Buku Digital dan Intelektualitas Virtual

19 Februari 2012

Oleh A.P. Edi Atmaja

MENJADI mahasiswa di zaman yang kuyup informasi seperti sekarang ini agaknya semudah membalikkan telapak tangan. Apa lacur, mahasiswa yang saban hari cuma punya kewajiban berkutat dengan informasi dan ilmu pengetahuan itu seakan menemukan taman firdausnya. Informasi dan ilmu pengetahuan berlalu-lalang dengan demikian gencar dalam Internet: menunggu buat dimanfaatkan atau malah diabaikan begitu saja.

Beragam janji teknologi memudahkan mahasiswa mengolah kemampuan intelektualnya. Dunia maya nan virtual adalah dunia tanpa tapal batas negara, bangsa, agama, dan disiplin ilmu. Semua segi bertaut mesra di sini. Persoalannya cuma sejauhmana mahasiswa itu mampu (dalam arti materi) dan mau (dalam arti immateri) merengkuh kemudahan-kemudahan yang tersedia.

Dunia seolah-olah menjadi demikian liberal, demokratis, dan terbuka. Barangkali, dunia semacam inilah, dunia maya, yang diandaikan George Soros (2000) sebagai masyarakat terbuka (open society).

Mahasiswa, di tengah pusaran dunia yang sarat keterbukaan itu, mengalami loncatan intelektualitas yang tak pernah dibayangkan generasi sebelumnya. Semua bahan yang menyokong iklim perkuliahan, baik jurnal, artikel ilmiah, esai, resensi buku, majalah, suratkabar, maupun buku digital, bisa diunduh dan dimanfaatkan secara bebas.

Buku digital (e-book) adalah piranti mutakhir yang semestinya bisa digunakan secara maksimal. Keberadaannya sesungguhnya menjadi jawaban buat mahasiswa yang, sebagian besar, mengalami masalah dalam hal biaya, tempat, dan ketersediaan buku-buku cetak konvensional. Namun, amat disayangkan, buku digital rupanya kurang masyhur di mata kebanyakan mahasiswa kita.

Pesaing

Sejak Johannes Gutenberg (1398-1468) menemukan mesin pencetak dalam skala besar pada tahun 1452, ilmu pengetahuan berkembang dengan amat pesat. Buku-buku dicetak dan disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia. Dalam pada itu, pembaca dan penulis-penulis baru bermunculan bak cendawan di musim hujan. Ilmu pengetahuan yang semula dimonopoli kaum tertentu kini menjadi hak setiap orang yang melek huruf dan gemar membaca.

Jauh sebelum itu, buku ditulis secara manual dan digandakan secara terbatas. Buku pertama lahir di Mesir pada tahun 2400-an SM. Aksara ditorehkan dalam lembaran-lembaran papirus: sejenis alang-alang yang dikeringkan lantas disusun menjadi satu kesatuan.

Selain dalam bentuk manuskrip, sastra (tulisan) pun dikemas dalam pahatan-pahatan di bebatuan dan dinding-dinding berupa hieroglif. Di sudut lain di Asia Tenggara, Nusantara, karya tulis para pujangga diukir dalam prasasti-prasasti.

Kesemua itu menunjukkan, sebelum kertas ditemukan pada tahun 200-an SM oleh Tsai Lun, tulisan memiliki keterbatasan dalam soal ketersebaran dan jangkauan pembaca. Semenjak penemuan penting dari Cina itu dibawa oleh para pedagang Muslim ke Eropa pada abad kesebelas, kemudian Gutenberg menggagas mesin cetaknya, mulai saat itulah tulisan dan buku-buku menemukan pembacanya yang lebih luas.

Pemikiran manusia berkembang seiring dengan kemajuan zaman. Komputerisasi yang serbadigital mengembrio pada tahun 1950-an, akibat Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Amerika Serikat, kala itu, lebih berhasil mengembangkan komputer dengan antek inteleknya seperti The Lincoln Laboratory yang bermarkas di Massachusetts Institute of Technology (MIT), sementara Uni Soviet maju dalam bidang penerbangan angkasa luar (Ryan, 2010: hal 45-49).

Di sinilah kemudian muncul era baru pascaindustri yang dinamakan Abad Informasi. Perkembangan teknologi demikian drastis setelah ini. Logika biner 0-1 yang mendasari ruh digital menjadi panglima di segala lini. Buku berbahan kertas nan konvensional pun mesti berhadapan dengan pesaing yang tak pernah diduga sebelumnya.

Buku digital—biasa pula disapa buku elektronik (e-book)—sebenarnya jelmaan lain dari buku kertas beserta isinya (teks dan gambar) lalu dienkripsi guna menghindari pembajakan (Yds Agus Surono, 2001: hal 138, dalam Intisari). Ia sebetulnya naskah pracetak yang telah mengalami perwajahan (layout). Wujud file-nya bisa bermacam-macam: PDF, HTML, TXT, RTF, LIT, JPEG, EPUB, ataupun DJVU.

Virtual

Biaya buku (kuliah) yang kian lama kian mencekik, semestinya jadi alasan mahasiswa untuk berpaling pada buku digital. Selain tak memakan banyak tempat, buku digital pun dinilai ramah lingkungan lantaran membantu mengurangi konsumsi kertas, dus penebangan pohon.

Buku digital bisa dibilang wujud masyarakat virtual yang tinggal di dunia maya. Dunia yang dikatakan William Gibson (1984) sebagai ‘halusinasi konsensual’: dibayangkan sebagai realitas pengganti yang diciptakan oleh komputer (Shields, 2011: hal 56). Virtual, menurut Shields, diartikan sebagai “sesuatu yang nyata namun tidak konkret”.

Dengan atau tanpa “bersenjatakan” buku digital, masyarakat kita sedang beranjak ke masyarakat virtual. Masyarakat semacam ini, lantaran saking banyaknya informasi, cenderung “berpihak pada permukaan yang dangkal” (ibid, hal 58). Apa yang dipahami sebagai ilmu, bukanlah ilmu dalam arti mendalam, melainkan sepotong-sepotong (parsial).

Oleh sebab itu, buat mahasiswa, dengan buku digital akan lebih baik ketimbang tidak. Buku digital adalah sumber informasi dari dunia maya yang sampai saat ini berani saya katakan masih terjaga validitasnya. Pemahaman yang diperoleh dari situ bukanlah pemahaman yang parsial. Buku digital, sebagaimana disebutkan di muka, pada intinya buku konvensional juga.

Bukan tidak mungkin, masyarakat—dimulai oleh para mahasiswa—virtual yang  cinta buku digital akan menjadi masyarakat yang melesat jauh ke depan ketimbang masyarakat buku kertas. Masyarakat demikian mempunyai intelektualitas virtual: kecerdasan, kecergasan, dan keterampilan yang terbangun dari, dalam, dan oleh dunia virtual. [20112011, 22.59]

*) Tulisan ini pernah dimuat di harian Riau Pos pada 18 Februari 2012.


Maksimalkan Dunia Maya

15 Februari 2012

Oleh A.P. Edi Atmaja

MENCINTAI produk lokal semestinya bukan sebagai anjuran, melainkan kewajiban bagi generasi muda. Produk lokal adalah identitas kita. Mencintai produk lokal berarti mengakui jatidiri kita sebagai bangsa, ibarat kacang yang selalu setia dengan kulitnya.

Di tengah merangseknya produk-produk luar negeri sebagai akibat globalisasi, kesadaran tersebut penting untuk selalu dilestarikan. Generasi muda bukanlah antek-antek asing, baik paham maupun kepentingan politisnya. Menolak produk luar negeri adalah upaya kita menolak sifat menghamba pada asing dalam diri kita.

Mencintai saja tentu tidak pernah cukup. Kita pun mesti sadar implikasi dan konsekuensi jika kita mencintai produk lokal, yakni mesti pula membeli, memakai, dan mempromosikannya. Dalam rangka mempromosikan, sebagai generasi muda, kita bisa memaksimalkan sesuatu yang akrab dengan kita. Apa itu? Ya, dunia maya.

Dunia maya (cyberspace) telah lama menjadi bagian hidup saban kawula muda. Facebook, Twitter, dan jejaring sosial lain seolah mesti dikuasai kawula muda mana pun kalau tak mau dibilang ketinggalan zaman. Oleh karena itu, pemanfaatan dunia maya mesti efektif sebagai ajang promosi produk lokal di antara kawula muda. Dengan demikian, semangat cinta produk lokal akan menggurita di jiwa generasi muda. [09022012]

*) Tulisan ini, dalam bentuk komentar singkat dengan judul “Promosi Produk Lokal”, pernah dimuat dalam rubrik Argumentasi!, harian Kompas, 14 Februari 2012.


Berharap pada Teknologi dan Energi Alternatif

15 Februari 2012

Oleh A.P. Edi Atmaja

Pemerintah berencana melakukan pembatasan atas konsumsi premium (BBM bersubsidi) mulai 1 April 2012. Kebijakan ini patut dikaji secara kritis. Tak kurang Centre for Strategic and International Studies (CSIS) menilai kebijakan ini sangat tergesa-gesa dan bisa menimbulkan kekacauan di masyarakat.

Memang dilematis posisi pemerintah saat ini. Harga minyak mentah yang kian membumbung diperparah oleh konsumsi BBM bersubsidi yang membengkak di dalam negeri.

Untuk itu, pemerintah mesti tegas bila harus terus memberi subsidi atas BBM. Perlu dibuat kualifikasi supaya subsidi tepat sasaran, hanya untuk mereka yang berhak. Wajib menunjukkan Surat Keterangan Tidak Mampu setiap hendak membeli premium kiranya bisa dijadikan masukan guna menihilkan kalangan menengah ke atas mengonsumsi BBM bersubsidi.

Di samping itu, pemerintah pun seyogianya segera menyiapkan bahan bakar pengganti minyak. Riset-riset terkait itu mesti digiatkan dan diberi insentif lebih. Amat banyak energi yang bisa diperbarui, tidak seperti minyak, semisal bahan bakar nabati, biogas, ataupun solar cell.

Oleh karena itu, teknologi transportasi yang mendukung energi-energi alternatif tersebut mesti pula disiapkan. Belakangan ini, kita berbangga hati atas kemunculan mobil karya anak bangsa, Esemka. Bukankah amat bagus bila pemerintah turut mendorong mereka untuk menciptakan moda transportasi yang berbahan bakar alternatif? Dengan begitu, persoalan BBM bukan lagi persoalan serius bagi kita. [09022012]


Fokus ke Dua Kembar SDM

15 Februari 2012

Oleh A.P. Edi Atmaja

Tahun 2012 dibuka dengan serentetan kecelakaan mengenaskan. Kecelakaan-kecelakaan itu semakin menunjukkan, betapa membahayakan angkutan publik di negara ini.

Tabrakan besar yang melibatkan dua bus, delapan mobil. dan lima sepeda motor di Jalan Raya Puncak, Cisarua, Bogor pada 10 Februari lalu adalah yang kelima dari kecelakaan beruntun di awal tahun ini.

Sebelumnya, pada 1 Januari 2012, tercatat enam orang tewas seketika, lima orang luka berat, dan 18 luka ringan setelah bus Sumber Kencono terguling di Jalan Raya Madiun-Surabaya KM 155-156. Kemudian, 9 Januari 2012, lima orang tewas dan dua luka-luka setelah mobil Suzuki Carry bertabrakan dengan bus PO Rajawali di jalur Semarang-Bawen, Kabupaten Semarang.

Pada 9 Februari 2012, lagi-lagi bus Sumber Kencono berulah: bertabrakan dengan sedan Accord AG 1663 L di dekat jembatan Glodok, Karangrejo, Magetan, Jawa Timur dan mengakibatkan dua orang tewas. 1 Februari 2012, 12 orang tewas dan puluhan lain luka-luka setelah bus Maju Jaya masuk jurang di Jalan Raya Malangbong-Wado, Sumedang, Jawa Barat.

Mengamati kecelakaan-kecelakaan yang terjadi, ada faktor penting yang menyebabkannya, yakni SDM: sumber daya manusia dan sumber daya mesin. Kecakapan, kewaspadaan, dan kompetensi sopir menjadi garansi keselamatan penumpang. Namun, di samping itu, kelaikan alat transportasi pun semestinya diperhatikan. Banyak kecelakaan terjadi lantaran rem blong.

Sumber daya manusia dan mesin harus selalu dijadikan fokus analisis demi memperkecil tingkat kecelakaan angkutan publik di masa mendatang. [15022012, 2.56]


Membangkitkan Prof Leontief dari Alam Kubur

9 Februari 2012

Oleh A.P. Edi Atmaja

ABAD Industri telah membuat Bumi kian renta. Pembangunan ekonomi dan industri dijadikan dalih buat perusakan lingkungan hidup. Pohon-pohon ditebangi. Hutan-hutan digunduli. Sumber daya alam dikeruk dengan demikian rakusnya tanpa menyisakan ruang bagi berkicaunya burung-burung.

Pergolakan rakyat di beberapa tempat di Nusantara, sebagaimana yang telah dan tengah terjadi di Papua, Sumatra, dan Nusa Tenggara, adalah lantaran kerakusan kapitalisme dan penganut-penganutnya. Kelestarian lingkungan hidup dan kesejahteraan masyarakat lokal diletakkan di nomor sekian setelah laba. Kearifan lokal yang menghamba pada alam ditelikung. Cukong-cukong kapitalis bermain dengan bengis tanpa menyediakan ruang bagi kemanusiaan.

Prof Wassily Leontief

Prof Wassily Leontief

Konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development), yang diperkenalkan oleh World Commission on Environment and Development (WCED) sejak 1987, rupanya mentah di tataran pelaksanaan. Protokol Kyoto 1998 beserta trisulanya, emissions trading, clean development mechanism (CDM), dan joint implementation (JI), tak dicamkan secara serius, bahkan oleh negara pencetusnya, Amerika Serikat. Semua itu semakin meneguhkan bahwa ekonomi adalah faktor penentu yang mampu mengatasi faktor-faktor yang lain, seperti politik, hukum, dan, bahkan, moral.

Padahal, ada keterkaitan serius antara kegiatan ekonomi dan kerusakan lingkungan.

Wassily Leontief, penerima hadiah Nobel di bidang Ekonomi tahun 1973, menjelaskan tesis itu dalam sebuah model, yang dinamakan Tabel Analisis Input-Output. Model itu bisa digunakan untuk menganalisis dampak kegiatan ekonomi terhadap kerusakan lingkungan dan, sebaliknya, dampak kerusakan lingkungan terhadap kegiatan ekonomi.

Dampak penebangan pohon untuk pendirian pabrik, misalnya, dapat diprediksikan. Hilangnya pohon-pohon tentu bakal memperkecil daerah resapan air, sehingga dipastikan akan timbul banjir. Banjir bisa menghambat proses produksi: karyawan tidak bisa sampai ke lokasi kerja karena banjir. Belum lagi, ketika banjir bandang terjadi, tentu bisa merusak pabrik, yang lalu bakal mematikan proses produksi.

Dalam contoh Prof Leontief, dipaparkan pengaruh pengikisan tanah terhadap efektivitas sebuah dam dalam menghasilkan aliran listrik. Untuk itu, diperlukan beragam data yang lengkap soal kemiringan lahan, tingkat pengikisan tanah, dan sebagainya. Setelah data diperoleh, pendangkalan dam atau debit air bisa dihitung. Data itu juga bisa dipakai untuk mengukur voltase listrik sesuai dengan kekuatan turbin yang digerakkan listrik. Kemudian, akhirnya diperoleh dampak pengikisan tanah terhadap listrik yang dihasilkan. Pasokan aliran listrik jelas akan memengaruhi kegiatan ekonomi secara keseluruhan.

Semua pelaku usaha, apalagi yang berskala besar, semestinya memerhatikan model ekonomi ini. Kegiatan yang mereka lakukan akan berimbas pada keberlangsungan usaha mereka di masa datang. Sementara itu, buat Negara Berkembang semacam Indonesia, model ini tepat guna mengerem pembangunan yang jor-joran tanpa dipikir dan dianalisis masak-masak.

Dalam sumbangsarannya, Prof Leontief bilang, informasi (data) yang rinci menjadi suatu keharusan untuk menerapkan Tabel Analisis Input-Output. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama sangat mesra yang melibatkan seluruh disiplin ilmu, tak cuma ilmu ekonomi.

Prof Wassily Leontief lahir di München, Bayern, Jerman, pada 5 Agustus 1905. Dalam usia 19 tahun ia sudah menerima gelar Ekonom Terpelajar, yang kini setara dengan Master of Arts (MA). Pada 5 Februari 1999, ia meninggal di New York City, Amerika Serikat.

Semoga semua pelaku ekonomi negara ini, dan juga negara lain di dunia, segera sadar. Dan tak perlu menunggu Prof Leontief bangkit dari alam kubur untuk mengomeli kalian. [09022012, 13.15]

*) Teori ekonomi yang dipaparkan di sini mengacu sepenuhnya dari Simon Saragih, “Prof Dr Leontief: Dampak Polusi terhadap Ekonomi Bisa Diperhitungkan sejak Dini”, dalam Esai-esai Nobel Ekonomi, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2008). Dibuat untuk Ekonom Gila.


Mahasiswa dan Idealisme yang Terpasung

28 Januari 2012

Oleh A.P. Edi Atmaja

MEMBINCANG mahasiswa masa kini hanya akan berujung pada kekecewaan mendalam di hati. Terlampau sering mahasiswa (di-) lenyap (-kan) gereget kritisnya. Terlalu banyak mahasiswa yang cuma (di-) jadi (-kan) pelengkap-penderita rapuhnya sistem pendidikan di negeri ini.

Mahasiswa jadi demikian gamang tatkala berhadapan dengan sistem korup negaranya. Alih-alih negara, korupsisme yang melanda kampusnya secara tak kasatmata pun acapkali lewat begitu saja oleh apatisme yang telah jadi “watak” mahasiswa itu sendiri.

Boleh jadi mahasiswa tahu (atau yang paling tahu) akan korupsisme itu. Akan tetapi, kelenaan dari luar dan dari dalam (diri)-lah yang menggerogoti mentalnya sepanjang waktu. Kelenaan dari luar berwujud sikap represif yang dilancarkan pihak pemegang kuasa, baik di negara maupun di kampus. Sementara kelenaan dari dalam mengejawantah lantaran kelenaan dari luar: kegamangan, ketidakberanian, lantas memunculkan apatisme.

Jadi, mesti bagaimanakah kita melihat mahasiswa dewasa ini? Bukan dengan menafikan peran masa lalu an sich, melainkan dengan memanfaatkan sepenuhnya kesilaman sebagai suatu teropong dan batu uji, yang akhirnya bakal mengantarkan kita pada perbandingan-perbandingan. Karena, kita tahu, masa lalu dan masa depan adalah sejarah yang bersinambungan (continuous history).

Terjebak pada rutinitas

Mahasiswa masa kini adalah makhluk dengan beragam raison d’etre (alasan pembenar). Ketika menyaksikan sesama teman mengalami kesulitan dalam hal keruwetan birokrasi kampus, mahasiswa lain cenderung bilang, “Ah, untung bukan saya…”

Kala mendapati teman sibuk menghelat sebuah seminar atau diskusi ilmiah, mereka berujar, “Ah, capek. Malas mikir.” Ketika ada advokasi untuk masyarakat kecil, sebagian cuma berkata, “Ngapain, buang-buang waktu dan tenaga saja.”

Namun, dalam hal-ihwal kuliah, mahasiswa senantiasa antusias, meski kuliah yang terselenggara kerap tak bermutu. Mahasiswa selalu menyempatkan hadir, dan tak hendak mengajukan protes bila kemudian sang dosen justru tak hadir tanpa alasan yang rasional. Mahasiswa sekarang telah terjebak pada rutinitas membosankan: berangkat-kuliah-nongkrong-pulang.

Lantas, apakah mahasiswa jadi tak doyan berorganisasi? Ternyata tidak. Banyak mahasiswa berbondong-bondong masuk organisasi tertentu, baik intra maupun ekstrakampus. Namun, yang jadi soal, perkara berhenti sampai di situ. Alasan kenapa dan buat apa ia berorganisasi tak menjadi bahan permenungan yang berarti. Berorganisasi cuma sebatas berorganisasi, titik. Tidak lebih.

Tujuan pendirian organisasi yang, antara lain, demi menumbuhkan idealisme, kepekaan sosial, atau ghirah intelektual seakan dikebiri menjadi sekadar ajang pertemanan, komunitas gaul, dan tempat kumpul pegiat hedonisme.

Tiada kritisisme dalam organisasi itu. Tiada kemauan sekaligus kesadaran mahasiswa buat mewujudkannya.

Membaca, menulis, berdiskusi

Jawaban atas beberapa “kejumudan” tadi sesungguhnya terletak pada kian carut-marutnya sistem dan dunia pendidikan kita dewasa ini. Pendidikan yang lebih berorientasi pada hasil ketimbang proses patut kita sudutkan sebagai tersangka utama.

Di kampus, mahasiswa acapkali terbelenggu oleh kebijakan kampus yang cenderung memasung keprigelan dalam berkegiatan di dunia luar. Sistem Kredit Semester (SKS) kian kaku dan “otoriter”, mempersempit ruang gerak mahasiswa. Tiada pilihan lain buat mahasiswa selain kuliah, kuliah, dan kuliah. Jikapun berorganisasi, organisasi itu kudu tak menyita terlalu banyak waktu kuliah.

Sikap beginilah yang menghasilkan budaya yang benar-benar baru ketimbang pendahulu-pendahulu mereka, angkatan ’66, ’84, atau ’98: mahasiswa menjadi semakin pragmatis dan kompromistis, melihat persolan dari posisi yang paling sedikit risiko. Idealisme kerap digadaikan demi kepentingan jangka pendek.

Di sinilah pentingnya berkaca dari masa lalu. Semangat intelektualitas di era ’66, ’84, dan ’98 mesti dihidupkan kembali. Semangat yang menjadikan membaca, menulis, dan berdiskusi menjadi kegiatan pokok mahasiswa—yang lantas melahirkan kritisisme, kepekaan sosial, dan idealisme tinggi. Sebuah ikhtiar yang sesungguhnya sederhana, bukan? [05052011]

*) Tulisan ini pernah dimuat dalam harian Analisa pada 28 Januari 2012.


Perempuan di Ujung Gang

22 Januari 2012

Oleh A.P. Edi Atmaja

 [Buat A di Jangli]

Dia sekonyong-konyong berdiri di hadapanku. Tanpa kumengerti, ragaku mendadak terpaku. Tidak perlu waktu lama baginya—dengan kemunculannya yang entah dari mana—buat menjerat mataku dengan tatapannya. Dia telah sukses memalingkanku dari dunia. Dia menyihirku. Dia—kau tahu, Sahabat—dulu pernah menjadi perempuan yang amat kubenci.

Kini, aku dan dia bersitatap, lewat perjumpaan yang tak disengaja, dalam sebuah acara mahasiswa di Tembalang.

Suasana yang melingkupi kami waktu itu tak senyaman yang kaubayangkan. Di atas ubun-ubun, matahari bersinar amat menyengat. Kami berdiri santai di tanah lapang seakan-akan lama nian tak bersua dengan mentari.

Aku tak ingat apa pun, Sahabat. Kecuali matanya; mata itu berbinar dengan demikian cantik bak rembulan di tengah gulita. Kecuali bibirnya; bibir itu melengkung dengan derajat kelengkungan sensual yang mampu meluluhlantakkan hati lelaki mana pun. Kecuali rambutnya; rambut itu melengkapi sekaligus mempercantik wajahnya, rambut yang telah lama kunantikan dimiliki seorang perempuan. Sahabat, aku telah mabuk. Maafkan jika kata membuncah tak karuan.

Kuangsurkan salam terhangatku padanya. Dan, kala ia menjabat tanganku, ada semacam percikan listrik di hati, pergesekan voltase, yang membuat jantung berdebar kencang. Tangannya begitu halus dan lembut, dengan jemari nan mungil. Kugenggam tangannya dan ia genggam tanganku, dan kemarau yang melanda di sekitar kami tak terasa lagi. Darahku berdesir dan, tanpa kumengerti, segera teraliri molekul-molekul kesejukan yang datang entah dari mana.

Kata-kata yang tak terucap terwakili dalam diam. Diamku punya seribu makna. Makna-makna itu menyumbat tenggorokanku, sehingga yang keluar dari mulut cuma basa-basi tak berarti. Aku terperangkap suasana. Oh, Sahabat, andai saja lidahku tak kelu begini.

“Apa kabar?” kataku.

“Kabar baik,” katanya.

Diriku dan dirinya pun berlalu laiknya semilir angin. Kami punya rutinitas. Aku punya banyak pikiran yang mesti dilakukan. Tetapi—ini rahasia, Sahabat—potret wajahnyalah yang sejak saat itu menghiasi koridor-koridor kepalaku nan berliku.

***

Perempuan di Ujung Gang

© Analisa, 2012

Empat tahun yang lalu, dalam sebuah ruang kelas, aku dan A berjumpa buat kali pertama. A—si buruk rupa itu—seorang hiperaktif sejati. Dia selalu enerjik dan bersemangat tiap waktu. Hingga, kau mungkin akan merasa, kehidupannya indah senantiasa, dan kita tak perlu demikian mengkhawatirkannya.

Itu jauh sebelum aku mengerti apa yang dinamakan dengan kepura-puraan.

Berkat semangat A yang meluap-luap—entah di dalam, entah di luar kelas—itu, guru-guru mengenalnya dengan sangat baik. Ia pun menjadi teman karib bagi semua kalangan di sekolah menengah ini.

Tapi itu tidak berlaku bagiku. Aku telanjur jengah kepadanya. Aku selalu membuat jarak dan ogah dekat-dekat. Bukan karena apa-apa, justru lantaran tingkah-lakunya yang hiperaktif itulah, yang berlebihan, yang sering membuatku bergidik. Aku benci melihat perempuan yang tidak menjaga kodrat ke-kemayu-annya. Selain itu, penampilannya yang kodian pun kian menambah kadar kejijikanku padanya.

Yang paling kubenci dari A adalah cara ketawanya yang sering kelewat batas. Tawanya berderai dengan sangat keras—hingga kau pun akan masih mendengarnya dalam radius belasan meter—meski kupikir lelucon itu tak pantas ditertawai sedemikian heboh. Tawa A nyaris tanpa beban, lepas, dan seolah-olah mengejekku, pria dengan kadar kependiaman tingkat wahid.

Aku semakin memperlebar garis demarkasi dengannya kala kucium gelagat itu: ia menaksir padaku, Sahabat! Kumohon jangan menuduhku ge-er dulu. Ia mengataiku tampan di suatu waktu, langsung di depan mukaku, dan teman-teman tahu semua. Jelas aku malu setengah mati diperlakukan begitu. Aku sadar, dia berupaya mendekatiku dengan segenap daya. Kupikir hal bodoh jika membiarkan ini lebih lanjut. Aku menjauh darinya sembari meningkatkan kadar kebencianku untuknya.

Aku melakukan beragam cara demi meredam gelagat agresifnya itu. Aku tak peduli lagi, bahkan kata-kataku yang paling kasar pun bakal kusumpah-serapahkan jika ia tak jua mengerti. Demikian antipatinya aku, Sahabat, sampai-sampai berdiri di dekatnya pun aku tak sudi. Memalingkan muka untuknya kulakukan sehari-hari. Aku tak sadar, sikap demikian terang telah melampaui level kebencian manusia.

Dan kemudian, ia benar-benar jauh dariku. Percakapan kami lakukan hanya untuk urusan-urusan penting dan mendesak. A terbenam dalam dunianya, yang tak pernah kutahu dan tak akan kupedulikan.

***

Kelas 2 SMA, kata orang-orang, adalah masa muda yang paling indah. Kadang-kadang, Sahabat, kuakui itu. Aku memperbandingkannya dengan masa-masa lain, dan semakin kuakui itu. Kelas 1 identik dengan masa awal menapakkan kaki di SMA, masa adaptasi dengan semua yang terlihat, teraba, tercium, dan terdengar. Masa mengenali teman, bukan berteman. Bagaimana bisa menikmati indahnya pertemanan kalau masih dalam tahap mengenali?

Kelas 3 lebih tampak sebagai masa belajar tiada akhir. Ujian akhir dan masa depan selepas SMA selalu jadi beban pikiran sepanjang waktu. Buku dan pena mesti senantiasa kita akrabi, tugas-tugas kudu telaten kita garap, bila tak ingin masa depan kita tak pasti. Semua terasa menekan, terasa menyiksa, hingga kita pun lupa menghibur diri sendiri.

Kenangan yang kuingat kuat saat kelas 2 SMA, Sahabat, adalah kala berlibur ke Bali. Sahabat, masih ingatkah kau pada kenangan itu?

Malam itu malam terakhir liburan di Bali. Wali kelas memerintahkan kami berkumpul di luar penginapan. Aku tak tahu alasan pak tua itu dengan idenya. Tak tahukah dia betapa capek badan ini sehabis berputar-putar seharian di tiga tempat wisata. Kami mestinya tidur pulas seperti yang lain. Kulihat rona letih menggelayuti muka saban teman yang kutemui.

Di pondok kecil di samping penginapan, kami berkumpul. Semua duduk melingkar dengan wali kelas sebagai pusatnya. A duduk membenamkan kepala di lututnya. Aku sendiri duduk jauh darinya.

Belum ada setengah jam wali kelas menyerocos dengan ceramahnya yang membosankan, kulihat di pojokan, tempat A membenamkan kepala di lutut, terjadi kehebohan. Anak-anak perempuan berteriak histeris. A kesurupan.

Forum yang semestinya khidmat itu kacau-balau tak karuan. Wali kelas bingung, gugup, dan tak tahu apa yang mesti diperbuat. Ketua kelas kami berinisiatif mencari Pak Mul, guru Bahasa yang konon cukup “pintar”. Pak Mul datang. Dengan tenang ia mendekati A, meraba kepalanya, sembari mengomat-kamitkan sesuatu. Kulihat A meraung. Ia mirip cacing kepanasan, meronta-ronta liar mau lari, sesekali menjerit kencang. Pak Mul adalah pria yang tabah, tak gentar ia menghadapi “makhluk bandel” itu—yang kini ia yakini hinggap di jisim A.

Teman-teman kelas lain terbangun dari tidurnya. Pondok mungil itu mendadak ramai. Semua bersiaga menghadapi kemungkinan terburuk. Dalam suasana kritis itu, masih ada juga orang yang bisa-bisanya iseng, membumbui peristiwa itu dengan isu-isu lain yang tak kalah seru: melihat sepotong kepala di atas televisilah, dikasih lihat “penampakan” saat shalatlah, ditemui makhluk kala berbelanja tadi sianglah, dan sebagainya. Suasana yang pada mulanya memang horor menjadi kian mencekam lantaran cerita-cerita itu.

Beberapa menit berlalu. Situasi telah normal kembali. A berbaring dengan tenang di kamarnya. Si makhluk bandel, kata Pak Mul, sudah berhasil diusir dari raganya. Teman-teman sekamarnya—juga teman-teman karibnya—tidak berani dekat-dekat, lebih memilih tidur di tempat lain, meski di kamar anak laki-laki sekalipun!

Kami, para pria, mau tak mau mesti ronda semalaman. Bagi teman yang penakut, jelas ini bagus. Kumpul-kumpul membicarakan sesuatu jelas lebih asyik ketimbang berusaha tidur dengan imajinasi-imajinasi seram di kepala.

Kami semua mengerti pada akhirnya: A ternyata bukan perempuan yang riang selalu. Buktinya, ia bisa kerasukan seperti itu, tak lain karena jiwanya kosong. Orang dengan jiwa kosong adalah orang yang kesepian, yang menghadapi kepedihan meski di luar tampak senang. Tidak pernah sekali pun kutahu, Sahabat, seberat apa kepedihan yang menderanya. Kata teman-teman karibnya, ia sering kedapatan sedang melamun sendirian. Entah apa yang ia pikirkan. A yang dipahami semua orang adalah A yang selalu gembira dan senang serta menggembirakan dan menyenangkan orang lain. A yang kita kenal tak bakal sekelebat pun kita bayangkan akan sanggup kesurupan—sindrom yang cuma melanda orang-orang yang putus asa, tak punya teman, hilang arah, tersesat dalam kepekatan gang-gang kehampaan.

Itu jauh sebelum kita mengerti apa yang dinamakan dengan kepura-puraan.

***

Seorang perempuan manis duduk anggun di hadapanmu. Kau datang telat sepuluh menit dari waktu yang diperjanjikan. Kau sedikit malu, sekaligus rikuh, lantaran keterlambatan yang sangat biasa itu. Kau meminta maaf padaku, juga pada perempuan manis di hadapanmu. Mimik penasaranmu kulihat dengan jelas mengandung tanya padaku, siapa dia?

Perkenalkan, Sahabat, namanya A. Usianya 25 tahun, bekerja sebagai psikolog andal di kantor psikologi ternama di kota ini. Kariernya yang terus menanjak dari bulan ke bulan, pelan tapi pasti bakal mengantarkannya menjadi psikolog terkemuka di negeri ini.

Buat meraih posisinya sekarang, bukan tanpa perjuangan. Cukup lama A memahami apa arti kesungguhan dan keuletan. Kesabarannya dalam menghadapi hidup telah menempanya menjadi pribadi yang keras hati. Kadang aku malah khawatir akan kondisi fisiknya yang selalu diforsir semacam itu.

Beberapa waktu sejak pertemuan kami di lapangan nan terik itu, A lekat selalu di hatiku. Aku tak mengerti rasa aneh yang tiba-tiba kurasakan. Yang pasti, stereotip negatifku padanya menjadi hangus dengan sendirinya.

Caci-makilah aku layaknya lelaki yang sedang kena batunya, Sahabat. Terkadang aku memang menyesal atas sikapku di masa silam. Aku menjustifikasi manusia dengan begitu bengisnya, dan kini kebengisan itu menjadi bumerang bagiku. Padahal, aku hapal benar bunyi sabda Nabi suatu kali, “Bencilah manusia sewajarnya karena siapa tahu ia bakal menjadi orang yang paling kau cintai. Cintailah manusia sewajarnya karena, di kemudian hari, barangkali ia menjadi orang yang paling kaubenci.”

A yang barusan kuperkenalkan padamu, bagiku, kini bermetamorfosis. Ia telah menjadi kupu-kupu yang amat menawan. Ia melihat seberkas cahaya, yang kemudian menuntunnya keluar dari kungkungan gang kehampaan dan kepura-puraan. Ia telah menemukan dirinya, dan dengan percaya diri menciptakan mimpi-mimpi lantas berusaha menggapainya. Ia telah sampai di ujung gang. Ia siap menyongsong dunia baru.

Mangkang City, 050311, 00:49 WIB

*) Cerpen ini pernah dimuat dalam harian Analisa pada 18 Januari 2012.