Catatan Harian, Kemanusiaan, Puisi

Gila Membaca

Oleh AP Edi Atmaja

: unu

aku duduk membaca di satu beranda saat orang-orang berbaju meriah bersepatu mewah lewat di depanku dan ketika sampai di sampingku mereka bilang:

“Jangan terus-terusan membaca nanti cepat tua lekas gila tiada guna.”

aku tertegun berkeras hendak menyangkal tuduhan itu seraya meneruskan membaca tapi tak kutemukan tangkisan yang pas hingga akhirnya mereka sia-sia saja meledekku dan berlalu.

aku masih suntuk membaca sampai matahari karam di lensa dan mata jadi gila.

04082013, 16.23

Too Much Reading/BlackJack0919

Too Much Reading/BlackJack0919

Standar
Esai, Karangan Tersiar, Kuliah Hukum

Fitrah Ilmuwan Ketua BPK

Oleh AP Edi Atmaja

SIDANG anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada Selasa (21/10/2014) lalu menyisakan harapan. Ketua baru lembaga pemeriksa ektern pemerintah itu akhirnya ditetapkan. Harry Azhar Azis, anggota BPK yang baru saja terpilih pada 15/9/2014 lalu itu, ditabalkan menduduki singgasana BPK, menggantikan Rizal Djalil yang menjabat ketua BPK selama enam bulan.

Terpilihnya Harry Azhar Azis sebagai ketua BPK selain menerbitkan harapan juga menuai kecaman. Kecaman dialamatkan pada latar belakang Harry yang seorang politisi. Peneliti Indonesian Corruption Watch (ICW) Firdaus Ilyas, misalnya, menyatakan bahwa terpilihnya Harry Azhar Azis sebagai ketua BPK adalah sebuah kemunduran. Sebab, menurut Firdaus Ilyas, seseorang yang berafiliasi dengan partai politik disangsikan dapat mengedepankan independensi, integritas, dan profesionalismenya sebagai pimpinan lembaga yang semestinya steril dari nuansa politis (Metrotvnews.com, 23/10/2014).

Kritik semacam itu patut diapresiasi karena hal itu menunjukkan bahwa eksistensi BPK di mata publik dan rasa memiliki (sense of belonging) publik terhadap lembaga yang telah ada sejak era Hindia Belanda itu masih sangat kuat.

Namun, jika kita mempersoalkan latar belakang, rekam-jejak, atau riwayat hidup untuk menilai kepantasan seseorang menduduki pucuk pimpinan BPK, dan kalau kita mau sedikit obyektif, sesungguhnya banyak hal positif dalam pribadi seorang Harry Azhar Azis. Harry pernah lama menjadi akademisi dan peneliti, yang habitatnya bukanlah ruang riuh-ramai-berisik semacam parlemen, melainkan ruang sunyi pergulatan manusia dengan ilmu pengetahuan. Ruang di mana peradaban manusia diabadikan dan dikembangkan.

Pemeriksa: wartawan, hakim, ilmuwan

Latar belakang Harry sebagai seorang ilmuwan itu menarik untuk diperbincangkan karena BPK sejatinya adalah lembaga negara yang tak dapat (di)lepas(kan) dari kultur ilmiah. BPK bekerja berdasarkan idealitas, standar, sesuatu yang dicita-citakan (das Sollen), dan melalui BPK-lah semua itu coba diwujudkan, diterapkan, dan ditegakkan.

Seorang pemeriksa/auditor pada hakikatnya adalah seorang peneliti yang bekerja tak semata bermodalkan intuisi, melainkan juga dasar akademik yang kuat, pengujian ilmiah nan ketat, dan diskusi (baca: konsinyering) yang mendalam. Pemeriksa sejatinya merupakan perpaduan antara wartawan dan hakim. Wartawan karena dalam bekerja pemeriksa menggunakan data dan fakta. Hakim karena dalam menuangkan “putusan kuasi-yudisial”-nya di Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP), pemeriksa harus berlandaskan nurani dan akal yang sehat.

Fitrah Ilmuwan Ketua BPKLHP, produk yang dibikin oleh seorang pemeriksa, ditulis dengan metodologi ilmiah. Dalam rupa tertulisnya saja kita dapat menebak bahwa LHP pastilah disusun dengan metodologi penulisan tertentu yang baku dan, tentu saja, dievaluasi formatnya sepanjang waktu.

Standar Pemeriksaan Keuangan Negara, Pedoman Manajemen Pemeriksaan, Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) Pemeriksaan Keuangan, Juklak Pemeriksaan Kinerja, Juklak Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu, Sistem Pengendalian Mutu, Petunjuk Teknis (Juknis) Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah, Juknis Pemeriksaan Kinerja Pelayanan Umum, Juknis Penilaian Risiko, dan Juknis Penetapan Batas Materialitas adalah sebagian dari seabrek aturan yang dibikin BPK berdasarkan riset mendalam demi terwujudnya LHP yang berkualitas.

Sejak perencanaan hingga pelaporan pemeriksaan, suatu tim pemeriksa mengacu pada standar tertentu yang telah teruji secara keilmuan sebagai standar pemeriksaan (auditing) internasional. Karena luasnya lingkup pemeriksaan yang dilakukan BPK—mencakup segala aspek—seorang pemeriksa harus menguasai hampir semua disiplin keilmuan. Hakikat multidisiplinaritas ilmu melekat secara otomatis pada diri seorang pemeriksa, suka-tidak suka.

Maka, tidak salahlah jika dikatakan bahwa seorang pemeriksa adalah juga seorang ilmuwan. Oleh sebab itu, seseorang yang layak memimpin lembaga yang berisi para “ilmuwan” tentu saja adalah dia yang memiliki kapabilitas keilmuan yang mumpuni. Terkandung fitrah ilmuwan dari seorang ketua BPK.

Publik menunggu

Menilik riwayat panjang BPK sejak masa awal kemerdekaan, akan tampaklah ke hadapan kita bahwa jabatan ketua BPK secara berselang-seling dipegang oleh kalangan ilmuwan dan militer. Para ketua BPK di era pemerintahan Presiden Sukarno hampir semuanya berlatarbelakang profesional non-partai atau ilmuwan non-militer.

R Soerasno (menjabat sejak 1947), R Kasirman (1949), AK Pringgodigdo (1957), dan I Gusti Ketut Pudja (1960) adalah nama-nama ketua BPK di era pemerintahan Presiden Sukarno yang menjabat benar-benar lantaran kapasitas kenegarawanan, keilmuan, dan profesionalitas mereka. Kendati terdapat sisi militer dalam diri seorang Sri Sultan Hamengkubuwono IX (1964), publik mengakui kiprahnya sebagai pendiri Republik, dan merupakan suatu kebanggaan pucuk pimpinan BPK dijabat olehnya.

Tatkala Presiden Soeharto berkuasa hingga menjelang senjakala kekuasaannya, singgasana BPK diduduki oleh para jenderal TNI Angkatan Darat. D Suprayogi (menjabat sejak 1966), Umar Wirahadikusumah (1973), dan M Jusuf (1983) adalah para purnawirawan militer yang dikenal dekat dengan Presiden.

M Jusuf diketahui sebagai salah satu saksi kunci Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar), satu dari tiga jenderal—lainnya Basuki Rahmat dan Amirmachmud—yang menemui Presiden Sukarno di Istana Bogor dan berperan di balik lahirnya Supersemar. Bahkan, saking dekatnya dengan Presiden, selepas menjabat ketua BPK, Umar Wirahadikusumah lantas diangkat menjadi wakil presiden (Tokohindonesia.com, 23/10/2014).

Tiga ketua BPK selanjutnya benar-benar berlatar belakang ilmuwan. JB Sumarlin (menjabat sejak 1993), Satrio B Joedono (1998), dan Anwar Nasution (2004) merupakan para guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Di tangan merekalah BPK bertransformasi di tengah transisi pemerintahan menuju era Reformasi.

Kiprah Anwar Nasution sebagai pengemban amanat transformasi BPK berdasar amendemen konstitusi bahkan demikian luar biasa. BPK di bawah kepemimpinan Anwar adalah BPK yang garang. Dua buah undang-undang—yakni UU 15/2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara dan UU 15/2006 tentang BPK—yang meneguhkan kedigdayaan wewenang BPK berhasil diterbitkan.

Pelbagai kritik cerdas, keras, dan pedas kerap dilontarkan Anwar Nasution demi membangun dan menyuarakan eksistensi lembaga yang dipimpinnya. Beragam riset diselenggarakan buat merumuskan teknik pemeriksaan yang paling mutakhir dan mampu menyajikan LHP yang bermanfaat bagi para pemangku kepentingan. Dan, yang paling penting, di bawah kepemimpinan Anwar Nasutionlah kesejahteraan pegawai BPK benar-benar diperhatikan.

Kini publik menunggu, apakah kepemimpinan Harry Azhar Azis yang peneliti, MA dari University of Oregon (1990), PhD dari Oklahoma State University (2000), dan mantan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) (1983-1986) itu dapat memberi warna baru buat BPK. Menunjukkan fitrah ilmuwan seorang ketua BPK.

Akankah, di tangan Harry Azhar Azis, BPK dapat merdeka dari belenggu bekas partai politik para anggotanya. Akankah reformasi birokrasi BPK dengan tiga nilai dasar—integritas, independensi, dan profesionalisme—yang telah dimulai dengan bagus oleh para ilmuwan seperti Anwar Nasution dapat dilanjutkan dan dikembangkan. Hanya waktu yang bisa menjawab. Semoga. [26102014, 15.16]

*) Tulisan ini pertama kali disiarkan oleh Detik.com pada 5 November 2014 dan disiarkan kembali oleh harian Analisa pada 10 November 2014.

Standar
Catatan Harian, Karangan Tersiar

Dari Tele, Memandang Toba

Oleh AP Edi Atmaja

Berpose di padang rumput

Berpose di padang rumput

BERAWAL dari kesuntukan sehabis berminggu-minggu menghadapi angka-angka akuntansi di kelas, teman saya Rakhmat Alfian mengusulkan ide luar biasa: melancong ke danau Toba. Luar biasa karena ide itu pada mulanya sama sekali tanpa perencanaan. Dibisikkan dari kelas-kelas, akhirnya terkumpul sembilan belas manusia nekat yang terpikat oleh ajakan edan itu.

Jumat malam selepas kelas, dengan menyewa tiga minibus, kami bertolak dari Medan. Yohanes Binur Haryanto, putra asli Deli Serdang, Sumatera Utara, bertugas sebagai navigator. Yobin—sapaan Yohanes Binur Haryanto—pulalah yang bertugas menyetir mobil, ditemani dan bergantian dengan Mangiring Silalahi, Aulia Yudha Prathama, Ignatius Hernindio Dwiananto, dan Muhamad Iqbal.

Kami menempuh rute sepanjang 175 km dengan melewati Lubuk Pakam, Perbaungan, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, dan sampailah di Parapat persis waktu subuh. Di Parapat, danau Toba tampak amat luas di keremangan pagi. Terdapat pelabuhan rakyat, Ajibata dan Tigaraja namanya, buat menyeberang ke pulau Samosir. Pelabuhan Ajibata untuk penyeberangan mobil, pelabuhan Tigaraja untuk penyeberangan orang. Sebelum menyeberang, kami dijamu kerabat Yobin yang tinggal di Parapat sembari menikmati semburat fajar di tepian danau Toba.

Semburat fajar di danau Toba

Semburat fajar di danau Toba

Kondisi yang tak dapat dielakkan memisahkan kami menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diputuskan untuk berangkat lebih dulu melalui pelabuhan Tigaraja, sementara kelompok lain menunggu hingga dibuka penyeberangan mobil melalui pelabuhan Ajibata. Dalam kegentingan situasi akibat berpisahnya kongsi, teman kami Dian Vitta Agustina tak mampu lagi melanjutkan perjalanan—kembali ke Medan.

***

SAYA beserta sebagian besar teman lain menyeberang melalui pelabuhan Ajibata dengan menaiki feri. Tujuan kami desa Tomok. Di sanalah tempat pertemuan kami dengan kelompok bermobil yang bakal menyusul kemudian.

Di atas feri, angin danau berembus sepoi-sepoi. Sejauh mata memandang, terpampang perbukitan hijau yang mengelilingi danau Toba. Di lain sisi tampak rumah-rumah bolon—rumah adat Samosir—dan nyiur-nyiur dan kapal-kapal yang tengah bersandar—semua panorama yang disaput awan tipis. Indah sekali. Semakin indah karena kami juga ditemani seniman cilik yang mendendangkan lagunya.

Tomok

Tomok

Perjalanan tak lama karena segera saja kami sampai di Tomok. Tomok adalah tempat singgah pertama dan utama feri-feri yang menuju Samosir. Di Tomok, suasana riuh oleh para penjual yang menggelar lapak dan para pembeli yang berdesak-desakan mencari makanan, barang kerajinan, dan tetek bengek lain yang khas Toba-Samosir. Tomok sejatinya pasar akbar di tepi danau.

Cukup lama kami berbelanja di Tomok hingga datanglah kawan-kawan kami yang membawa mobil. Sebelum bertolak dari Tomok, kami mengunjungi makam Raja Sidabutar yang wingit dan mengambil banyak sekali foto. Foto-foto, buat kami, merupakan tautan yang menghubungkan kita dengan generasi mendatang: semacam sistem pengendalian intern supaya di masa depan anak-cucu kita masih bisa melihat apa yang seharusnya (masih) ada di masa mereka.

Siang cukup terik dan kami berada dalam perjalanan menuju Tuktuk, desa penginapan populer para turis. Populer karena di Tuktuk terdapat banyak penginapan bagus yang menawarkan pemandangan langsung danau Toba dari tepian.

Patung-patung di makam Raja Sidabutar

Patung-patung di makam Raja Sidabutar

Lantaran perut mulai keroncongan, kami memutuskan mencari rumah makan. Bukan sembarang rumah makan, melainkan rumah makan yang khusus menghidangkan makanan halal. Memang agak sukar menemukan penjual makanan halal di pulau yang juga merupakan kabupaten ini. Harus benar-benar selektif dan mensyaratkan penjual tak menawarkan sama sekali makanan non-halal di buku menunya.

Sehabis makan, kami melanjutkan perjalanan dan melewati sebuah pertigaan dengan gapura besar bermotif ukiran Batak Toba. Di sana terdapat padang rumput hijau yang luas nian. Naluri narsistik kami segera terbit. Jadilah padang rumput itu menjadi tempat mejeng yang hiruk piruk di siang bolong. Momen-momen nan bersejarah itu lekas dipotret oleh Muhammad Reza Budiman.

***

SESAMPAINYA di Tuktuk, berkat diplomasi Yobin, kami mendapat penginapan murah yang cukup nyaman dan—yang paling penting—memungkinkan kami untuk menikmati danau Toba teramat dekat. Tanpa banyak cakap, saya dan beberapa teman segera berganti pakaian dan mencebur ke danau.

Segera mencebur

Segera mencebur

Brrr. Segarnya air danau menguliti rasa capai setelah semalaman lebih berkendara. Betah rasanya berlama-lama berendam di danau Toba. Selain jernih, air tak berombak dan tak berasa asin sehingga seolah seperti berenang di kolam renang raksasa.

Sehabis berenang, tidur menjadi langkah selanjutnya buat merontokkan penat. Dalam urusan renang—dan tampaknya semua cabang olahraga lain—jangan pernah sekalipun melawan Muhammad Taufiq Takdir, yang biasa dipanggil Opik. Ketika semua puas berenang—yang tadinya capai menjadi segar lalu capai kembali—Opik masih asyik berakrobat di danau. Angin mulai berembus kencang dan hujan jatuh rintik-rintik tanda akan datang badai, tapi si Opik masih saja berenang.

Bangun dari tidur, ternyata beberapa teman telah pulang mendahului kami. Idah Rosida, Retisa Heryati Siwi, dan Agmalun Hasugian mesti kembali ke Medan dan tak mungkin menginap lantaran suatu agenda. Jadilah Anggina Rizki Harahap dan Izzah Annisa saja kaum perempuan yang tersisa bersama kami.

Bersantai di tepi danau

Bersantai di tepi danau

Usai sembahyang Isya, kami menuju tempat makan yang unik karena pemiliknya penyuka reptil. Sembari menyantap hidangan, kami dan reptil saling memandang tentang siapa dari kami yang harus memperkenalkan diri duluan.

Sekembalinya ke penginapan, ternyata acara tak lantas selesai (“Malam Minggu pulak!” kata anak Medan). Acara selanjutnya, bakar-bakaran ikan! Tentu bukan membakar ikan belaka yang jadi pokok acara. Bakar-bakaran jadi asyik dan semarak sebab ditingkahi dengan obrolan tak berkesudahan yang dilengkapi dengan olok-olok menyenangkan. Judulnya bakar-bakaran ikan, tapi isinya rupa-rupa upaya buat memunculkan keakraban dan mempererat persahabatan.

***

Dari Tele, Memandang Toba

Dari Tele, Memandang Toba

KEESOKAN paginya kami bersiap meninggalkan penginapan dan, tentu saja, Tuktuk. Tujuan kami selanjutnya adalah Tele, puncak tertinggi di Samosir. Di Tele terdapat menara pandang yang konon mampu menyajikan lanskap danau Toba secara lengkap dan utuh.

Melewati persawahan, pohon-pohon, bukit-bukit, para bule yang bersepeda, dan kuburan-kuburan Batak yang dibangun teramat megah, pulau Samosir tak kalah dengan pulau Bali—paling tidak menurut saya. Keduanya dipersamakan oleh kebudayaan dan religi yang kuat, namun sayang diperbedakan oleh dukungan finansial yang ibarat bumi dengan langit.

Sesampainya di Tele, pendapat saya tadi semakin teguh: betapa orang goblok, culun, katrok, dan kodian sajalah yang berpendapat bahwa danau Toba itu jelek, kumuh, dan oleh karenanya tak patut diperhatikan. Memandang Toba dari puncak Tele, saya seperti terbawa ke alam surgawi yang indah, terhanyut oleh kekaguman pada tanah kebanggaan saudara kami suku Batak, dan tersandera oleh kenangan manis tak berkesudahan yang terus membekas hingga kini.

Toba, dari Tele

Toba, dari Tele

Di Tele, ketika teman-teman lain seperti Syaeful Amri, Alfauzi Saiful Anwar, Adib Fathoni, dan Septano Guna Aji berfoto-foto mesra, saya merasa bahwa saya pasti, harus, dan akan mengunjungi danau Toba dan pulau Samosir lagi suatu hari nanti, dengan perasaan yang tak kalah mesra dibanding foto-foto mereka semua. [00.41, 02112014]

*) Tulisan ini pertama kali disiarkan oleh RanselKecil.com pada 4 November 2014.

Standar
Kemanusiaan, Puisi, Sastra Kelabu

Terbangun di Malam Hari

Oleh AP Edi Atmaja

: rian

Aku terbangun di malam hari dan menyaksikan pemuja-Ku berlarian.

Dikejar-kejar pemuja-Ku yang lain.

Dihabisi.

Ditangkap.

Diciduk.

Dibantai.

Aku terbangun di malam hari ketika matahari ciptaan-Ku sembunyi di peraduan.

Dan pemuja-Ku mengadakan permufakatan jahat.

Untuk mengejar-kejar pemuja-Ku yang lain.

Menghabisi.

Menangkap.

Menciduk.

Membantai.

Aku terbangun di malam hari dan hati-Ku masygul:

Betapa sia-sia manusia.

Dengan segala daya-upaya mereka.

Memuja-Ku.

05082013, 01.54

God/Kienzan

God/Kienzan

Standar
Puisi, Sastra Kelabu

Di Museum

Oleh AP Edi Atmaja

: illa

Di museum itu sepasang kekasih berbicara tentang cuaca.

“Maukah kau menjadi awan?” kata yang perempuan.

“Dan kau menjadi hujan?” timpal yang lelaki.

“Ya, dan awan harus lenyap demi hujan.”

“Mengapa harus? Aku ingin jadi awan dan kau jadi hujan tapi kita tak perlu saling melenyapkan.”

“Tapi itu tak mungkin.”

Dan mereka bicara tentang kemungkinan dan ketidakmungkinan.

Lalu perbedaan dan persamaan.

Lalu binatang-binatang yang diawetkan.

“Alangkah malangnya binatang-binatang itu,” bisik perempuan, “mereka diburu cuma untuk diawetkan.”

“Aku juga,” kata lelaki, “mungkin memburu kemudian mengawetkanmu.”

“Tapi aku tak merasa diburu dan tak ingin diawetkan olehmu.”

“Ya, karena kita telah awet di hati kita masing-masing.”

Mungkin terdengar gombal. Tampak bercanda.

Seperti keluar dari cerpen absurd.

Tapi itulah keduanya.

Mereka sama tersipu. Sama ketawa.

Lelaki itu, 32 tahun, teringat istrinya.

Perempuan itu, 31 tahun, teringat suami dan anak-anaknya.

Dan keduanya tak ambil pusing dengan urusan Matahari.

Malam semakin larut, dan mereka saling memandang.

Hanya memandang.

Mereka bicara dan terus berbicara.

Sementara di luar, orang-orang bertikai dan saling membantai.

Semarang, 02082014

Rahmat International Wildlife Museum & Gallery--Rahmatgallery.com

Rahmat International Wildlife Museum & Gallery/Rahmatgallery.com

 

Standar
Esai, Karangan Tersiar, Kuliah Hukum

Putusan MK dan Eksistensi BPK

Oleh AP Edi Atmaja

PADA Kamis (18/9/2014) lalu, Mahkamah Konstitusi (MK) menjatuhkan putusan yang dinanti banyak pihak. Putusan itu adalah Putusan Nomor 48/PUU-XI/2013 dan Putusan Nomor 62/PUU-XI/2013. Dalam waktu yang relatif bersamaan, terpaut hanya beberapa menit (16.03 dan 16.26 WIB), dua putusan yang memutus materi permohonan yang hampir serupa telah dibacakan.

Hampir serupa karena Putusan Nomor 48/PUU-XI/2013 itu berkenaan dengan permohonan pengujian Pasal 2 huruf g dan huruf i Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang diajukan pada 10 April 2013. Sementara itu, Putusan Nomor 62/PUU-XI/2013 berkaitan dengan permohonan pengujian Pasal 6 ayat (1), Pasal 9 ayat (1) huruf b, Pasal 10 ayat (1) dan ayat (3) huruf b, dan Pasal 11 huruf a Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang diajukan pada 22 Mei 2013.

Kedua permohonan pengujian tersebut pada pokoknya mengandung maksud yang sama, yaitu (1) mempertanyakan definisi keuangan negara dalam konteks kekayaan negara yang dipisahkan pada Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah (BUMN/BUMD) dan (2) menggugat kewenangan BPK untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara dalam hal kekayaan negara yang dipisahkan pada BUMN/BUMD tersebut.

Penggawatan budaya korupsi

Selama ini dipahami bahwa Pasal 2 huruf g dan huruf i UU Keuangan Negara mendefinisikan keuangan negara, antara lain, sebagai kekayaan yang dipisahkan pada BUMN/BUMD dan kekayaan pihak lain yang diperoleh dengan menggunakan fasilitas yang diberikan oleh pemerintah. Hal itu ditengarai menimbulkan dampak negatif dikarenakan tidak dilakukan pembedaan antara badan hukum publik dan badan hukum privat, sehingga kekayaan yang dipisahkan pada BUMN/BUMD termasuk dalam keuangan negara.

Putusan MK dan Eksistensi BPK (1)Implikasi jauhnya, pengelola BUMN/BUMD acap kali menghadapi kendala tatkala menjalankan fungsinya supaya perusahaan mendulang profit sebanyak-banyaknya sebagai fitrah dari sebuah badan hukum privat. Sebab, BUMN/BUMD kemudian menjadi objek pemeriksaan BPK sebagaimana diatur Pasal 6 ayat (1), Pasal 9 ayat (1) huruf b, Pasal 10 ayat (1) dan ayat (3) huruf b, dan Pasal 11 huruf a UU BPK. Dengan demikian, ketika suatu waktu BPK melakukan perhitungan kerugian keuangan negara, pengelola BUMN/BUMD dapat diajukan ke hadapan pengadilan apabila menurut aparat penegak hukum terdapat tindak pidana korupsi dalam hasil perhitungan kerugian tersebut.

Hal semacam itu telah menimbulkan keresahan di kalangan akademisi yang berhimpun dalam Center for Strategic Studies University of Indonesia (CSS-UI) yang diketuai oleh Arifin P Soeria Atmadja. Keresahan serupa juga muncul dari para pengelola BUMN sehingga pada 31 Agustus 2012 dideklarasikanlah Forum Hukum BUMN yang mencakup 142 BUMN. Forum Hukum BUMN inilah yang berupaya agar beberapa materi dalam UU Keuangan Negara dan UU BPK tersebut dicabut keberlakuannya.

Putusan beruntun pada Kamis sore itu seakan-akan menepis kegalauan hati sejumlah pihak yang juga cemas apabila permohonan pengujian materi (judicial review) dikabulkan oleh MK. Ya, jika kekayaan negara pada BUMN/BUMD tidak termasuk dalam keuangan negara, perilaku korup yang kini benar-benar menggurita di negeri ini bakal semakin menjadi-jadi. Selain itu, bakal terjadi prahara besar dalam pemerintahan karena, pertama, lembaga pemerintah yang dibentuk dengan UU dan di dalamnya diatur bahwa kekayaannya adalah kekayaan negara yang dipisahkan (semisal Lembaga Penjamin Simpanan, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, Otoritas Jasa Keuangan, dan Bank Indonesia) dengan sendirinya bukan lagi tergolong dalam keuangan negara.

Kedua, kekayaan negara yang dipisahkan pada BUMN/BUMD bukan lagi bagian dari keuangan negara, tapi masuk dalam bagian keuangan privat. Dengan demikian, semua penyimpangan (fraud) yang terjadi pada badan usaha privat tidak tergolong dalam tindak pidana khusus dan umum. Kalau BPK absen, tautan (link) antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat akan mengendur. Bisa dibayangkan efeknya buat Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ketiga, pemerintah daerah dikhawatirkan akan menggugat bahwa keuangan daerah bukan bagian dari keuangan negara. Keempat, BPK tidak memiliki kewenangan lagi melakukan pemeriksaan terhadap BUMN atau kekayaan negara yang dipisahkan sehingga dengan sendirinya tidak dapat lagi mengevaluasi kantor akuntan publik yang melakukan pemeriksaan terhadap kekayaan negara yang dipisahkan, khususnya BUMN.

Sri Edi Swasono, ahli yang diminta Presiden untuk memberikan keterangan, mengatakan, “Gugatan yang terang-terangan menolak pemeriksaan oleh BPK, artinya menolak pemeriksaan oleh kekuasaan auditori negara, merupakan penggawatan budaya korupsi in optima forma.”

Lebih lanjut, Sri Edi Swasono mengemukakan, “Tugas BUMN dalam pemikiran pembangunan ekonomi adalah suatu leading sector untuk membukakan kegiatan-kegiatan ekonomi baru. Tugas BUMN sebagai wujud cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak bukanlah mencari untung. Oleh karena itu, masalah efisiensi dan efektivitasnya harus diawasi dengan saksama oleh badan pengawas, yang dalam hal ini tentulah BPK.”

Eksistensi BPK

Dengan mempertimbangkan dalil-dalil yang diajukan pemohon, keterangan Presiden, keterangan Dewan Perwakilan Rakyat, keterangan BPK, keterangan Komisi Pemberantasan Korupsi, keterangan ahli pemohon dan Presiden serta saksi pemohon, akhirnya MK menjatuhkan amar putusan “menyatakan menolak permohonan pemohon untuk seluruhnya”, baik untuk Putusan Nomor 48/PUU-XI/2013 maupun Putusan Nomor 62/PUU-XI/2013.

Putusan MK dan Eksistensi BPK (2)MK, antara lain, menimbang bahwa pemisahan kekayaan negara yang kemudian menjadi modal BUMN/BUMD dilihat dari perspektif transaksi bukan merupakan transaksi yang mengalihkan suatu hak, sehingga akibat hukumnya tidak terjadi peralihan hak dari negara kepada BUMN/BUMD. Dengan demikian, kekayaan negara yang dipisahkan tersebut masih tetap menjadi kekayaan negara. Karena masih tetap sebagai keuangan negara dan BUMN/BUMD itu sesungguhnya milik atau perpanjangan tangan negara, tidak terdapat alasan bahwa BPK tak berwenang lagi memeriksanya.

Dengan dua Putusan MK yang dijatuhkan secara beruntun itu, semakin teguhlah eksistensi BPK sebagai lembaga negara mandiri yang memiliki kewenangan memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab segala aspek keuangan negara yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga negara lainnya, Bank Indonesia, BUMN, Badan Layanan Umum, BUMD, dan lembaga atau badan lain yang mengelola keuangan negara.

Kewenangan yang demikian luas itu—dengan jaminan yuridis yang sangat lengkap dan tahan uji—memang selayaknya diimbangi dengan kualitas sumber daya manusia yang memadai, baik dari sisi integritas, independensi, maupun profesionalismenya. Eksistensi BPK yang luar biasa digdaya dalam konstitusi dan peraturan perundang-undangan sudah semestinya diejawantahkan dalam langkah nyata sehingga kewenangan yang terberi tidak lantas menjadi sia-sia.

Ada begitu banyak masalah dalam tata kepemerintahan kita dan BPK dengan “trisula pemeriksaan”-nya (pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja, dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu) seharusnya menawarkan solusi dari sekian banyak masalah yang ada. BPK tidak boleh terjebak dalam rutinitas keseharian tanpa berhasil menciptakan perubahan. Fokus BPK bukan semata mendeteksi penyimpangan, tetapi bagaimana memperbaiki kinerja pemerintahan supaya lebih akuntabel, efektif, efisien, dan memberi manfaat bagi rakyat, sehingga tercapai tujuan berbangsa dan bernegara. [22092014, 00.40]

*) Tulisan ini pertama kali disiarkan oleh majalah Konstitusi edisi Oktober 2014 terbitan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.

Standar
Catatan Harian, Karangan Tersiar

Terpana Pesona Air Terjun Dua Warna

Oleh AP Edi Atmaja

PELESIR itu, buat Agmalun Hasugian, mesti menyejukkan pikir. Pelesir yang memenatkan pikiran seharusnya dihindari. Pelesir-pelesir yang bikin suntuk semacam itu, menurut Agmal, justru digemari masyarakat urban dewasa ini. Berkaraoke, belanja di mal, menonton film di bioskop, atau menyantap makanan di restoran-restoran mahal menjadi budaya masyarakat yang tinggal di perkotaan, tak terkecuali Medan, yang bagi Agmal adalah hiburan-hiburan kelas rendah yang konsumtif.

Pos penjaga hutan (ranger)

Pos penjaga hutan (ranger)

Maka, ketika pada suatu siang sehabis sembahyang Jumat Agmal mengajak teman-temannya, termasuk saya, untuk berpelesir, kami paham bahwa pelesir yang dia maksud pasti bakalan asyik. Dan ternyata benar, destinasi yang dia tawarkan sangat memikat hati: air terjun dua warna.

***

AIR terjun dua warna dapat ditempuh dengan menyewa angkutan kota (angkot) yang jamak ditemui di Medan. Kota Medan, saya rasa, memiliki sistem perangkotan (maafkan kalau afiksasi saya terdengar janggal di telinga) yang baik. Angkot ditempeli nomor yang menunjukkan trayeknya. Jika anda hendak ke Merdeka Walk, misalnya, anda mesti naik angkot bernomor 103—dan sampailah anda di sana.

Khibran, Agmal, Candra, Anggina, Darojat, Iqbal, Edi

Khibran, Agmal, Candra, Anggina, Darojat, Iqbal, Edi

Jangan kaget ketika sopir menyetir ugal-ugalan. Sopir angkot di Medan memang merasa punya sembilan nyawa. Melesat di lajur kanan, sang sopir bisa saja tiba-tiba banting setir ke kiri ketika melihat calon penumpang melambaikan tangan atau tatkala seseorang bilang, “Minggir, Bang.” Pegangan pun harus kuat karena si sopir bisa mengerem dan mengegas angkot secara mendadak. Walaupun begitu, keselamatan penumpang agaknya masih menjadi perhatian. Saat menaikkan penumpang, angkot belum akan jalan kalau penumpang tersebut belum duduk nyaman di jok yang tersedia.

Batu-batu sebesar kerbau

Batu-batu sebesar kerbau

Bersama angkot Medan sewaan, kami menuju objek wisata air terjun dua warna yang terletak di Desa Bandar Baru, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Perjalanan ditempuh selama lebih-kurang dua jam, melalui Jalan Jamin Ginting yang panjangnya bukan main: terentang dari Kota Medan hingga Kabupaten Deli Serdang.

Menuju air terjun dua warna, kami mesti melewati kawasan Perkemahan Pramuka Bandar Baru, Sibolangit, Sumatera Utara. Bumi perkemahan yang pada 1972 diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Setelah berjalan kaki selama beberapa menit, sampailah kami di pos penjaga hutan (ranger) yang bakal memandu kami.

Merayapi ngarai

Merayapi ngarai

Kenapa mesti dipandu? Soalnya, buat mencapai air terjun kami mesti menerobos lebatnya pepohonan di Taman Hutan Raya Bukit Barisan yang termasuk dalam wilayah lereng Gunung Sibayak (2.212 m), salah satu gunung berapi aktif (stratovolcano) di Sumatera Utara. Tanpa pemandu, perjalanan akan menemui banyak masalah. Hutan yang lebat sangat mudah membuat orang tersesat. Kendati telah ada jalan setapak, hanya penjaga hutanlah yang mengerti jalan setapak mana yang mengarah ke tujuan. Ngarai-ngarai yang curam juga mesti diwaspadai karena kerap dijumpai di rute yang dilalui.

Air terjun dua warna

Air terjun dua warna

Beserta rombongan lain dan seorang pemandu yang merokok terus sepanjang waktu, kami berjalan kaki menikmati rimbunnya hutan dan segarnya napas alam. Sehabis dua jam berjalan—melewati jalanan berlumpur, mendaki batu-batu besar seukuran kerbau, menyeberang kali—dan diselingi mengaso berkali-kali, sampailah kami di lokasi.

Seperti namanya, terdapat dua macam air terjun yang mengadang kami. Air terjun pertama setinggi sekira 50 meter dan mengalirkan air berwarna hijau/biru. Sementara air terjun yang lain setinggi kira-kira 20 meter dan mengucurkan air jernih layaknya air terjun pada umumnya. Keduanya membentuk telaga yang berwarna hijau/biru dan putih keabu-abuan di mana pengunjung dapat berenang di sana. Telaga berwarna hijau/biru bersuhu sangat dingin, sedangkan telaga berwarna putih keabu-abuan bersuhu hangat.

Para penunggang bus

Para penunggang bus

Konon, sejauh ini belum diketahui siapa yang kali pertama menemukan air terjun itu. Informasi singkat menjelaskan bahwa seseorang bernama Imanuel Sinuraya-lah yang pada 2004 mengetahui keberadaan air terjun ini secara tak sengaja (http://bit.ly/1rQJOBN). Di samping itu, belum ada bukti ilmiah yang dapat menjelaskan penyebab perbedaan warna dan suhu air terjun itu. Keterbatasan informasi dan belum adanya fasilitas yang memadai membuat keberadaan air terjun dua warna menerbitkan rasa penasaran banyak orang, terutama mereka yang berjiwa petualang.

Ketika sampai di sana, sudah banyak pengunjung yang mandi, berenang, atau sekadar duduk-duduk menikmati pemandangan. Sebagian lain menikmati seduhan mi instan yang dijual pedagang dadakan yang mangkal di lokasi tersebut. Tak sedikit pula yang mengisi botol-botol minum mereka dengan air yang mengucur dari titik-titik mata air di dinding lembah.

***

Perkemahan Pramuka Sibolangit

Perkemahan Pramuka Sibolangit

PUAS mandi dan berenang, bersama rombongan dan pemandu kami meninggalkan air terjun dua warna. Menempuh rute dan waktu yang sama saat keberangkatan, sampailah kami di pos penjaga hutan kembali. Capai, penat, dan berkeringat tentu, tapi kami sangat menikmati pelesir ini.

Kami pulang ke tempat tinggal kami di Padang Bulan, Medan, dengan menaiki Sutra. Sutra adalah angkutan antarkota/kabupaten berwujud bus tanggung yang, antara lain, menghubungkan Kabupaten Deli Serdang dengan Kota Medan. Sutra sejatinya cuma merek usaha angkutan. Ada juga merek lain seperti Borneo, Dairi, Sinabung, dan seterusnya, yang sesungguhnya wujudnya ya itu-itu juga.

Menaiki Sutra ini merupakan pengalaman yang tak akan pernah kami lupakan. Sebab, tidak seperti angkutan lain, oleh kernet kami tidak dipersilakan masuk, tapi disuruh memanjat ke atap. Lho? Ya, di atap bus kami menikmati perjalanan pulang yang sungguh mengasyikkan.

Gembira bersama-sama

Gembira bersama-sama

Sembari berpegangan pada pegangan besi di atap bus, embusan angin menerpa muka kami. Pohon-pohon di tepi jalan melambaikan daun mereka melihat kami melintas. Para ‘penunggang atap bus’ lain yang berpapasan dengan kami menyapa kami dengan teriakan mereka. Sesekali sopir melajukan bus dengan kencang, dan itu memacu adrenalin kami.

Wisata alam sampai kapan pun menawarkan pesona yang nilainya tak dapat diutarakan dengan kata-kata. Yang memesona bukan semata destinasinya, melainkan bagaimana kita mencapai destinasi itu. Lebih daripada apa pun adalah kesadaran kita untuk terus menjaga hutan, pohon-pohon, batu-batu, tanah berlumpur, ngarai, lembah, mata air, telaga, dan air terjun agar semuanya itu bisa dinikmati pula oleh generasi sesudah kita. [10.20, 06092014]

*) Tulisan ini pertama kali disiarkan oleh LenteraTimur.com pada 19 September 2014 sebagai “Si Dua Warna dan Para Penunggang Bus” dan disiarkan kembali oleh RanselKecil.com pada 27 September 2014.

Standar