berhadapan dengan pesaing yang tak pernah diduga sebelumnya.
Buku digital—biasa pula disapa buku elektronik (e-book)—sebenarnya jelmaan lain dari buku kertas beserta isinya (teks dan gambar) lalu dienkripsi guna menghindari pembajakan (Yds Agus Surono, 2001: hal 138, dalam Intisari). Ia sebetulnya naskah pracetak yang telah mengalami perwajahan (layout). Wujud file-nya bisa bermacam-macam: PDF, HTML, TXT, RTF, LIT, JPEG, EPUB, ataupun DJVU.
Virtual
Biaya buku (kuliah) yang kian lama kian mencekik, semestinya jadi alasan mahasiswa untuk berpaling pada buku digital. Selain tak memakan banyak tempat, buku digital pun dinilai ramah lingkungan lantaran membantu mengurangi konsumsi kertas, dus penebangan pohon.
Buku digital bisa dibilang wujud masyarakat virtual yang tinggal di dunia maya. Dunia yang dikatakan William Gibson (1984) sebagai ‘halusinasi konsensual’: dibayangkan sebagai realitas pengganti yang diciptakan oleh komputer (Shields, 2011: hal 56). Virtual, menurut Shields, diartikan sebagai “sesuatu yang nyata namun tidak konkret”.
Dengan atau tanpa “bersenjatakan” buku digital, masyarakat kita sedang beranjak ke masyarakat virtual. Masyarakat semacam ini, lantaran saking banyaknya informasi, cenderung “berpihak pada permukaan yang dangkal” (ibid, hal 58). Apa yang dipahami sebagai ilmu, bukanlah ilmu dalam arti mendalam, melainkan sepotong-sepotong (parsial).
Oleh sebab itu, buat mahasiswa, dengan buku digital akan lebih baik ketimbang tidak. Buku digital adalah sumber informasi dari dunia maya yang sampai saat ini berani saya katakan masih terjaga validitasnya. Pemahaman yang diperoleh dari situ bukanlah pemahaman yang parsial. Buku digital, sebagaimana disebutkan di muka, pada intinya buku konvensional juga.
Bukan tidak mungkin, masyarakat—dimulai oleh para mahasiswa—virtual yang cinta buku digital akan menjadi masyarakat yang melesat jauh ke depan ketimbang masyarakat buku kertas. Masyarakat demikian mempunyai intelektualitas virtual: kecerdasan, kecergasan, dan keterampilan yang terbangun dari, dalam, dan oleh dunia virtual. [20112011, 22.59]
*) Tulisan ini pernah dimuat di harian Riau Pos pada 18 Februari 2012.
Ditulis oleh sastrakelabu 

